Sufipedia

Pendahuluan

Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita, Muhammad Saw. Ketahuilah, bahwa manusia termasuk golongan hewan yang dapat berpikir dan membedakan. Manusia selamanya akan mencintai perkara-perkara yang lebih mengutamakannya, kedudukan yang lebih memuliakannya, dan kekuasaan-kekuasaan yang lebih mengunggulkan dirinya, jika ia tidak mampu mengarahkan dirinya untuk membedakan (yang baik dan buruk) dalam ikhtiarnya, tidak dapat mengalahkan hawa nafsu dalam mengikuti tujuan-tujuannya, lebih mengutamakan apa yang dapat memenuhi kepuasan nafsunya, dan tidak suka dengan terbatasnya akhir tujuan yang merupakan kesempurnaannya.

Termasuk kesempurnaan manusia adalah suka berakhlak mulia, memperbaiki diri, dan suci dari kejelekan serta keburukan. Manusia berperilaku dalam semua kondisinya sesuai dengan norma-norma, dan menghindari cara-cara bejat dalam semua tindak-tanduknya. Jika hal demikian telah terpenuhi, maka manusia pun wajib menjadikan tujuannya untuk selalu berperilaku dengan setiap akhlak yang bersih dari cacat ataupun cela, serta mengarahkan himmah-nya pada tercapainya setiap watak mulia dan bersih dari cacat ataupun cela.

Demikian pula hendaknya manusia mencurahkan tenaganya untuk menjauhi setiap perilaku yang dibenci lagi buruk, dan mengerahkan usahanya untuk membuang jauh-jauh semua kebiasaan yang tercela dan keji, hingga ia mencapai kesempurnaan dengan kelurusan perilakunya, mengenakan pakaian halal yang indah dengan kesopan-santunan karakternya, membanggakan diri dengan keagungan para pemilik kemuliaan dan kebanggan, serta menghiasi diri dengan segelintir derajat keagungan dan kemuliaan. Bagaimanapun, orang yang baru mulai mencari kedudukan dan senang untuk mencapai derajat ini, boleh jadi aspek-aspek kebaikan yang dimaksudkannya akan menjadi samar, dan tidak ada beda baginya dengan keburukan yang semula hendak dihindarinya.

Oleh karena itu, dalam kaitannya dengan akhlak, yang akan kita uraikan dengan jelas adalah: apakah akhlak itu? Apakah sebab-sebab akhlak? Berapa macam jenisnya? Apa saja akhlak yang diridhai, yang disukai pelakunya, dan yang membuat orang berperilaku dengannya? Dan, apa sajakah akhlak yang dibenci, yang dimusuhi perbuatannya, dan yang membuat ternoda bagi orang yang melakukannya?

Semua ini adalah untuk membimbing dan mengarahkan siapa pun yang memiliki himmah, meninggikan derajat orang-orang yang mulia dan jiwa yang agung, serta memuliakan derajat orang-orang yang rendah dan hina. Demikian pula, dari akhlak yang terpuji akan menunjukkan seseorang pada jalan yang diridhai dan membiasakannya pada perilaku yang baik, serta menghindari dan menjauhi akhlak tercela, hingga ia menjadi orang yang diridhai karena perilakunya tersebut. Ia juga memiliki adat kebiasaan, karakter, dan watak yang senantiasa menunjukkannya, dari tumbuhnya tata krama yang bertumpu pada akhlak yang buruk atau dari kebiasaan pada perilaku-perilaku keji, dan dari adat yang buruk, serta dari perasaan intim dengannya.

Kami juga menjelaskan tentang manusia yang sempurna; yang lurus akhlaknya dan yang diliputi oleh semua etika yang baik. Demikian pula metode yang dapat menyampaikan dan mendorong seseorang pada kesempurnaan, hingga terbentuk substansinya, berupa kecintaan pada derajat yang tinggi. Di Samping itu, juga metode yang membuat seseorang senang untuk menapaki jalan hidup yang dipandang dapat membimbingnya dalam mencapai tujuan terakhir.

Terkadang, perlu juga memperhatikan apa yang kami paparkan, yakni barangsiapa yang memiliki aib, lalu ia telah diklaim dengan aib tersebut, padahal jelas-jelas ia berada dalam tujuan kesempurnaan, maka dari keadaannya ini, jika diulang padanya penyebutan akhlak-akhlak yang dibenci, yang merupakan aibnya, ia pun akan berhati-hati dari hal tersebut, menghindarinya dan bersungguh-sungguh meninggalkan serta menyucikan diri darinya. Demikian pula, jika ia berperilaku dengan akhlak yang terpuji. Barangsiapa yang (ingin) menghimpun keseluruhan akhlak terpuji, namun ia tidak memiliki sebagian akhlak terpuji tersebut, maka ia pun berusaha untuk berperilaku dengan sebagian akhlak terpuji yang tidak dimilikinya itu, serta membangkitkan dirinya untuk menghimpun semuanya.

Diharapkan bermanfaat juga apa yang kami jelaskan, tentang orang yang berada dalam tujuan sempurna. Sebab, orang yang lurus akhlaknya, sempurna perilakunya, paripurna, dan baik, akan mendengar orang yang menyebut-nyebut akhlak mulia dan etika luhur serta melihat bahwa semua itu merupakan adat kebiasaan dan karakternya. Dengan demikian, ia memiliki kenikmatan yang mengasyikkan dan kegembiraan yang membahagiakan, sebagaimana orang yang dipuji akan gembira jika si pemuji menyebut-nyebut dirinya dan membeberkan kemuliannya. Demikian pula karena jika ia mendapati akhlaknya termaktub dalam buku-buku yang disifati dengan kebaikan, maka hal itu akan mendorongnya untuk senantiasa bertumpu pada jalan hidupnya dan selalu bersikeras menempuh cara tersebut. (Selanjutnya - Definisi Akhlak)

Anda sedang membaca Pendahuluan Kitab al-Akhlaq Ibnu ‘Arabi. Untuk mengikuti posting terbaru silahkan Liked Facebook Fanpage: Mistikus Cinta | Follow Twitter: @Sufipedia | Official LINE of Sufipedia Nusantara, LINE ID: @sufipedia | Telegram Group: @sufipedia. Terima kasih.

Post a Comment

 
Top