Sufipedia

Bab HAJI kita jumpai dalam Kitab Suci Al-Qur’an pada Surat Al-Baqarah dan Surat Hajj. Kata “HAJI“ yang ada dalam Bahasa Indonesia sesungguhnya bukan berasal dari Bahasa Arab, melainkan dari Bahasa Kawi (Jawa Kuno) “AJI“. Kebetulan artinya hampir sama, yaitu “UTAMA“ atau “PERTAMA“.

Berpakaian serba putih, itu perlambang bahwa yang mengenakan pakaian itu sesungguhnya sudah “mengutamakan“ kesucian. Jadi seorang HAJI sesungguhnya dia sudah Ma’rifatullah, dan sudah mengutamakan kesucian yang diridho’i Allah. Bukan yang ditafsirkan orang pada jaman sekarang ini, yaitu mereka yang sudah melaksanakan pergi haji ke tanah suci Arab.

Dalam ajaran Agama Islam disunnahkan Hukumnya (jadi bukan merupakan wajib), kalau mampu wajib kita melaksanakan naik HAJI. Dikatakan SUNNAH, tapi WAJIB. Dikatakan WAJIB, tapi bila MAMPU. Mari kita perhatikan Firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 197:

Artinya:
(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi[1], barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats[2], berbuat Fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya Sebaik-baik bekal adalah takwa[3] dan bertakwalah kepada-Ku Hai orang-orang yang berakal.

[1] Ialah bulan Syawal, Zulkaidah dan Zulhijjah.
[2] Rafats artinya mengeluarkan Perkataan yang menimbulkan berahi yang tidak senonoh atau bersetubuh.
[3] Maksud bekal takwa di sini ialah bekal yang cukup agar dapat memelihara diri dari perbuatan hina atau minta-minta selama perjalanan haji.

Jelas bahwa di dalam firman Allah ini sesungguhnya tidak kita jumpai nama-nama bulan: Syawal, Dzul Qaidah dan Dzul Hijjah. Tetapi mengapa orang melaksanakan pergi haji selalu pada bulan-bulan tersebut?. Lalu ada ummat Islam yang mengatakan bahwa bila, pergi haji maka dia sudah suci kembali, karena semua dosanya sudah diampuni Allah. Jelas bahwa pernyataan ini salah besar dan menyesatkan.

NAIK HAJI (jadi bukan pergi haji) adalah usaha untuk meningkatkan kesucian kita dalam mendekatkan diri ke Allah. Misalnya dari tingkat Syari’at ke tingkat Thoriqat, dari tingkat Thoriqat ke tingkat Hakekat, dari tingkat Hakekat ke tingkat Ma’rifat. Dan yang menjalankan naik haji ini, bukan hanya jasad lahir saja, melainkan juga harus disertai dengan jasad-jasad batin kita yang lain. Sebab naik haji ini pasti akan dialami oleh setiap manusia bila kelak mereka menempuh perjalanan untuk kembali menghadap Alam Lauhul Makhfuz (mati).

Nah, pada perjalanan terakhir inilah kelak bakal ada Haji Mabrur atau haji yang gagal. Kalau gagal, maka dia akan menjadi arwah marakayangan. Jelas bahwa yang dapat menjadi haji mabrur kelak ialah mereka yang dari sejak sekarang sudah berusaha untuk mensucikan diri. Sudah hidupnya mendekatkan diri kepada Allah, baik secara harfiah maupun haqiqi. Jadi pengertian naik haji menurut ajaran Ma’rifat Islam ialah perjalanan terakhir manusia untuk dapat kembali dengan selamat ke Usulnya. Yaitu ke Alam Lauhul Makhfuz. Oleh sebab itu di dalam RUKUN ISLAM, naik haji tercantum dalam urutan terakhir.

