Sufipedia

Kitab Al Luma' Fi Al Tashawwuf

MUKADIMMAH:

II. Ciri Ahli Hadis, Gambaran Mereka Dalam Mengambil Dan Mengetahui Hadis Serta Spesialisasi Mereka Dalam Disiplin Ilmu

(RUJUKAN LENGKAP ILMU TASAWWUF)

Tulisan Abu Nashr Abdullah bin Ali as-Sarraj ath-Thusi yang diberi gelar Thawus al-Fuqara' (Si Burung Merak orang-orang fakir Sufi)

Syekh Abu Nashr as-Sarraj -- rahimahullah -- berkata: Ada pun para ahli Hadis, mereka sangat bergantung pada lahiriah Hadis-hadis Rasulullah saw. Mereka mengatakan, bahwa ini (Hadis) adalah asas agama, karena Allah swt. berfirman dalam Al-Qur'an:

"Apa yang diberikan rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang ia melarangmu maka tinggalkanlah." (QS. Al-Hasyr: 7)

Tatkala mendapatkan seruan seperti itu, mereka kemudian melakukan pengembaraan kepada berbagai negeri dan kota untuk mencari para perawi Hadis dan berguru pada mereka sehingga mampu merekam (menukil) Hadis-hadis Rasulullah saw. Mereka kumpulkan Hadis-hadis yang diriwayatkan dari para sahabat dan tabi'in. Kemudian menulis perjalanan hidup, perilaku, madzhab-madzhab mereka, perbedaan pendapat dalam ketentuan hukum, perkataan, perbuatan, akhlak dan kondisi mereka. Mereka menyeleksi Hadis-hadis shahih dari para perawinya dengan cara mendengar dan hafalan. Mengoreksi dari sumber-sumber yang bisa dipercaya dari orang yang bisa dipercaya pula. Mereka garap secara cermat dan teliti. Mereka juga tahu kedudukan para perawi Hadis dalam menukil dan ketelitiannya. Kemudian mereka tulis nama-nama mereka, gelar (nama lain), kapan lahir dan meninggalnya.

Mereka sangat mendalami hal ini hingga mereka tahu berapa Hadis yang diriwayatkan oleh masing-masing orang dari mereka?
Dari siapa yang meriwayatkannya oleh masing-masing orang dari mereka?
Dari siapa yang meriwayatkannya?
Dari siapa ia menukil Hadis itu?
Siapa yang keliru dan menukil Hadis?
Siapa diantara mereka yang berbuat kesalahan sehingga terjadi penambahan huruf atau pengurangan lafal?
Siapa diantara mereka yang sengaja melakukan hal itu?
Siapa yang kesalahan atau kealpaannya masih bisa ditolerir?
Sehingga mereka tahu siapa diantara mereka diduga kuat telah melakukan kebohongan dalam Hadis Rasulullah.saw.?
Siapa yang dianggap sah dalam meriwayatkan Hadis dan siapa pula yang tidak sah?
Siapa yang meriwayatkan Hadis secara sendirian, sementara perawi lain tidak pernah meriwayatkannya,atau telah menambah suatu lafal yang tidak ditemukan dalam riwayat lain?
Mereka hafal berapa yang meriwayatkan setiap satu Hadis. Apa cacat perawinya?

Sehingga mereka mengumpulkannya dalam bab-bab. Lalu menjadikan beberapa bab dalam macam-macam Hadis. Mereka membedakan antara yang masuk dalam kategori hadis-hadis shahih dan yang keshahihannya masih diperdebatkan. Mana yang masuk dalam riwayat orang-orang yang sedikit meriwayatkan Hadis dan orang-orang yang banyak meriwayatkannya? Mereka paham Hadis-hadis para imam yang ada di daerah, tingkatan para perawi Hadis: Antara yang mengikut dan yang diikuti, yang besar dan yang kecil.

Keilmuan mereka sangat memahami tentang berbagai alasan yang menjadikan mereka berbeda dalam periwayatan Hadis, penambahan dan pengurangan mereka, tempat-tempat dimana mereka tinggal dalam meriwayatkan Hadis dan Atsar. Mereka telusuri semua itu karena itu adalah asas-asas agama.

Dalam hal itu mereka juga tidak sama tingkatan dan kedudukannya, sehingga ada diantara mereka, karena kelebihannya dalam ilmu yang dimiliki, kecermatan dan kuat hafalannya, ia berhak untuk diterima kesaksiannya dimata ulama dalam hal 'adl dan tajrih adil dan cacatnya dalam kesaksian, diterima dan ditolak kesaksiannya. Sehingga kesaksiannya terhadap Rasulullah saw. bisa diterima dalam setiap apa yang dikatakan, dilakukan, diperintahkan, dilarang, disunnahkan dan yang didakwahkannya. Allah berfirman:

"Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian (umat Islam), umat yang adil dan pilihan, agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian." (QS. Al-Baqarah: 143)

Mereka disebut sebagai ahli Hadis karena kesaksiannya terhadap Rasulullahsaw., sahabat dan tabi'in atas apa yang mereka katakan dan lakukan. Sedangkan Rasul juga akan menjadi saksi terhadap kalian atas kesaksian mereka terhadap perbuatan, perkataan, kondisi dan akhlak beliau.

Rasulullah saw. bersabda:

"Barangsiapa sengaja melakukan kebohongan padaku, maka hendknya siap-siap untuk menempati tempat tinggalnya di neraka." (HR. Bukhari-Muslim dari Ali, dan Bukhori dari Maslamah)

Sebaliknya,beliau juga bersabda:

"Allah akan mencerahkan wajah seseorang yang mendengar Hadis dariku kemudian ia menyampaikannya kepada orang lain." (HR. Ashhabus-Sunan dari Ibnu Mas'ud, Sedangkan riwayat Ahmad, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dari Ibnu Mas'ud pula).

Dikatakan bahwa seorang belum bisa disebut sebagai ahli Hadis sebelum diwajahnya ada sinar cerah sebagai tanda dari doa Rasulullah.saw.

Dan di kalangan ahli Hadis yang membicarakan ilmu dan karakteristik mereka telah lahir barbagai karya tulis. Mereka juga memiliki imam-imam yang namanya terkenal luas dan harum. Dimana setiap orang di zamannya sepakat menjadikan mereka sebagai imam, karena keutamaan ilmunya, kelebihan intelektual, pemahaman dan amanahnya. Untuk membicarakan hal ini akan sangat panjang, sehingga apa yang saya sebutkan ini dianggap cukup bagi orang yang mengetahui. Dan semoga ALLAH SWT. Memberi taufik kepadanya. (Selanjutnya - III. Tingkatan Para Ahli Fiqih Dan Spesialisasi Mereka Dengan Menyandang Berbagai Keilmuan)

Anda sedang membaca Ciri Ahli Hadis, Gambaran Mereka Dalam Mengambil Dan Mengetahui Hadis Serta Spesialisasi Mereka Dalam Disiplin Ilmu. Untuk mengikuti posting terbaru silahkan Liked Facebook Fanpage: Mistikus Cinta | Follow Twitter: @Sufipedia | Official LINE of Sufipedia Nusantara, LINE ID: @sufipedia | Telegram Group: @sufipedia. Terima kasih.

Post a Comment

 
Top