Sufipedia


Kitab Barencong - Bertemunya makhluk manusia kepada Tuhan dan sampainya, itulah puncak harapan, dan dengan itulah ia mencapai akan kebahagiaan dan kerajaan besar, bahkan dengan itulah ia akan lupa dan terhibur dari segala sesuatu selain Allah. Apabila tuhan membukakan bagimu jalan untuk ma’rifat atau mengenal kepadanya, maka janganlah engkau menghiraukan asal amalmu yang masih sedikit umpamanya.

Sebab tuhan tidak membukakan bagimu, melainkan Ia memperkenalkan DiriNya kepadamu. Tidaklah engkau ketahui bahwa ma’rifat itu adalah puncak keuntungan seorang hamba, maka tak usah kau hiraukan berapa banyak banyak amal kebaikanmu atau amal perbuatanmu, meskipun masih sedikit amalmu dengan anggota yang lahir, Ma’rifat itu suatu karunia pemberian Allah kepadamu, maka Ia sekali-kali tidak tergantung kepada banyak atau sedikitnya amal kebaikanmu.

Andaikata engkau tidak dapat sampai kepada Allah: kecuali sesudah habis lenyap semua dosa dan kekotoran sirik, niscaya engkau tak dapat sampai kepadanya. Untuk selamanya. Tetapi bila Allah menarik engkau kepadanya, maka Allah menutupi sifat-sifatmu dengan sifatNya, dan kekuranganmu dangan kurniaNya. Hilangkan pandangan makhluk kepadamu,karena puas dengan Penglihatan Allah kepadamu. Dan lupakan perhatian makhluk kepadamu, karena melihat bahwa Allah menghadap kepadamu.

Sebaik-baik saat dalam hidupmu : ialah saat ingat kepada tuhan,dan putus hubungan dengan segala sesuatu yang lainnya.

Dan apabila pada saat itu tidak ada lagi pandangan yang lainnya dari Allah, maka pada saat itu murnilah pengertian tauhidmu kepada Allah.

Nikmat itu meskipun beraneka macam bentuknya: hanya disebabkan karena melihat dan dekatnya Allah. Demikianlah pula siksa itu walaupun bermacam-macam bentuknya itu hanya karena terhijab dari Allah. Demikanlah pandangan orang yang faham. Kesimpulannya adalah: siksa itu karena adanya hijab. Dan nikmat itu karena melihat kepada Zat yang wajibal ujud. Dan siapa fana dengan Allah: pastilah ia lupa segala sesuatu, dan siapa yang benar-benar mengenal kepada Allah, Niscaya tiada risau dan sedih lagi menghadapi hidup ini. Lagi pula barang siapa telah sampai titik puncak, Wali Allah namanya, atau yang sering disebut: AL ALIMURROBANIYAH (Alim yang sebenarnya).

Ma’rifat yang paling tinggi dan yang paling dianugrahi Allah Ta’ala dengan ilmu Terbayang.

Apakah ilmu terbayang itu?

Yang dimaksud ilmu ternyang itu ialah; ILMU LADUNIYAH, yang tiada mudah hilang.

Sedang ilmu yang tampak ini mudah hilang dibawa angin lalu, jadi yang dinamakan ilmu yang tampak ialah ilmu hafalan dan darusan. Apabila lupa ia dengan ilmunya, niscaya terhenti bicaranya (lafalnya). Karena kalau diteruskan bisa membawa kehancuran dan kerusakan menyeluruh. Itulah dia ilmu yang tampak. Sedang ilmu terbayang tak pernah pudar untuk selama-lamanya. Ilmu yang tampak hanya dimilki orang alim fiqih, sedang ilmu terbayang dimiliki oleh Ahlullah.

Jadi ilmu yang tampak kita hanya bercahaya dalam alam dunia ini saja. Sedang ilmu yang terbayang, bercahaya-cahaya meliputi hati orang yang memiliki qalbun salim. Artinya; hati yang latif yang bersifat ketuhanan (Lahud).

