Sufipedia

Yang dinamakan manusia pasti sempurna. Karena manusia itu adalah ciptaan Yang Maha Kuasa. Yang disebut manusia ialah mereka yang sudah dapat membebaskan diri dari rasa takut.

Bebas dari rasa takut untuk tidak dapat mempertahankan hidup, bebas dari rasa takut untuk berbuat dosa dan kesalahan, bebas dari rasa takut tidak mendapat rezeki, bebas dari rasa takut dalam sakaratul maut, dll.

Tetapi dalam perjalanan hidupnya, manusia harus bergaul. Dalam pergaulan itulah manusia akan memperoleh pengaruh-pengaruh positif maupun negatif. Kalau terpengaruh oleh yang negatif, maka manusia itu akan mendapatkan problem hidup. Bila saja problem hidup tidak dapat di atasi secara tuntas, maka manusia akan berubah menjadi orang.

Pada zaman modern dewasa ini, sudah jarang kita jumpai mereka yang di sebut manusia. Yang terbanyak ialah orang. Karena orang, maka mereka lalu menuruti kata hatinya yang sudah dikendalikan oleh hawa nafsu. Adanya hawa nafsu ini berfungsi, karena orang berangan-angan untuk meningkatkan taraf hidup. Dalam usaha meningkatkan taraf hidup sudah barang tentu mereka tidak mau hidup sengsara atau menderita.

Karena mempergunakan nafsu, maka jasmani menjadi korban. Kalau hal ini dibiarkan terus, maka akhirnya datanglah penyakit jasmani. Dan bilamana problem hidup tidak segera diatasi dengan tuntas, maka akan datang pula penyakit batin. Oleh karena itu bila mereka mengerti, maka mereka akan dan seharusnya mengembalikan dirinya ke asal semula. Yaitu kembali untuk menjadi manusia.

Sebab di saatnya kelak mereka pasti akan kembali ke asal mulanya. Yaitu kembali ke Sang Pencipta. Untuk dapat merintis ke jalan ini, hanya satu cara yang harus di tempuh, yaitu melalui pelajaran agama. Hanya saja di dalam ajaran Agama ada tingkatan/tahapan, dari SYARI’AT, THORIQOT, HAKIKAT, MA’RIFAT dan MA’RIFATULLAH.

Dalam membaca firman Allah pun harus dapat mengerti apa yang tersirat dari yang tersurat dari ayat-ayat Kitab Suci. Jadi tidak hanya dibaca atau di hafal saja, melainkan harus ditelaah apa yang tersirat di dalam ayat-ayat Kitab Suci itu. Apalagi di dalam Kitab Suci Al-Qur’an sudah jelas dikatakan:

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini untuk hamba-hambaku yang ku pilih“.

Dan sebelum kita dapat kembali ke Sang Pencipta, terlebih dahulu kita harus mengenal siapa diri kita ini sebenarnya. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW didalam Hadist:

“Sebelum mengenal Allah, Kenalilah dirimu terlebih dahulu“.

Secara jujur kita mau mengakui bahwasannya masih ORANG, maka segeralah kembali menjadi MANUSIA. Di atas tadi sudah dikatakan bahwa cirinya MANUSIA ialah bila sudah dapat membebaskan diri dari rasa takut.

Di dalam Kitab Suci Al - Qur’an kesimpulannya hanya ada dua nama yang sering kita jumpai, yaitu:

ALLAH 

Dan

MUHAMMAD

Menurut ilmu nahwu (=menterjemahkan) kalimat MUHAMMAD itu bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, ialah MANUSIA.

Coba perhatikan bukti ini:


MANUSIA = MUHAMMAD

Huruf Mim Awal adalah gambar kepala
Huruf Ha adalah gambar bahu
Huruf Mim Tengah adalah gambar perut
Huruf Dal adalah gambar dua kaki

Jadi lafadz MUHAMMAD adalah gambar raga, jasmani, wadag atau jasad manusia yang sedang terlentang.

Sedangkan tanda-tanda: 

adalah batin manusia.

Di dalam pelajaran ilmu KALIGRAFI disebutkan bahwa tulisan adalah merupakan gambar yang telah di setujui bersama sebagai sarana untuk mengadakan komunikasi antar manusia. Juga sarana untuk menyampaikan pendapat atau isi hati.

