Sufipedia

Lanjutan Al-Hikam, sebuah kitab tasawuf yang ditulis oleh seorang ulama besar dan guru sufi bernama Syekh Ahmad ibn Muhammad ibn Atha’illah as-Sakandari. Berikut intisari Hikmah Sufi Kitab Al Hikam Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari:

(21) 
"Tidaklah ada satu jiwa pun yang kamu lepaskan (tampakkan), melainkan bagi setiap jiwa itu ada ketentuan (Allah) yang akan melestarikannya padamu. Janganlah menunggu hilangnya penghalang untuk melaksanakan perjalananmu untuk menuju kepada Allah Yang Maha Tinggi. Sesungguhnya yang demikian itu akan memutuskan kamu dari kewajibanmu menuju kepada Allah di dalam apa yang Allah meletakkan (menempatkanmu) di dalamnya".

(22) 
"Janganlah kamu merasa heran seandainya terjadi kesulitan-kesulitan yang selama kamu hidup di dunia ini. Maka sesungguhnya dunia itu tidak diciptakan, melainkan telah menjadi hak atas sifatnya (yang penuh dengan cobaan) serta telah menjadi kepastian sifatnya”.

(23) 
"Tidaklah terhenti (sulit) permintaan yang kamu memintanya dengan Tuhanmu (mengenai masalah duniawi atau ukhrowi). Dan tidaklah mudah permintaan yang kamu memintanya itu dengan kekuatan dirimu sendiri".

(24) 
"Setengah dari tanda-tanda keberhasilan (ketulusan) pada akhir tujuan adalah kembalinya kepada Allah Yang Maha Luhur pada awal tujuan itu”.

(25) 
"Barangsiapa bercahaya pada permulaannya, niscaya bercahaya pula pada akhirnya".

(26) 
"Apa yang tersembunyi keghoiban bermacam bentuk manusia pasti tampak jelas pada anggota lahir".

(27) 
“Amat jauh bedanya antara orang yang berlandaskan bahwa adanya Allah itu menunjukkan adanya alam dan orang yang berlandaskan bahwa adanya alam ini menunjukkan adanya Allah. Adapun orang yang berlandaskan bahwa adanya Allah itu menunjukkan adanya alam, ini dia mengerti bahwa yang haq (wujud) ini adalah milik-Nya. Maka dari itu dia menetapkan suatu perkara yang baru itu dari pada asalnya (yaitu yang menciptakan perkara baru). Sedangkan orang yang berlandaskan bahwa adanya alam ini menunjukkan adanya Allah itu disebabkan dia belum sampai kepada Allah. Kalaupun tidak demikian, maka kapankah Dia itu ghaib sehingga membutuhkan landasan guna mengetahui-Nya, dan kapan Dia itu jauh sehingga adanya sesuatu yang ada ini bisa menyampaikan kepada-Nya".

(28) 
"Orang yang mampu hendaklah membelanjakan menurut dari kemampuannya, yaitu orang-orang yang telah sampai kepada Allah. Dan orang yang disempitkan rizqinya hendaklah membelanjakan hartanya yang Allah telah berikan kepadanya, yaitu orang-orang yang berjalan menuju kepada Allah".

(29) 
"Telah mendapat petunjuk orang-orang yang berkendaraan menuju kepada Allah dengan cahaya pendekatannya, dan orang-orang yang sampai kepada Allah, baginya dicurahkan cahaya pendekatan-Nya. Maka golongan pertama (yaitu orang-orang yang berkendaraan menuju kepada Allah). Menghendaki cahaya tersebut (agar ia bisa sampai kepada-Nya). Sedangkan orang-orang yang telah sampai kepada Allah, maka cahaya dari Allah itu telah tetap baginya, karena sesungguhnya mereka hanya karena Allah tidak karena sesuatu selain Allah".

(30) 
“Usahamu untuk mengetahui apa yang tersimpan di dalam dirimu dari berbagai macam cela itu adalah lebih baik, daripada usahamu kepada apa yang terhalang dari kamu dari berbagai macam perkara yang ghoib".

(31) 
"Dzat Yang Haq (Allah) itu tidak terhijab (terdinding). Bahwasanya yang terhijab itu adalah kamu sendiri dari melihat kepada-Nya. Jikalau ada yang menghijabi Allah, berarti menutupi-Nya apa yang menghijabinya itu. Dan jikalau baginya ada sesuatu yang menutupi, berarti wujudnya Allah itu terkurung. Dan tiap-tiap yang mengurung sesuatu, maka baginya (yang mengurung itu) yang menguasai itu. Sedangkan Allah adalah Dzat Yang Menguasai seluruh hamba-hamba-Nya".

(32) 
"Keluarlah kamu dari sifat-sifat kemanusiaanmu yang buruk dari setiap sifat yang dapat merusak sifat kebudihanmu agar kamu berada untuk menyambut panggilan Dzat Yang Haq (Allah), dan dari kehadirat-Nya adalah lebih dekat"

(33)
"Asal dari semua ma'siat, lupa kepada Allah dan rela menuruti syahwat yang datangnya dari hawa nafsu. Dan asal dari setiap ketaatan, kesadaran dan menjaga diri dari syahwat itu tidak ada kerelaan darimu dalam menuruti hawa nafsu".

