Sufipedia

Penciptaan 1

Buat Para Kekasih Allah (Bawa Muhaiyaddeen) - Dahulu kala, masa ketika manusia belum tercipta, Tuhan telah membentuk kelima unsur: tanah, api, air, udara, dan eter. Masing-masing dengan kekuatan unik yang ada pada dirinya. Lantaran adanya kekuatan itulah, tiap unsur bangga akan keadaan dirinya. Sekalipun mereka tercipta karena Tuhan-lah yang mencipta, tiap unsur membual dengan angkuhnya, “Aku yang terbesar! Tiada yang menyamaiku!”

Maka, Tuhan pun berkata, “Akan Kusatukan kelima unsur ini untuk menghilangkan kesombongan mereka. Akan Kupakai cahaya Nur Muhammad untuk melakukannya. Akan Kucipta semua makhluk dengan porsi yang sama untuk setiap unsur ini, agar menyatu dan hilanglah keberbanggaan diri mereka.”

Setelah mencipta jin, makhluk-makhluk halus, bumi, langit, dan lain sebagainya, Tuhan pun mengambil Nur Muhammad dari dalam Diri-Nya sendiri. Tuhan berkata di hadapan seluruh makhluk-Nya, “Siapa di antara kalian yang mau menerima cahaya ini? Kalau ada, majulah ke depan.” Ketika cahaya-cahaya lain memandang kecemerlangan Nur Muhammad, mereka pun tercerap ke dalamnya.

Tuhan kembali bertanya, “Siapa yang mau maju untuk menerima ini?” Semua makhluk menjawab, “Wahai Sang Pencipta, Ya Rahmaan, Ya Tuhan, cahaya ini menyerap semua cahaya lainnya, bagaimana kami mampu menerimanya?”

Sekali lagi, Tuhan bertanya, “Adakah di antara kalian yang mampu membawa dan menerima Nur Muhammad-Ku?”

Maka, Tanah pun perlahan maju ke depan seraya berkata, “Hamba akan menerima cahaya ini.”

“Wahai Tanah, engkau telah menghancurkan dirimu sendiri,” suara Tuhan bergaung. “Engkau telah menyiapkan kejatuhanmu sendiri. Cahaya ini suci, sementara dirimu penuh kotoran, sampah, warna-warni, makhluk-makhluk, dan berbagai hal lain. Segalanya tumbuh pada dirimu. Maka bagaimana engkau bisa menerima sesuatu yang suci? Wahai Tanah, akan Kuberikan cahaya ini kepadamu, amanah ini. Namun ia milik-Ku. Engkau sungguh telah terburu-buru dalam menerimanya, dan itu berarti engkau telah menggali lubang kehancuranmu sendiri. Kini, pikirkanlah bagaimana engkau akan mengembalikan cahaya ini kepada-Ku seperti keadaannya semula. Kini kuberikan kepadamu, dan engkau harus menyerahkannya kembali kepada-Ku tanpa cacat barang sedikitpun.”

Dan Tuhan berkata, “Kelima unsur ini adalah awal dari ciptaan-ciptaan-Ku. Akan Kusatukan mereka di dalam tubuh setiap makhluk hidup. Tak ada yang berbeda, mereka akan menjadi unsur dasar dan pendukung bagi jasad makhluk-makhluk. Namun pertama-tama, akan Kusatukan mereka terlebih dulu. Akan Kuhancurkan keangkuhan mereka.” Maka, Tuhan pun menghadirkan Nur Muhammad dari Diri-Nya sendiri, memerintahkan cahaya itu untuk menemui setiap unsur dan membuat mereka mengucapkan kalimah — La ilaha ill-Allahu Muhammadur Rasulullah. Tiada sesuatu selain Engkau, Ya Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah.

Nur Muhammad, yang sungguh gemerlap oleh cahaya yang benderang, bergerak menjalankan perintah Tuhannya. Pertama kali, Nur Muhammad melihat unsur Api dan mengucapkan salam kepadanya, seraya berkata, “As-salaamu ‘alaikum, wahai Api! Kekuatan apa yang engkau miliki?”

Api pun mulai membual, “Tak ada yang lebih hebat dariku. Tak ada yang lebih pintar dariku. Aku lebih kuat dibandingkan apapun jua. Akulah yang terhebat dan tak ada yang sebanding denganku!”

Dengan lemah lembut, Nur Muhammad menjawab, “Wahai, Api. Air dapat memadamkanmu. Ketika engkau hendak membakar sesuatu, Udara pun dapat mengusirmu dari tempat itu. Tanah menundukkanmu dengan debunya. Banyak hal dapat menghentikanmu. Oleh karena itu, bagaimana engkau dapat mengaku lebih hebat dari segalanya? Banyak yang lebih hebat darimu. Maka, apa dasar ucapanmu?

