Sufipedia

At Thawasin Al Azal (Al Hallaj) - Thasin Al Nuqtah (Titik) (5)

1. Ada yang lebih halus dari itu, yakni penyebutan tentang Titik „Azaliy Ada yang lebih halus dari itu, yakni penyebutan tentang Titik „Azaliy yang berupa Asal, dan yang (keberadaannya) tidak bertambah ataupun berkurang, tidak juga habis sirna dirinya.

2. Orang yang menyangkal keadaan (hal) batinku telah menyangkalnya, karena tidak mengetahui aku, malah menyebutku bid‟ah. Dituduhnya aku dengan sebutan Iblis, serta dianggapnya kekeramatanku sebagai praktik perdukunan, juga demikian terhadap lingkaran suci yang berada di luarnya-luar jangkauan, yang dicemoohkannya.

3. Orang yang menjangkau lingkaran kedua membayangkan aku menjadi sang Pemangku Ilham.

4. Orang yang menjangkau lingkaran ketiga mengira aku berada di bawah pengaruh nafsu.

5. Dan, orang yang menjangkau lingkaran Kebenaran melupakan aku, bahkan perhatiannya beralih dariku.

6. “Tentu saja tidak! Tidak ada seorang pelindung pun. Pada hari itu hanya Tuhan penolongmu untuk kembali. Juga pada hari itu setiap manusia akan diberi tahu tentang perbuatan yang didahulukannya dan yang dilalaikannya.” (QS. 75: 11 -13)

7. Namun, umumnya manusia berpaling pada pernyataan semu, melarikan diri pada sang pelindung, mengkhawatiri pertanda-pertanda, tujuan hidupnya terpedaya, dan akibatnya tersesat.

8. Aku terisap ke kedalaman samudera kelanggengan (baqa‟). Dan, orang yang menjangkau lingkaran Kebenaran itu sibuk di pantai samudera pengetahuan dengan pengetahuannya sendiri, luput pandangan (bashirah) batinnya dariku.

9. Aku melihat sejenis burung khasysy dari pribadi Shufi yang terbang dengan dua sayap Tashawuf. Ia menyangkal kekeramatanku, sebagaimana ia terus membumbung dalam penerbangannya.

10. Ia menanyai aku tentang kesucian-batin, dan aku menjawabnya: “Pangkaslah sayapmu dengan gunting penyirnaan-diri (fana‟). Kalau tidak, kau tidak dapat mengikuti aku.”

11. Ia berkata kepadaku: “Aku terbang dengan sayapku menuju Kekasihku.” Aku katakan kepadanya: “Hati -hati buat kau! Sebab, tidak ada yang menyerupai-Nya. Hanya Dia sang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” Maka, seketika itu ia jatuh ke samudera kearifan dan hilang tenggelam.

12. Orang dapat menggambarkan samudera kearifan sebagai berikut:

Aku „melihat‟ Tuhanku dengan mata hatiku, aku menyapa: “Siapakah Engkau?” Dia menjawab: “Kau!” Namun, bagi-Mu, „di mana‟ tidak memiliki tempat. Dan, tidak ada „di mana‟ ketika perhatian hanya menyangkut-Mu. Akal pun tidak punya bayangan tentang keberadaan-Mu dalam (dimensi) waktu, yang memungkinkan akal mengetahui „di mana‟ adanya Engkau. Engkau adalah Sesuatu yang meliputi setiap „di mana‟, mengatasi „titik‟ yang tak di mana-mana. Jadi, „di mana‟ Engkau adanya?

13. Sebuah titik-tunggal yang unik dari lingkaran (titik-titik), menandakan beragamnya anggapan tentang kearifan. Adalah sebuah titik-tunggal saja yang dirinya berupa Kebenaran, sedangkan sisanya merupakan kekeliruan.

14. Ia begitu dekat” saat kenaikannya (mi‟raj) – “ia tampak kembali” saat kemuncakannya (transenden). Karena pencarian, ia begitu dekat. Karena kegairahan, ia tampak kembali. Ia menanggalkan hatinya „di sana‟, dan begitu dekat kepada -Nya. Ia sirna (fana‟) ketika „melihat‟ Allah, kendati demikian ia tidak sampai tuntas sirna (fana‟ ul- fana‟). Bagaimana mungkin ia hadir sekaligus tak-hadir? Bagaimana mungkin pula ia tampak dan sekaligus tak-tampak?

15. Dari ketakjuban ia melintas ke pencerahan, dan dari pencerahan ke ketakjuban. Dengan kesaksian Allah, ia „menyaksikan‟ Allah. Ia sampai dan sekaligus pisah. Ia mencapai Pujaan-Nya, dan terputus dari hatinya. “Hatinya tidak berdusta tentang apa yang dilihatnya.” (QS. 53: 11)

16. Allah menyembunyikannya ketika membuatnya begitu dekat. Dia mengangkatnya dan menyucikannya. Dia membuatnya dahaga dan menyegarkannya. Dia menyucikannya dan memilihnya. Dia menyerunya dan memerintahkannya. Dia menimpainya Cobaan dan menjenguknya untuk membantunya. Dia mempersenjatainya dan mendudukkannya di atas pelana.

