Sufipedia

Man Arafa Nafsuhu Faqod Arofa Rabbahu
(Nabi Muhammad SAW)

A'rif Nafsaka fa in Araftaha Arafta al-asya'a Kullaha
(Abu Hayyan Al-Tauhidi, Al-Isyarah al Ulahiyah)

Syekh Siti Jenar: Penyatuan Diri dengan Tuhan
Prolog

Seorang pemikir handal asal Mesir Ibn Khaldun berkata, sebenarnya tasawuf sebagai amaliah dan kepribadian yang sudah ada sejak zaman nabi masih hidup, demikian pula di era sahabat dan tabi'in. Akan tetapi seiring meluasnya imperium Islam (futuhat) kesejahteraan Islam semakin makmur, banyak dari kalangan ummat Islam berlebih secara duniawi. Sedikit demi sedikit gemilang harta menjauhkan kesadaran ummat dari agama, bersamaan dengan itu kebudayaan Islam dan perekonomian semakin pesat yang mengakibatkan banyak dari kalangan ummat Islam sendiri terlena dan menjauh dari tuhannya. Sejak itulah seorang yang memegang teguh agama dan nilai spiritual religi Islam dikatakan seorang sufi.

Membincang seputar tasawuf perlu ketelitian dan kepekaan yang tajam, karena tak jarang penulis terpeleset dalam menggambarkan tasawuf. Bahkan tidak sedikit yang mengkambing hitamkan tasawuf sebagai salah satu kemunduran ummat Islam dalam menghadapi modernisasi. Persepsi demikian itu tentu tidak dapat di benarkan, sebab tasawuf adalah ruh Islam yang menjadi sikap dan perilaku nabi, sahabat, dan tabi'in. Jika sejarah telah mencatat berdirinya imperium Islam pada abad pertengahan maka peran serta tasawuf di dalamnya tidak bisa di abaikan begitu saja. Karena tasawuf telah memberikan kesadaran dalam jiwa prajurit Islam.

Pada saat penulis di sodori undangan untuk mengisi kajian senat, lumayan kaget karena belum banyak tahu tentang sejarah Kejawen, ketika melihat isi judul yang di ajukan tentang Sufistik Syaikh Siti Jenar atau terkenal dengan panggilan Syekh Lemah Abang. Dalam benak penulis Syekh Siti Jenar adalah seorang tokoh Sufi Jawa yang kehadirannya banyak menuai kontroversial di kalangan banyak pihak terutama dari pihak pewalian pada saat itu. Tujuan utama ajaran Syaikh Siti Jenar adalah mengajak manusia selalu tumbuh berkembang seperti sebuah pohon yang menjulang ke langit yang tidak akan tumbang oleh terpaan angin, selalu aktif dan progesif. Membangkitkan ingsun sejati melalui tauhid al-wujud atau terkenal secara local manunggaling kawulo gusti. Gerakan yang dilakukan Syekh Siti Jenar bersumbu pada pembebasan kultural, pembebasan kemanusiaan dari kungkungan struktur politik berdalih agama sekaligus pembebasan dari pasungan keagamaan yang formalistik. Namun, benarkah tuduhan bahwa ajaran Syekh Siti Jenar merupakan pertempuran antara Kejawen dan Islam? Benarkah ajaran Syekh Siti Jenar adalah rekayasa budaya untuk menyerang Islam?

Konsep Ajaran Syekh Siti Jenar

Dalam ziarah pustaka, gambaran Nancy K. Florida tentang Tiga Guru Jawa (Syekh Siti Jenar, Syekh Malang Sumirang, Ki Ageng Pengging) dalam disertasinya, Menyurat Yang Silam Menggurat Yang Menjelang (1995).

“Di antara ketiga empu tersebut, Syekh Siti Jenarlah yang paling dikenal, dengan ketenarannya sebagai wali nyeleneh yang paling utama di pulau Jawa bahkan hingga saat ini. Berbagai versi kisahnya, baik lisan maupun tulisan, melimpah. Dialah tokoh yang mewakili penyebarluasan, dan yang disebarluaskannya adalah pengetahuan esoteris eksklusif yang keluar dari kalangan elite politik-spiritual ke dalam budaya khalayak ramai. Atas penyebarluasan inilah maka para wali merasa terpanggil untuk memusnahkan Syekh Siti Jenar. Mereka melihat ancaman politik yang benar-benar nyata dalam dirinya; lantaran sebagai sosok penyebarluasan dan populisme dia dengan sendirinya menentang pemusatan dan penyatuan kekuasaan.

