Sufipedia


1. Adanya Dzat
Sesungguhnya tidak ada apa-apa, karena pada waktu masih dalam keadaan kosong, belum ada sesuatu pun. Yang ada hanyalah Aku. Tidak ada Tuhan selain Aku. Aku-lah hakikat Dzat yang Maha Suci, yang meliputi sifat-Ku, yang menyertai Nama-Ku dan yang menandai perbuatan-perbuatan-Ku.

2. Kejadian Dzat
Sesungguhnya, Aku adalah Dzat yang Maha Kuasa yang berkuasa menciptakan segala sesuatu. Terjadi dalam seketika, sempurna dari Kodrat-Ku, sebagai tanda yang nyata bagi perbuatan-Ku. 

Pertama kali yang Aku ciptakan adalah sebuah pohon bernama Sajaratul Yakin. Pohon itu tumbuh pada Alam Adam Makdum (kosong hampa) yang azali dan abadi. 

Setelah itu Aku ciptakan cahaya bernama Nur Muhammad, kemudian cermin bernama Mir’atul Haya’i, nyawa yang disebut Ruh Idofi, pelita yang bernama Kandil, permata yang bernama Dzarrah, dan Jalal (keperkasaan) yang disebut Hijab (penutup), yang menjadi sekat bagi penampakan-Ku. 

3. Uraian Tentang Dzat
Sebenarnya manusia itu adalah Rahsa-Ku dan aku ini adalah rahsa manusia karena Aku menciptakan Adam dari empat unsur yaitu tanah, air, api dan udara. 

Keempat unsur itu adalah perwujudan dari sifat-Ku. Kemudian Aku masukkan ke dalam tubuh Adam lima macam mudzarrah yaitu nur, rahsa, ruh, nafsu dan budi yang merupakan dinding yang menghalangi Wajah-Ku yang Maha Suci.

4. Susunan dalam Singgasana Baitul Makmur
Sesungguhnya Aku mengatur singgasana dalam Baitul Makmur, yaitu rumah tempat kesukaan-Ku. Tempat itu berada dalam kepala Adam. 

Dalam kepala itu ada otak
Dalam otak ada manik
Dalam manik ada budi
Dalam budi ada nafsu
Dalam nafsu ada sukma
Dalam sukma ada rahsa
Dalam rahsa ada Aku

Tidak ada Tuhan selain Aku, Dzat yang meliputi semua keadaan.

5. Susunan dalam Singgasana Baitul Muharram
Sesungguhnya Aku mengatur singgasana dalam Baitul Muharram, yaitu rumah tempat pingitan-Ku. Tempat itu berada dalam dada Adam. 

Dalam dada itu ada hati
Dalam hati ada jantung
Dalam jantung ada budi
Dalam budi ada jinem (angan-angan)
Dalam jinem ada sukma
Dalam sukma ada rahsa
Dalam rahsa ada Aku

Tidak ada Tuhan selain Aku, Dzat yang meliputi semua keadaan.

6. Susunan dalam Singgasana Baitul Muqaddas
Sesungguhnya Aku mengatur singgasana dalam Baitul Muqaddas, itu adalah rumah, tempat yang Aku sucikan. Berada dalam penis (kemaluan) Adam. 

Dalam kemaluan itu ada buah pelir
Dalam buah pelir ada nuftah
Dalam nuftah ada mani
Dalam mani ada madi
Dalam madi ada wadi
Dalam wadi ada manikem
Dalam manikem ada rahsa
Dalam rahsa ada Aku

Tidak ada Tuhan selain Aku, Dzat yang meliputi semua keadaan, bertahta dalam nukat ghoib, turun menjadi Jauhar Awal. Disitulah alam Ahadiyat berada (Alam Wahdat dan alam Wahidiyat), alam arwah, alam misal, alam Ajsam dan alam Insan Kamil, menjadi manusia sempurna yaitu sifat-Ku yang sejati.

7. Peneguh Iman
Yaitu yang menjadi kekuatan iman:

Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Aku dan menyaksikan Diri-Ku bahwa Muhammad itu adalah utusan-Ku.

8. Kesaksian
Aku bersaksi dalam Diri-Ku sendiri bahwa tidak ada Tuhan selain Diri-Ku dan menyaksikan Diri-Ku bahwa Muhammad itu adalah utusan-Ku. 