Kalau hanya ditafsir secara harfiah saja, maka pengertiannya akan lain. Allah itu terkenal memiliki sifat Maha Pengasih dan Maha Adil. Nah, kebetulan letak geografis negara kita sangat jauh dari tanah suci Arab. Untuk dapat pergi haji ke sana, maka orang memerlukan biaya sangat besar, bila dibandingkan dengan mereka yang tinggal dan berdomisili di sekitar negara Arab. Apalagi mereka yang memang tinggal di dekat padang Arafah. Lalu di mana letak keadilan Allah?. Tentunya bagi mereka yang jauh, apalagi yang miskin, akan menimbulkan masalah bila hendak pergi haji.

Jelas, bahwa kata MAMPU disini bukan berarti tidak mempunyai biaya atau KAYA. Lagipula perintahnya itu NAIK HAJI bukan PERGI HAJI. Kalau memang benar penafsiran golongan Syari’at itu, mengapa para WALI baik yang ada di tanah Jawa, Aceh, para imam (misalnya Imam Al-Ghazali, Hanafi, Syafi’i, Maliki maupun Hambali) dan para sababat Nabi Muhammad s.a.w. serta para tokoh Sufi tidak ada yang memiliki titel haji?. Misalnya Haji Syeikh Abdul Qodir Jilani, Haji Syeikh Sjamman, dll. Jadi jelas bahwa mereka pun TIDAK pernah pergi menunaikan ibadah haji seperti yang ditafsir oleh golongan Syari’at itu.

Manusia yang dalam sakaratul maut kalau hendak digambarkan sama dengan mereka yang pergi haji. Datang dari mana-mana dan berkumpul pada suatu tempat, yang dinamakan padang Arafah. Lalu secara berjamaah melakukan sholat jamaah (sholat yang ke I bagi yang sakaratul maut). Dalam menunaikan ibadah haji ini diwajibkan pula membayar fidyah, berpuasa, beramal dan berkorban.

Jelas bahwa bagi yang sedang sakaratul maut, mereka tengah berpuasa (tidak makan dan tidak minum lagi), beramal (hanya mengingat asma Allah) dan berkorban (karena akan meninggalkan para ahli warisnya). Barulah kemudian melakukan sholat yang ke II yaitu sholat Haji. Mengunjungi dan sholat di Baitullah juga merupakan hal yang wajib. Thawaf antara Shafaa dan Marwah namanya Sa’i.

Disebutkan bahwa bila sudah bertolak dari Arafah, sekitar Masy’ari’i. Pada saat itu terjadi sakaratul maut melakukan sholat ke III. Dan kemudian sebelum melakukan sholat yang terakhir (ke V) sholat dha’im, diharuskan melakukan sholat yang ke IV. Sayang sekali mengenai sholat yang ke III dan ke IV ini tidak dapat ditulis disini, karena gawat! Selain itu sholat yang ini dapat diatur demikian:
  • Sholat ke I langsung ke sholat III, lalu
  • Sholat ke III ke sholat I, dilanjutkan dengan
  • Sholat ke I ke sholat II, dan terus
  • Sholat ke II langsung ke sholat IV, dan akhirnya
  • Sholat ke V (atau sholat dha’im).
Kelima sholat ini juga biasa dilakukan oleh mereka yang pernah menunaikan ibadah haji. Secara haqiqinya kelima sholat ini merupakan perjalanan terakhir sebagai perpisahan antara batin dengan jasad lahiriyah. Itulah sebabnya maka sholat Idul Ad’ha merupakan wajib bagi mereka yang tengah menunaikan ibadab haji di tanah suci Arab. (Selanjutnya - Dzikir Ma'rifat)

Anda sedang membaca Kitab Ilmu Makrifat Islam: Haji . Untuk mengikuti posting terbaru silahkan Liked Facebook Fanpage: Mistikus Cinta | Follow Twitter: @Sufipedia | Official LINE of Sufipedia Nusantara, LINE ID: @sufipedia | Telegram Group: @sufipedia. Terima kasih.

Post a Comment

 
Top