“Dalam benak khalayak ramai, Siti Jenar dikenang sebagai patron wong cilik. Garis besar kisah hidupnya menggarisbawahi keterkaitan organisnya dengan lapis terendah masyarakat. Dalam versi kisahnya yang paling tersebar luas, dan dikisahkan di layar lebar Siti Jenar diceritakan sebagai seekor cacing tanah yang secara ajaib berubah menjadi manusia. Pengubahan ini terjadi karena sang cacing secara kebetulan menerima pengetahuan esoteris yang mengantarnya menuju Hakikat Sejati. Sekali menjadi manusia, dia yang semula cacing ini kemudian berani untuk membuka tabir Pengetahuan Makrifat kepada khalayak ramai. Dengan penguasaan ilmu kebatianan tingkat tinggi yang di luar nalar manusia pada umumnya seperti keterkaitannya dia dengan sesahidan, sangkan paraning dumadi, dan wihdat al-wujud atau di kenal dengan sebutan manunggaling kawulo gusti dan lain-lain yang masih dalam ranah ajaran pokok Syekh Siti Jenar. Barangkali anggapan bahwa penyampaian pengetahuan semacam itu akan dapat mengubah martabat “cacing-cacing” yang lain adalah kecemasan elite spiritual-politik di ibu negeri Demak.

Ajaran yang pertama dari Syekh Siti Jenar adalah tidak mengabsolutkan pendapat.

Pendapat boleh diperdebatkan, akan tetapi pendapat tidak untuk melindas pendapat orang lain. Munculnya berbagai mazhab dalam berbagai agama di dunia membuktikan bahwa ajaran agama pasca pendirinya sebenarnya merupakan pendapat yang dikembangkan dari ajaran asal agama itu. Jadi, kebenaran pendapat adalah kebenaran yang dibangun atas akseptabilitas masyarakat atau komunitas tempat pendapat itu berkembang. 

Pendapat sebagai hasil olah pikir manusia berkembang terus, dan bila pemikiran seseorang, suatu golongan atau bangsa mandek, maka ia akan terlindas oleh perubahan yang terjadi di dunia ini. Bangsa yang pemikirannya terlindas atau tertinggal akan menemui banyak masalah dalam hidupnya, dan kenyataan itu bisa kita saksikan dewasa ini. Perhatikanlah apa yang terjadi pada negara-negara tidak maju atau sedang berkembang! Kemiskinan, kebodohan, mutu kesehatan yang rendah, serta rusaknya lingkungan hidup merupakan bukti mandeknya pemikiran.

Tanpa berpikir manusia tidaklah sama dengan hewan, tetapi malah lebih buruk daripada kehidupan hewan. Bila hewan lapar, maka secara naluri akan tertuntun menuju sumber makanan, tetapi tanpa berpikir untuk mencari makan manusia akan mengalami kematian. Oleh karena itu, manusia berandai-andai, dan perlu berasumsi. Manusia berusaha menggunakan akal-pikirannya untuk menciptakan nilai tambah pada segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Berbagai benda diberi nilai atau “aji” sesuai dengan tingkat kelangkaannya.

Pendapat apabila sudah diterima oleh suatu kelompok orang maka akan menjadi kebenaran bagi kelompok itu. Meskipun kitab-kitab suci dalam berbagai agama dikategorikan sebagai wahyu dan bukan pendapat, tetapi dalam implementasinya tetap menggunakan olah pikir alias pendapat. Dan, pendapat tentunya dimaksudkan untuk menyamankan, memudahkan, dan menimbulkan kesejahteraan umat. Itulah pendapat yang diperlukan!

Jadi, bukan kebenaran hakiki atau kebenaran harfiah suatu pendapat yang perlu diperhatikan. Yang perlu diperhatikan adalah apakah pendapat itu bisa digunakan untuk menimbulkan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi umat manusia, minimal bagi mereka yang meyakini pendapat itu. Dan, yang perlu kita tolak adalah pendapat yang menimbulkan kezaliman, kesengsaraan dan kriminalitas bagi manusia.

Ajaran yang kedua adalah menjadi manusia hakiki, yaitu manusia yang merupakan perwujudan dari hak, kemandirian, dan kodrat.

Hak. Kebanyakan kita berpendapat bahwa kita harus mendahulukan kewajiban daripada hak. Perhatikanlah para pejabat kita selalu menuntut rakyat untuk menjalankan kewajibannya dulu sebelum mendapatkan haknya. Warga dituntut membayar pajak, mematuhi undang-undang dan peraturan yang ditentukan oleh para elite politik, dan melaksanakan berbagai macam kepatuhan. Menurut Syekh Siti Jenar, harus ada hak hidup lebih dulu. Inilah kebenaran! Tak ada kewajiban apa pun yang bisa diberikan kepada seorang bayi yang baru dilahirkan. Oleh karena itu, begitu seorang bayi manusia dilahirkan semua hak-haknya sebagai manusia harus dipenuhi terlebih dahulu.

Tidak peduli ia dilahirkan di keluarga kaya atau miskin, hak memperoleh pengasuhan, perawatan, penjagaan, perlindungan, dan mendapatkan pendidikan harus dipenuhi. Hak-hak tersebut dipenuhi agar ia menjadi manusia yang dapat menjalankan kewajibannya sebagai anggota keluarga, masyarakat, dan negara. Dengan cara itu akhirnya ia menjadi manusia hakiki, manusia sebenarnya yang dapat berkiprah dalam kehidupan nyata, baik sebagai pribadi maupun warga sebuah negara. Salah satu unsur untuk menjadi manusia yang hidup merdeka terpenuhi.

