Sufipedia


Kitab Barencong - Marilah kita menjadi seorang sufi, menjadi seorang sifa. Karena kita adalah pengikut nabi yang telah disucikan dan dibersihkan atau mutafa. Marilah kita menjadi sufi, dalam menghadapi kehidupan sehari-hari, sufi dalam perniagaan, sufi dalam pergaulan, sufi dalam hidup kasih sayang, dan sufi dalam hubungan dengan Tuhan. Sufi sejati luas perasaannya, tinggi hikmahnya dan putus segala tali pengikat yang mengikat kebebasan jiwa, terikat oleh siapapun, dan oleh apa-apa saja, selain terikat oleh Allah.

Sufi yang sejati meleburkan dirinya kedalam masdar tempat asalnya, fana diri kedalam baqa. Dalam manusia biasa, maksudnya dalam pandangan manusia biasa, Tuhan adalah yang Maha Kuasa atas alam ini. Alam ini dibolak balikkan, ditelentangkan dan ditelungkupkan oleh satu Zat yang Maha Kuasa: ALLAHU AKBAR. Dalam pandangan sufi memandang bahwa Tuhan itu adalah hakikat ujud dalam hidup ini atau hakikat kekuatan dalam hidup. Kekuatan dan tenaga itulah menjadi gerak gerik hati manusia bahwa gerak gerik alam maya pada ini. Sufi yang sejati ialah: yang selalu ingat kepada Allah dalam setiap saat dan lidah tidak kering-kering menyebut Allah, dengan maksud nyawanya tidak putus mengingat Allah. Meskipun lidah jasmaninya berdiam diri saja. Sufi sejati telah putus segala-gala rantai yang beri batas dengan alam. Rohaninya terbang tinggi laksana burung yang terbang keangkasa luas menyusup awan hijau, ditinggalkannya sangkar, naik keatas puncak gunung, ditinggalkannya gunung naik keatas awan hijau, dia bertahta diatas awan hijau, dipandangnya sangat lemah sekali alam semesta ini, termasuk dirinya, kian lama kian terasa semakin lemah, AKUNYA: yang akhirnya leburlah AKU kedalam hakikat AKU yang sebenarnya. Itulah ufuk tinggi luar biasa, kadang-kadang ia berjumpa dengan orang-orang suci, atau Awliya Allah, dan wali Allah, serta orang-orang ahli tasawuf. Inilah mi’rajnya yang pertama bagi seorang sufi. Jadi kalau aku masih merasa aku, maka belumlah aku sampai kepada inti cinta. Kalau AKUKU: Aku leburkan kedalam engkau, maka AKU adalah ENGKAU dalam segala hal.

Kini AKU tiada disana. Hanya engkau tinggal semata. Sekarang AKU tak dapat berkata-kata lagi. Bagaimana AKU menerangkan tentang DIA. Sedangkan AKU dengan AKU, dan AKU dengan dimana. Kalau AKU kembali, maka dengan AKU kembali itu terpisah. Kalau AKU lalai, dengan lalai itu, AKU diringankan. Apabila AKU berpadu kembali barulah jiwaku menjadi tentram dan damai/bahagia. Inilah pendirianku atau akidahku yang terakhir. Akhirnya: AKUKU LEBUR KEDALAM JIBU

LA HURUFIN WALA SAUTIN, artinya: Tiada huruf, tiada suara, tiada kata-kata, zat dirinya.

Jadi kalau seorang penuntut telah sampai kepada JIBU / LA HURUFIN WALA SAUTIN: Maka pastilah ia faham akan apa-apa yang dibicarakan. Jadi siapa-siapa belum faham, berarti dia belum bisa menangkap segala pembicaraan yang amat halus ini dan sulit baginya untuk memahami. Demikianlah apa-apa yang dapat hamba sampaikan. (Selanjutnya - Alam dan Tuhan)

File pdf:

https://googledrive.com/host/0B6BIN5otUZK0Tlc2QkZISVlFckU  
https://googledrive.com/host/0B6BIN5otUZK0LXVJSDMyYlZKdGs

Anda sedang membaca Pandangan Hidup Muslim . Untuk mengikuti posting terbaru silahkan Liked Facebook Fanpage: Mistikus Cinta | Follow Twitter: @Sufipedia | Official LINE of Sufipedia Nusantara, LINE ID: @sufipedia | Telegram Group: @sufipedia. Terima kasih.

Post a Comment

 
Top