Sufipedia

Tata cara mengamalkan perlengkapan ilmu kesempurnaan yang ada dalam wiradat, sebagai suatu peringatan. 

Pertama, tanda bagi datangnya hari kiamat. Kiamat artinya bangkit. Makna kiamat yang dimaksud disini adalah kiamat badan (mati), dimana pribadi akan bangkit.

Tanda-tanda sudah dekatnya kiamat badan, sebagai berikut:

1. Sering melihat sesuatu yang belum pernah dilihat sebelumnya. Ini merupakan bahwa ajalnya tinggal satu tahun lagi.

2. Sering mendengar sesuatu yang belum pernah didengar sebelumnya, misalnya mendengar percakapan jin, setan dan binatang. Ini tanda datang ajalnya tinggal setengah tahun.

3. Sering berubah pengelihatan, misalnya pada bulan Muharam dan Sapar, melihat langit berwarna merah, melihat matahari dan bulan berwarna hitam pada bulan Mulud dan Rabi’ul Akhir, melihat air berwarna merah pada bulan Rajab.

Melihat bayangannya sendiri menjadi dua pada bulan Ramadhan dan Syawal dan melihat nyala api berwarna hitam pada bulan Dzulkaedah. Ini tanda ajalnya tinggal dua bulan lagi.

4. Apabila jari tengah dilipat, ditekan pada telapak tangan, lalu jari manisnya diangkat. Setelah dapat mengangkat jari manis, ini menandakan ajalnya tinggal 40 hari lagi.

5. Jarinya kelihatan sudah berkurang dan pergelangan tangan kelihatan putus. Ini tanda kurang satu bulan lagi. Saatnya mengamalkan amalan peneguh ilmu kesempurnaan, yaitu:

a) Iman artinya percaya, yaitu percaya pada kodrat (kuasa).
b) Tauhid artinya mengesakan, yaitu berserah diri kepada kemauan kehendak.
c) Ma’rifat artinya arif yaitu mengetahui ilmunya, yakni mengetahui kedudukan Dzat, Sifat, Asma dan Af’al. Dzat artinya kantha (substansi), Sifat artinya rupa, Asma artinya nama dan Af’al artinya perbuatan.
d) Islam artinya selamat yaitu selamat hayatnya (hidup)

Ia berada pada sifat Jalal, Jamal, Kahar dan Kamal. Jalal artinya agung, yang agung adalah Dzat-Nya. Jamal artinya elok, yang elok adalah sifat-Nya, karena Dia bukan laki-laki, perempuan atau banci. 

Kahar artinya kuasa, yang berkuasa adalah nama-Nya karena Dia tidak bernama. Kamal artinya sempurna, yang sempurna itu perbuatan-Nya, karena Dia dapat menciptakan sesuatu yang terjadi seketika dan tanpa kesulitan.

Iman itu ada pada heneng (kesunyian pikiran), tauhid ada pada hening (kejernihan pikiran), ma’rifat ada pada kewaspadaan dan Islam ada pada ingatan.

6. Kelihatan rupa sendiri (layaknya bercermin tapi bukan cermin). Ini tanda kurang setengah bulan lagi. Saatnya melakukan pemujaan, mohon petunjuk kehendak yang Maha Kuasa. Caranya setiap akan tidur melakukan pujian sebagai berikut:

Puji-Ku adalah Satu, Dzat-Nya adalah Dzat-Ku. Sifat-Nya adalah sifat-Ku. Asma-Nya adalah asma-Ku. Perbuatan-Nya adalah perbuatan-Ku. Aku memuja dalam pertemuan manunggal sekeadaan dengan-Ku, karena Kodrat-Ku.

Setelah itu, bayangkanlah dalam pikiran yang dikehendaki untuk manunggal seperti ayah, ibu, kakek, nenek, istri, anak, cucu serta siapa saja yang dikehendaki untuk manunggal dalam alam baka. 

