Sufipedia

Ini adalah wirid yang menjadi bekal bagi murad (guru) serta memuat maksudnya, sebagai pembuka hidayah yang menjadi petunjuk untuk memahami ilmu ma’rifat. Berasal dari dalil, hadis, ijma’ dan qiyas.

Dalil, penjelasan tentang firman Allah. Hadis, tentang keteladanan Rasulullah. Ijma’, kumpulan wejangan para wali. Qiyas, penyebaran ajaran para pendhita (ulama).

Intisari ilmu ma’rifat ini bersumber dari sabda Nabi Muhammad SAW yang dibisikkan kepada Ali melalui telingan kirinya:

Sesungguhnya tidak ada apa-apa, ketika masih awing-uwung (kosong) belum ada sesuatupun. Yang ada saat itu adalah Aku, tidak ada Tuhan selain Aku, Dzat Sejati yang Maha Suci, yang meliputi sifat-Ku, menyertai Nama-Ku dan menandai perbuatan-Ku. 

Maksudnya demikian:

Sesungguhnya yang mengatakan bahwa Dzat adalah Maha Suci itu adalah hidup kita sendiri, karena titipan rahasia Dzat yang Agung. Yang meliputi sifat ini tiada lain adalah rupa kita sendiri, karena ketambahan warna Dzat yang elok. Yang menyertai nama itu tiada lain adalah nama kita sendiri, karena telah diakui sebagai sebutan bagi Dzat yang Maha Kuasa.

Buktinya bisa dilihat bahwa tingkah laku kita sendiri benar-benar mencerminkan perbuatan Dzat yang sempurna. Bisa dikatakan, Dzat itu mengandung sifat, sifat menyertai nama, nama memberi tanda bagi perbuatan dan perbuatan menjadi wahana bagi Dzat.

Hubungan antara Dzat dan Sifat ini bisa diumpamakan seperti madu dan manisnya, jelas keduanya tidak dapat dipisahkan. Sifat menyertai nama ini dapat diumpamakan seseorang yang bercermin dengan bayangan dalam cermin tersebut. Sehingga apa yang dilakukan orang tadi akan diikuti oleh bayangannya.

Perbuatan yang menjadi wahana bagi Dzat, hal ini dapat diumpamakan dengan samudra dengan ombaknya. Keberadaan ombak mengikuti perintah samudra.

Jadi sebenarnya, yang disebut Dzat itu adalah tajalli (penampakan) Muhammad, sedangkan yang bernama Muhammad itu adalah wahana cahaya yang meliputi badan. 

Ia berada dalam hidup kita. Hidup itu sendiri mandiri tanpa yang menghidupkan, oleh karena itu ia berkuasa, mendengar, mencium, berbicara dan merasakan rasa. Semua itu berasal dari kodrat Dzat kita sendiri.

Maksudnya, Dzat Tuhan yang Maha Suci melihat dengan mata kita, mendengar dengan telinga kita, mencium dengan hidung kita, bersabda dengan mulut kita dan merasakan dengan alat perasa kita. Tidak perlu kawatir dalam pikiran karena wahana wahyo jatmiko ada dalam diri kita. 

Maksudnya, lahir batinnya Allah itu sudah ada dalam hidup kita pribadi. Jika diperibahasakan, lebih tua dzat manusia dari pada sifat Allah, karena kejadian dzat itu lebih dahulu pada jaman azali serta kekal, paling dahulu di kala masih hampa keadaan kita. Sedangkan kejadian sifat itu adalah baru ketika berada di alam dunia. Akan tetapi keduanya ini saling tarik-menarik dan saling menguatkan. Semua dzat pasti mengadung sifat dan semua yang bersifat pasti memiliki dzat.

Urutan kejadian dzat dan sifat ini disebutkan pada dalil kedua, firman Tuhan yang Maha Suci berikut:

Sesungguhnya Aku adalah Dzat yang Maha Pencipta dan Maha Kuasa, yang berkuasa menciptakan segala sesuatu, terjadi dalam seketika, sempurna lantaran Kodrat-Ku. Sebagai pertanda perbuatan-Ku, sebagai kenyataan kehendak-Ku. Mula-mula Aku menciptakan hayyu bernama syajaratul yakin. Tumbuh dalam alam adam makdum yang azali abadi. 

Setelah itu cahaya bernama Nur Muhammad, cermin bernama mir’atul haya’i, nyawa bernama ruh idhafi, lampu bernama kandil, permata bernama dharrah dan dinding jalal bernama hijab yang menjadi penutup hadirat-Ku.

