Sufipedia

Baca pelan-pelan, pahami, meresap sampai pada makna:

Selama tiga puluh tahun aku mencari Tuhan. Tapi ketika saya melihat dengan hati-hati, saya menemukan bahwa pada kenyataannya Tuhan adalah pencari dan saya yang dicari.

Menjelang akhir hayatnya, Bayazid Bistami memasuki sebuah tempat shalat dengan memakai ikat pinggang. Mantel dan pecinya yang terbuat dari bulu domba itu dikenakannya secara terbalik (Cinta Sufi memandangnya sebagai simbol penyangkalan diri) Kemudian bermunajat;

Ya Allah, aku tidak membanggakan disiplin diri yang telah kulaksanakan seumur hidupku, aku juga tidak membanggakan shalat yang telah aku lakukan sepanjang malam. Tidak pula menyombongkan puasa yang telah kulakukan selama hidupku. Aku tidak menonjolkan upayaku mengkhatamkan (menamatkan) Al Qur’an berulang-ulang kali. Aku tak akan mengatakan betapa tingginya pengalaman spiritual yang telah aku alami, betapa bersungguh-sungguhnya untuk doa yang telah aku panjatkan dan betapa akrabnya hubungan Kau denganku. Engkaupun mengetahui bahwa aku tidak membanggakan segala sesuatu yang telah aku lakukan itu. Semua yang kukatakan ini bukan untuk membanggakan diri. Semua ini kukatakan kepada-Mu karena aku malu atas segala perbuatanku itu. Engkau telah melimpahkan rahmat-Mu, sehingga aku dapat mengenal diriku sendiri. Semuanya tidaklah berarti, dan anggaplah tidak pernah terjadi. Aku adalah seorang tua yang sudah berumur 70 tahun dengan rambut yang telah memutih dalam keburukan. Baru sekarang inilah aku dapat memutus ikat pinggang ini. Baru sekarang aku dapat melangkah ke dalam lingkungan Islam. Baru sekarang inilah aku dapat menggerakkan lidah untuk mengucapkan syahadah (pengakuan tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah). Engkau menerima umat manusia bukan karena kepatuhan mereka, dan Engkau tidak akan menolak mereka hanya karena keingkarannya. Segala sesuatu yang kulakukan hanyalah debu. Kepada setiap perbuatanku yang tak berkenan kepada-Mu, limpahkanlah ampunan-Mu. Basuhlah debu keingkaran dari dalam diriku karena akupun telah membasuh debu kelancangan karena mengaku telah mematuhi-Mu."

Anda sedang membaca Penyangkalan Diri. Untuk mengikuti posting terbaru silahkan Liked Facebook Fanpage: Mistikus Cinta | Follow Twitter: @Sufipedia | Official LINE of Sufipedia Nusantara, LINE ID: @sufipedia | Telegram Group: @sufipedia. Terima kasih.
 
Top