Sufipedia


Banyak orang Syari’at Islam yang berpendapat bahwa selain menjalankan puasa Ramadhan, maka bid’ah hukumnya bila ada orang Islam yang menjalankan puasa lain. Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa orang Islam boleh saja puasa yang lain, asalkan tidak melebihi lamanya puasa Ramadhan. Sebab bila lebih, maka hukumnya bid’ah. Mungkin dikarenakan adanya pendapat-pendapat semacam ini, maka SUNAN KALIJAGA membuat semacam “peraturan“, yaitu bila ada orang Islam yang ingin berpuasa selama 40 hari dan 40 malam, maka dapat melakukannya dengan menjalankan puasa hanya 3 hari 3 malam, tetapi nilainya sama dengan bila berpuasa 40 hari 40 malam. Tiga hari itu ialah hari-hari yang memiliki NEPTU 40. (Misalnya: Selasa Kliwon - Rabu Legi - Kamis Pahing; Rabu Pon - Kamis Wage - Jum’at Kliwon; Kamis Wage - Jum’at Kliwon - Sabtu Legi; Jum’at Pahing - Sabtu Pon - Akad Wage; Sabtu Kliwon - Akad Legi - Senin Pahing).


Puasa Sunnah (= bukan wajib) yang biasa dilakukan oleh mereka yang suka akan ‘mengaji rasa‘ dimaksudkan untuk melatih diri dalam pengendalian hawa nafsu. Jadi sifatnya hanya kanaat atau tirakat. Jadi sangat berbeda bila dibandingknn dengan maksud dan tujuan puasa Ramadhan.

PUASA RAMADHAN.

Sebelum Kitab Suci Al - Qur’an diwahyukan, di tanah Arab belum ada bulan yang bernama Ramadhan. Apalagi orang melakukan puasa Ramadhan. Dalam Al - Qur’an, Allah memerintahkan agar umat Islam wajib melakukan / menjalankan puasa Ramadhan ini, dari saat sebelum matahari terbit sampai matahari terbenam selama 30 hari penuh.

Dari perintah Allah ini, kita harus pandai-pandai dapat membaca apa yang tersirat dan yang tersurat. Sebab seperti kita ketahui, hanya pada belahan tengah dari planet bumi kita ini yang sepenuhnya mendapat sinar matahani. Jelasnya lagi, hanya pada daerah Khatulistiwa saja matahari dapat bersinar utuh. Sedangkan pada belahan bumi sebelah Utara atau sebelah Selatan sangat jarang ada matahari bersinar utuh (seharian).

Salah satu contoh pada waktu bulan Ramadhan, maka di negara Swedia, Norwegia, Siberia, Finlandia, dll. matahari tidak pernah terbit dan tidak pula pernah tenggelam untuk periode beberapa bulan. Matahari di Negara-negara itu berada tepat di atas, meski sudah tengah malam. Itulah sebabnya maka disana ada sebutan “Sun Night“ (matahari malam).

Jadi kalau firman / perintah Allah mengenai puasa Ramadhan itu kita terima secara tersurat, lalu bagaimana kita harus menjalankan puasa Ramadhan bila sedang berada di Negara-negara tadi? Sebab perintahnya itu berdasarkan matahari (sebelum terbit sampai terbenam) bukan berdasarkan jam. Belum lagi waktu Maghrib, jarak antara sebelum Subuh hingga Maghrib di kota London ada 18 jam. Di New York jaraknya ada 20 jam. Di kota Tokyo antara Subuh sampai Maghrib jaraknya ada 20 jam. Sedangkan di Indonesia jaraknya hanya 14 jam, lalu di mana letak keadilan Allah? Mengapa mesti membedakan waktu? Jadi jelas perintah itu tidak dapat ditafsir secara harfiah. Meski ada yang tersurat di dalam perintah itu. Oleh sebab itu, penganut ilmu Ma’rifat berpendapat bahwa yang dimaksud dengan sebelum matahari terbit sampai matahari terbenam, disini ialah sebelum manusia itu lahir sampai manusia itu meninggal maka wajib mengendalikan hawa nafsunya. Tidak makan dan tidak minum dalam perintah itu diartikan, mengendalikan hawa nafsu.