Maksudnya demikian:

1. Syajaratul Yakin.

Tumbuh dalam alam hampa yang sunyi senyap azali abadi. Ia adalah pohon kehidupan yang berada dalam ruang hampa dan sunyi senyap selamaya, belum ada sesuatupun. Artinya, Ia hakikat Dzat yang pasti dan paling dahulu yaitu Dzat Atma yang menjadi wahana bagi Alam Ahadiyat.

2. Nur Muhammad.

Cahaya yang terpuji. Dikisahkan dalam hadis, ia seperti burung merak, berada dalam permata putih dan berada pada arah Syajaratul Yakin. Itulah hakikat cahaya yang diakui sebagai tajalli Dzat, berada dalam nukat ghoib, merupakan sifat atma dan menjadi wahana bagi Alam Wahdah.

3. Mir’atul Haya’i

Kaca wira’i. Dikisahkan dalam hadis, ia berada di depan Nur Muhammad. Ia adalah hakikat dari pramana yang diakui rahsa Dzat -Nya sebagi nama bagi atma serta menjadi wahana bagi Alam Wahidiyat.

4. Ruh Idhofi

Nyawa yang jernih, dikisahkan dalam hadis, ia berasal dari Nur Muhammad. Ia adalah hakikat sukma yang diakui sebagai keadaan Dzat, serta merupakan perbuatan Atma. Ia menjadi wahana bagi Alam Arwah.

5. Kandil

Lampu tanpa api. Dikisahkan dalam hadis, ia berupa permata, cahaya berkilauan, serta bergantung pada pengait. 

Itulah keadaan Nur Muhammad dan tempat berkumpulnya semua ruh. Ia adalah hakikat angan-angan yang diakui sebagai bayangan Dzat, bingkai bagi atma dan menjadi wahana Alam Misal.

6. Dharrah 

Permata. Dikisahkan dalam hadis, ia memiliki sinar yang beraneka warna, satu tempat dengan para malaikat. Ia menjadi hakikat budi, yang diakui sebagai perhiasan Dzat, pintu nama dan menjadi wahana Alam Ajsam.

7. Hijab

Dinding yang agung dan disebut sebagai dinding jalal. Dikisahkan dalam hadis, ia adalah yang timbul dari permata beraneka warna. Pada saat bergerak akan menimbulkan buih, asap dan air. Ia adalah hakikat jasad, merupakan atma dan menjadi wahana bagi Alam Insan Kamil.

Menurut keterangan dari Ijma’ dan Qiyas, dinding agung yang berupa buih, asap dan air tadi dibagi menjadi tiga bagian.

1. Buih

Mengeluarkan tiga macam hijab, yaitu:
a) Hijab kisma, menjadi perwujudan jasad luar seperti kulit, daging dan sebagainya.
b) Hijab rukmi, menjadi perwujudan jasad dalam seperti otak, manik, hati, jantung dan sebagainya.
c) Hijab retna, menjadi perwujudan jasad yang lembut, seperti mani, darah, sumsum dan sebagainya.

2. Asap

a) Hijab kegelapan, menjadi perwujudan nafas dan yang lainnya.
b) Hijab guntur, menjadi perwujudan panca indera.
c) Hijab api, menjadi perwujudan nafsu.

3. Air

a) Hijab embun air hidup, menjadi perwujudan sukma
b) Hijab nur rasa, menjadi perwujudan rahsa
c) Hijab nur cahaya yang sangat terang, menjadi perwujudan atma. 

Semua itu merupakan dinding bagi Dzat yang berada pada insan kamil atau manusia sempurna. 

Tidak perlu khawatir karena keadaan Arsy, Kursi, Lauh Mahfudz, Kalam, Timbangan, jembatan Shiratal Mustaqim, surga, neraka, bumi, langit dan semua isinya ini sudah termasuk dalam tabir yang diimbasi oleh Dzat kita yang Maha Agung. Ia terpancar menjadi keelokan sifat kita yang tunggal, menyertai nama kita yang berkuasa, menandai kekuasaan perbuatan kita yang sempurna.

Sesungguhnya Aku menciptakan Adam berasal dari empat unsur yakni tanah, api, angin dan air. Semuanya menjadi perwujudan sifat-Ku, untuk itu Aku masuki lima macam mudah yaitu nur, rahsa, ruh, nafsu dan budi untuk menjadi penutup Wajah-Ku yang Maha Suci. 