7. Merasa enggan dan tidak memiliki keinginan sesuatu lagi. Ini tanda tinggal tujuh hari lagi. Saatnya untuk bertobat, caranya setiap bangun tidur, baca sebagai berikut:

Aku menyesali Dzat-Ku sendiri, karena kotornya badan-Ku, menyimpangnya hati-Ku, kasarnya nafsu-Ku, lalainya hidup-Ku, kini kulebur sempurna bersama semua dosa-Ku, karena Kodrat-Ku.

8. Denyut nadi tangan sudah tidak terasa, gemerisik air dalam telinga sudah tidak terdengar lagi, kejernihan kuku sudah hilang, pengelihatan mata sudah kabur alis nampak terbelah dan ujung kemaluan sudah terasa dingin. Ini pertanda kiamat akan menjelang hadir bersama pribadi.

Saatnya untuk menyucikan semua anasir. Anasir artinya bangsa yaitu bangsa hak yang berada pada Dzat, Sifat, Asma dan Af’al.

Anasir badan berasal dari tanah, api, angin dan air. Semua ini dibuat menjadi suci mulia, kembali pada asalnya. Dikembalikan secara sempurna manunggal dengan anasir ruh yang ada pada wujud, ilmu, nur dan syuhud. Wujud artinya wahana, yakni darah karena darah merupakan kenyataan ruh. 

Ilmu artinya pengelihatan, yakni pengelihatan mata karena mata merupakan pengelihatan ruh. Nur artinya cahaya, yakni cahaya yang meliputi seluruh badan karena cahaya itu menjadi pertanda ruh. Syuhud artinya saksi, yakni nafas karena nafas itu menjadi saksi ruh. Cara menyucikan semua anasir tersebut adalah sebagai berikut:

Aku menyucikan semua anasir yang bersifat jasmani, suci mulia, sempurna manunggal dengan semua anasir-Ku yang bersifat ruhani. Suci dan selamat dalam keadaan jati, karena Kodrat-Ku.

Pada saat itu, apabila merasakan sesuatu pada badan hendaklah mengusap puser sebanyak tiga kali. Jika terasa pusing seperti hendak mabuk, hendaklah mengusap dada tiga kali. Jika merasa ngantuk hendaklah mengusap dahi tiga kali. Jika merasa lupa, usaplah ubun-ubun tiga kali. 

Dengan cara itu akan mengelakkan rasa jati wisesa artinya menghilangkan angan-angan karena datangnya godaan dari badan. Godaan ini berasal dari sedherek sekawan gangsal pancer (saudara yang empat dan kelima pancer), maka empat saudara dan lima pancer tersebut dilebur menjadi satu dengan amalan berikut:

Aku melebur saudaraku yang empat dan kelima pancer (pusat) yang berada pada badan-Ku sendiri, kakak beradik ari-ari, darah, puser dan semua saudara-Ku yang lahir melalui jalan hina. Dan yang tidak lahir melalui jalan hina, beserta saudara-Ku yang lahir bersama-Ku sehari. Semuanya menjadi sempurna, suci dan sejahtera dalam keadaan jati, karena Kodrat-Ku.

Setelah itu bersaksi terhadap Dzat-nya sendiri, sebagai berikut:

Aku bersaksi kepada Dzat-Ku sendiri, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Aku. Dan Aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad itu adalah utusan-Ku. Sesungguhnya yang bernama Allah itu adalah Badan-Ku, Rasul itu adalah Rahsa-Ku, Muhammad itu adalah cahaya-Ku. Aku yang selalu ingat dan tidak akan pernah lupa. Akulah yang kekal abadi dan tidak pernah berubah dalam keadaan jati.

Akulah yang Maha Kuasa, kuasa lagi bijaksana, tidak kekurangan pengertian, sempurna, terang benderang, tidak terasa apa-apa. Hanya Aku yang meliputi alam semesta, karena Kodrat-Ku.

Jika sudah demikian, maka Cahaya Nur Muhammad akan turun berkilauan pada wajahnya. Saatnya untuk sebagai berikut: mengawinkan badan dengan nyawa, Allah yang mengawinkan, Rasul sebagai walinya, Muhammad sebagai penghulunya, dengan saksi empat malaikat. Aku yang mengawinkan badan-Ku sendiri, satu pertemuan dengan sukma-Ku, dengan rahsa-Ku sebagai wali, disyahkan oleh Cahaya-Ku, disaksikan empat malaikat, Jibril sebagai pengucap-ku, Mikail sebagai penciuman-Ku, Isrofil sebagai pengelihatan-Ku dan Izroil sebagai pendengaran-Ku. Mas kawinnya adalah sempurna, karena Kodrat-Ku.