Bahwa sesungguhnya yang dinamakan Allah itu adalah Badan-Ku, Rasul itu adalah Rahsa-Ku, Muhammad itu adalah Cahaya-Ku.

Akulah yang selalu ingat dan tidak pernah lupa, Aku lah yang kekal tidak bisa diubah oleh keadaan. Aku lah yang selalu tahu, tidak ada sesuatupun yang tersembunyi dari-Ku. Aku lah yang menguasai segalanya, yang Maha Kuasa dan Bijaksana, tidak memiliki kekurangan dalam pengetahuan. Byar! Sempurna, terang-benderang, tidak terasa apa-apa, tidak kelihatan apa-apa, hanya Diri-Ku yang meliputi semua alam dengan Kodrat-Ku.

Ajaran tentang Dzat Tuhan ini senada dengan ajaran Martabat Tujuh, yakni tentang tujuh tingkatan penampakan Tuhan yang berasal dari Ibn Fadhillah, sufi dari India. Barangkali terkait juga dengan ajaran tentang Nur Muhammad dan ajaran pohon kejadian, ajaran terakhir ini berasal dari Ibn Araby.

Menurut ajaran sufi, yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah Nur Muhammad atau Cahaya yang Terpuji. 

Tuhan menciptakan Cahaya itu dari sifat Jamal atau keagungan-Nya. Cahaya tersebut adalah Satu, sebagai jembatan antara Tuhan dan ciptaan, maka Cahaya itu bisa disebut Tuhan, bisa pula disebut mahluk sebagai firman-Nya, Allah adalah Cahaya bagi langit dan bumi. Maksudnya, Allah adalah Cahaya atau Nur. Cahaya itu meliputi langit dan bumi, langit dan bumi pada dasarnya tidak ada karena terliputi Cahaya tersebut.

Cahaya atau Nur itu adalah bahan utama penciptaan. Tujuan penciptaan mahluk ini tiada lain agar Dzat-Nya dikenal. Dzat Tuhan teramat suci hingga tidak ada yang mampu mengenal-Nya. 

Maka, Dia menurunkan diri secara Kualitas, yakni kesucian Diri-Nya diturunkan. Penurunan pertama-Nya adalah Nur Muhammad atau Cahaya Muhammad.

Dari cahaya ini, Dia menciptakan segala sesuatu. Mula-mula Dia menciptakan mahluk halus-halus seperti Ruh. Ruh adalah sarana untuk hidup. Hidup berasal dari Dzat-Nya dan Dia menginginkan kehidupan pada mahluk agar mampu mengenalnya. Maka Dia tiupkan kehidupan itu dengan perantara Ruh, sebagaimana firman-Nya, Dan Aku tiupkan ruh-Ku kedalamnya. Inilah alam arwah (ruh) atau alam yang halus.

Selanjutnya Tuhan menciptakan alam halus lainnya sebagai sarana kehidupan. Alam ini berisi malaikat, jin, setan, iblis, surga, neraka dsb. Alam halus ini sudah memiliki bentuk dan menjadi hidup karena disemati ruh dari Tuhan. Namun mahluk pada alam ini belum terlihat nyata sehingga Tuhan menciptakan alam lainnya, yakni alam Musyahadah (alam tampak).

Alam musyahadah adalah alam yang bisa dilihat, didengar, diraba dan dirasakan dengan panca indera. Disebut juga alam jasmani. 

Bagi para sufi, inilah hijab (sekat) yang paling luar untuk melihat Tuhan. Ini adalah penampakan Tuhan yang paling semu. 

Alam jasmani ini dilengkapi dengan nafsu syahwat yang menyenangkan, sehingga membuat manusia terlena. Kebanyakan manusia terhalang untuk melihat dan mengenal Tuhan karena terpesona oleh dinding ini.

Penciptaan yang dilakukan oleh Tuhan ini melalui suatu proses yang runut (urut). Dia adalah Al-‘Alim (Maha Berilmu) sehingga segala sesuatu yang berhubungan dengan ciptaan akan selalu terkait erat dengan ilmu. Dengan kata lain, segala sesuatu selain Dzat-Nya dapat dilogikakan. Demikian pula proses penciptaan yang Dia lakukan.

