Sufipedia

Suatu kali ketika sedang terbang, burung hoope tiba di lingkungan beberapa burung hantu, lalu mampir di sarang mereka.  Nah, sebagaimana yang dikenal baik oleh masyarakat Arab, burung hoope termasyhur karena ketajaman matanya, sementara burung-burung hantu itu pada siang hari buta. Burung hoope melewatkan malam itu bersama burung-burung hantu di dalam sarang mereka, dan mereka menanyainya tentang segala macam hal. Pada waktu fajar, ketika burung hoope berkemas dan siap untuk pergi, burung-burung hantu itu berkata, ‘Kawanku yang malang!  Sungguh aneh, apa yang akan kamu lakukan?

‘Ini mengherankan,’ kata si hoope, ‘Semua pekerjaan berlangsung pada siang hari.’

‘Apakah kamu gila? Burung-burung hantu itu bertanya. ‘Pada siang hari, dengan ketidak jelasan yang disebarkan matahari atas kegelapan malam, bagaimana kita bisa melihat?

‘Justru sebaliknya,’ kata si hoope, ‘Semua cahaya di dunia ini tergantng pada cahaya matahari, dan darinyalah segala sesuatu yang bersinar itu mendapatkan cahayanya. Sesungguhnya ia dinamakan “mata dari hari”, sebab ia merupakan sumber cahaya.

Tetapi burung-burung hantu itu mengira dapat megalahkan logika-nya dengan menanyakan mengapa tak seorang pun dapat melihat pada siang hari.

‘Jangan beranggapan bahwa lewat analogi dengan diri kalian sendiri setiap orang itu seperti kalian. Semua yang lain dapat melihat pada siang hari. Lihatlah aku. Aku dapat melihat, aku berada di dunia yang dapat dilihat, dapat diamati. Ketidakjelasan itu telah hilang, dan aku dapat mengenali permukaan yang cemerlang dengan jalan menyingkapkannya tanpa gangguan keragu-raguan.’

Ketika burung-burung hantu mendengar ini, mereka menjadi ribut menjerit-jerit dan, sambil bertengkar ssatu sama lainnya, mereka berkata, ‘Burung ini berbicara tentang kemampuan melihat pada siang hari, ketika kita terserang kebutaan.’ Dengan segera mereka menyerang si hoope dan melukainya dengan paruh dan cakar mereka. Mereka mengutuknya dengan memanggilnya “si melek siang hari”; sebab, kebutaan pada siang hari merupakan kewajaran di kalangan mereka. ‘Jika kamu tidak menarik kembali perkataanmu,’ mereka berkata, ‘kamu akan di bunuh!’.

‘Jika aku tidak membuat diriku buta,’ pikir si hoope, ‘mereka akan membunuhku. Karena mereka merasakan kesakitan terutama pada mata mereka, kebutaan dan kematian akan terjadi secara serentak.’

Dan kemudian, diilhami oleh pepatah, ‘Berbicaralah dengan orang-orang sesuai dengan tingkar kecerdasan mereka,’ dia menutup matanya dan berkata,’ Lihat! Aku menjadi buta seperti kalian!.’

Melihat memang demikianlah halnya, mereka berhenti memukul dan melukai si burung hoope, yang menyadari bahwa mengungkap rahasia Ilahi di kalangan orang-orang yang tidak percaya, sama saja dengan menyebarkan rahasia kekafiran mereka. Dan karenanya, sampai tiba waktu perpisahan, secara susah payah di bertahan dengan berpura-pura buta dan berkata:

Berkali-kali aku mengatakan bahwa aku akan menyingkapkan semua rahasia di dunia yang fana ini.

Tetapi, karena takut akan pedang dan adanya hasrat untuk menyelamatkan diriku, (aku telah mengunci) bibirku dengan seribu paku.

Dia mengeluh dalam-dalam dan berkat, ‘Dalam diriku ada banyak pengetahuan; Jika aku melepaskannya, aku akan terbunuh.

Jika selubung itu di angkat, aku tidak akan menjadi lebih yakin.

‘Agar mereka menyembah Allah yang mengungkapkan segala yang terpendam di langit dan di bumi serta mengetahui apa-apa yang disembunyikan dan dinyatakan (QS.27:25).

‘Jelaslah, tidak sesuatu pun yang tidak dari kami perbendaharaannya. Dan kami tidak mengaruniakan semua kebutuhan itu, kecuali dengan kadar yang serba tertentu (QS. 15:21).


Anda sedang membaca Hikayat Mistik Suhrawardi: Burung Hoope dan Burung Hantu. Untuk mengikuti posting terbaru silahkan Liked Facebook Fanpage: Mistikus Cinta | Follow Twitter: @Sufipedia | Official LINE of Sufipedia Nusantara, LINE ID: @sufipedia | Telegram Group: @sufipedia. Terima kasih.

Post a Comment

 
Top