Sufipedia

Kitab Al Luma' Fi Al Tashawwuf

MUKADIMMAH

l. Ilmu Tasawuf, Madzhab Kaum Sufi Dan Kedudukan Mereka Dengan Orang-Orang Yang Berilmu Yang Menegakkan Keadilan

Tulisan Abu Nashr Abdullah bin Ali as-Sarraj ath-Thusi yang diberi gelar Thawus al-Fuqara' (Si Burung Merak orang-orang fakir Sufi)

Abu Nashr Abdullah bin Ali ath-Thusi as-Sarraj telah memberi tahu kepada kami. Ia berkata:

Segala puji hanya bagi Allah swt. Yang telah menciptakan makhluk dengan Kekuasaan-Nya. Dan menunjukan mereka untuk ma'rifat pada-Nya dengan berbagai jejak ciptaan-Nya dan bukti-bukti ketuhanan-Nya. Dia telah memilih manusia diantara hamba-hamba-Nya dan manusia terbaik di antara makhluk-Nya. Dia khususkan dari mereka orang yang Dia kehendaki dengan apa dan cara apa yang Dia inginkan. Dia bagikan kepada mereka ilmu pengetahuan dan pemahaman tentang-Nya sesuai dengan apa yang Dia bagikan. Dia beri kebijakan hukum untuk mereka dalam hal itu sesuai dengan kebijakan hukum-Nya. Dia limpahkan kepada mereka hidayah dan taufiq dengan tingkatan dan derajat yang berbeda. Sebagaimana perbedaan mereka dalam akhlak ,rezeki, ajal dan amal. Sebab memang tak ada ilmu dan pemahaman kecuali semuanya telah tercatat dalam kitab Allah Azza wa Jalla atau bersumber dari Hadist-hadist Rasulullah saw. Atau pada apa yang dibukakan pada hati para wali Allah swt. Agar orang yang hancur itu bisa hancur dengan keterangan yang nyata dan orang yang bertahan hidup itu hidup dengan keterangan yang nyata (pula). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Shalawat dan salam semoga tetap diberikan kepada seorang Nabi terdepan, yang diagungkan dan di muliakan dari para Nabi-Nya, yang merupakan matahari dan purnama orang-orang pilihan. Dialah Muhammad, seorang hamba dan Rasul-Nya. Semoga shalawat dan salam juga tercurahkan pada keluarga yang dicintainya

Amma ba'du. Sesungguhnya saya telah minta petunjuk (istikharah) pada Allah swt. dan saya kumpulkan bab-bab penting tentang makna segala sesuatu yang diikuti oleh para ahli tasawuf (kaum Sufi). Dari apa yang pernah dibicarakan oleh para guru dan pemuka mereka tentang makna-makna ilmu mereka, pokok-pokok ajaran asas-asas madzhab (tarekat), berita-berita mereka syair-syair, berbagai persoalan mereka dan jawabannya, berbagai maqam (kedudukan spiritual) dan hal (kondisi spiritual) mereka. Tak lupa pula saya kumpulkan berbagai kekhusuan dari isyarat-isyarat yang halus, ungkapan-ungkapan yang gamblang dan fasih, lafal-lafal yang sulit namun benar dan sesuai dengan pokok-pokok ajaran mereka, hakikat-hakikat mereka, wajd-wajd (suka cita) dan pasal-pasal tentang mereka.

Dalam setiap pasal saya sebutkan sekilas hal yang perlu dikemukakan, dan dalam setiap bab saya sebutkan sekilas isyarat, sesuai kondisi yang diberikan, kesempatan waktu yang memungkinkan dan karunia yang diberikan Allah swt. Dengan harapan agar bisa dijadikan suri teladan yang ideal, penjelasan dan argumentasi yang kuat.