Itulah DIA yang disebut cahaya yang cerlang cemerlang yang tiada harapan tuhan bartajali kepadanya. Dia bukan Zat, bukan benda dan bukan materi: tetapi dia adalah ……………………………… yang paling sulit pada segalanya. Itulah DIA kaymiyakbathin, DIA diatas daripada ilmu yang ada dalam dunia ini.

Kalau masih terhenti kepada ilmu, belumlah ilmu. Ilmu yang sejati ialah: ALIMULGOIBI WASYSYA’ADAH. Ilmu yang seperti ini hanya dianugrahi kepada hambanya yang dikehendakinya.

Ilmu yang nyata boleh untuk semua orang, ilmu yang goib hanya untuk hambanya yang beroleh petunjuk dan anugrah istimewa daripada Allah Ta’ala, bukti nyata lihatlah kepada nabi-nabi. khususnya kepada Nabi Muhammad s.a.w.

Kalam yang tertulis dalam Al Qur’an datangnya dari mana dan kembalinya atau simpunnya kemana?

Apakah setelah membekas pada kulit-kulit kayu, daun korma, dibatu dan dikayu-kayu: sudah hilangkah yang sejatinya?

Apakah Al Qur’an itu hanya tertulis di lauh mahfudz saja? Adakah lagi lainnya? Bagaimana riwayatnya dan apakah nama tempatnya?

Kitab yang diturunkan Allah ke bumi ini ada 104 buah kitab, Adakah kitab yang tersembunyi dibalik yang 104 itu? Tidak; Kitabullah yang sebenarnya itu apakah ia berhuruf, bersuara, dan merupakan kata-kata?

Manusia ini ini hanya diberikan sedikit saja percikan kalam Tuhan yang hakiki dan Azali. Jadi siapa yang berhajat kepada ilmu, ilmulah namanya, siapa yang berhajat kepada Allah, Allah namanya.

Dan barang siapa tiada berhajat kepada ilmu dan kepada Allah, ITULAH YANG SEBENARNYA, yang sampai.

Inilah maqam tuhan yang hakiki dan Azali. Dan inilah maqam Ahlul akhirat namanya. Inilah maqam nabi-nabi dan rasul-rasul Allah, inilah maqam MAHMUDAN namanya: Maqam yang terpuji dilangit dan dibumi, jadi siapa yang dikehendaki Allah, semuanya Jadi.

Tidak ada tertengah bagi Allah, hanya engkau sendiri kurang faham dengan Allah. Bila engkau faham dengan Allah, maka berarti engkau sefaham dengan Allah. Artinya: fahaman satu rahasia dengan faham Allah. Kemauanmu satu rahasia dengan kemauan Allah. Kebesaranmu satu rahasia dengan kebesaran Allah. Akhirnya Ujudmu dan hidupmu satu rahasia dengan Ujud Allah dan Hayatullah Zat. Dan satu rahasia dengan perikemanusiaan, dan dengan seluruh jagat raya ini. Dan segala-galanya dalam hal apapun jua, tetapi tetap satu rahasia dengan kebesaran dan kemuliaan dan kekerasan, keelokan dan kesmpurnaan zat. TUHAN YANG MAHA AGUNG DAN YANG MAHA SEMPURNA. (Selanjutnya - Pandangan Hidup Muslim)

File pdf:

https://googledrive.com/host/0B6BIN5otUZK0Tlc2QkZISVlFckU  
https://googledrive.com/host/0B6BIN5otUZK0LXVJSDMyYlZKdGs

Anda sedang membaca Liqo (Pertemuan) . Untuk mengikuti posting terbaru silahkan Liked Facebook Fanpage: Mistikus Cinta | Follow Twitter: @Sufipedia | Official LINE of Sufipedia Nusantara, LINE ID: @sufipedia | Telegram Group: @sufipedia. Terima kasih.

Post a Comment

 
Top