Sufipedia


Kitab Barencong - Sekarang baiklah kita berkisar pula kepada membicarakan tentang maqam fana atau maka binasa.

Maqam Fana/Maqam Binasa

Makam fana ialah: Hilangnya ujud kita ini lahir dan bathin. Bukan hilang pada nafsu ammarah, tetapi hilang dalam pandangan makhluk, kalau kita sudah benar-benar memesrakan diri kita lahir bathin kepada Nur Muhammad dan bersatu dengan seluruh perikemanusiaan dan bersatu dengan seluruh perikemanusiaan dan bersatu dengan seluruh alam, maka kalau sudah beroleh wasiat, hingga lenyaplah sifat-sifat Allah Ta’ala.

Inilah yang disebut dngan fana dan baqa,
  1. Kudrat kita lenyapkan kepada kudrat Allah Ta’ala,
  2. Iradat kita lenyapkan kepada iradat Allah Ta’ala,
  3. Ilmu kita lenyapkan kepada ilmu Allah Ta’ala,
  4. Hayat kta lenyapkan kepada hayatullah Zat,
  5. Pendengaran kita lenyapkan kepada pendengaran Allah Ta’ala,
  6. Penglihatan kita lenyapkan kepada penglihatan Allah Ta’ala,
  7. Perkataan kta lenyapkan kepada perkataan Allah Ta’ala.
Maksud diatas tadi ialah:
  1. Wala Qadirun : tiada kuasa hanya Allah Ta’ala,
  2. Wala Muridun : tiada berkehendak hanya Allah Ta’ala,
  3. Wala Alimun : tiada tahu hanya Allah Ta’ala,
  4. Wala Hayyun : tiada hayat/hidup hanya Allah Ta’ala,
  5. Wala Basyirun : tiada melihat hanya Allah Ta’ala,
  6. Wala Sami’un : tiada mendengar hanya Allah Ta’ala,
  7. Wala Muttakalimun : tiada yang berkata-kata hanya Allah Ta’ala.
Jadi kalau sudah begini fana lah zat kita dan sifat kita zahir dan bathin, inilah dalilnya.
  1. MAUJUDUN WAHIDUN : Ujud yang empunya ujud Esa.
  2. WAJATUN WAMAUSUFUN : Zat dengan empunya zat adalah Esa jua.
  3. SIFATUN WAMAUSUFUN, Wahidun sifatun wahidun : sifat dengan empunya sifat adalah Esa.
  4. ASMAUN WAMAUSFUN, Wa asmaun wahidun : nama dengan yang empunya nama adalah Esa jua.
  5. AF’ALUN WAMAUSUFUN, af’alun wahidun : af’al dengan yang empunya af’al Esa jua.
Jadi inilah yang disebut arti dan makna yang sebenarnya daripada fana dan baqa itu tadi.

Inilah arti fana dan baqa yang dituntut oleh seorang salik/penuntut/tholib/murid. Adapun alam insan itu terhimpun kepada diatas daripada segala alam, jika bukan karena insan, sesuatu pun tiada dijadikan/dijahirkan oleh Tuhan selamanya. Dalil menyatakan: Al insan sirri wa ana sirrohu, artinya: insan itu rahasiaku dan akupun rahasianya. Dan lagi: Al insanu sirri wa ana sirri, sifatun wasifatin lagoirih, artinya: insan itu rahasiaku, rahasiaku itu sifatku, tiada lain daripadaku jua.

Maka dari itulah insan dilebihkan oleh Allah Ta’ala daripada malaikat; pun demikianlah hendaknya itikad kita adanya. Yaitu: itiqad yang putus adanya, dan tiadanya, dan adanya.

Kalau anda sudah faham benar berarti putus itiqadnya, dan tiadanya dan adanya; maka barulah mendapat maqam ARIFIN yang sebenarnya. Baiklah hamba uraikan secara ringakas tentang; ADANYA DAN TIADANYA.

MANUNGGAL DUA UNSUR KETIDAK ADAANNYA : ADALAH KEADAANNYA, DAN KEADAANNYA ADALAH KETIADAANNYA.