Maka seorang yang melihat buku ini dengan seksama, penuh kesadaran, konsentrasi, jiwa yang tercurahkan hanya untuk menelaahnya, disertai dengan pemahaman, perenungan dan pemikiran yang mendalam, niat yang tulus, hati yang bersih, tujuan yang murni untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. bersyukur kepada-Nya atas taufik, pelurusan jalan, hidayah-Nya untuk bersahabat dan mencintai golongan kaum Sufi ini, menentang orang yang mengumbar lidahnya dalam menggunjing dan mengingkari mereka dan orang-orang sebelum mereka, dimana semua itu merupakan anugrah dan karunia-Nya yang diberikan kepadanya, maka ia akan melihatnya sebagai rahmat dan ridha Allah swt. kepada seluruh kaum Sufi. Sebab mereka adalah kaum minoritas, yang memiliki kedudukan dan kehormatan tertinggi di sisi Allah swt.

Seyogyanya bagi orang yang berakal di zaman kita ini untuk tahu sedikit tentang pokok-pokok ajaran kaum minoritas ini, tujuan mereka, tarekat (jalan) orang-orang yang benar dan memiliki keutamaan dari golongan mereka. Sehingga bisa membedakan antara mereka yang benar-benar kaum Sufi dengan orang-orang yang hanya menyerupai dan mendompleng mereka, mengenakan pakaian kaum Sufi dan atribut-atribut mereka. Dengan demikian diharapkan tidak akan terjerat dalam kekeliruan dan dosa. Sebab kaum Sufi ini adalah orang-orang kepercayaan Allah azza wa Jalla yang bertugas mengemban amanat-Nya di muka bumi. Mereka adalah gudang simpanan rahasia-rahasia dan ilmu-Nya, orang-orang pilihan dari makhluk-Nya. Mereka adalah hamba-hamba-Nya yang penuh ikhlas, para wali-Nya yang bertakwa, para kekasih-Nya yang jujur dan saleh. diantara mereka terdapat orang-orang pilihan, orang-orang terdepan yang berlomba dalam kebaikan, orang-orang baik yang dekat kepada Allah swt., para wali abdal dan orang-orang jujur.

Mereka adalah orang-orang yang Allah swt. sinari mata hatinya dengan ma'rifat kepada-Nya, anggota badannya dihiasi dengan pengabdian kepada-Nya, dia gerakkan lidahnya dengan selalu berzikir kepada-Nya. Mereka telah ditetapkan sebelumnya untuk mendapatkan yang terbaik dengan pengawasan yang baik dan perhatian yang terus menerus.Mereka dihiasi dengan mahkota kewalian, dikenakan perhiasan-perhiasan hidayah, hatinya disambut dengan penuh kelembutan dan dikumpulkan dihadapan-Nya dengan penuh kasih sayang. Sehingga mereka cukup dengan-Nya dan tidak butuh kepada yang lain, mencurahkan segala-galanya hanya untuk-Nya, bergantung dan berserah diri hanya kepada-Nya. Mereka selalu beda berdiri didepan pintu rahmat-Nya, rela dengan ketentuan-Nya dan sabar atas cobaan-Nya. Mereka pergi meninggalkan tanah air, berpisah dengan kawan-kawan dan meninggalkan sanak keluarganya hanya karena mengharapkan-Nya. Mereka putus semua ketergantungan dengan selain Allah swt.dan lari dari makhluk. Mereka merasa senang dengan Allah swt. dan gelisah dengan lain-Nya.

"Demikianlah karunia Allah yang diberikan kepada orang yang dikehendaki-Nya; dan Allah mempunyai karunia yang besar." (QS. Fathir: 32).

"Lalu diantara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan diantara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang terdepan dalam berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar." (QS. Fatir: 32)

"Katakanlah,'Segala puji bagi Allah dan kesejahtraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya. 'Apakah Allah yang lebih baik, ataukah apa yang mereka persekutukan dengan-Nya?" (QS. An-Naml: 59).