Kalau benar hanya menahan lapar dan haus, maka perintah ini dapat diartikan Allah itu tidak adil. Sebab pada jaman, modern sekarang ini, di pasaran bebas orang dapat membeli kapsul astrounot yang harganya Rp. 10.000,- per kapsul. Bila pada waktu sahur orang menelan kapsul itu 2 butir, maka dia akan tahan lapar dan haus selama 48 jam. Jadi semakin tinggi gizi dan kalori bahan makanan yang dimakan, maka semakin lama pula orang dapat bertahan dari rasa lapar dan haus. Kemudian berkaitan tentang lamanya menjalankan puasa Ramadhan itu (yaitu 30 hari penuh), sebagian besar umat Islam kurang memperhatikan maksud dan arti “penuh“ dalam perintah itu.

Arti “penuh“ disini ialah kita wajib puasa siang dan malam. Puasa di sini diartikan mengendalikan hawa nafsu siang dan malam selama 30 hari 30 malam. Jadi bukan hanya pada waktu siang saja.

Sekarang ada persoalan: Bagaimana bila kita batal dalam menjalankan puasa Ramadhan itu? Apakah dapat ditebus di bulan yang lain. (Misalnya pada bulan Syawal). Penganut Ilmu Ma’rifat berkeyakinan bahwa bila batal dalam puasa Ramadhan, maka tidak dapat ditebus di bulan lain. Jadi harus menunggu sampai bulan Ramadhan tiba lagi. Namanya saja puasa Ramadhan, jadi harus dijalankan pada bulan Ramadhan.

“SESUNGGUHNYA AL - QUR’AN INI UNTUK HAMBAKU YANG KU PILIH“, sungguh tepat firman Allah ini. Sebab tidak banyak orang Islam yang dapat membaca apa yang tersirat dari yang tersurat akan firman Allah di Kitab Suci Al - Qur’an. Sebagian besar hanya membaca yang tersurat saja. Padahal ada anjuran dari Allah dalam Al - Qur’an bahwa dalam mempelajari Agama harus disertai dengan ilmu. Tetapi mereka memilih Ilmu Fiqih, Ilmu Tasjwid, Ilmu Hukum Syara’ dan lain-lain. Padahal yang dimaksud di sini ialah Ilmu Pengetahuan seutuhnya (termasuk ilmu Sejarah, Ilmu Bumi Alam, Ilmu Bangsa-Bangsa, Ilmu Nahwu, Ilmu Kebudayaan, Ilmu Tajwid dan lain-lain).

Secara logika apapun yang ditempuh dari bawah (yang dimulai dari bawah) dan menuju ke atas, maka kita akan mengalami banyak kesulitan. Tetapi bila yang dilakukan sebaliknya, yaitu dari atas ke bawah maka perjalanan kita akan mulus lancar. Demikian pula bila kita mempelajari hal Agama. Bila kita memulainya dari tingkat Ma’rifat, maka secara otomatis kita akan mudah mempelajari Syari’at. Ini sama halnya yang dilakukan oleh Nabi Muhammad s.a.w. di Gua HIRA beliau menggembleng diri dalam Ma’rifat, baru setelah mengerti dan mendalami Syari’at, maka beliau lalu menyebarkan ajaran Syari’at Agama Islam.

Karena beliau sudah tingkat Ma’rifatullah, maka beliau dapat menjalankan Isra’ dan Mi’raj. Selain dapat menerima wahyu Illahi berupa Kitab Suci Al - Qur’an. Kalau kita mempelajari Agama Islam dari mulai Syari’at dulu, maka akan menjadi bingung. Sebab meskipun sama-sama berdasarkan Al-Qur’an dan Hadist, kenyataannya telah terpecah belah menjadi 73 golongan. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah dalam Hadist:

“KELAK UMATKU AKAN PECAH MENJADI 73 GOLONGAN. YANG SATU HANYA SAMPAI DI NERAKA SAJA, YANG 71 MAMPIR DULU DI NERAKA BARU KEMUDIAN BERHAS1L MENUJU SURGA. TETAPI YANG SATU LAGI AKAN TERUS SAMPAI DI SURGA“.

