Sufipedia


Kitab Hakekatul Insan (Tentang Diri) - Terang hatinya atau terangnya hati dikala mulai mujahadah (harus berguru!) dan ini tingkat pertama ialah terangnya hati pada permulaan kali mengikuti ajaran atau instruksi guru, jika mau benar-benar dirasakan jiwa yang selalu bergerak-gerak dalam hati sanubari atau jelasnya jika orang itu benar-benar mau merasakan denyutan hati, maka akan menemui kenyataan dari segala tingkah lakunya, segala perbuatan dosa yang mana kesemuanya akan nyata tergambar, teringat, sadar dan mendengung-dengung serta samar-samar nampak dihadapannya.

Dari hal lafadz Allah dalam ketenangan hati seseorang, akan mengakui tanpa oyak bahwa tangan (jarinya) akan berbentuk serupa lafadz Allah dalam tulisan Arab

Lihat gambar:

Lafadz Allah Pada Jari Tangan


Bukan jari-jari tangan saja, tetapi akan terdapat disegala hal ikhwal bentuk manusia, dan kesemuanya mempunyai pengertian masing-masing, baik tangan, kaki, alis dan lain-lainnya.

Dari bentuk yang paling jelas ialah pada jari-jari tangan sekali lagi lihat gambar.

Dan semua anggota badan mempunyai makna sendiri-sendiri kesemuanya akan mengeluarkan pengertian harfiah dan ma’nawiyah.

Orang akan dapat ‘’tersentuh’’ Nur Muhammad jika orang itu merasakan pribadi dan melakukan ajaran gurunya (Nabi Muhammad - Nabi juga disebut guru tepatnya Maha Guru). Jika keluar rumah mengucapkan:

Bismilaahi tawakkaltu 'alallahi wa laa hawla wa laa quwwata illaa billaahil aliyyil adziim.

Artinya: Dengan menyebut nama Allah, aku menyerahkan diriku pada Allah dan tidak ada daya dan kekuatan selain dengan Allah saja. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Dan sambil melangkahkan kaki kirinya - juga sering-sering melakukan Shalat Dhuha dan lain-lain, dengan demikian Nur itu dapat bertambah cemerlang dan memajukan amalnya.

Jika orang itu melakukan dengan bersungguh-sungguh maka Nur itu akan ‘’terpegang’’ olehnya. Sedangkan tiap-tiap orang itu mempunyai Nur sendiri-sendiri, tetapi kebanyakan orangnya tidak dapat membuka.

Wayang:
Wa = wadah
(N) Yang = peparing soko Allah

Cemerlangnya jika maqamnya terbuka, maka Nur itupun akan timbul, akan menyinari seluruh alam seluruh dirinya sendiri (Microcosmos), jika dosa-dosa sudah bersih dengan disertai merasakan jiwa.

Pemusatan kesatuan merasakan jiwa, ialah mengarahkan pandangan mata ke puncak hidung, dalam Bahasa Jawa = Gerahono artinya ugerono yang sampai mendapat julukan menoro putih = menara putih lambang dari nafsu Muthmainah (Jiwa nan tenang dan tenteram).

Jika sudah demikian halnya maka orang itu dapat memerintah tidurnya lain halnya dengan kebanyakan orang yang mana dia itu diperintah oleh ngantuknya (jadi dia diperintah oleh nafsunya). Kalau orang itu sudah sampai pada taraf yang demikian, maka Allah akan mencurahkan segalanya pada orang itu, baik dipandang dari jumlah kekayaan, maupun yang berhubungan dengan jasmani (kesehatan - kewarasan).

Maka berhati-hatilah perihal dari dzikir (ingat) dan dzawq (merasakan) karena ini adalah kunci untuk membuka pintu Nur seseorang.

Adanya Nur dapat memancar dikarenakan panembah, tunduk ibadah serta mentaati segala peraturan Allah dan merasakan masuk keluarnya nafas.


Dzikirnya:



Dzikirnya:


‘’Dan Allah membuahkan dalam dzikirku’’

Dari getaran nafsu yang mendadak yang mana hingga membawa akibat denyutan keras dalam hati, akan merubah konstruksi dzikir yang dapat menyebabkan perubahan-perubahan badaniyah (misalnya gemetar, buang air dan lain-lainnya).