Perlu Anda ketahui, bahwa di zaman kita ini telah banyak orang yang berusaha membahas dan memperbincangkan ilmu-ilmu kelompok ini (ilmu tasawuf). Banyak juga diantara mereka yang menyerupai para Sufi, berusaha memberi isyarat dan jawaban tentang permasalahannya.masing-masing dari mereka menisbatkan pada dirinya suatu kitab yang memperindahnya dan kata-kata indah yang mereka susun secara baik. Padahal mereka bukanlah orang yang ahli pada bidangnya. Sebab para pendahulu dan syeikh Sufi awal yang membincangkan masalah-masalah tasawuf, memberi isyarat-isyarat ini dan berbicara dengan berbagai hikmah hanyalah mereka yang telah memutus ketergantunganya pada makhluk, mematikan hawa nafsu dengan mujahadah (perjuangan spiritual), riyadhah (latihan spiritual), munazalah (pertempuran spiritual) wajd (suka cita kepada-Nya) dan amat berkeinginan (ihtiraq). Kemudian dengan segera dan penuh rindu memutus semua hal sekecil apa pun yang merintangi kedekatan mereka dengan Allah swt. sekalipun hanya sekejap mata. Mereka melakukan dengan persyaratan ilmu pengetahuan, kemudian mengamalkannya dan sekaligus merealisasikan dalam tindakannya. Sehingga mereka menggabungkan antara ilmu, hakikat dan amal.

Syekh Abu Nashr as-Sarraj -- rahimahullah -- (semoga Allah senantiasa memberinya rahmat)-- berkata:

Saya telah buang sebagian besar dari buku ini sanad-sanad yang ada. Saya anggap cukup dengan menyebutkan matan-matan Hadist, Atsar dan cerita, agar ringkas dan gampang. Bila apa yang saya lakukan itu benar, itu semata karena pertolongan Allah Azza wa Jalla -- dan segala puji hanya milik Allah atas semua itu. Dan jika terjadi kesalahan, baik kekurangan atau masalah berlebihan, itu semua memang karena kesalahan saya. Dan saya tentu wajib beristighfar dan minta ampun pada-Nya atas segala tindakan tersebut.

Sementara yang saya sebutkan dalam kitab ini hanyalah jawaban kaum Sufi terdahulu dan kata-kata hikmah mereka. Sebab hal ini saya anggap cukup ketimbang saya berpura-pura ahli sebagaimana banyak dilakukan oleh orang-orang pada akhir-akhir ini, ketika berbicara tentang hal ini, atau memberikan jawaban atau menisbatkan ucapan dan jawaban tersebut pada diri mereka sendiri, padahal mereka sebenarnya hanyalah para plagiator yang mengambil dari hakikat-hakikat dan kondisi spiritual kaum terdahulu.

Setiap orang yang mengambil dari ucapan-ucapan kaum terdahulu yang telah kami terangkan sifatnya, suatu makna dari makna hidup mereka, dimana hal itu merupakan kondisi spiritual, wajddan hasil istinbat (pengambilan hukum dan kebijakan) mereka. Kemudian apa yang diambil itu dipoles dengan apa yang tidak sewajarnya,atau dibungkus dengan ungkapan lain, atau dinisbatkan pada dirinya, sehingga dirinya akan dianggap sebagai bagian penting dari mereka atau untuk memperoleh status dan kedudukan di mata awam, atau ingin mengendalikan perhatian manusia kepadanya sehingga dapat mengambil manfaat atau menghindar dari bahaya, maka Allah Azza Wajalla adalah musuhnya dan Dia yang akan memperhitungkan segala perbuatannya. Sebab ia sudah tidak lagi dapat dipercaya dan telah melakukan pengkhianatan yang dilakukan dalam hal-hal yang bersifat duniawi,

"Dan sesungguhnya Allah tidak meridhai tipu daya orang-orang yang berkhianat" (QS. Yusuf: 52).

Anda sedang membaca Ilmu Tasawuf, Madzhab Kaum Sufi Dan Kedudukan Mereka Dengan Orang-Orang Yang Berilmu Yang Menegakkan Keadilan. Untuk mengikuti posting terbaru silahkan Liked Facebook Fanpage: Mistikus Cinta | Follow Twitter: @Sufipedia | Official LINE of Sufipedia Nusantara, LINE ID: @sufipedia | Telegram Group: @sufipedia. Terima kasih.

Post a Comment

 
Top