“Selain itu, wahai Api, Dialah yang telah menciptakanmu dan seluruh makhluk. Dialah Tuhan, Penciptamu. Ketika engkau membual dapat melakukan apa saja, engkau tak menyadari Dia dan kekuatan-Nya yang sesungguhnya. Pada kenyataannya, engkaulah yang terendah dari segala makhluk. Kekuatanmu adalah yang terlemah dari kekuatan lainnya. Tidakkah engkau memikirkan hal ini?”

Api pun menyerah, “Ucapanmu benar. Wahai Cahaya, kekuatan apa yang engkau miliki?”

“Aku tak memiliki kekuatan,” jawab Nur Muhammad. “Tiada daya dan kekuatan yang kumiliki. Aku adalah hamba dari Dia Yang Maha Kuat. Aku yang terendah dari segala makhluk, dan aku berada di dalamnya. Dia yang menciptakanku adalah Dia satu-satunya yang memiliki kekuatan. Aku mengakui-Nya sebagai Yang Maha Agung, dan aku adalah hamba-Nya. Wahai Api, sebut asma-Nya, hadapkan dirimu pada-Nya, percayalah pada-Nya, dan berimanlah dengan teguh kepada-Nya. Dia akan melindungimu. Segala sesuatu ada dalam genggaman-Nya.”

Api berkata, “Ucapanmu benar.”

Maka, agar kesatuan dan kasih sayang dipahami betul oleh Api yang akan menjadi salah satu unsur dasar kehidupan, Nur Muhammad memerintahkannya untuk menerima dan menyebut kalimah. “La ilaha illa-Allahu Muhammaddur Rasulullah. Tiada sesuatu selain Engkau, Ya Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah,” Api mengucapkannya tanpa ragu.

Selanjutnya, Nur Muhammad memandang unsur Air dan mengucapkan salam, seraya berkata, “As-salaamu ‘alaikum, wahai Air! Kekuatan apa yang ada padamu?”

Dengan angkuh, Air menjawab, “Aku benar-benar hebat! Tiada yang menyamaiku. Aku dapat menghancurkan dan mengendalikan apa saja yang kumau — hutan, tanah, gunung, dan pantai. Kujadikan laut menjadi pantai, pantai menjadi laut. Kuhanyutkan kota-kota, kuhancurkan seluruh dunia. Sungguh, aku mampu melakukan apa saja. Tiada yang menyamaiku.”

“Wahai Air,” jawab Nur Muhammad lembut, “banyak yang lebih baik darimu. Udara menyimpangkan aliranmu, mengombang-ambingkanmu ke sana kemari. Batuan dan gunung-gunung ditempatkan untuk menahanmu, menundukkan aliranmu. Bahkan, semua makhluk hidup akan memakaimu baik untuk hal-hal yang baik maupun yang buruk. Sebagian akan meminummu, sebagian yang lain akan menggunakanmu untuk mandi dan membersihkan diri, sebagian lagi akan membuang kotorannya dan mengotorimu. Engkau pun tergenang di waduk dan danau yang menjadi jorok dan bau. Cacing, belatung, dan binatang menjijikkan lain akan hidup berkembang di dalam dirimu. Engkau akan dibuat hilang kejernihanmu, dan menjadi jorok, menjijikkan, kotor dan bau. Umat manusia akan menampung dan memenjarakanmu ke dalam kolam-kolam dan dam. Makhluk-makhluk yang tak terhingga banyaknya akan hidup di dalam dirimu, dan mereka akan menggunakanmu untuk membersihkan diri mereka. Dengan demikian, apa dasar bualan dan keangkuhanmu? Begitu banyak yang lebih baik darimu!”

Air pun bertanya, “Wahai, Nur Muhammad. Kekuatan apa yang kau miliki?”

“Tak ada kekuatan pada diriku. Allah-lah satu-satunya yang memiliki kekuatan,” jawab Sang Nur. “Dia Yang Maha Kuasa. Dengan kekuasaan Ia mencipta segala sesuatu, semua energi dan makhluk hidup. Dia melindungi semua, dan Dialah yang mengendalikan dan berkuasa atas segala sesuatu. Dia Maha Kuat, Maha Besar. Aku hanyalah hamba-Nya. Aku tak punya kekuatan. Aku melayani segala makhluk ciptaan sesuai perintah-Nya. Aku beriman kepada-Nya. Allah, Yang Esa yang mengatur dan memelihara, adalah satu-satunya yang memiliki kekuatan. Aku beriman kepada-Nya, aku berserah diri kepada-Nya. Aku merendahkan diriku di hadapan-Nya, Sang Pencipta, Sang Pemelihara. Wahai, Air, percayalah kepada-Nya dengan seteguh-teguhnya, berimanlah dan bersujudlah kepada-Nya.”

Nur Muhammad kemudian memerintahkan Air untuk mengucapkan kalimah, dan Air pun melakukannya tanpa ragu, “La ilaha illa-Allahu, Muhammadur Rasulullah.”