Kemandirian. Pemenuhan hak dan kewajiban barulah tahap awal untuk menjadi manusia hakiki. Tahap berikutnya adalah mendidik, mengajar, dan melatihnya agar bisa menjadi manusia yang hidup mandiri. Ia harus diarahkan agar mampu hidup yang tidak tergantung pada orang lain. Dengan demikian, kehidupan mandiri akan tercapai bila terjadi kesalingtergantungan antar anggota masyarakat dan sekaligus kemerdekaan (interdependence and independence).

Perhatikanlah keadaan ekonomi masyarakat Indonesia sekarang ini. Kita amat sangat tergantung pada bantuan atau hutang luar negeri. Negara yang dilimpahi kekayaan alam yang luar biasa ini justru dihisap oleh negara-negara maju di dunia ini. Setiap bayi yang dilahirkan yang seharusnya merupakan aset negara, ternyata tumbuh menjadi manusia-manusia pencari kerja dan bahkan menjadi beban negara. Hal ini disebabkan terjadinya manusia-manusia yang tergantung pada orang lain. Hubungan yang terjadi adalah hubungan orang-orang lemah dengan orang-orang kuat. Yang lemah merasa sangat memerlukan yang kuat, sedangkan yang kuat berbuat tidak semena-mena terhadap mereka yang lemah. 

Akibat dari keadaan tersebut tambah tahun pengangguran akan semakin bertambah besar. Yang menjadi gantungan relatif tetap, sedangkan yang menggantungkan diri bertambah banyak. Terjadi relasi yang tidak seimbang, sehingga kehidupan masyarakat menjadi rawan.

Kodrat. Inilah unsur berikutnya yang menopang asas hak dan kemandirian dalam kehidupan masyarakat. Kodrat pada manusia merupakan kuasa pribadi. Kodrat tidak didapat dari luar diri. Dengan demikian kodrat tidak berasal dari pelatihan dan pendididikan. Tetapi kodrat harus diberikan ruang yang kondusif agar suatu bentuk kemampuan khusus yang dianugerahkan pada setiap orang bisa terwujud. Dalam hal ini, pelatihan akan meningkatkan kualitas kodrat yang dimiliki seseorang.

Dalam psikologi kodrat dapat dikatakan hampir sama dengan talenta. Bila seseorang tidak diberikan kesempatan untuk dapat mengaktualisasikan dirinya, maka kodratnya kemungkinan besar tak akan terwujud. Padahal, kodrat yang ada pada diri seseorang itulah yang bisa menjadi sarana untuk memperoleh keuntungan bagi dirinya. Bila setiap orang bisa mewujudkan kodratnya, maka akan terwujud hubungan yang saling memberikan dan sekaligus saling membutuhkan. Setiap orang akan memiliki nilai tawar bagi orang lain.

Harmonisasi dan ikatan antar warga negara akan menguat bila sebagian besar penduduknya bisa mewujudkan ketiga unsur manusia hakiki tersebut. Keragaman masyarakat pun kecil dan kesenjangan ekonomi dapat dinihilkan. Akhirnya jati diri manusia akan muncul dengan sendirinya, dan kita akan menjadi bangsa yang kokoh dan tidak mudah diprovokasi.

Ajaran yang ketiga adalah hubungan antara satu orang dengan orang lain merupakan hubungan kodrat dan iradat.

Hubungan satu orang dengan orang lain bagaikan hubungan kerja dalam satu tim, sehingga tidak terjadi hubungan posisi yang memerintah dan yang diperintah. Tak ada hubungan kekuasaan. Antara manusia yang satu dengan yang lain terikat oleh kodrat dan iradatnya, sehingga seperti hubungan sel yang yang satu dengan sel lainnya dalam satu tubuh, dan hubungan organ yang satu dengan organ lainnya dalam satu tubuh. Kalau kita amati cara kerja organ-organ dalam tubuh manusia, maka kita akan ketahui bahwa masing-masing organ –seperti otak, penglihatan, penciuman, pendengaran, paru-paru, jantung, hati, ginjal, usus, dan lain-lain– akan bekerja sama, dan masing-masing menjalankan peranannya. Seharusnya kehidupan masyarakat manusia juga demikian. Dengan mewujudkan masyarakat yang berupa kumpulan manusia-manusia hakiki, masing-masing orang atau kelompok menjalankan fungsinya dengan benar, maka akan terbentuk kehidupan yang sehat dan tidak terjadi penghisapan antara orang yang satu terhadap orang lainnya. Inilah kehidupan dunia yang didambakan oleh Syekh Siti Jenar, yang justru sekarang tumbuh dan berkembang di negara maju.

Ajaran yang keempat: segala sesuatu di alam semesta ini adalah satu dan hidup.

Dalam salah satu pupuhnya disebutkan bahwa bumi, angkasa, samudra, gunung dan seisinya, semua yang tumbuh di dunia, angin yang tersebar di mana-mana, matahari dan rembulan, semuanya merupakan keadaan hidup. Jadi, semua yang ada merupakan wujud kehidupan.

