Sufipedia

Di dalam hati yang kosong, ketiadaan diri, bisa terdengar suara yang menggema,
"Ana al-Haqq"
"Akulah Kebenaran."
Demikianlah manusia menyatu dengan yang kekal. Segala sesuatu sudah menjadi satu. (Tauhid)

Syekh Mahmud Shabistari qs.

“O, engkau yang berpakaian kefakiran,” kata sosok gemilang dengan suara diliputi barokah. “Engkau telah menjadi bagian dari kaum fakir yang tetap berjuang di jalan Allah (QS. Al-Baqarah: 273), yakni kaum yang lambungnya jauh dari tempat tidur, sedangkan mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap (QS as-Sajdah:16). Apakah ketundukanmu kepada-Nya karena mengikuti (taqlid) seseorang atau mengikuti akalmu (dalil) sendiri?”

Abdul Jalil (Syeh Siti Jenar) menjawab, “Saya tidak mengikuti seseorang dan tidak pula mengikuti akal karena tidak ada daya dan kekuatan pada diri saya untuk mengikuti sesuatu kecuali pasrah dan mengikuti daya serta kekuatan-Nya.”

“Engkau adalah fakir yang tidak memiliki apa-apa. Engkau telah membersihkan segala kepemilikan dari jiwamu. Namun, engkau masih terbelcnggu oleh akalmu, yakni sisa terakhir milik kemanusiaanmu. Karena itu, o fakir, tanggalkanlah akalmu. Karena, dengan akal (aql) yang membelenggu (iqal) maka engkau tidak akan mengenal wajah-Nya.

“Kenalilah Dia dengan bashirah (QS Yusuf: 108). Kenalilah tanda-tanda-Nya yang ada di luar dan di dalam dirimu (nafs) (QS adz-Dzariyat: 20-21). Kenalilah Dia Yang Wujud. Yang Riil. Kenalilah tanda-tanda-Nya di luar dirimu. Sesungguhnya, milik-Nya jua timur dan barat sehingga kemana pun engkau palingkan pandanganmu maka di situlah wajah Allah (QS al-Baqarah: 115). Ketahuilah, bahwa wajah Allah itu kekal (QS ar-Rahman: 27). Karena itu, tiap-tiap sesuatu pasti hancur binasa ke­cuali wajah-Nya (QS al-Qashash: 88).”

“Pahamilah tanda-tanda-Nya di dalam dirimu. Sesungguhnya, Dia Maha Meliputi segala sesuatu (QS Fushshilat: 54). Dia bersamamu di mana pun engkau berada dan Dia Maha Melihat apa yang engkau kerjakan (QS al-Hadid: 4). Dia lebilh dekat daripada urat lehermu (QS Qaf: 16). Sesungguhnya, Allah bersama kita (QS at-Taubah: 40).”

Kesadaran demi kesadaran baru tersingkap dari cakrawala jiwa Abdul Jalil seiring dengan terkuaknya ungkapan demi ungkapan rahasia yang disampaikan. Abdul Jalil terkesima dalam pesona dan ketakjuban yang membingungkan. Pengalaman itu begitu menggetarkan: betapa pengetahuan yang disampaikan tanpa perantara akal dan indera-indera adalah seibarat percampuran anggur dengan air dalam wadah gelas. Tanpa diaduk keduanya melarut dengan cepat dan menyeluruh. Utuh.

Anda sedang membaca Suluk Syekh Abdul Jalil (Syekh Siti Jenar). Untuk mengikuti posting terbaru silahkan Liked Facebook Fanpage: Mistikus Cinta | Follow Twitter: @Sufipedia | Official LINE of Sufipedia Nusantara, LINE ID: @sufipedia | Telegram Group: @sufipedia. Terima kasih.

Post a Comment

 
Top