Selanjutnya, Sang Nur memandang Udara dan mengucap salam kepadanya, “As-salaamu ‘alaikum, wahai Udara. Kekuatan apa yang kau miliki?”

Udara pun mulai menyombongkan diri, “Tak ada yang lebih kuat dariku. Aku memiliki kekuatan yang hebat. Tak ada yang bisa menghentikanku. Aku melakukan apapun yang kumau. Kuhancurkan hutan, kurobohkan pohon-pohon besar. Aku ini besar. Tak tertandingi!”

Nur Muhammad tersenyum dan berkata, “Wahai Udara, ada sekian banyak perintang yang mampu mengendalikanmu dan menghalangi kerusakan yang engkau lakukan. Gunung-gunung yang tinggi dan pohon-pohon besar merintangimu dan menghilangkan kekuatanmu dengan menyebarkanmu ke empat arah. Mereka menghalangimu. Dan di atas semua ini, Sang Pencipta menciptakan tanah, api, air, eter, dan dirimu. Lupakah engkau akan Dia? Bila Dia mau, Dia akan menundukkanmu dalam sekejap.”

“Kekuatan apa yang kau miliki, wahai Nur Muhammad?” tanya Udara.

“Aku tak memiliki kekuatan. Seluruh kekuatan ada pada Tuhan, Pencipta-ku. Aku adalah hambanya. Aku menerima-Nya, beriman dan berpegang teguh pada-Nya. Dia Yang Tertinggi, dan engkau pun musti berpegang teguh pada-Nya. Dia akan melindungimu.

“Wahai Udara, akan kaulihat wajah-wajah para makhluk, engkau akan mampu melihat mereka. Namun mereka tak akan bisa melihatmu. Tak satupun dapat mengagumi keindahanmu. Inilah kekuranganmu. Oleh karena itu, bagaimana engkau mengakui kehebatanmu?”

Udara menerima perkataan itu, dan Nur Muhammad pun memerintahkannya untuk mengucapkan kalimah. “La ilaha illa-Allahu Muhammadur Rasulullah,” Udara menyebutnya tanpa ragu.

Kemudian, Sang Nur memberi salam pada Eter, “As-salaamu ‘alaikum, wahai Eter. Kekuatan apa yang kau miliki?”

Eter pun membual, “Akulah yang terhebat dari semua. Aku memiliki gemerlap sinar-sinar dan warna. Tak ada yang sebanding denganku!”

“Dia Yang Esa lebih besar darimu,” jelas Nur Muhammad. “Dia memiliki kekuatan tak terbatas. Dia memiliki ramuan yang mampu membunuhmu di tujuh dunia. Dan Dia memiliki warna-warna tak terhingga. Allah-lah satu-satunya yang agung!” Nur Muhammad memerintahkan Eter untuk mengucapkan kalimah, “La ilaha illa-Allahu Muhammadur Rasulullah,” dan Eter pun menurutinya.

Akhirnya, Nur Muhammad menjumpai Tanah dan berkata, “As-salaamu ‘alaikum, wahai Tanah. Kekuatan apa yang kau miliki?”

Tanah menjawab, “Wahai Nur Muhammad, aku tak memiliki kekuatan. Tak ada daya dan kekuatan padaku. Allah satu-satunya Yang Agung. Dia Yang Terhebat dan aku tak memiliki kehebatan sedikitpun. Seluruh makhluk akan menginjak-injakku, meludahiku, dan menghinakanku. Mereka akan menggaliku, lalu membawaku dari tempat ke tempat. Kotoran dan najis, mayat dan sampah, akan dikubur di dalam diriku. Aku akan memikul semuanya ini. Oleh karena itu, aku yang terendah dari semua makhluk. Aku percaya pada Tuhan semata.”

Mendengar hal ini, cahaya Nur Muhammad itu berujar, “Engkaulah yang terbaik dari semua!” Dengan suka cita Sang Nur memeluk dan mencium Tanah.

Kemudian, Nur Muhammad berkata, “Wahai Tanah, Tuhan akan menciptakan makhluk-makhluk dari dirimu dan akan menumbuhkannya di dalam dirimu. Emas, air, api, udara, eter, berlian, logam, dan apa-apa yang berharga akan ditempatkan di dalam dirimu. Sifat-sifat yang indah, sabar, syukur, menahan diri, juga akan diletakkan di dalam dirimu. Engkau akan menjadi jasad sekaligus denyut nadi bagi seluruh kehidupan. Tuhan akan mencipta segalanya melaluimu. Dia akan menyebarkan kekayaan-Nya melaluimu dan memberi kedamaian bagi segala makhluk. Tuhan menawarkan anugerah yang tiada ternilai ini padamu. Engkau akan menjadi ibu dari makhluk-makhluk, ibu yang sabar bagi seluruh kehidupan, anugerah bagi ciptaan-Nya.” Tanah membalas ciuman Sang Nur, dan ketika mereka saling berpelukan, cahaya Nur Muhammad memasuki Tanah.