Menurut Syekh Siti Jenar yang dinamakan makhluk hidup adalah kehidupan yang terperangkap dalam alam kematian. Zat mati tak akan dapat menimbulkan kehidupan, sedangkan zat hidup tak akan tersentuh kematian. Tuhan disebut zat yang mahahidup karena Dia eksis karena Diri-Nya sendiri. Kekuatan hidup-Nya mengalir dalam alam kematian sehingga muncul sebagai makhluk hidup. Sekarang bandingkan dengan tulisan-tulisan dari Barat dewasa ini, akan kita temukan pernyataan mereka bahwa semuanya satu, semuanya hidup. Dengan demikian, pandangan Syekh Siti Jenar luar biasa. Banyak pandangannya yang justru bersesuaian dengan pandangan kaum teosofi maupun para spiritualis dari Barat. Bila kita menyadari bahwa lingkungan kita adalah keadaan yang hidup, maka tentu kita akan memperlakukan lingkungan kita dengan sebaik-baiknya karena kita dan lingkungan kita sebenarnya satu dan sama-sama sebagai keadaan yang hidup. Bila kita menyadari tentu kita akan berhati-hati dalam memperlakukan lingkungan kita.

Ajaran yang kelima: pemahaman tentang ilmu sejati.

Dikisahkan dalam Serat Siti Jenar yang ditulis oleh Aryawijaya: Sejati jatining ngèlmu, lungguhé cipta pribadi, pustining pangèstinira, gineleng dadya sawiji, wijanging ngèlmu dyatmika, nèng kahanan eneng ening. Hakikat ilmu sejati itu terletak pada cipta pribadi, maksud dan tujuannya disatukan adanya, lahirnya ilmu unggul dalam keadaan sunyi dan jernih.

Menurut Syekh Siti Jenar manusia haruslah kreatif karena manusia telah diberi anugerah oleh Yang Mahakuasa untuk dapat mengaktualisasikan ilmunya yang berasal dari dalam dirinya sendiri. Jadi, ilmu sejati bukanlah ilmu yang kita terima dari orang lain. Yang kita dapatkan melalui indra, pengajaran dari orang lain, itu hanyalah refleksi ilmu. Dan, ternyata sejak abad ke-20 pemahaman bahwa ilmu lahir dari kedalaman batin telah menjadi pemahaman yang universal. Itulah sebabnya orang-orang Barat tekun dalam melakukan perenungan dan pengkajian terhadap tanda-tanda di alam semesta. 

Jadi, harus ada suasana kondusif bagi orang-orang yang mendalami ilmu pengetahuan. Suasana kondusif bagi ilmuwan adalah iklim kerja yang membuat ilmuwan tersebut dapat bekerja dengan tenang, nyaman, dan bebas dari berbagai penyebab kekalutan dan kesulitan. Dan, tentunya hak-hak untuk dapat menjadi ilmuwan sejati haruslah dipenuhi. Ingat, setiap orang telah diberi potensi dan talenta yang disebut kodrat. Dan, bagi mereka yang memiliki kodrat untuk menjadi ilmuwan harus disediakan iklim kerja yang kondusif sehingga bisa menghasilkan hal-hal yang dibutuhkan manusia.

Ajaran yang keenam: umumnya orang hidup saling membohongi.

Banyak hal yang sebenarnya kita sendiri tidak tahu, tapi kita menyampaikannya juga kepada teman-teman kita. Hal ini banyak sekali terjadi dalam ajaran agama. Banyak orang yang sekadar hafal dalil, tetapi sebenarnya dia tidak mengetahui apa yang dimaksud oleh dalil itu. Akhirnya pemahaman yang keliru itu menyebar dan terbentuklah opini yang salah.

Masyarakat yang dipenuhi dengan pemahaman dan opini yang salah sama dengan masyarakat yang dipenuhi sampah. Masyarakat demikian pasti rawan terhadap serangan penyakit. Oleh karena itu, masyarakat harus dibebaskan dari berbagai macam kebohongan. Masyarakat harus diajar dan dididik untuk memahami segala sesuatu seperti apa adanya.

Agar tidak hidup saling membohongi manusia harus kembali mengenal dirinya. Setiap orang harus dididik untuk menyadari perannya dalam hidup ini. Para cerdik cendekia harus mengerti fungsinya di dunia. Orang harus diajar untuk bisa mengerti dunia ini sebagaimana adanya. Agama harus diajarkan sebagai jalan hidup dan bukan alat untuk meraih kekuasaan. Oleh karena itu, keimanan harus diajarkan dengan benar dan bukan sekadar diajarkan sebagai kepercayaan. Iman harus diajarkan sebagai penghayatan, pengalaman, dan pengamalan kebenaran.

Ayat-ayat kitab suci harus dipahami berdasarkan kenyataan, dan tidak diindoktrinasikan serta diajarkan secara harfiah sesuai dengan asal kitab suci tersebut. Agama harus diajarkan secara arif dan bisa dibumikan, tidak terus menggantung di langit. Agama harus diterjemahkan dalam bentuk yang dapat dipahami dan dipraktikkan oleh masyarakat penerimanya.

Ajaran yang ketujuh: nama Tuhan diberikan oleh manusia.