Tulisan HIJAIYYAH (huruf tulisan Al - Qur’an) pun demikian, merupakan bentuk gambar.

Mari kita lanjutkan kembali:

Jadi :
Dham-mah di sini jelas terletak dimulut
Fat-tah di sini jelas terletak di bahu
Tasjwid di sini jelas terletak diatas perut
Dham-mah di sini jelas terletak diantara 2 (dua) kaki (= kemaluan).

Lima Alif. Lalu apa artinya?

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa ALLAH mencipta manusia itu sudah dilengkapi dengan nafsu. Nafsu inilah yang harus dikendalikan, jangan sampai menguasai hati nurani kita. Bila dibiarkan merajalela, niscaya hidup kita akan mengalami banyak problem hidup. Dan derajat kita akan turun dengan sendirinya. Dari manusia ke orang, bahkan dapat pula menjadikan kita mempunyai martabat binatang.

Alif lima buah itulah perlambang hawa nafsu manusia:
  1. Alif awal adalah Nafsu Amarah,
  2. Alif kedua adalah Nafsu Sawiyah / Supiyah,
  3. Alif tengah adalah yang memimpin, adalah RASUL / NUR MUHAMMAD,
  4. Alif keempat adalah Nafsu Mutmainah,
  5. Alif akhir adalah Nafsu Luamah / Aluammah,
Yang memimpin, mengendalikan dan mengimami ke Empat Nafsu tersebut diatas ialah RASUL / NUR MUHAMMAD. Kalau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan kata “SUKMANA“.

Kembali kepada kalimat: (MUHAMMAD = MANUSIA) kita temukan 8 (delapan) tanda-tanda baca di atas lafadz. Ini menandakan bahwa pada dan dalam diri MANUSIA terdapat 8 (delapan) macam ROH, masing-masing ialah:
  1. ROH BURHANI
  2. ROH RABBANI
  3. ROH KUDUS
  4. ROH NURANI
  5. ROH RAHMANI
  6. ROH REWANI
  7. ROH NABATI
  8. ROH JASMANI / HEWANI
Keterangan: ROH BURHANI dengan ROH RABBANI biasanya digabung.

Roh-roh ini berasal dari satu sumber, ialah ROH IDHOFI atau biasa juga di sebut JOHAR (= JUKHRO) AWAL SUCI.

Mereka mempunyai tempat masing-masing, yaitu:

Roh JASMANI / HEWANI ---> Letaknya pada JASAD / DARAH
Roh NABATI ---> Letaknya pada JASAD / DARAH
Roh REWANI ---> Letaknya pada JASAD / DARAH
Roh RAHMANI ---> Letaknya pada NYAWA
Roh NURANI ---> Letaknya pada NYAWA
Roh KUDUS ---> Letaknya pada ROH (=SUKMA)
Roh RABBANI ---> Letaknya pada ROHANI (= SUKMANA)
Roh BURHANI ---> Letaknya pada Rohani (=SUKMANA)
  • Nafsu AMARAH adanya di NYAWA
  • Nafsu LUAMAH adanya di NYAWA
  • Nafsu SAWIYAH / SUPIYAH adanya di NYAWA
  • Nafsu MUTMAINAH adanya di ROH (= SUKMA)
Selain Nafsu dan Roh, pada dan dalam diri MANUSIA juga terdapat DZAD, NUR, dan SIR. Itulah sebabnya maka bila manusia hendak mati (Sakaratul Maut) dalam keadaan yang wajar selalu menghembuskan nafas terakhir sebanyak 3 (tiga) kali sebelum mati. Yang keluar sebagai nafas terakhir sebanyak tiga kali itu ialah Dzad, Nur, dan Sir.

DZAD dan SIR adanya di darah dan nyawa, membawahi Nafsu Amarah dan Nafsu Luamah. Sedangkan NUR adanya di Roh (= SUKMA) membawahi Nafsu Sawiyah / Supiyah dan Nafsu Mutmainah.

DZAD, NUR dan SIR.

Dzad (bukan Dhat) pada manusia dapat dibuktikan dengan adanya angan-angan (lamunan). Angan-angan ini ada dua macam. Yang Positif untuk membuat rencana, dan yang Negatif inilah yang harus ditindas. Angan-angan yang positif saja harus disaring terlebih dahulu, harus di sesuaikan dengan kemampuan. Kalau sudah sesuai, barulah ditingkatkan untuk membuat rencana.