Itulah sebabnya pada hari ini, ketika sujud dalam shalat, kita menekankan dahi pada tanah, mengikuti Nur Muhammad. Setiap orang bersujud menundukkan tubuh ke tanah. Kita menggunakan tanah untuk seluruh kebutuhan hidup kita. Kita hidup di atasnya, tidur di atasnya, makan di atasnya, tumbuh di atasnya, dan menyerap berbagai manfaat darinya. Tuhan meletakkan energi dasar (shaktis) dan anugerah besar di dalam tanah.

Tanah pun bersaksi dengan kalimah, mengucapkan, “La ilaha illa-Allahu Muhammadur Rasulullah. Tiada sesuatu selain Engkau, Ya Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah. Engkau, Ya Allah, Maha Besar, Maha Tinggi. Aku mempercayai-Mu dan meletakkan kepercayaan kepada-Mu. Aku beriman kepada-Mu. Aku menerima Muhammad sebagai Utusan-Mu, dan aku menerima cahaya ini sebagai wakil-Mu, sebagai Sang Nur, khalifah-Mu. Aku menerimanya dan mengabdi pada-Mu dengan iman, keyakinan, keteguhan.”

Penciptaan 2
Bawa Muhaiyaddeen

Lama kemudian, Tuhan pun bermaksud menciptakan makhluk hidup. Melalui segenggam tanah, api, air, udara, dan eter, Dia membentuk jasad bagi makhluk-makhluk itu. Lalu Dia pun berkehendak mencipta manusia…

70.000 tahun sebelumnya, Dia telah menetapkan rizki, pemeliharaan (rizq) bagi manusia itu — pangannya, airnya, kekayaannya, kesenangan, kehangatan, dan segala hal yang diperlukannya. Bila jumlah makanan, air, api, udara, dan eter yang ditetapkan untuk seseorang itu telah habis, maka Izrail a.s., Sang Malaikat Maut, akan memanggilnya kembali. Inilah yang dimaksud dengan takdirnya (nasib). Manusia menghadapi takdir ini karena rizkinya, bagian pemeliharaan untuknya, telah ditetapkan sebelum kedatangannya di dunia.

Setelah mengadakan berbagai makhluk hidup, Tuhan pun mencipta manusia, dan Dia hendak menjadikan manusia sebagai makhluk paling tinggi, paling bijaksana di antara semua ciptaan-Nya yang lain. Dia telah menganugrahkan tiga tingkat kesadaran kepada makhluk-makhluk lain. Namun kepada manusia Dia menambahkan empat tingkatan lainnya: memilih/memutuskan, hikmah, qutb, dan gnanam. Semua ini diberikan kepada manusia agar ia dapat menjadi ayah, guru, sayyid, pemelihara, dan wakil Tuhan bagi seluruh makluk. Manusia dianugrahi sifat-sifat ini agar ia mampu memberi ketenangan dan kedamaian bagi makhluk-makhluk lain.

Lalu Tuhan memanggil Malaikat Jibril a.s. dan berkata, “Pergilah ke empat sisi, empat arah di dunia. Ambillah dari tiap sisinya sampai engkau peroleh segenggam tanah, lalu berikan kepada-Ku.”

Jibril a.s. pun patuh dan pergi menjalankan perintah itu. Cahaya Nur Muhammad telah memasuki Bumi ketika sebelumnya Sang Nur menciumnya, sehingga Bumi pun memiliki hikmah. Maka, ketika Malaikat Jibril a.s. hendak meraih sejumput tanah, Bumi itu menyeru, “Wahai Jibril, jangan ambil tanah dariku. Semua makhluk yang Tuhan ciptakan melaluiku akan tergelincir ke neraka. Mereka akan berdosa, merusak dan menghancurkan satu sama lain. Mereka akan menipu, membunuh, dan hidup dengan cara-cara yang haram. Mereka tak akan memahami kebenaran. Mereka akan hidup kaya dan bersenang-senang melaluiku dan melupakan Dia, Tuhanku, sehingga mereka jatuh ke neraka. Bila anak-anak yang tercipta melaluiku itu jatuh ke neraka, tak kan sanggup aku memikulnya. Sungguh akan sangat menyiksa dan menyedihkanku bila anak-anakku berakhir di neraka. Oleh karena itu, aku mohon kepadamu, dengan nama Tuhan, janganlah kau ambil tanah dariku!”

Mendengar ini, Jibril a.s. pun meletakkan tanah itu kembali dan pergi menemui Tuhan, menceritakan semua yang dialaminya. Maka Tuhan mengutus Malaikat Mikail a.s. untuk mengumpulkan tanah dari keempat sisi itu. Namun hal yang serupa terjadi pada Mikail a.s. dan ia kembali menghadap Tuhan. Kemudian Malaikat Israfil a.s. diutus, namun ia pun kembali dengan cara yang sama.