Lima ratus tahun yang lalu Syekh telah menyatakan dengan tegas bahwa manusialah yang memberikan nama pada Tuhan. Oleh karena itu, nama bagi Tuhan bermacam-macam sesuai dengan bahasa dan bangsa yang menamai-Nya. Dan, perlu diketahui bahwa Tuhan sendiri sebenarnya tidak perlu nama, karena Dia hanya satu adanya. Sesuatu diberi nama karena untuk membedakan dengan sesuatu lainnya. Nama diberikan agar kita tidak keliru tunjuk atau salah sebut.

Bagi Syekh Siti Jenar, apapun sebutan yang diberikan kepada-Nya haruslah sebutan yang terpuji, yang baik, yang pantas. Bahkan dalam Al Quran dinyatakan dengan tegas pada QS. 7:180 bahwa manusia diperintah untuk memohon kepada-Nya dengan nama-nama baik-Nya, atau al-asmâ-u l-husnâ. Dan, pada QS. 17:110 dinyatakan bahwa Dia dapat diseru dengan nama Allah, Ar Rahman, atau dengan nama-nama baik-Nya yang lain.

Sungguh, sangat mengherankan bila di zaman sekarang ini kita berebut nama Tuhan. Secara teoritis umat Islam dididik untuk meyakini bahwa Tuhan itu Yang Maha Esa. Tetapi, dalam kenyataannya sebagian orang Islam –seperti yang terjadi di Malaysia – malah meminta orang yang beragama lain untuk tidak menggunakan lafal Allah bagi sebutan Tuhan pada agama lain tersebut. Inilah pemahaman yang salah! Kalau kita –yang Muslim— menolak pemeluk agama lain menyebut Allah bagi Tuhannya, maka secara tak sadar kita mengakui bahwa Tuhan itu lebih dari satu. Sudah waktunya kita ajarkan ketuhanan dengan benar sehingga kita tidak berebut tulang tanpa isi. Kita harus menyadari sepenuhnya bahwa mengamalkan nilai-nilai ketuhanan dengan benar itulah yang amat penting dalam hidup ini. Bagi orang Indonesia, menghayati dan mengamalkan nilai-nilai ketuhanan dengan benar merupakan penegakan Sila yang pertama.

Ajaran yang kedelapan: raja agama sesungguhnya raja penipu.

Sebagaimana telah diterangkan bahwa agama adalah jalan hidup. Oleh karena itu, agama harus diajarkan untuk menjadi jalan hidup, sehingga pemeluk agama bisa hidup tenang, bahagia dan bersemangat dalam menjalani hidup. Agama harus diajarkan untuk menjadi landasan moral dan perilaku, sehingga agama benar-benar sebagai nilai luhur dan menjadi rahmat bagi semesta alam.

Syekh tidak ingin membohongi masyarakat Jawa, oleh karena itu agama Islam diajarkan dengan cara yang pas bagi bumi dan manusia Jawa. Untuk hal itu diperlukan penafsiran, dan tidak disebarkan dalam bentuk budaya asalnya. Agama tidak disebarkan dengan kekuasaan raja, sebab menurut Syekh raja yang memanfaatkan agama adalah raja penipu. Sering terjadi bahwa untuk memenuhi kepentingan penguasa, agama dijadikan alat menguasai rakyat. Agama yang seharusnya dikuasai oleh rakyat, yang terjadi justru sebaliknya yaitu rakyat yang dikuasai oleh agama.

Jika di Eropa pada abad ke-19 orang-orang mulai mempertanyakan peranan agama, dan bahkan ada yang memandang bahwa agama sebagai candu bagi masyarakat dan harus disingkirkan dari gelanggang kehidupan bernegara, maka empat ratus tahun sebelumnya Syekh Siti Jenar justru ingin menerapkan agama sebagai penyegar dan pencerah bagi pemeluknya. Oleh karena itu, agama diajarkan tanpa melibatkan kekuasaan negara. Di sinilah Syekh bertabrakan dengan kepentingan Walisanga.

Syekh amat sadar bahwa di dunia ini penuh dengan tipu daya. Hampir di semua negara pada waktu itu terjadi relasi keuasaan antara raja/penguasa dengan para tokoh agama. Dengan kata lain, raja dan tokoh agama berbagi kekuasaan. Yang dikuasai dan yang dijadikan pijakan hidup oleh raja dan tokoh agama adalah rakyat. Inilah yang oleh Syekh disebut sebagai penipuan. Oleh karena itu, sudah waktunya agar agama benar-benar menjadi milik masyarakat, dan negara tidak mengurusi agama. Yang diurusi oleh negara adalah tegaknya hukum positif, perlindungan bagi setiap orang tanpa memandang agama dan kepercayaannya. Yang diurusi oleh negara adalah kemakmuran, kesejahteraan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat.

Ajaran yang kesembilan: segala sesuatu di alam semesta adalah Wajah-Nya.

Inilah ajaran puncak dari Syekh Siti Jenar. Dunia adalah manifestasi wujud yang satu, dan hakikat keberadaan bukanlah dualitas. Sehingga, kemana pun kita hadapkan diri kita, maka sesungguhnya kita senantiasa menghadap Wajah-Nya. Semua adalah penampakan Wajah-Nya. Sekarang marilah kita cicipi dua bait puisi dari Syekh Siti Jenar.