Masing-masing golongan itu akan mengakui bahwa golongannyalah yang akan terus sampai di surga. Padahal bila kita kaji dan telaah, pasti yang akan langsung sampai di surga itu ialah golongan MA’RIFAT.

Menurut ilmu yakin dalam Agama dapat digolongkan sebagai berikut:
  1. Golongan SYARI’AT : mereka baru tingkat percaya adanya Ghoib. Mereka sebenarnya baru mengenal nama saja, tanpa pernah berhubungan secara langsung.
  2. Golongan THORIQAT : mereka tingkat yakin terhadap adanya Ghoib. Mereka sudah berhubungan langsung, tapi baru tingkatan dengan gerak atau melihat secara visual.
  3. Golongan HAKEKAT : mereka tingkat ainnul yakin terhadap adanya Ghoib. Sudah menyatakan langsung adanya nur (yang terang benderang, putih, kuning, merah dan hijau kebiru-biruan).
  4. Golongan MA’RIFAT : mereka tingkat haqqul yakin terhadap adanya Ghoib. Mereka sudah tidak melihat ujud Ghoib lagi, tetapi sudah dapat merasakan getarannya yang ditangkap melalui kalamlullah / kamarullah / baitullah atau qolbunya. Sudah dapat meraga—sukma (pergi meninggalkan jasad).
  5. Golongan MA’RIFATULLAH : mereka sudah tingkat haqmanul yakin. Mereka sudah dapat bersatu dan memisahkan dirinya dari Ghoib.
Bila Nabi Muhammad s.a.w. “tapa“ se1ama 40 hari 40 malam di Gua HIRA, maka sesungguhnya bagi manusia yang juga pernah tapa di Gua Rahim Ibu 40 hari 40 malam (yaitu waktu hendak lahir tali ari-arinya putus hubungan dengan ibu), seharusnya selama 100 hari 100 malam. Tetapi dikarenakan janin tergoda oleh iblis yang merasuk ke dalam dukun beranak atau bidan atau dokter, maka tapanya janin jadi batal. Dan lalu ke luar dari gua rahim, dan lahir ke alam kehidupan lahiriyah ini (= alam Fana). Selama tapa di gua rahim ibu, si janin (= Ahmad) masih dalam bentuk huruf QOF, pada kepalanya masih mempunyai 2 (dua) buah senjata ampuh untuk mempergunakan HAQ, karena itu sebenarnya si janin masih: “Kun Faya Kun“. HAQ yang merupakan 2 (dua) buah senjata ampuh itu sebenarnya 2 (dua) buah kalimah, masing-masing adalah :
  1. SYAHADAT (Lailattul Qadar), dan
  2. SYAROFAH (Wahyu Tajalli).
Karena lahir maka janin (Ahmad) berubah menjadi bayi (Muhammad). Dari huruf QOF menjadi KAF, dan 2 (dua) buah senjata ampuh itu lepas dari kedua tangannya (sebenarnya kedua senjata tadi bukan di kepala, melainkan digenggam pada kedua tangannya). Oleh sebab itu ketika genggaman tangannya terbuka, sang bayi lalu menangis. Karena kedua senjatanya hilang. Dan karena kehilangan, maka dia sudah tidak lagi mempunyai HAQ dan tidak “Kun Faya Kun“.

Maka selama hidup dia harus dapat mencari 2 (dua) buah senjata yang hilang itu, agar kembali lagi kepadanya. Agar dia mempunyai HAQ lagi dan dapat Kun Faya Kun.