Sampai akhirnya, Tuhan mengutus Sang Malaikat Maut, Izrail a.s. Ketika Izrail a.s. mengambil tanah dari keempat sisi dunia, Bumi melarangnya, “Dengan nama Tuhan, aku mohon padamu, jangan kau ambil tanah dariku!”

Namun Izrail a.s. bersikeras, “Adukan itu kepada Dia yang engkau telah bersumpah dengan nama-Nya! Dialah yang telah memerintahkanku mengambil tanah ini. Adukan itu kepada-Nya!” Izrail a.s. pun meraih segenggam tanah dari keempat sisi dan pergi menghadap Tuhan.

Lalu, suara Tuhan terdengar, “Bawalah segenggam tanah itu ke Karbalaa’, titik pusat dunia.” Izrail a.s. pun pergi dan meletakkan segenggam tanah itu di tempat yang diperintahkan-Nya.

Orang berkata bahwa Karbalaa’, titik pusat dunia, berada di antara Jerusalem dan Jeddah. Mereka mengatakan bahwa disinilah Adam a.s. dicipta. Namun ada suatu pemaknaan lain: bahwa segenggam tanah itu, Karbalaa’ itu, adalah juga hati (qalb) manusia. Di dalamnya, Tuhan mengatur dan memelihara 18.000 alam dan 15 lapisan. Dia meletakkan semua ini di dalam sirr (rahasia) manusia. Di sinilah peperangan manusia itu terjadi, di hati ini — di segenggam tanah ini.

Ketika segenggam tanah diambil, Tuhan berkata, “Wahai Bumi, engkau benar. Akulah yang menciptakanmu, dan Aku akan menciptakan banyak makhluk melaluimu. Aku akan mengeluarkan aturan dan bagian-bagian yang telah ditetapkan (nasib). Dan bagi tiap-tiap makhluk yang kuciptakan melaluimu, Aku akan membuat jasadnya, hidupnya, makanan dan pemeliharaan yang cukup. Aku sendiri yang akan menjadi Hakim. Bismillahir Rahmaanir Rahiim — untuk segenggam tanah itu, Aku-lah yang akan menjadi Pemelihara dan Pelindungnya. Aku-lah yang akan menjadi Penguasa, Pengatur, dan Badushaah-nya. Seperti halnya Aku adalah Pencipta dan Raja bagimu, Aku pun akan menjadi Raja, Rabb (Tuhan) bagi siapa yang akan kuciptakan melaluimu, dan Aku sendiri yang akan menjadi Pelindungnya.

“Wahai Bumi, Aku bertanggungjawab atas penciptaan, perlindungan, pemeliharaan, dan pemberi kedamaian bagi seluruh ciptaan-Ku. Aku akan menjadi Hakim, Aku yang akan menjatuhkan keputusan akhir, dan Aku akan bertanggungjawab atas Hari Kebangkitan dan kehidupan di Akhirat. Bukan engkau. Maka, tak usah engkau merasa terbebani olehnya. Aku yang akan menetapkan takdir bagi setiap yang hidup. Dengan takdir dan kesepakatan, akan ada pembatasan dan sebuah hari sebagai hari kematian sesuai pembatasan itu. Dan setelah kematian, akan ada penentuan, keputusan baginya. Ia akan dibangkitkan di hari kebangkitan, hari diajukannya pertanyaan, dan dijatuhkannya keputusan. Dari hasil diajukannya pertanyaanitu, Aku akan menciptakan surga dan neraka.

“Aku-lah yang akan menempatkan di dalam tiap-tiap manusia ketetapan tentang apa-apa yang halal dan haram, baik dan buruk (khair dan sharr), rahasia dan perwujudannya (sirr dan sifaat). Aku-lah yang memberi semua ini, dan Aku yang akan menjatuhkan keputusan akhir. Aku akan menganugrahkan kerajaan yang sesuai bagi tiap-tiap diri, sesuai dengan sikap dan perilakunya. Bila ia berlaku baik, maka ia akan memperoleh kerajaan surga-Ku. Bila ia berlaku buruk, ia akan mendapatkan kerajaan neraka-Ku. Aku-lah Sang Penguasa surga dan neraka. Aku Raja dari tiga dunia — dunia jiwa, dunia ini, dan dunia akhirat. Engkau tak bertanggungjawab atas semua ini, Wahai Bumi. Tak perlu engkau khawatir atau bersedih akan hal ini. Aku-lah yang menciptakanmu dan menganugrahkan bagimu kekuatan yang besar, kemenangan, dan kekayaan. Dan Aku-lah pula yang akan menyebarkan semua kekayaan ini, bukan engkau.