Ketika Tuhan berkehendak untuk melakukan sesuatu, maka Dia akan mengatakan nahnu khalaqnakum (Kami telah menciptakan sesuatu). Saat itulah proses penciptaan sudah berlangsung. Apa yang Dia katakan sudah ada, namun belum berwujud nyata. Ia masih tersimpan dalam catatan rahasia-Nya. 

Ciptaan awal ini masih tersimpan rapi dan belum terbentuk sempurna. Ia masih memerlukan proses. Proses ini terjadi ketika Tuhan mengucapkan kun padanya. 

Proses penciptaan seperti diatas dapat diumpamakan seperti benih, akar dan batang pohon. Ini awal penciptaan yang terjadi dalam kapasitas Nur Muhammad. Benih penciptaan berasal dari Kehendak-Nya. Ketika Dia menginginkan sesuatu, berarti muncullah benih dari Dzat-Nya.

Dan ketika Dia mengucapkan kata kun maka tumbuhlah benih tersebut menjadi akar. Maka akar tersebut adalah al-Iradah (Kehendak). 

Akar adalah pangkal segalanya. Itulah kehendak Tuhan, sehingga segala sesuatu bermula dari kehendak-Nya. Tak ada sesuatu pun yang lepas dari kehendak Tuhan. Semua berada dalam pengaturan-Nya.

Kehendak Tuhan atau akar kejadian akan tumbuh apabila Tuhan mengucapkan kata kun. Akar tersebut akan tumbuh ke atas hingga menyembul ke luar tanah, hingga terbentuklah batang. Batang pohon kejadian memiliki dua sifat sebagai sifat dasar mahluk. 

Batang inilah yang benar-benar disebut mahluk, karena dia memiliki sifat ganda atau berpasangan. Lain halnya dengan Tuhan yang selalu bersifat Ganjil atau Esa. 

Sifat ganda batang ini bermula dari pertemuan kata kun . Ibn Araby menamakannya dengan “penyerbukan atau perkawinan”, yakni perkawinan antara huruf kaf (ﻙ ) dan nun (ﻥ). 

Selanjutnya, pertemuan dua huruf ini menghasilkan sebuah proses yang dilandasi oleh sifat Qudrah-Nya, sebagaimana firman-Nya, inna kulla syai’in khalaqnahu biqadar (Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran).

Setelah itu, maka terbentuklah mahluk-mahluk dengan sifat-sifat-Nya yang selalu berpasangan. Segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini akan selalu berada dalam naungan hukum alam yang senantiasa berpasangan. Semua berasal dari kodrat dan ukurannya. 

Selain itu, batang pohon kejadian ini membawa sifat kuasa (Qudrah) atau kemampuan. Maka segala sesuatu pasti memiliki kemampuan atau energi. Tidak terkecuali benda yang tidak bergerak.

Ajaran Martabat Tujuh oleh Ibn Fadhilah, ajaran ini dipengaruhi oleh Ibn ‘Araby yang dipergunakan oleh para sufi di tanah Jawa. Salah satunya Ronggowasito.

Menurut ajaran Martabat Tujuh, Tuhan menampakkan Diri dalam tujuh tingkatan atau martabat.

Pertama, Martabat Ahadiyat.
Martabat tertinggi ketuhanan. Tuhan digambarkan sebagai Dzat yang tidak bisa disebut dengan nama apa pun. Inilah Tuhan sejati bagi semua manusia, bangsa dan agama. Dalam islam sering disebut dengan keadaan Kunhi Dzat atau Dzat Semata. Para sufi Jawa yang banyak dipengaruhi filsafat Hindu menyebutnya dengan istilah AKU. Pada keadaan ini, tidak ada sesuatu selain Dzat Tuhan. Kosong hampa. Sunyi senyap. Tidak ada sifat, nama atau perbuatan.

Kedua, Martabat Wahdat.
Dalam Martabat Ahadiyat, Tuhan adalah Dzat Suci yang berdiri sendiri. Tidak ada yang selain Diri-Nya. Dia rindu untuk dikenal, namun siapa yang mengenalnya karena tidak ada yang selain Diri-Nya.

Tuhan berkehendak menciptakan mahluk agar Diri-Nya dikenal oleh mahluk tersebut. Inilah proses awal penciptaan. Untuk menciptakan sesuatu pastilah menggunakan bahan. Bahan tersebut diambil dari Dzat-Nya sendiri. Logis, karena tidak ada bahan selain Diri-Nya, otomatis Tuhan mengambil bahan dari Diri-Nya sendiri.