LAILATTUL QADAR turunnya pada bulan Ramadhan dan Wahyu TAJALLI turunnya pada bulan Muharam. Itulah sebabnya maka para penganut ilmu Ma’rifat menjalankan puasa Ramadhan dan puasa Muharam, masing-masing selama 100 hari - 40 hari = 60 hari (30 hari di bulan Ramadhan dan 30 hari di bulan Muharam) sebagai pembayar hutang. Itulah sebabnya sebelum puasa, kita wajib sahur (artinya membayar hutang atau makan di akhir malam). Mengapa harus puasa 30 hari penuh? Arti yang tersirat di sini ialah puasa untuk menundukkan ketiga macam nafsu. Sebab nafsu MUTMAINAIH selama ini sudah tunduk ke Rasul / Nur Muhammad.

Ketiga nafsu yang perlu ditundukkan itu ialah:
  1. Nafsu Amarah,
  2. Nafsu Luamah, dan
  3. Nafsu Sawiyah / Supiyah.
Agar nafsu tidak timbul, maka yang wajib dikendalikan ialah angan-angan / lamunan (dzad). Karena bila dzad berfungsi, sir akan dipengaruhi. Dan sir lah yang menggerakkan hawa nafsu. Maka dianjurkan agar senantiasa. melakukan dzikir Qolbu dengan menyebut asma Allah: Allah, Allah, Allah . . . . . . . . hal ini sesuai dengan Firman Allah dalam Al - Qur’an:

“BARANGSIAPA SELALU INGAT KEPADA KU, MAKA AKU AKAN SELALU INGAT KEPADANYA“.

Lebih baik lagi bila mau melakukan dzikir gabungan Nafi - Isbat dan Qolbu. Sebab bila hal ini dilatih dan dilakukan terus, maka selama 24 jam non stop akan selalu ingat kepada Allah, meski sedang tidur sekali pun. Insya Allah, bila petunjuk-petunjuk di atas dilaksanakan, maka dalam bulan puasa Ramadhan pada hari ke 2l (tengah malam sekitar jam 01.00) Lai1attul Qadar akan diperoleh.

Bentuk / rupa Lailattu1 Qadar ini ialah nur terang benderang yang masuk pada dan dalam diri kita melalui kepala. Dan bila Lailattul Qadar sudah diperoleh, maka kita akan memiliki kelebihan (= syafaat). Selesainya melaksanakan puasa Ramadhan, wajib membayar fitrah kepada anak yatim. Anak yatim (yang tersirat disini ialah Allah Ta’alaa. Jadi bukan anak yatim manusia. Sebab anak-anak manusia lahir pasti ada ayah dan ibunya. Tetapi bila ANAK YATIM itu Allah yang dimaksud, maka memang Allah itu tidak berayah dan tidak beribu, serta tidak pernah diperanakkan.

Kalau fitrah sudah dibayar, maka fitrinya di peroleh bila melakukan sholat led tepat pada waktu matahari timbul secara utuh (biasanya pada jam 07.00 WIB). Pada waktu sholat led itu, karena nafsu sudah terkendali, maka semua Roh jadi suci kembali. Dan ke 7 (tujuh) roh itu bersama-sama melakukan sholat ke Rob Idhofi / Johar Awal Suci.

PUASA SYAWAL, PUASA MUHARAM, dan PUASA SAFAR

Puasa selama 7 hari 7 malam, dimulai pada tanggal 3 Syawal sampai dengan tanggal - 10 Syawal. Kalau hal ini sudah dilakukan, maka Lailatul Qadar yang baru diperoleh itu akan dapat dimanfaatkan secara sempurna. Sekarang kini tinggal mencari senjata yang sebuah lagi, yaitu isi dari Lailattul Qadar dan disebut Wahyu TAJALLI.

Maka pada bulan pertama Islam yaitu bulan Muharam berpuasa lagi selama 30 hari penuh. Pelaksanaannya sama dengan puasa Ramadhan. Dan pada malam ke 21 turunlah Wahyu Tajalli. Untuk menyempurnakan pemanfaatan dari ke dua senjata tadi, maka mereka masih harus melakukan puasa selama 10 hari pada bulan Safar, dimulai pada tanggal 1 Safar sampai dengan tanggal 10 Safar. Tujuannya untuk memperoleh SAFAAT RASUL (disingkat jadi SAFAR atau SAPAR).