“Namun, segenggam tanah yang kuambil darimu itu adalah ‘hutang’. Tanah itu milikmu. Tanah itu diberikan kepadamu. Makhluk hidup yang akan Kucipta melaluimu akan memperoleh pemeliharaan darimu, hidup dan tumbuh pada dirimu. Aku akan menggunakanmu sebagai jasad mereka. Mereka akan meminum airmu, menggunakan api dan udaramu, dan memakan segala yang tumbuh darimu. Inilah ‘kekayaan bersama’ yang Kuberikan kepadamu. Aku telah menganugrahkanmu tanah, api, air, udara, dan eter untuk digunakan bersama oleh semua ciptaan-Ku. Seperti itulah Aku akan mencipta, dan engkau haruslah senantiasa menyediakan dirimu bagi mereka, tanpa pilih kasih.

“Semua ciptaan, bahkan burung dan hewan-hewan, akan terikat pada kelima elemen ini. Barangsiapa sanggup memutus ikatan-ikatan ini dan mengenal-Ku ketika ia tumbuh dan berkembang, barangsiapa melakukan ini dan sujud mengabdi pada-Ku, Aku akan ’sujud mengabdi kepadanya’. Barangsiapa mencintai-Ku, Aku akan mencintainya. Barangsiapa mendekat selangkah pada-Ku, mencari-Ku, Aku akan mendekat sepuluh langkah padanya. Barangsiapa memanggil nama-Ku sekali, Aku akan memanggil namanya sepuluh kali. Barangsiapa memuji-Ku sekali, Aku akan memujinya sepuluh kali.

“Tak terhitung banyaknya mulut, telinga, mata, hidung, dan tangan yang ada dalam diri-Ku. Dengan telinga itulah Aku mendengarnya. Dengan matanya, Aku melihatnya. Dengan mulutnya, Aku berbicara dengannya. Dengan tangannya, Aku menuntunnya. Inilah rahmat-Ku. Oleh karena itu, wahai Bumi, janganlah bersedih. Inilah sebabnya kenapa Kutetapkan apa yang disebut sebagai takdir, inilah kenapa Kutetapkan batasan dan kadar, sebuah kesepakatan, pada seluruh makhluk hidup. Aku akan memanggil kembali setiap makhluk sesuai dengan kesepakatan itu.

“Wahai Bumi, melalui segenggam tanah sebagai pinjaman darimu ini, Aku melipatgandakan manusia seribu kali, dan Aku perintahkan mereka mengembalikan seribu genggam tanah itu pula kepadamu. Ini ‘hutang’-Ku, kewajiban yang akan Aku emban. Ketika kesepakatan manusia telah berakhir, Aku bayar ‘hutang’-Ku ini kepadamu. Kuambil segenggam tanah ini darimu, dan bila seorang manusia tak mengembalikannya kepadamu, maka hal ini akan menjadi tanggungan besarnya di Hari Penentuan. Dia akan terhukum. Aku akan mengembalikan setiap manusia ke tempat yang sama di mana segenggam tanah itu diambil untuk menciptakannya. Akan Kuletakkan setiap jasad di tempat yang semestinya, dan akan Kuraih jiwanya. Aku akan melakukannya sesuai kesepakatan dan kadar tiap orang. Oleh karena itu, wahai Bumi, jangan kau khawatirkan dirimu tentang hal ini. Karena alasan inilah Aku perintahkan Izrail untuk meletakkan segenggam tanah itu di titik pusat, Karbalaa’. Inilah hati, dan di dalamnya terdapat rahasia. Tak perlu kau khawatirkan tentang hal ini.”

Tuhan menyimpan segenggam tanah itu di Karbalaa’ selama 70 tahun, di mana Ia menurunkan hujan 7 tahun lamanya demi memperbanyaknya. Lalu Ia pun mengambil tanah itu dan membentuk jasad bagi Adam a.s. Beberapa lama kemudian, karena Bumi dan Nur telah bersatu, Tuhan menerangi cahaya Nur Muhammad di dahi Adam a.s. Titik ini disebut sebagai mata kebijaksanaan: kursi. Sekalipun mata kita tertutup, bila kita membuka mata yang lain, mata rahmat Tuhan, mata kebijaksanaan ruhani dan pengetahuan (gnanam dan ilm) maka kita akan mampu melihat segalanya. Seseorang yang berada di tingkatan ini akan memiliki keindahan. Ia pun akan dikenal sebagai Suratul Insan, Suratul Qur’an, atau Suratul Fatihah.

Penciptaan 3
Bawa Muhaiyaddeen

Kala itu, ketika Tuhan menciptakan Adam a.s., iblis tinggal di surga sebagai raja para jin. Ia dipanggil dengan sebutan “Abu”. Lalu ia datang, ditemani seribu pengikutnya, melihat apa yang sedang terjadi. Ketika iblis melihat Adam a.s., ia menyaksikan betapa indahnya makhluk itu. Berkat cahaya yang ada di dalamnya, Adam a.s. menjadi begitu indah, bersinar.