Puncak dzikir ialah dzikir Nafi Isbat, dzikir menyirnakan seluruhnya dan tetap terpaku tepat kepada Allah.


Nafi
sirna semua


Isbat
hanya Allah

Orang-orang diajak kejalan Allah, dalam Al - Qur’an jelas dalam Surat Al - An’aam.

‘’Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia’’ (QS. Al - An’aam: 153)

Nur akan tambah bercahaya, jika mau panembah - Apakah sudah ada titik (merica ???) sebagaimana yang disebutkan dalam pelajaran yang lalu, yakni pada tingkat ke 3.

Titik hitam yang ada dimuka itu adalah tanda, jika hilang sama dengan lupa, jika tak ada berarti kurang ingat dan kurang merasakan. Cara berguru (guru = mursyid) si murid disuruh mencari dengan ikhtiar sendiri, guru hanya mengawasi saja, dan oleh si guru tidak di suruh mengaji.

Melipat lidahpun harus dibiasakan (system Abu Bakar r.a dengan memasukkan batu dalam mulutnya) benar-benar agar dapat menghadap / menghampiri Allah (Taqarub).


Cara-cara tersebut diatas, misalnya melipat lidah dan lain-lain, itu tidak terdapat dalam Syari’at, karenanya tidak akan dijumpai dalilnya. Cara itu adalah hasil yang telah didapat oleh para guru yang mana dari ilham Allah.

Titik hitam itu keluar dengan sendirinya. Penganut ilmu ini tidak disuruh mencari titik tersebut dan tujuan ilmu ini tidak mencari titik. Tujuan semata-mata berdzikir lain tidak, keluar tidaknya titik itu tidak menjadi persoalan dan tujuan. Yang menyebabkan keluar titik itu ialah disebabkan karena lancarnya dzikir, titik tersebut akan menjadi bukti nyata dan keluar dihadapan penganut ilmu ini dengan sendirinya.

Jika sudah dapat melihat titik dihadapannya sekali-kali jangan sombong, jangan menganggap diri lebih dari orang lain. Karena biasanya setan membisikkan suara? yang berbisa kedalam hati orang ini, dan suara-suara itu bernada seolah-olah orang itu sudah keterimo dan sudah hidup diluar lingkungan hukum Syari’at sampai-sampai dibisikkan sembahyang, puasa sudah tidak perlu lagi sebab sudah hidup dekat dengan Allah. Keras! keras! waspadalah!.

Selain dari mengiringi keluar masuknya nafas (dalam hal bernafas ini banyak orang yang selalu melakukan terbalik - coba perhatikan! Diwaktu orang itu menghisap hawa kedalam, berarti dia mengisi, karenanya perut harus kembung sebab mendapat isi dari luar, begitu juga pada waktu mengeluarkan hawa seharusnya perut kempis karena isi dikeluarkan. Nah! sekarang perhatikan dirinya masing-masing terbalik apa tidak bila terbalik diwaktu menghisap kempis diwaktu mengeluarkan kembung, jadi salah tanpa diawasi dan disadari, karena tidak pernah belajar bernafas) pun merasakan aliran - denyutan - darah yang mengalir didalam tubuh dengan benar-benar dirasakan. Nafas jalannya naik turun - tinggi rendah, tetapi naik turunnya darah mengalir bersimpang siur.

Karena tekun dalam menerima instruksi-instruksi dan penuh keyakinan dalam merasakan kebenaran dan bukti yang dialami sendiri maka akhirnya si murid akan berjumpa dengan sang Guru dalam mimpinya, dan inilah tanda permulaan kalau orang itu benar-benar melakukan segala apa yang diperintahkan oleh sang Guru.

Melipat lidah berarti sudah mencakup kalimat Nafi:

Dalam hati tetap berdzikir
(
) Isbat.

Langitan mulut dalam bahasa Jawa Lak la’an = Nafi




Anda sedang membaca Kitab Hakekatul Insan (Tentang Diri): Mujahadah . Untuk mengikuti posting terbaru silahkan Liked Facebook Fanpage: Mistikus Cinta | Follow Twitter: @Sufipedia | Official LINE of Sufipedia Nusantara, LINE ID: @sufipedia | Telegram Group: @sufipedia. Terima kasih.

Post a Comment

 
Top