Maksudnya, mudah itu adalah dzat hamba, wajah itu adalah Dzat Gusti yang bersifat kekal. Dalam suatu hadis disebutkan bahwa masuknya mudah ke dalam jasad melalui lima macam proses. Bermula dari ubun-ubun, berhenti di otak, turun ke mata, turun ke telinga, turun ke hidung turun ke mulut, turun ke dada, tersebar keseluruh tubuh dan akhirnya sempurna menjadi insan kamil.

Inilah kehendak tambahan dari Dzat yang Maha Suci. Ia menciptakan Singgasana Dzat, diatur dalam Baitullah menjadi tiga susunan. 

Semua itu merupakan kenyataan. Segala merupakan ciptaan Dzat Yang Maha Agung, Maha Mulia, Maha Kekal tanpa ada perubahan. Disebutkan dalam tiga buah firman Tuhan Yang Maha Suci.

Pertama, Susunan dalam Singgasana Baitul Makmur

Sesungguhnya Aku mengatur singgasana dalam Baitul Makmur, yaitu rumah tempat kesukaan-Ku. Tempat itu berada dalam kepala Adam. Dalam kepala itu ada otak, dalam otak ada manik, dalam manik ada budi, dalam budi ada nafsu, dalam nafsu ada sukma, dalam sukma ada rahsa, dalam rahsa ada Aku. Tidak ada Tuhan selain Aku, Dzat yang meliputi semua keadaan.

Kedua, Susunan dalam Singgasana Baitul Muharram

Sesungguhnya Aku mengatur singgasana dalam Baitul Muharram, yaitu rumah tempat pingitan-Ku. Tempat itu berada dalam dada Adam. Dalam dada itu ada hati, dalam hati ada jantung, dalam jantung ada budi, dalam budi ada jinem (angan-angan), dalam jinem ada sukma, dalam sukma ada rahsa, dalam rahsa ada Aku. Tidak ada Tuhan selain Aku, Dzat yang meliputi semua keadaan.

Ketiga, Susunan dalam Singgasana Baitul Muqaddas

Sesungguhnya Aku mengatur singgasana dalam Baitul Muqaddas, itu adalah rumah, tempat yang Aku sucikan. Berada dalam penis (kemaluan) Adam. Dalam kemaluan itu ada buah pelir, diantara buah pelir ada nuftah yaitu mani, dalam mani ada madi, dalam madi ada wadi, dalam wadi ada manikem, dalam manikem ada rahsa, dalam rahsa ada Aku. Tidak ada Tuhan selain Aku, Dzat yang meliputi semua keadaan, bertahta dalam nukat ghoib, turun menjadi Jauhar Awal. Disitulah Alam Ahadiyat berada (Alam Wahdat dan Alam Wahidiyat), Alam Arwah, Alam Misal, Alam Ajsam dan Alam Insan Kamil, menjadi manusia sempurna yaitu sifat-Ku yang sejati.

Setelah memahami firman diatas, maka bijaksanalah dalam hati sebagai perwujudan syukur karena telah menerima anugerah. Anugerah itu adalah pemahaman tentang Dzat Tuhan, yakni menerima sifat sebagai hamba yang telah manunggal dengan Tuhan tanpa batas dalam badan kita.

Penjelasan dari ayat diatas adalah sebagai berikut:

Pertama, tentang unsur-unsur yang terdapat dalam Baitul Makmur, artinya rumah yang Makmur.
Kepala adalah bentuk lahir Baitul Makmur. 

Otak adalah keadaan kontha, yang menarik terangnya cahaya dan merupakan pembuka bagi pemahaman tentang Dzat. 
Manik adalah keadaan pramana, memperjelas warna dan menjadi pangkal pengelihatan.
Budi adalah keadaan pranawa, memperjelas kehendak dan menjadi pangkal dalam berbicara.
Nafsu adalah keadaan hawa, memperjelas suara dan menjadi pangkal bagi pendengaran.
Sukma adalah keadaan nyawa, memperjelas cipta dan menjadi pangkal bagi penciuman.
Rahsa adalah keadaan atma, memperjelas kuasa dan menjadi pangkal bagi perasaan. 

Kedua, tentang unsur-unsur yang terdapat dalam Baitul Muharram, artinya rumah tempat bagi hal-hal yang dilarang. 