(34) 
"Demi sungguh, seandainya engkau bersahabat dengan orang bodoh yang tidak rela mengumbar nafsu amarahnya itu lebih baik bagimu daripada engkau bersahabat dengan orang alim (pandai) yang rela mengumbar nafsu amarahnya. Maka manakah ada ilmu bagi orang yang berilmu rela mengumbar nafsu amarahnya? dan manakah kebodohan bagi orang yang bodoh yang ia tidak rela mengumbar nafsu amarahnya?".

(35) 
"Cahaya bashiroh itu menyaksikanmu betapa dekatnya Allah dari padamu, dan 'ainul bashiroh menyaksikanmu akan ketiadaanmu karena wujud-Nya. Serta haqqul bashiroh menyaksikan akan wujud-Nya, tidak pada ketiadaanmu dan tidak pula pada wujudmu".

(36) 
“Jangan lewatkan niat kepentinganmu kepada selain Allah. Sedangkan Allah Dzat yang Maha Mulia itu tidak bisa melewati angan-angan”

(37) 
“Janganlah sekali-kali kamu mengangkat (menginginkan) suatu hajat kepada selain Allah. Padahal`Dia-lah yang menyampaikan hajat kepadamu. Maka bagaimanakah selain Allah itu dapat menghilangkan sesuatu hajat yang telah diletakkannya?. Orang tiada akan mampu menghilangkan sesuatu hajat dari dirinya sendiri, maka bagaimanakah dia akan mampu menghilangkan hajat orang lain?”.

(38) 
“Jika kamu tidak berbaik sangka kepada Allah karena sifat-Nya yang baik itu, maka berbaik sangkalah karnu kepada-Nya karena nikmat yang telah dilimpahkan kepadamu. Maka tidaklah Dia membiasakan kepadamu melainkan kebaikan. Dan tidaklah Dia mengenakan kepadamu melainkan berbagai macam pemberian".

(39) 
“Sungguh sangat mengherankan terhadap orang yang lari dari apa yang dia tidak bisa dipisahkan dari padanya dan mencari apa yang tidak ada keabadian baginya bersama-sama dengannya, maka sesungguhnya yang demikian itu bukanlah buta penglihatan, tetapi buta hatinya yang tertanam di dalam dadanya".

(40) 
"Janganlah kamu berangkat dari satu keadaan menuju pada keadaan yang lain. Maka jadilah kamu seperti hewan himar penarik gilingan. Ia berjalan sedang jalan yang ditempati itu sebenarnya adalah jalan dimana dia mulai berangkat. Akan tetapi berangkatlah dari semua keadaan ini menuju kepada yang menciptakan keadaan (Allah), sesungguhnya hanya kepada Tuhanmu tetap kamu sampai pada tujuan".

(41) 
"Dan ingatlah sabda Rasulullah S.A.W. (yang artinya): Barang siapa yang hijrahnya menuju (keridhoan) Allah dan Rasul-Nya. Maka hijrahnya itu ke arah (keridhoan) Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu karena dunia (harta atau kemegahan dunia), atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu. ke arah yang ditujuinya. Oleh karena itu, fahamkan sabda Rasulullah S.A.W dan renungkanlah perkara ini jika kamu orang mempunyai kefahaman".

(42) 
"Janganlah kamu berkawan dengan orang yang tingkah lakunya tidak membangkitkan ibadahmu dan ucapannya yang tidak menunjukkan kamu kepada Allah kemungkinan kamu berbuat jelek (kesalahan), maka ditampakkan kepadamu sebagai kebaikan, karena persahabatanmu dengan orang yang lebih jelek tingkah lakunya dari pada kamu".

(43) 
"Tidaklah sedikit (banyak) amal yang keluar dari hati orang zuhud, dan tidaklah banyak (sedikit) amal yang keluar dari hati orang yang senang keduniaan”.

(44) 
"Baiknya suatu amal itu adalah merupakan hasil dari baiknya keadaan hati. Sedang baiknya keadaan hati itu adalah merupakan sebagian tanda ketetapan di dalam kedudukan (orang yang diberi cahaya ke-Tuhanan) yang turun ke dalam hati".

(45) 
"Janganlah kau tinggalkan dzikir disebabkan karena hatimu tidak hadir bersama-sama Allah didalam dzikir. Sesungguhnya kelalaianmu kepada Allah tanpa adanya dzikir itu sangat berbahaya, daripada kelalaianmu kepada Allah masih adanya dzikir kepada-Nya. Semoga Allah mengangkatmu dari dzikir yang disertai kelalaian menuju pada dzikir yang disertai dengan kesadaran (ingat kepada Allah), dan dari dzikir yang disertai kesadaran menuju pada dzikir yang disertai kehadiran hati kepada-Nya, dan dari dzikir yang disertai kehadiran hati kepada-Nya menuju kepada dzikir yang disertai adanya keghoiban dari selain yang telah disebut. Dan yang demikian itu tidaklah sukar bagi Allah”.