Sebenarnya penciptaan ini lebih bersifat maknawi. Dia tidak pernah membuat sesuatu yang baru, namun hanya menampakan Diri dengan penampakan lain atau tajalli. Tuhan menurunkan kualitas Diri-Nya, dari Dzat Mutlak yang teramat Suci menjadi Tuhan baru. Ini bukan berarti Tuhan menjadi dua sebagaimana dibayangkan akal. 

Inilah martabat Tuhan yang kedua yakni Martabat Wahdah. Dia sudah melakukan proses penciptaan pertama. Ciptaan pertama-Nya ini berupa Nur Muhammad atau Cahaya Muhammad. 

Cahaya ini memiliki nama agar mudah dikenali. Orang islam menyebut-Nya dengan sebutan Allah. Dia berfirman, Allah adalah Cahaya bagi langit dan bumi.

Nur Muhammad bukan Tuhan, tapi juga bukan mahluk. Ia ada di antara keduanya. Namun dalam martabat Wahidiyat ini Nur Muhammad lebih bersifat ketuhanan. Allah yang disembah oleh orang-orang hakikatnya adalah Tuhan yang sudah menurunkan Diri, bukan lagi Tuhan Sejati. Tuhan Sejati itu adalah Dzat Mutlak atau AKU. 

Ketiga, Martabat Wahidiyat.
Pada martabat ini, Nur Muhammad yang bernama Allah dan bersifat ketuhanan menurunkan Diri menjadi Nur Muhammad yang bersifat mahluk. Maka cahaya ini tidak lagi sebagai Tuhan, namun sebagai mahluk yang masih berupa satu kesatuan cahaya.

Disinilah terjadi proses penciptaan sebagaimana digambarkan oleh Ibn ‘Araby dalam pohon kejadian. Dalam martabat inilah terkumpul benih-benih pohon kejadian yang tidak pernah putus mengalir. Benih tersebut berasal dari Cahaya Satu yang berasal dari Dzat-Nya. 

Jadi jelaslah, benih-benih kejadian berasal dari Cahaya Tuhan. Setiap penciptaan berasal dari-Nya. Setiap gerakan, tindakan, perkataan, pemikiran, angan-angan, semuanya bermula dari benih tersebut. Tidak ada satu gerakan pun dari mahluk yang terlepas dari benih tersebut, sehingga Ronggowasito menganggap semua mahluk sebagai anak-anak Tuhan karena berasal dari benih-Nya.

Dalam martabat ini pula Tuhan melahirkan Kehendak-Nya. Kehendak atau Iradat tersebut Dia salurkan dalam setiap benih kejadian. Tumbuhlah benih tersebut menjadi akar yang menjalar ke bawah. Akar atau Kehendak Tuhan inilah yang menjadi pondasi setiap ciptaan, maka segala sesuatu memiliki akar kejadian yakni berada di bawah kendali Tuhan dan terjadi atas kehendak-Nya.

Kehendak Tuhan merupakan ketetapan pasti atau takdir. Tuhan menyimpan takdir tersebut di suatu tempat yang tersembunyi. Dengan takdir inilah benih tersebut tumbuh ke atas menjadi batang. 

Batang tersebut mampu tumbuh ke atas karena memiliki kemampuan atau kodrat yang berasal dari Kodrat-Nya.

Semakin tinggi batang tersebut naik hingga bercabang menjadi dua. Inilah sifat mahluk sejati, yakni bercabang menjadi dua yang saling berpasangan.

Tuhan membuat keadaan mahluk menjadi berpasangan sebagai tanda kekuasaan dan kebesaran-Nya. Dia memerintahkan agar manusia mengenal dua sifat yang saling berlawanan ini.

Ini menjadi petunjuk bagi manusia, manusia yang mengagungkan salah satu sifat pasangan dan mengesampingkan sifat lainnya akan tersesat. Padahal kedua sifat tersebut berasal dari-Nya. 

Inilah martabat yang bersifat kemahlukan namun masih menjadi satu dan belum terpisah-pisahkan. Semua kejadian mahluk masih berbentuk konsep yang tersimpan rapi dan terjadi di sisi-Nya.

Keempat, Alam Arwah.
Konsep atau skenario Tuhan tidak akan terwujud nyata jika tidak dimasukkan dalam wadah. Proses penampakan / tajalli Tuhan berikutnya adalah menciptakan wahana bagi kehendak-Nya tersebut.