Dada adalah bentuk lahir keadaan Baitul Muharram.
Hati adalah keadaan panca indera, memperjelas nafsu dan menjadi pangkal munculnya nafas.
Jantung adalah keadaan panca maya, memperjelas rasa birahi dan menjadi pangkal timbulnya denyutan.
Budi adalah keadaan pranawa, memperjelas kehendak dan menjadi pangkal munculnya pembicaraan.
Jinem adalah keadaan angan-angan, memperjelas suara dan menjadi pangkal munculnya pendengaran.
Sukma adalah keadaan nyawa, memperjelas cipta dan menjadi pangkal timbulnya penciuman.
Rahsa adalah keadaan atma, memperjelas kuasa dan menjadi pangkal timbulnya perasaan. 

Ketiga, tentang unsur-unsur yang terdapat usunan dalam Baitul Muqaddas, artinya rumah yang disucikan. 

Kemaluan (penis) adalah bentuk lahir dari Baitul Muqaddas.
Buah pelir adalah keadaan purba, diresapi rasa birahi, serta menimbulkan asmaranala yakni tertariknya hati.
Mani adalah keadaan kontha, diresapi hawa nafsu, serta menimbulkan asmaratura yakni tertariknya pengelihatan.
Madi adalah keadaan warna, diresapi oleh kehendak, serta menimbulkan asmaraturida yakni tertariknya pendengaran.
Wadi adalah keadaan rupa, diresapi daya pemikiran, serta menimbulkan asmaradana yakni tertariknya kesamaan pembicaraan.
Manikem adalah keadaan sukma, diresapi oleh perasaan, serta menimbulkan asmaratantra yakni rasa terarik karena bersinggungan.
Rahsa adalah keadaan atma, diresapi rasa kuasa, serta menimbulkan asmaragama yakni kesenangan yang timbul dalam senggama.

Bagi seorang wanita harus disesuaikan sebagai berikut:

Ketika yang Maha Suci berkehendak mengatur singgasana dalam Baitul Muqaddas, yang berada dalam baga (kemaluan) Siti Hawa. Didalam (kemaluan) itu purana, diantara purana itu ada reta atau mani. Di dalam mani ada madi, dalam madi ada wadi, dalam wadi ada manikem, dalam manikem ada rahsa, dalam rahsa ada atma yang meliputi semua keadaan.

Maknanya, baga itu adalah imbangan bagi penis, purana adalah imbangan bagi buah pelir dan seterusnya. Sama seperti ajaran untuk laki-laki, cara mengusahakannya pun sama, yakni agar paham sangkan paran (asal-usul).

Setelah paham, sebaiknya ia mengamalkan amalan yang dapat memperteguh kekuatan iman, yakni SYAHADAT JATI yang dibaca di dalam hati:

Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Aku. Dan Aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad itu adalah utusan-Ku.

Setelah memahami makna SYAHADAT JATI ini, kemudian mengangkat janji terhadap sanak saudara kita, yaitu semua mahluk yang tersebar dipenjuru dunia, seperti langit, bumi, matahari, bintang, bulan, api, angin, air, dan sebagainya. 

Agar semuanya menjadi saksi bahwa kita telah mengaku menjadi Dzat Tuhan yang Maha Suci, menjadi sifat Allah yang sesungguhnya, menyebut dalam batin sebagai berikut:

Aku bersaksi kepada Dzat-Ku sendiri bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Aku. Dan Aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad itu utusan-Ku. 

Sesungguhnya yang bernama Allah itu adalah Badan-Ku, Rasul itu adalah Rahsa-Ku, Muhammad itu adalah cahaya-Ku. Aku lah yang senantiasa hidup dan tidak akan pernah mati. Aku yang selalu ingat dan tidak akan pernah lupa. Aku lah yang kekal abadi dan tidak pernah mengalami perubahan dalam keadaan apapun. Aku lah yang bijaksana, tidak ada sesuatupun yang tersembunyi dari-Ku. Aku lah yang Maha Kuasa, berkuasa lagi bijaksana, tidak ada kekurangan pengertian, sempurna terang benderang, tidak dapat diraba, tidak kelihatan. Hanya Aku yang meliputi alam semesta karena Kodrat-Ku. (Selanjutnya - Wirid Mencapai Kesempurnaan)

Anda sedang membaca Ajaran Makrifat Jawa: Penjelasan Amalan Pengenalan Dzat (3). Untuk mengikuti posting terbaru silahkan Liked Facebook Fanpage: Mistikus Cinta | Follow Twitter: @Sufipedia | Official LINE of Sufipedia Nusantara, LINE ID: @sufipedia | Telegram Group: @sufipedia. Terima kasih.
 
Top