Sekarang baiklah kita buat contoh/misal:

Kalimah: LA ILAHA ILLALAH itu meliputi sangkalan dan pengakuan. Adalah keadaan/ adanya dan tiadanya keadaannya/tiadanya, artinya: hakikat dari Tuhan adalah tiadanya? Dalam ketidakadaannya/tiadanya: DIA mulai ADA. Yang terakhir lagi disebut: keadaan yang abadi.

Itulah makna atau arti dari: ADANYA DAN TIADANYA.

Sekarang kita teruskan sedikit lagi tentang ada dan tiada. Keadaan yang abadi dan ketidakadaannya keduanya sekalian bersamaan (sekaligus bersamaan). Adalah merupakan: Ujud dari Tuhan. Sangkalan mengandung pengakuan yang positif.

Jadi disini sangkalan dan pengakuan tidaklah terpisah dan tidaklah tersentuh, maksudnya ialah: bercerai tidak, bersatu tidak: akan tetapi keduanya Nafi dan dibatasi oleh kalimah ILA dan tidak boleh masuk kedalam kalimah ILLALLAH.

Selanjutnya kita harus tahu keadaan harus memberi petunjuk yang terang tentang apa yang dianggap ada, seperti suatu petunjuk terhadap yang ditunjuk.

Jadi rumus ILLALLAH adalah yang dianggap sebagai ADA. Maka mutlaklah nama keadaan yang maha mulia dari Tuhan Allah Azzawalla, hanya untuk dialah rumus ILALLAH itu tepat. Jadi kesimpulannya adalah: SERBA ESA, SERBA SATU, DAN HITUNGAN SEGALA JIWA-PUN ADALAH SATU (DALAM RAHASIA TUHAN).

Disini tidak ada lagi dua faham dalam ujud, tidak ada lagi dua kata dalam perbuatan, tidak ada lagi dua unsur dalam asma dan tidak ada lagi dua jenis kehidupan. Dan tidak ada lagi dua rumus dalam Zat dan Sifat segalanya: QADIRUN BI ZATIHI, MURIDUN BI ZATIHI, ALIMUN BIZATIHI, HAYUN BIZATIHI, SAMIUN BIZATIHI, BASYIRUN BIZATIHI, DAN MUTTAKALIMUN BIZATIHI.

Jadi siapa sudah Faham, merekalah yang beroleh ilham.

Sekarang kita teruskan pula pembicaraan kita kepada tentang hakikat Muhammad secara ringkasnya.

Hakikat Muhammad itu ialah NUR MUHAMMAD.

NUR MUHAMMAD itu ialah HAKIKAT ALAM.

NUR MUHAMMAD atau HAKIKAT MUHAMMAD disebut juga NUR AWAL, artinya asal segala kejadian dan akhir segala kenabian: ALHAK dan dia pada Nabi. Itulah sebabnya hakikat MUHAMMAD itu disebut utusan, maka kalau hakikat Muhammad itu disebut utusan tuhan maka carilah dan galilah sedalam-dalamnya hakikat hidup kita ini, supaya bisa pulang kembali keasalnya, yaitu kembali kepada hidup yang sejati, yaitu hidupnya tuhan yang kekal dan abadi, dan asali dan tidak terkena rusak. Itulah yang disebut Zat yang maha besar HAK Tuhan Allah yang dikenal dengan sebutan: HAQQULLAH TA’ALA.

Itulah tempat kembali, tempat manusia Ma’rifat, sebagai kesempurnaan kita yang sejati dan abadi. HAQQULLAH itu adalah sebagai kenyataan kita yaitu, untuk alam akhirat nanti dan alam dunia ini. (Selanjutnya - Liqo / Pertemuan)

File pdf:

https://googledrive.com/host/0B6BIN5otUZK0Tlc2QkZISVlFckU  
https://googledrive.com/host/0B6BIN5otUZK0LXVJSDMyYlZKdGs

Anda sedang membaca Maqam Fana (Maqam Binasa). Untuk mengikuti posting terbaru silahkan Liked Facebook Fanpage: Mistikus Cinta | Follow Twitter: @Sufipedia | Official LINE of Sufipedia Nusantara, LINE ID: @sufipedia | Telegram Group: @sufipedia. Terima kasih.
 
Top