Adam a.s. pun menatap seksama kepada iblis. Lalu iblis berkata dengan angkuhnya, “Wahai Adam, adakah engkau manusia itu yang Allah ciptakan? Engkau hanya terbuat dari tanah, namun seperti itukah engkau menatapku? Tatapanmu membuatku bergidik! Bila Tuhan menempatkanmu di bawahku, di bawah kekuasaanku, aku akan menolongmu dengan cara apapun yang kumampu. Tapi kuperingatkan kau, bila Dia menempatkanmu di atasku, maka aku akan melakukan apa saja demi menyiksamu.”

Maka wajah yang bersinar penuh cahaya itu pun menatap semakin tajam kepada Abu, dan iblis pun membentak kasar, “Beraninya kau menatapku seperti itu, kau hanya terbuat dari tanah!” Iblis meludahi Adam a.s. Maka, begitu ludah itu tepat mengenai perut Adam a.s., racun yang terkandung di dalamnya pun mulai menyebar ke seluruh tubuhnya. Tempat jatuhnya ludah itu menjadi tanda lahir baginya.

Menyaksikan kejadian itu, Tuhan berkata kepada Jibril a.s., “Wahai Jibril, pergilah kepada Adam. Iblis telah meludahi ciptaan-Ku yang suci. Racun iri, sombong, dan serakahnya telah memasuki Adam dan mengotorinya. Pergilah dan ambillah racun itu.” Dengan seketika, Jibril a.s. pun berada di tempat itu. Maka dengan kedua jarinya, Jibril a.s. mencongkel secuil tanah di mana ludah itu tepat mengenai perut Adam a.s. Bekas congkelan itu kini menjadi pusar di perut manusia, dan merupakan satu di antara 28 huruf pembentuk jasad manusia.

Satu huruf yang diambil dari jasad Adam a.s. itu diberikan kepada seekor anjing, dan diletakkan pada mahkota kepalanya. Ketika Adam a.s. menerima jiwa, lalu bangkit, anjing pun bangkit. Karena satu huruf di kepalanya itu, anjing menjadi hewan yang penuh rasa syukur. Ia dapat hidup bersama manusia dan mengikutinya. Ia mampu mendegar kata-kata dan mencintai pemiliknya. Namun, terkecuali di atas kepalanya itu, yang tak tersentuh itu, seluruh bagian jasadnya yang lain adalah najis, kotor, penuh dengan hawa nafsu dan sifat-sifat iblis lainnya.

Tuhan lalu meletakkan jiwa ke tubuh Adam a.s. Jiwa itu dimasukkan melalui ujung atas mahkota kepalanya, atau ‘arsy, dan turun ke seluruh tubuhnya. Perlahan, otak pun melalui berfungsi, namun seluruh bagian tubuhnya yang lain masih bersifat tanah/bumi. Lalu jiwa itu turun menyentuh matanya, maka mata itu pun melihat. Turun menyentuh hidung, dan hidung dapat mencium. Menyentuh telinga, dan hidung pun mendengar. Turun menyentuh lidah, dan Adam a.s. pun kini mampu berkata-kata. Saat itu, walau ia baru setengah jadi, dan jiwa itu baru memasuki dadanya, Adam a.s. menggeliat dan mencoba menekan dirinya dengan kedua tangannya.

“Wahai Adam, bersabarlah,” Tuhan berkata, “Lihatlah, engkau masih setengah jadi. Setengah tubuhmu adalah daging dan tulang, sementara yang lainnya hanyalah tanah tak berbentuk. Sekalipun demikian, engkau terburu-buru hendak bangun. Inilah tanda bahwa manusia akan menjadi makhluk yang tak penyabar. Sungguh ia akan menjadi makhluk yang terburu-buru!” Lalu Adam a.s. bersin, dan jiwa itu pun meresap dan turun ke seluruh tubuhnya.

Beberapa saat kemudian, Tuhan memerintahkan para malaikat untuk mengundang Adam a.s. ke surga. Di sana Tuhan memanggil para utusan, makhluk-makhluk terang (awlia) dan semua warga surga, dan Tuhan berkata, “Aku menciptakan Adam sebagai pemimpin. Berdirilah di belakang Adam dan sujud pada-Ku.” Mereka menuruti perintah itu, kecuali iblis dan seribu pengikutnya.

Melihat hal ini, Tuhan dengan tegas memerintahkan iblis, “Wahai Abu, berdirilah di belakang Adam dan sujud pada-Ku!”

Namun setan menjawab, “Ya Tuhan, hamba tahu bagaimana bersujud pada-Mu. Namun hamba tak akan menyembah-Mu di belakang Adam. Ia dicipta dari tanah, sementara hamba dari api, maka hamba tak mungkin berdiri di belakangnya.”

“Manusia bersujud pada-Ku. Berdirilah di belakangnya dan sembah Aku!” Tuhan memerintahkannya lagi.

Namun iblis bersikeras menolak, “Hamba tak akan berdiri di belakangnya.”