Bersanggama dalam keberadaan
diliputi yang ilahi
hilanglah kehambaannya
lebur lenyap sirna lelap
digantikan keberadaan Ilahi
kehidupannya
adalah hidup Ilahi

Lahir batin keberadaan sukma
yang disembah Gusti
Gusti yang menyembah
sendiri menyembah-disembah
memuji-dipuji sendiri
timbal balik
dalam hidup ini

Ajaran kesepuluh Siti Jenar, terkait Sasahidan

Yang dimaksud Sasahidan adalah ajaran tentang persaksian dalam perjalanan ruhani mendaki (taraqqi) menuju Allah. Persaksian al-murid menuju Al-Murid melalui maqam-maqam. Puncak dari persaksian adalah saat keakuan seseorang sudah lenyap (fana') tenggelam dalam Allah. Saat itulah seluruh makhluk mempersaksikan bahwa keakuan yang lenyap itu telah bersemayam di dalam Dzat Tuhan Yang Mahasuci dan karenanya memiliki sifat-sifat Ilahi. Itulah tahap penyatuan Ruh Ilahi yang bersemayam di dalam diri manusia saat ditiupkan (nafakhtu) pada waktu penciptaan dengan Allah yang meniupkan-Nya. Itulah tahap kembalinya Ruh al-Haqq kepada Al-Haqq. Itulah tahap puncak kembalinya unsur Ilahiyyah di dalam diri manusia (Ruh al-Haqq) kepada Sang Pencipta (ini tidak bisa dijabarkan secara ilmiah karena merupakan pengalaman ruhani yang tak terwakili oleh bahasa manusia).

Di dalam Hadist Qudsi di jelaskan "tujuan penciptaan adalah tuhan ingin melihat dirinya dalam satu penampakan yang di dalamnya manifestasi sifat-sifat dan nama-namanya. Atau dengan kata lain tuhan melihat dirinya dalam dalam cermin alam semesta. Tidak bisa satu obyek bercermin pada dirinya sendiri seperti halnya ia bercermin pada obyek yang lain. Semacam kaca cermin. Lantaran melihat meniscayakan ada obyek yang bisa di jadikan cermin yang dapat memberikan gambaran akan dirinya. Alam semesta adalah manifestasi eksistensi tuhan dan dengan alam semesta maka sifat-sifat dan nama-nama tuhan bisa di ketehui. Hal ini tertuang dalam kitap suci Surat Al-Hadid ayat 3-4.

Dialah yang maha awal dan yang maha akhir yang maha dzahir dan yang maha bathin dan dia mengetahui segala sesuatu.

Ajaran kesebelas Sangkan Paraning Dumadi

Sedangkan yang dimaksud Sangkan Paraning Dumadi adalah ajaran yang memutlakkan Huwa sebagai Dzat Mutlak yang Azali yang menjadi Sumber segala sumber penciptaan. Huwa itu tak terjangkau akal. Tak terjabarkan konsep. Tak terbandingkan. Huwa adalah Huwa. Tidak bisa diapa-apakan. Laisa kamitslihi syai'un. Dia dilambangkan dengan Suwung. Hampa. Tetapi bukan hampa yang tidak ada melainkan Ada tetapi tak tergambarkan. Karena itu lambang Suwung itu disebut juga Awang-Uwung. Ada tetapi tidak ada. Tidak ada tetapi Ada. Huwa yang tak terjangkau itu kemudian muncul sebagai Pribadi Ilahi, Allah, yang dikenal Sifat dan Asma-Nya. Pribadi Ilahi yang disebut Allah itulah Yang menjadi Pusat segala ciptaan di mana segala ciptaan pada dasarnya adalah 'pemunculan' dari Dzat, Sifat, Asma, Af'al dari Sang Pencipta. Proses 'pemunculan' itu diyakini melalui tujuh tahap tanazzul: Haahuut - Laahuut - Jabaruut - Malakuut - Asmaa' -- Nasuut.

Ajaran kedua belas Manunggaling Kawula Gusti

Setelah kita mengetahui apa itu sangkan paraning, yang ada di benak kita adalah manunggaling kawulo gusti atau bisa di sebut wahdat al-wujud sebuah penyatuan diri. Kenapa penulis berani merumuskan semacam ini karena Sangkan Paraning Dumadi adalah sebuah proses pengakuan seorang hamba menuju tuhannya. Manunggaling kawulo gusti adalah penyatuan diri dengan tuhan, tidak majemuk dan prural. Pruralisme adalah suatu yang di saksikan oleh panca indra. Ia hanya sebatas bentuk penampakan manifestasi sifat-sifat ketuhanan atau ilusi yang di ciptakan oleh akal. Tidak ada perbedaan antara al-haq dan penciptaan, dan antara sang pencipta dan makhluknya, kecuali dalam ungkapan dan tinjauan. Tuhan adalah al-haq dalam entitas/entitinya, dan ia adalah makhluq, di tinjau dari segi sifat-sifatnya, yang mana sifat-sifat tersebut entitas tuhan sendiri. "maha suci dzat yang menampakkan segala sesuatu dimana ia sendiri adalah esensi segala sesuatu itu"