Selesainya menjalankan puasa-puasa tadi, maka manusia jadi suci kembali. Menjadi kalimah / ayat Allah: BISMILLAH yang mempunyai harkat sepuluh (10). Mengenai kalimah ini orang-orang Thoriqot menganggapnya sebagai: TUHAN YANG BERANGGOTA.

PUASA MA’RIFAT.

SUNAN LAWU (dari kata LAM WAU) mengajarkan kepada para siswanya untuk melakukan puasa sebagai latihan (kanaat atau tirakat) tanpa harus mengorbankan kepentingan lahiriyah. Dan pula agar dijaga jasad / jasmani ini jangan sampai tersiksa menanggung akibat. Jelasnya, janganlah berpuasa sampai mengakibatkan datangnya penyakit jasmani / lahiriyah.

Pertama: Lakukanlah puasa TAUBAT selama 7 hari 7 malam, dimulai pada hari pertama (Ahad/Minggu) jam 00.00 sudah tidak makan nasi, ikan, daging dan garam. Buka puasa pada waktu Ash’ar. Kalau puasa Taubat sudah dijalankan, maka setiap hari SABTU dari Ash’ar sampai AHAD waktu Ash’ar melakukan patigeni dengan dzikir Qolbu ALLAH, ALLAH, ALLAH . . . . Tujuannya untuk merawat batin agar tidak lagi dikotori oleh nafsu.

Kedua: Melakukan puasa untuk mendapatkan HAQ. Dilakukan selama 9 hari kali 7. Jadi dapat dicicil, misalnya sebulan puasa 2 kali 9 hari. Puasa ini dilakukan dengan SAHUR dan BUKA hanya boleh dilakukan antara jam 16.00 - jam 17.00, makan 2 (dua) potong (sebesar telapak tangan) ketan putih yang direbus tanpa gula, tanpa garam, dan tanpa kelapa (jadi tawar) ditambah 2 (dua) butir telur ayam yang kulit luarnya berwarna putih bersih. Minumnya hanya air putih sebanyak 1/2 (setengah) liter.

Sejak dimulai menjalankan puasa TAUBAT, maka penganut Ilmu Ma’rifat wajib sehari-harinya berperilaku:
  1. Taubat, tidak lagi melanggar larangan Allah, meninggalkan dosa lahir dan dosa batin.
  2. Sabar, dalam segala hal baik lahir maupun batin.
  3. Ikhlas, dalam segala hal baik lahir maupun batin.
  4. Lillahi ta’alaa.
Bila tahapan-tahapan ini dapat dijalankan / dipraktekkan sehari-hari, maka barulah dapat dikatakan “beriman“

Apakah HAQ itu?

Haq adalah lawannya Bathil. Haq yang dimaksud disini ialah suatu mandat untuk HIDUP. Kalau Haq untuk mati tidak perlu dicari lagi, sebab semua ciptaanNYA tidak abadi, pasti akan mati. HAQ untuk HIDUP ialah mandat penuh dari SANG PENCIPTA agar dapat kita pergunakan dalam menjalankan tugas-tugas kemanusiaan sebagai hambaNYA. Jadi apa yang kita kehendaki untuk berbuat amal dalam menolong hamba-hamhanya selalu terbukti dan terwujud, biasa disebut orang dengan istilah “KUN FAYA KUN“. (Selanjutnya - Sholat)

Anda sedang membaca Kitab Ilmu Makrifat Islam: Puasa . Untuk mengikuti posting terbaru silahkan Liked Facebook Fanpage: Mistikus Cinta | Follow Twitter: @Sufipedia | Official LINE of Sufipedia Nusantara, LINE ID: @sufipedia | Telegram Group: @sufipedia. Terima kasih.

Post a Comment

 
Top