Dalam martabat ini, Tuhan menciptakan makhluk yang sangat halus yakni Ruh. Ruh ini sarana sebagai sumber kehidupan. Ruh ini berasal dari Diri-Nya. 

Mula-mula, ruh tersebut masih satu dan akhirnya terbagi menjadi banyak sekali. Bagian-bagian ruh tersebut siap untuk mengisi tiap-tiap bentuk yang akan diciptakan-Nya kemudian.

Kelima, Alam Misal.
Keberadaan ruh sebagai sarana sumber kehidupan ini tidak akan gunanya, jika tidak ada sesuatu yang dimasuki. Tuhan menciptakan beberapa bentuk ciptaan melalui proses penurunan Diri. Dia mengambil Nur Muhammad sebagai bahan-Nya, maka inilah mahluk sejati bukan Tuhan, karena berasal dari Nur Muhammad yang bersifat kemahlukan dan tidak berasal langsung dari Dzat Tuhan.

Ciptaan dalam alam misal ini berupa mahluk halus atau ghoib, namun bentuknya seperti malaikat, jin, setan, iblis, jiwa, surga, neraka dsb-nya. Ruh-ruh datang dan merasuki setiap bentuk ghoib tersebut hingga hiduplah mereka.

Keenam, Alam Ajsam.
Bentuk ghoib dalam Alam Misal diatas masih dirasa kurang sempurna. Maka Tuhan menurunkan Diri dalam penampakan terluar berupa benda-benda jasmani. 

Maka terlihat beragam materi dengan segala pernik-pernik didalamnya.

Ini adalah hijab atau dinding penghalang yang paling besar untuk dapat melihat Tuhan, karena dalam setiap materi tersebut dibungkus dengan syahwat. Kebanyakan manusia akan tertipu dan sulit untuk kembali ke asal-usul dirinya apabila terlena oleh penampakan fisik ini.

Ketujuh, Alam Insan Kamil.
Pada akhirnya, Tuhan menurunkan diri menjadi manusia sempurna sebagai gambaran Diri-Nya yang sempurna. Melalui manusia sempurna inilah Dia menikmati hasil ciptaan-Nya. maka manusia dibekali akal dan hati sebagai sarana kehadiran Tuhan. 

Kelebihan utama manusia adalah kemampuan untuk menampung kehadiran Tuhan hingga menjadi wakil (khalifah) bagi-Nya. Melalui manusia inilah harapan-Nya untuk mengenal dan dikenal terlaksana.

Akal manusia adalah singgasana kemakmuran-Nya. Hati manusia adalah singgasana kemuliaan-Nya. Dan kemaluan manusia adalah singgasana kesucian-Nya. Ketiga bagian tubuh manusia ini menjadi sarana vital kehidupan, sebagai tempat hadir Tuhan untuk menikmati keelokan hasil karya-Nya.

Adapun tentang rupa Yang Maha Suci, kitab Ulumuddin memberitahukan, walahu lahir insan wa batinul insani baitulahu artinya lahiriah manusia itulah rupa Hyang widi, batiniah manusia itulah rumah Hyang Widi.

Syekh Siti Jenar sangat memahami tentang hakikat Tuhan dan mahluk, bahwa pada dasarnya mahluk itu tidak diciptakan namun sebagai penampakan Tuhan. Ia bukan barang baru yang ada karena diciptakan, tetapi sebagai wujud baru yang menemukan keadaan.

Ajaran Siti Jenar tentang rumah Tuhan juga senada dengan Ronggowasito. Rupa Tuhan adalah lahiriah manusia. Kepala manusia adalah bentuk kesejahteraan Tuhan, dada manusia adalah kemuliaan Tuhan dan kemaluan manusia adalah bentuk kesucian Tuhan. Di dalam ketiga tempat itulah Tuhan bertahta. (Selanjutnya - Praktek Pengenalan Dzat)

Anda sedang membaca Ajaran Makrifat Jawa: Dzat dan Rumah (Singgasana) Tuhan (1). Untuk mengikuti posting terbaru silahkan Liked Facebook Fanpage: Mistikus Cinta | Follow Twitter: @Sufipedia | Official LINE of Sufipedia Nusantara, LINE ID: @sufipedia | Telegram Group: @sufipedia. Terima kasih.
 
Top