(46)
"Sebagian dari tanda-tanda matinya hati adalah tidak adanya kesedihan (sudah) atas apa yang ditinggalkan oleh kamu dari semua ketaatan, dan meninggalkan penyesalan-penyesalan terhadap apa yang kamu telah menjalankannya dari wujudnya semua kesalahan (dosa atau maksiat)".

(47) 
"Jangan dianggap besar dosa yang ada padamu sehinga engkau terhalang dari berbaik sangka kepada Allah, maka sesungguhnya orang yang mengenal Tuhannya menganggap kecil dosanya di sisi sifat kemurahan-Nya".

(48) 
"Tidak ada amal (kebaikan) yang lebih diharapkan untuk diterima dari amal yang kamu samar melihatnya serta dianggap rendah wujudnya menurut kamu”.

(49)
“Sesungguhnya Allah mendatangkan warid (cahaya Ilahi) itu kepadamu agar kamu dengan warid itu menjadi orang yang menghadap dan masuk ke hadirat-Nya (dengan hati yang ikhlas)".

(50) 
"Allah mendatangkan warid kepadamu agar kamu selamat dari cengkeraman duniawi dan nafsu syahwat, serta agar kamu bebas dari belenggu sifat-sifatmu untuk menuju ke alam penglihatanmu kepada-Nya”.

(51) 
"Cahaya-cahaya (iman) itu merupakan kendaraan yang bisa membawa hati dan rahasia-rahasia untuk menuju kehadirat Allah".

(52) 
"Cahaya (Iman, Tauhid, dan Yaqin) adalah merupakan bala tentara hati, sebagaimana kegelapan (Syirik) adalah bala tentara nafsu. (Oleh karena itu) apabila Allah berkehendak menolong hamba-Nya, niscaya Dia membentangkan hati hamba-Nya bala tentara cahaya (Iman, Tauhid, Yaqin), dan Dia memutuskan dari padanya bala tentara kegelapan nafsu (Syirik)".

(53) 
"Nur (cahaya) itu baginya sebagai pembuka, bashiroh (penglihatan hati) itu baginya sebagai hikmat (kepahaman) dan hati baginya sebagai pelaksana (penerima) dan penolak (penentang)".

(54) 
"Janganlah kamu merasa gembira berkat ketaatan (yang kamu kerjakan). Karena ia (taat) itu, keluar darimu. Dan bergembiralah dengan taat itu karena ia keluar dari Allah kepadamu. (Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an) “Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmatNya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”.

(55) 
“Allah telah memutuskan (menghalangi) orang yang sedang berjalan menuju kepada-Nya dan orang yang sampai kepada-Nya dari melihat amal-amal mereka dan menyaksikan tingkah laku hati mereka. Adapun orang yang sedang berjalan menuju kepada-Nya, karena sesungguhnya mereka belum meyakinkan kebenaran bersama-sama dengan Allah dan dalam amal-amal itu, sedang orang yang telah sampai kepada Allah telah menyamarkan mereka dari amal-amalnya sebab telah sibuk melihat-Nya”.

(56) 
"Tidak akan berkembang cabang-cabang kehinaan melainkan berkembang di atas biji tamak".

(57) 
"Tidak ada menuntun kepadamu sesuatu seperti waham (angan-angan)".

(58) 
"Kamu merdeka (bebas) dari apa yang kamu putus daripadanya. Dan kamu tetap menjadi budak bagi segala sesuatu yang kamu tamak kepadanya".

(59) 
"Barang siapa yang tidak menghadap kepada Allah ketika diberi kehalusan-kehalusan karunianya, niscaya dia akan dibelenggu dengan berbagai rantai ujian. Barang siapa yang tak mensyukuri segala nikmat, maka benar-benar dia telah menyodorkan untuk hilangnya nikmat. Dan barangsiapa yang mensyukuri nikmat, benar-benar dia telah mengikatnya dengan tali".

(60) 
“Takutlah kamu dari wujudnya kebaikan (kenikmatan) yang diberikan oleh Allah kepadamu, padahal kamu tetap dalam mengerjakan kemaksiatan kepada-Nya, dimana semua itu akan menjadi istidroj kepadamu. (sebagaimana firman Allah): Nanti aku akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui”. (Selanjutnya - Hikmah Sufi Al Hikam Syekh Ibnu Atha’illah (3)..... 61)

Anda sedang membaca Hikmah Sufi Al Hikam Syekh Ibnu Atha’illah (2). Untuk mengikuti posting terbaru silahkan Liked Facebook Fanpage: Mistikus Cinta | Follow Twitter: @Sufipedia | Official LINE of Sufipedia Nusantara, LINE ID: @sufipedia | Telegram Group: @sufipedia. Terima kasih.
 
Top