Secara tidak sadar bahwa kita acap kali menghubung-hubungkan Syekh Siti Jenar atau Syekh Lemah Abang dengan al-Husain ibnu Mansur al-Hallaj atau singkatnya Al-Hallaj, sufi Persia abad ke-10, yang sepintas lalu ajarannya mirip dengan Siti Jenar, ia memohon dibunuh agar tubuhnya tidak menjadi penghalang penyatuannya kembali dengan Tuhan, karena konsep yang di yaqini benar. Al-Husain ibnu Mansur Al-Hallaj mengucapkan kalimat, “Akulah Kenyataan Tertinggi,” yang sehingga menjadi alasan bagi hukuman matinya pada 922 Masehi di Baghdad. Seperti Syekh Siti Jenar pula, nama Al-Hallaj menjadi monumen keberbedaan dalam penghayatan agama, sehingga bahkan diandaikan bahwa jika secara historis Syekh Siti Jenar tak ada, maka dongengnya adalah personifikasi saja dari ajaran Al-Hallaj, bagi yang mendukung maupun yang menindas ajaran tersebut. Tepatnya persona Syekh Siti Jenar memang dihidupkan untuk dimatikan. Kaum sufi acap kali, faham yang ambigu dan korban eksekusi penguasa lekat pada diri mereka. Al-Hallaj dan Suhrawardi al-Maqtul adalah bukti konkrit Wihdad Al-wujud wacana yang cukup kontroversial kiat melekat. Pada narasi jalan hidupnya, al-hallaj dan syekh siti jenar-meski secara geografis berbeda-memiliki keidentikan dalam fahan sufistik" pun akhir hidup keduanya bernasip sama bahkan sebab musabbab intiqalnya sama. Di pancung oleh penguasa kala itu.

Setelah menguraikan sedikit tentang konsep ajaran Al-Hallaj yang dirujuknya dari peneliti sufisme terkenal Louis Massignon, hanya satu hal dianggap Zoetmulder agak mirip, yakni tentang permintaan maaf telah mengungkap rahasia ilahi (ifsa-al-asrar) – itu pun menurutnya Siti Jenar tidak minta maaf. Dijelaskannya, “Tidak mengherankan, bahwa dalam ajaran Siti Jenar tak terdapat bekas-bekas ajaran otentik Al-Hallaj.”

Ia pun merumuskan, “Perbedaan pokok antara kedua tokoh itu ialah Al-Hallaj selalu ditampilkan sebagai seorang sufi yang terbenam dalam cinta akan Tuhan, sedangkan dalam diri Siti Jenar sifat tadi hampir tidak tampak. Siti Jenar terutama dikisahkan sebagai seorang yang mandiri, akal bebas yang tidak menghiraukan raja maupun hukum agama; tak ada sesuatu pun yang menghalanginya menarik kesimpulan dari ajarannya. Dengan demikian ia menjadi wali yang paling digemari rakyat dan yang riwayatnya masih hidup di tengah-tengah orang Jawa.” 

Menurut Spinoza seorang filusuf dari Jerman mengatakan bahwa tuhan adalah esensi abadi, tanpa batas. Ia adalah suatu sebab yang eksistensinya tidak tergantung pada yang lain. Tuhan adalah subyek yang tanpa batas, dan tak terbatas adalah sesuatu yang selamanya akan bergantung. Ia adalah satu karena yang majmuk atau prural akan mengarah pada keterbatasan dan akan tergantung pada subyek yang satu, esensi segala wujud. Tuhan adalah esensi yang esa, eksistensi yang harus ada, abadi dan selamanya. Tidak ada maujud selain tuhan. Maujud yang lain tak lain adalah sifat-sifat dan karakteristik-karakteritiknya. Ia adalah "al-thabi'atul al-thabia'ah", jika di lihat dari sudut pandang bahwa ia adalah sumber sifat-sifat dan karakter. Ia adalah "al-thabi'ah al-matbu'ah", jika di lihat dari sudut pandang bahwa ia adalah sifat-sifat dan karekteristik itu sendiri.

Ibrahim Madkur mengomparasikan dengan apik antara wihdat al wujud Ibn Arabi dan Spinoza, dengan mencari titik persamaan di antara keduanya. Ibn Arabi dan Spinoza menetapkan bahwa alam semesta adalah satu, sebuah penampakkan tuhan yang maha agung yaitu Allah, keduanya berkata dengan kemanunggalan. Al Haq menurut Ibn Arabi sama persis dengan al-tabiatul al-tabiah yang di katakan Spinoza. Dan Al Kholaq (penciptaan) sama persis dengan al-tabiatul al-matbu'ah. Dan satu lagi keduanya juga menggagas tentang cinta ilahi. Keyakinan Spinoza yang menyanjung cinta seperti juga Ibn Arabi.