Sebagai contoh: Kita ingin mempunyai rumah. Sebelum keinginan itu timbul, tentu tercetus angan-angan terlebih dahulu. Rumah yang kita kehendaki itu apakah akan dibuat sendiri, atau beli sudah jadi? Bentuknya seperti apa? Dimana dan berapa besarnya? Angan-angan ini kita saring. Kalau harus ada rumah, berapa uang yang harus kita miliki? Dan dari mana? Kalau sudah ada biaya / dana, barulah membuat rencana. Membeli secara kontan atau kredit atau membuat sendiri?. Jangan sampai kita dikuasai oleh angan-angan. Misalnya untuk memperoleh dana / biaya, lalu kita berbuat merampok. Disini, angan-angan tadi mempengaruhi SIR. Dan Sir lalu menggerakkan NAFSU. Sehingga lalu nekat merampok. Angan-angan ini sudah jelas yang negatif.

Tidak pernah ada manusia normal / waras yang memiliki angan-angan untuk hidup menderita atau sengsara. Setiap angan-angan selalu menghendaki hidup yang enak, cepat, murah dan berhasil. Karena adanya Dzad (= angan-angan) ini maka manusia selalu merasa tidak puas dengan keadaannya sekarang ini. Selalu menginginkan yang lebih. Untuk membendung dan menyaring Dzad (= angan-angan) maka NUR harus berfungsi. Fungsi NUR ialah agar DZAD tidak mempengaruhi SIR. Sebab bila SIR terpengaruh oleh DZAD, maka NAFSU lalu bergerak. Yang menjadi korban pastilah jasad / jasmani / raga. Sebab jasmani pasti akan melakukan perbuatan dosa.

Allah telah berfirman di dalam Al - Qur’an:

“Tinggalkanlah dosa lahir dan dosa batin“.

Kalau manusia tidak meninggalkan dosa lahir dan dosa batin, niscaya hidupnya akan terkena problem lahir dan problem batin. Akibatnya penyakit lahir dan penyakit batin akan timbul pula.

Jelas setiap dosa (baik dosa lahir dan dosa batin) tidak dapat di hapus. Dan sejak Kitab Suci Al - Qur’an diturunkan, maka Allah tidak lagi mau menerima ampun manusia. Yang diterima Allah hanyalah TAUBAT dari manusia. Tetapi meski dosa itu tidak dapat dihapus, dapat diimbangi dengan amal. Karena ada dosa lahir, maka ada pula amal lahir. Karena ada dosa batin, maka ada pula amal batin.

Dosa lahir ialah perbuatan tercela (melanggar larangan Allah) yang dapat diketahui oleh orang lain. Sedangkan dosa batin ialah perbuatan tercela (melanggar larangan Allah) yang tidak dapat diketahui oleh orang lain, melainkan oleh dirinya sendiri.

Yang termasuk dosa batin ialah:
  1. Mengeluh, menyesal, duka cita, putus asa, tidak puas, senang merasa lebih dari orang lain, pamrih, tidak ikhlas, kecewa, tidak berterima kasih / tidak bersyukur, dan gembira.
  2. Mimpi, mimpi makan (karena menyantap makanan yang belum diketahui siapa pemiliknya), mimpi berkelahi, mimpi berzinah dengan orang lain yang bukan haqnya (bukan isteri atau bukan suaminya yang sah). Mimpi termasuk dosa batin, karena merupakan hasil dari tidur. Sedangkan tidur itu sendiri merupakan perbuatan melepaskan iman.
Amal lahir ialah perbuatan terpuji dari hasil perbuatan lahiriyah. Sedangkan amal batin ialah perbuatan terpuji hasil perbuatan batin. Misalnya dari hasil doa. (Selanjutnya - Puasa)

Anda sedang membaca Kitab Ilmu Makrifat Islam: Mengenal Diri . Untuk mengikuti posting terbaru silahkan Liked Facebook Fanpage: Mistikus Cinta | Follow Twitter: @Sufipedia | Official LINE of Sufipedia Nusantara, LINE ID: @sufipedia | Telegram Group: @sufipedia. Terima kasih.

Post a Comment

 
Top