Sufipedia

Kalau al-Hallaj mengajukan konsep al-Hulul dengan lahut dan nasut, maka Ibn Araby mengajukan konsep wihdat al-wujud, lahut diubah menjadi al-Haqq (Tuhan) dan nasut diubah menjadi khalq (makhluk). Haqq dan khalq adalah dua rupa dari satu hakikat. Al-haqq adalah aspek batin dan khalq adalah aspek lahir. Dari sinilah lahir konsep al-haqiqat al-Muhammadiyah (Insan kamil)

Dalam hadis qudsi: “Kuntu kanzan makhfiyyan, fa-ahbabtu an u’rafa, fa-khalaqtu al-khalq fa-bihi ‘arafuni” = “Aku adalah harta simpanan, Aku menyukai (diri-Ku) untuk dikenal, maka Aku ciptakan makhluk, dengannya mereka mengenal-Ku)”. 

Sehingga tajalli/penampakkan Tuhan pada alam semesta ini, karena ingin dikenal dan melihat surah diri-Nya, sehingga dimanifestasikanlah (digambarkan) asma-asma dan sifat-sifat-Nya pada alam. Akan tetapi pada saat itu alam masih belum dapat menampung surah Tuhan dengan sempurna, alam masih belum memiliki ruh, alam masih merupakan cermin yang buram yang belum mampu menampakkan surah Tuhan secara sempurna.

Kesempurnaan dan keutuhan tajalli Tuhan baru nampak setelah diciptakan Adam (manusia). Eksistensi Adam mampu menjadi cermin yang jernih bagi-Nya. Meskipun demikian tidak semua manusia mampu pada posisi ini, hanyalah insan kamil yang mampu memantulkan asma-asma dan sifat-sifat Tuhan secara sempurna. Dialah sebagai ruhnya alam, semua makhluk (alam seisinya) tunduk kepadanya, karena kesempurnaannya.

Insan kamil, merupakan miniatur dan realitas ketuhanan dalam tajalli-Nya pada jagat raya. Ia adalah al-‘alam al-shaghir (mikrokosmos) sebagai cermin dari jagat raya (makrokosmos). Esensi insan kamil adalah refleksi esensi Tuhan, karena itulah ada yang mengatakan bahwa manusia itu sebagai hamba sekaligus Tuhan (Hati-Hati???). Kesempurnaan insan kamil pada dasarnya dikarenakan pada dirinya Tuhan ber-tajalli secara sempurna lewat Nur Muhammad (Hakikat Muhammad). Hakikat Muhammad adalah zat ketuhanan (al-dzat al-ilahiyah) dalam bentuk tanazul (proses tajalli) berikutnya. Dia lah tempat tajalli Tuhan yang paling sempurna, dia adalah al-‘ilm al-ilahi yang meliputi semua hakikat ketuhanan.

Wujud mutlak ini bertajalli dalam tiga martabat, yaitu:

1. Martabat Ahadiyah
Disebut juga martabat zatiyah, dimana wujud Allah merupakan zat yang mutlak lagi mujarrad (dalam kesendirian), tidak bernama dan tidak bersifat. Ia merupakan Esa. Jadi Ahadiyah adalah martabat pertama Allah yang mutlak, sendiri, hanya zat semata, belum disertai sifat dan belum ada kasta pencipta atau pemberi apapun. Keadaan yang mutlak ini sebenarnya tidak terjangkau, sehingga disebut la ta’yun (tidak terjangkau apapun, tak ada penampakkan).

2. Martabat Wahidiyah
Disebut juga martabat Tajalli Zatih atau Faidh Aqdas (limpahan kudus). Zat yang mujarrad itu bertajalli melalui sifat dan asma. Dengan tajalli zat itu dinamakan ALLAH, dalam pengertian agama yang memiliki dan mengikat atau menyempurnakan nama-nama dan sifat-sifat Yang Maha Sempurna (al-asma al-Husna). Pada sisi lain ia merupakan hakikat terpendam (a’yan al-tsabitah). 

Proses ini disebut kenyataan pertama (ta’ayun awwal), dimana zat yang mujarrad itu bertajalli untuk pertama kali dalam citra asma dan sifat. Namun itu belum mempunyai wujud yang nyata, hanya Tuhan semata. Inilah yang dimaksud oleh hadis (Imam Bukhari): “Allah telah ada dan tidak ada suatu jua pun berada bersama-Nya”. Sebab hal tersebut lebih merupakan proses yang terjadi dalam dirinya. 

3. Martabat Tajalli Shuhudi
Juga disebut martabat Faid Muqaddas atau Ta’ayyun Tsani (kenyataan kedua), Allah SWT bertajalli lewat asma dan sifat-Nya dalam kenyataan indrawi, melalui firman “KUN(QS Yasin 36: 82). Maka a’yan tsabitah (hakikat alam) yang sebelumnya merupakan wujud dalam zat ilahi, menjadi kenyataan aktual dalam berbagai citra alam indra.

Nur Muhammad adalah tajalli dari Nur-Nya. Nur Muhammad merupakan wadah tajalli yang paling sempurna, karena itu dipandang sebagai khalifah Allah atau insan kamil. Selanjutnya ialah bahwa Nur Muhammad mempunyai dua jalur, yaitu: 

1. Pertama, hubungannya dengan alam sebagai asas pencipta alam; maka Nur Muhammad adalah Nur yang mula-mula dijadikan Allah SWT dan yang ada di dalam dirinya dijadikan alam semesta ini: alam jasmani dan alam rohani. Jadi Nur Muhammad termuat dalam dirinya apa yang disebut al-A’yan al-Mumkinah (kenyataan yang mungkin) dan dengan firman “Kun” maka segala yang berwujud yang potensial menjadi wujud yang aktual dalam bentuk alam ini. Namun tujuan pencipta alam ini tercapai karena alam merupakan kaca yang belum terasah, sehingga tidak dapat berperan secara sempurna sebagai cermin bagi Allah SWT, untuk menyatakan kesempurnaan diri-Nya.

2. Kedua, hubungannya dengan manusia sebagai hakikat manusia atau insan kamil, yang dalam dirinya termuat segala hakikat wujud. Karena itulah insan kamil merupakan wadah tajalli Allah yang paling lengkap, sehingga dapat berperan sepenuhnya sebagai cermin Tuhan dalam melihat diri-Nya.

Anda sedang membaca Nur Muhammad Menurut Syekh Al Akbar Ibn ‘Arabi. Untuk mengikuti posting terbaru silahkan Liked Facebook Fanpage: Mistikus Cinta | Follow Twitter: @Sufipedia | Official LINE of Sufipedia Nusantara, LINE ID: @sufipedia | Telegram Group: @sufipedia. Terima kasih.

Post a Comment

 
Top