Setelah penulis mengulas sedikit mengenai pemikiran Ibn Arabi dan Spinoza tentang wahdat al-wujud ternyata terdapat sebuah persamaan pemikiran antara Syekh Siti Jenar dengan Ibn Arabi, sehingga kita bisa menyimpulkan bahwa harga manusia dalam pertimbangan aliran wihdatul al-wujud pada umumnya, dan menurut Ibn Arabi pada khususnya, adalah berlandaskan pada satu pemikiran asasi, yaitu bahwa manusia adalah satu entitas yang di bentuk oleh tuhan sebagai "entitas mimikri tuhan", pada waktu yang sama tuhan menciptakan manusia sebagai entitas ringkasan kecil atas seluruh alam semesta. Maka satu fase, manusia adalah mimikri atau analogi dzat tuhan, di fase yang sama manusia adalah mimikri seluruh makhluqnya. Manusia adalah gambaran tuhan dan gambaran alam semesta sekaligus. Posisi manusia mempunyai pautan liniar dan kilindan dengan garis vertical dan horizontal. Manusia adalah makhluk sebagai manifestasinya yang paling sempurna dan menghidupkan, mengatur, menyuburkan, dan memajukan alam semesta. Dan untuk mengetahui bahwa ia, manusia, sebagai poros penentu di antara garis vertical dan horizontal, harus menumbuhkan kesadaran diri, sadar bahwa ia adalah segalanya, sebagai tumpuan nasib ekologi alam semesta berada di gengaman tangan manusia. Corak hitam dan putihnya alam semesta sangat tergantung manusia dalam mengejewantahkan karakteristiknya yang ambivalensi (kebingungan dalam mengambil sikap). Jika manusia mengejewantahkan salah satu sikapnya yang mulia sebagai manifestasi sifat al Jamal, kepada alam semesta. Maka alam semesta tidak terancam rusak, dan bahkan akan tetap berimbang dan maju. Tetapi sebaliknya jika manusia mengejawantahkan karakteristik dirinya yang hina sebagai manifestasi dari sifat al Jalal maka niscaya alam semesta akan terancam rusak, tak berimbang dan punah. Bukan alam semesta saja yang mengalami kehancuran, tapi entitas manusia itu sendiri akan mengalami nasib yang sama. Pada akhirnya kehancuran alam semesta selaras dengan kehancuran eksistensi manusia. Karena kesadaran yang tumbuh dalam diri manusia adalah factor yang paling menentukan nasib alam semesta dan eksistesi manusia sendiri. Perlu di garis bawahi bahwa jati diri manusia adalah bagian dari pengetahuan abadi, yang tidak bisa di tinggalkan, lantaran siapa saja yang tidak mengetahui jati diri manusia maka ia tidak akan mengetahui segala sesuatu. Dalam pandangan Abu Hayyan al-Tauhidi manusia adalah intisari alam semesta, mengetahui manusia akan mengetahui alam semesta beserta isinya.

Epilog

Satu hal yang ingin di katakan dalam tulisan ini bahwa sufisme yang di anut oleh Syekh Siti Jenar adalah menumbuhkan kesadaran akan ke-Satu-an, Oneness, dalam kehidupan ini, baik kehidupan kita sebagai individu maupun secara kolektif. Dengan lenyapnya perasaan dualitas dalam hidup ini, maka jarak antara kawula dan Gusti akan hilang. Akan lahir individu-individu yang menjadi dirinya sendiri, dan dalam kehidupan sosial akan tercipta interaksi antar warganya secara tim, sehingga semua akan memenuhi fungsinya masing-masing dalam kehidupan. Sekat antara pemimpin dan yang dipimpin akan hilang, dinding penyekat antara raja dan rakyatnya akan runtuh. Bila ini sudah terjadi, maka tak akan ada lagi eksploitasi terhadap sesama manusia.

Pelenyapan sekat antara kawula (hamba, rakyat, atau bawahan) dan Gusti (raja, pemimpin, atau atasan) akan melahirkan satu keberadaan yang disebut Manunggaling Kawula Gusti. Keberadaan MKG ini akan menggugurkan kehidupan yang berkasta dan merontokkan feodalisme. Relasi sesama manusia berupa simbiose mutualisme, yaitu hubungan yang saling menguntungkan. Sesama manusia hidup dalam suasana liberte, egalite dan fraternite, yaitu hidup dalam kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan antara sesama manusia di dunia ini. Dari sinilah Syekh membangun hubungan warga dengan wadah yang disebut masyarakat, yang tidak dijumpai di Timur Tengah pada waktu itu.

Memang masyarakat merupakan kosa kata yang dibentuk dari unsur-unsur kata Arab, yaitu dari syarika yang artinya menjadi sekutu; dan masyarakat adalah kumpulan orang-orang yang bersekutu. Jadi, setiap anggota masyarakat itu seperti sel-sel tubuh yang independen, namun selalu berinteraksi sesuai dengan peran dan fungsinya masing-masing. Setiap anggota masyarakat mengetahui tugasnya. Terciptalah jalinan kasih. Inilah surga yang sesungguhnya yang harus diwujudkan di dunia ini. Dengan demikian, konsep manunggaling kawula gusti sebenarnya untuk menciptakan kehidupan bersama dalam mencapai kejayaan!

Anda sedang membaca Syekh Siti Jenar: Penyatuan Diri dengan Tuhan. Untuk mengikuti posting terbaru silahkan Liked Facebook Fanpage: Mistikus Cinta | Follow Twitter: @Sufipedia | Official LINE of Sufipedia Nusantara, LINE ID: @sufipedia | Telegram Group: @sufipedia. Terima kasih.

Post a Comment

 
Top