Sekali lagi Tuhan menyeru, “Wahai yang terkutuk, sembah Aku dan berdirilah di belakang Adam.” Namun iblis tetap menolak.

Akhirnya Tuhan mengutuk iblis, seraya berkata, “Wahai mal’uun (yang terkutuk), engkau yang terusir! Tak ada tempat bagimu di sini. Aku mengirimmu ke neraka.”

“Hamba siap ke neraka,” jawab iblis. “Adam adalah musuh hamba.

Maka sebelum hamba pergi, ijinkan hamba untuk menghancurkan Adam dan seluruh pengikutnya!”

“Siapapun yang mengikuti-Ku tidak akan mengkutimu, dan siapa saja yang mengikutimu tak akan mengikuti-Ku,” Tuhan menjawab. 

“Jika engkau berniat menghancurkan siapa yang berserah diri pada-Ku, maka engkau akan tertolak dalam hina. Kekuatanmu akan luluh. Engkau tak mampu menghancurkan pengikut-Ku tanpa ijin dari Ku. Engkau tak memiliki kekuatan untuk menghancurkan mereka yang berserah diri pada-Ku. Sekarang, pergilah!”

Iblis meminta lebih banyak, “Ijinkan hamba untuk menghilangkan bentuk hamba dan menyelusup ke dalam manusia, dimana pun ia berada, dan menghancurkannya dari dalam dan luar.”

“Engkau hanya mampu berada di kegelapan, engkau tak akan mampu berada di tempat yang penuh cahaya. Jika engkau masuk ke diri seseorang yang hidup dalam keberimanan kepada-Ku, maka engkau akan terusir dalam kehinaan. Pergilah engkau, iblis!”

Namun iblis bersikeras, “Tak peduli seberapa banyak hamba akan gagal, hamba akan selalu mencoba. Bahkan pada detik terakhir kehidupannya di bumi, hamba akan sekuat tenaga menariknya ke dalam api hamba, membuatnya tak bisa membayar hutangnya pada-Mu. Bila segala cara telah gagal, inilah yang hamba lakukan!”

“Wahai yang terhina,” suara Tuhan menggelegar, “siapapun yang mengikuti-Ku akan hidup di bumi dan mengembalikan kehidupannya kepada bumi. Namun siapapun yang mengikutimu, akan hidup dalam api, berakhir dalam api dan tak kan mampu membayar hutangnya kembali kepada tanah. Barangsiapa menikmati kegelapanmu dan menumbuhkan sifat-sifat marah, dengki, iri, mencela, prasangka, sombong, karma, maya (ilusi), perilaku buruk, bohong, berbangga diri, balas dendam, dan siapapun yang percaya pada kekayaan dan iming-iminganmu pada neraka, maka ia akan berakhir di neraka. Bahkan sekalipun ketika ia hidup dalam jasadnya, kehidupannya akan terbakar oleh api neraka. Ia akan hidup dalam kenestapaan yang besar dan berakhir dalam apimu.

“Namun jika ia hidup bersama-Ku, jika ia berniat mendekat pada-Ku dan menumbuhkan sifat-sifat kesabaran, syukur, tawakkal kepada-Ku, dan menghaturkan puji-pujian kepada-Ku, jika ia melayani seluruh makhluk hidup seperti halnya ia melayani dirinya sendiri, menumbuhkan 30.000 sifat kasih sayang-Ku dalam dirinya dan mengasihi seluruh makhluk, ia akan mewarisi kerajaan-Ku. Namun ia yang mensifati dirinya dengan sifat-sifatmu akan selamanya menjadi korban api neraka. Baik dalam hidup maupun matinya, ia akan terbakar dalam api. Sekarang, keluarlah engkau, setan!”

Setan dan seribu pengikutnya pun terusir dari surga dan hadir di bumi. Sekalipun begitu, setan tetap mampu terbang ke tujuh tingkatan surga dan melakukan tipu dayanya. Di bumi, ia memiliki kekuatan berkata-kata melalui patung, batu, dan berhala. Di masa Namrud dan Firaun, ia menggunakan kekuatan ini dan mengakibatkan berbagai kesulitan bagi anak-anak Adam a.s. di Mesir dan Jerusalem. Tuhan mengirim utusan-utusan, satu demi satu, demi menepis kekuatan setan, dan akhirnya, melalui Rasul Muhammad s.a.w., kekuatan berkata-kata melalui berhala telah dihancurkan dan dilepas darinya. (Selanjutnya - Anak-anak, Bersikaplah dengan Baik)

Terjemahan dari To Die Before Death karangan Bawa Muhaiyaddeen

***********

Anda sedang membaca Penciptaan Alam Semesta Dan Isinya. Untuk mengikuti posting terbaru silahkan Liked Facebook Fanpage: Mistikus Cinta | Follow Twitter: @Sufipedia | Official LINE of Sufipedia Nusantara, LINE ID: @sufipedia | Telegram Group: @sufipedia. Terima kasih.

Post a Comment

 
Top