Dari sini, maka akan terciptalah sangkan parannya tanazul-taraqi (tanazul artinya pemahaman menaik dan taraqi adalah pemahaman menurun dalam martabat tujuh), seperti berikut:

Aku mendaki dari pengelihatan insan kamil ke alam ajsam, alam misal, alam arwah, alam wahidiyat alam wahdah, alam Ahadiyat dan Alam Insan Kamil yang sempurna terang benderang, karena Kodrat-Ku.

Diatur dalam singgasana Baitul Muharram, yakni dada. Jangan sampai berkumpul antara nafas, tanafas, anfas dan nufus. 

Nafas itu tali tubuh, terletak di hati suweda artinya titian hati. Perwujudannya menjadi udara yang keluar. 

Tanafas adalah tali hati, terletak dipuser. Ia wujud udara yang masuk. 

Anfas adalah tali ruh, terletak di jantung. Perwujudan udara yang berada di dalam.

Nufus adalah tali rahsa, berada didalam jantung yang putih, yakni titian jantung. Perwujudannya adalah udara yang meliputi seluruh jasmani dan ruhani. 

Apabila nafas, tanafas, anfas dan nufus ini telah berkumpul menjadi satu, ditarik perlahan-lahan, lalu berhenti dalam singgasana Baitul Makmur, yakni kepala dan dikembalikan menjadi nukat ghoib.

1) Kemudian mata dipejamkan perlahan-lahan, bibir ditutup rapat, lidah dilipat ke atas, ujungnya menekan langit-langit, gigi bertemu gigi dengan rapat. Kemudian mengheningkan cipta dan berserah diri sambil menyesali kesalahan pada Dzat-nya sendiri. 

Jika sudah demikian, daun pohon Syajaratul Muntaha akan runtuh dan Bukit Sinai pun roboh. Artinya, telinga menjadi layu dan hidung mengkerut. 

Saat itu datanglah cahaya dari nafsu berupa empat perkara; mula-mula sinar hitam, sinar merah, sinar kuning dan sinar putih. Kemudian kelihatanlah sinar pramana lima warna yang terbentang; hitam, merah, hijau, kuning dan putih. 

Semuanya meliputi dzat istana, tetapi itu bukanlah istana yang sejati yang diatur oleh Yang Maha Mulia. Oleh sebab itu, sebelum sinar-sinar tersebut datang, terlebih dahulu harus baca mantra penghapus sumbernya satu persatu. Lalu dilebur Kodrat kita, jangan sampai ditutupi oleh cahaya. Adapun bacaannya sebagai berikut:

Cahaya hitam berasal dari nafsu Lawwamah, terhisap masuk ke dalam cahaya merah. Cahaya merah itu berasal dari nafsu Amarah, terhisap masuk ke dalam cahaya kuning. Cahaya kuning itu berasal dari nafsuh Sufiyah (nafsu sex), terhisap masuk ke dalam cahaya putih. Cahaya putih itu berasal nafsu Muthmainah (tenang), terhisap masuk ke dalam panca warna. Cahaya panca warna berasal dari pramana, terhisap masuk ke dalam Dzat Cahaya-Ku yang jernih, memancar berkilauan tanpa bayangan. Sempurna terang benderang, tidak kelihatan apa-apa. Semuanya terliput oleh Dzat-Ku, karena Kodrat-Ku. (Selanjutnya - Praktek Wirid Mencapai Kesempurnaan)

Anda sedang membaca Ajaran Makrifat Jawa: Wirid Mencapai Kesempurnaan (4). Untuk mengikuti posting terbaru silahkan Liked Facebook Fanpage: Mistikus Cinta | Follow Twitter: @Sufipedia | Official LINE of Sufipedia Nusantara, LINE ID: @sufipedia | Telegram Group: @sufipedia. Terima kasih.
 
Top