Sufipedia

Kamis siang (5/7), buku Atlas Wali Songo karya Agus Sunyoto diluncurkan di Gedung Aula PBNU, Kramat, Jakarta Pusat. Peluncuran buku yang diterbitkan atas kerjasama Pustaka Iman (penerbit yang berada di bawah naungan Mizan Group) dengan Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) tersebut dihadiri oleh sekitar 300 orang: terdiri dari para tokoh agama, mahasiswa dan para santri dari berbagai pesantren.

Acara peluncuran diawali dengan penyerahan buku Atlas Wali Songo oleh Presiden Direktur Mizan Group Haidar Bagir kepada Ketua PBNU, Prof. Dr. Agil Syiradz. Dalam kata sambutannya, kedua tokoh Islam tersebut menyatakan bahwa perkembangan Islam di Indonesia tak terlepas dari peran penting Wali Songo. Bahkan secara khusus, Prof. Agil Syiradz menyebut jika ada pihak yang berupaya menghapuskan peran sejarah tersebut sama juga dengan memisahkan ikan dengan air. “Itu jelas bertentangan dengan alur sejarah yang sudah berjalan,”ujarnya.

Suasana mulai menghangat saat beberapa pembicara didapuk untuk menyampaikan pendapatnya mengenai buku tersebut. Dr. Irmawati Marwoto Johan dari Universitas Indonesia (UI) memuji Atlas Wali Songo sebagai buku sejarah yang memuat banyak informasi terbaru mengenai peri kehidupan para wali sembilan itu. Bukan saja dari penuturan cerita, tapi juga dari data-data arkelogi yang disajikan dalam bentuk foto-foto. “Saya sebagai seorang arkeolog menyatakan bahwa apa yang ditulis dalam Atlas Wali Songo merupakan sebuah kebenaran sejarah,” ujar pakar arkeologi tersebut.

Abdul Mun’im menyebut kehadiran Wali Songo dalam sejarah perkembangan Islam di Nusantara merupakan prestasi tersendiri dalam menyatukan antara Islam dengan kearifan lokal masyarakat Nusantara. Strategi jitu dakwah mereka membuat orang-orang Jawa merasa cocok dengan Islam dan menjadikannya sebagai agama secara suka rela. “Inilah yang ditakutkan oleh Belanda, sehingga pasca Perang Diponegoro, mereka berusaha menghilangkan peran sejarah Wali Songo ini,” ujar Wakil Sekretaris Jenderal NU yang juga dikenal sebagai pakar tasawuf tersebut.

Lain dengan kedua pembicara di atas, Sujiwo Tejo malah merasa “aneh” dengan upaya “pengilmiahan” Wali Songo. Bagi sang budayawan ini, kekuatan sejarah Wali Songo justru terletak pada “mitos-mitos” sekitar mereka. “Saya malah jadi sedih Wali Songo diilmiahkan, apa sih enaknya ilmiah itu?” katanya disambut oleh gergeran dari para peserta. Namun secara pribadi, ia sangat mengapresiasi penulisan buku ini.

Menanggapi pendapat-pendapat di atas, Agus Sunyoto menyatakan rasa terima kasihnya atas sambutan yang luar biasa tersebut. Dengan penulisan buku tersebut, ia berharap orang tidak memandang sebelah mata lagi terhadap keberadaan Wali Songo dalam sejarah. Menurutnya, sebelum adanya Wali Songo, perkembangan Islam di Nusantara sempat tertahan selama 800 tahun. Itu disebabkan karena dakwah Islam pra Wali Songo berlangsung dalam gaya Arab yang agak menafikan eksistensi budaya lokal. Islamisasi secara massif baru terjadi ketika Wali Songo menyebarkan Islam dalam gaya yang lebih fleksibel dan bersahabat.

“Jadi keberhasilan Wali Songo sebagai penyebar Islam khususnya di Pulau Jawa bukanlah mitos. Itu terjadi secara nyata dan hari ini saya ingin menyampaikan kenyataan itu kepada anda semua,” ujar penulis yang mantan wartawan Jawa Pos tersebut. [Islam-Indonesia/hendijo]

Anda sedang membaca Wali Songo Bukan Mitos. Untuk mengikuti posting terbaru silahkan Liked Facebook Fanpage: Mistikus Cinta | Follow Twitter: @Sufipedia | Official LINE of Sufipedia Nusantara, LINE ID: @sufipedia | Telegram Group: @sufipedia. Terima kasih.
 
Top