17. Ada sebuah jarak dari “satu rentangan busur”, dan ketika ia kembali, ia pun mencapai sasarannya. Ketika diseru, ia menjawabnya – merasa dilihat, ia rendahkan dirinya. Karena minum, ia merasa puas. Karena mendekat, ia dicekam keterpesonaan. Dan, karena keterpisahan dirinya dari Kota serta para pembantunya, ia pun terpisah dari bisikan nurani, dari pandangan, juga dari lamunan makhluk.

18. “Sahabatmu tidak tersesat,” (QS. 53: 2) ia tidak lemah atau bertambah sedih. Matanya tidak goyah atau lelah oleh suatu „Saat‟ dari sejatinya masa.

19. “Sahabatmu tidak tersesat” dalam tafakurnya mengenai Kami. Ia tidak menyeberang dalam kunjungannya kepada Kami, tidak juga melanggar terhadap Risalah Kami. Ia tidak membandingkan Kami dengan yang lain kalau membicarakan Kami. Ia tidak menyimpang di taman zikir dalam tafakurnya mengenai Kami, tidak juga tersesat dalam pengembaraan di alam fikir.

20. Cukuplah ia mengingat Allah (zikru‟llah) dalam tarikan nafasnya, dan kerdipan matanya. Bertawakkal kepada-Nya dalam kesusahan, dan bersyukur atas nikmat-Nya.

21. “Ini tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan,” (QS. 53: 4) dari Cahaya ke „Cahaya‟.

22. Ubahlah bicaramu! Kosongkan dirimu dari khayalan, angkatlah kakimu tinggi-tinggi dari manusia serta makhluk lainnya. Bicaralah tentang Dia dengan selaras dan sekadarnya! Jadilah berghairah, dan tenggelamlah dalam keghairahanmu. Ketahuilah – bahwa kau akan terbang melampaui gunung dan lembah, gunung kesadaran dan lembah perlindungan, agar „melihat‟ Dia yang kau puja-puja. Dan, puasa wajib pun berakhir dengan datang ke Rumah Suci (Ka‟bah).

23. Maka, ia begitu dekatnya kepada Allah, seperti seorang ‟asyiq yang memasuki Ma‟syuq. Selanjutnya ia memaklumkan bahwa itu terlarang. Itu seperti sebuah rintangan yang lebih dari cukup untuk melemah lunglaikan. Ia melintas dari Maqam Pembersihan ke Maqam Pencelaan, dan dari Maqam Pencelaan ke Maqam Kedekatan. Ia begitu dekat sebagai pencari, dan ia kembali secara berlari. Ia begitu dekat sebagai pendoa, dan ia kembali sebagai „Abdi. Ia begitu dekatnya sebagai penyeru, dan kembali dengan bai‟at sebagai Qarib-Nya Ilahi. Ia begitu dekatnya sebagai seorang saksi, dan kembalinya sebagai ahli tafakur

24. Jarak di antara keduanya adalah “dua rentangan busur”. Ia membidik tanda „di mana‟ [„ayna] dengan panah „di antara‟ [bayna]. Ia menyatakan bahwa ada dua rentangan busur untuk menetapkan ketepatan tempat-nya, baik karena tiada terlukiskannya sifat Zat, atau karena serasa lebih akrab pada Zatnya-Zat.

25. Sang Faqir yang Luar dari Biasa (Khariq ul- „Addah) Al-Husain ibn Manshur Al- Hallaj, berkata:

26. Aku tidak percaya bahwa ungkapan kita di sini dapat dipahami, kecuali untuk orang yang sampai pada rentangan busur kedua, yang adanya melampaui Lembaran yang Terjaga [Lawh ul-Mahfudz].

27. Itulah suratan yang tidak mempergunakan huruf Arab ataupun Persia.

28. Kecuali satu huruf saja, yaitu huruf „mim‟ (ﻢ), yang merupakan huruf pertanda “apa yang ia pancarkan.”

29. „Mim‟ (ﻢ) yang menandakan “Yang Terakhir”.

30. „Mim‟ (ﻢ) yang juga merupakan untaian “Yang Terawal”. Rentangan busur pertamanya adalah „Alam Kegagahan (Jabarut), dan yang keduanya adalah „Alam Kerajaan (Malakut). Sedangkan Sifat-Nya adalah untaian dua „Alam itu. Serta Zat-Nya yang Khusus Beriluminasi (tajalliy khasysy) adalah panah yang Mutlak, panahnya dua rentangan.

31. Panahnya itu dari Seseorang yang menyalakan api Iluminasi (tajalliy).

32. Dia berfirman bahwa kepantasan dari pembicaraan adalah yang pengertiannya merupakan gambaran kedekatan. Adapun sang Firman dari pemaknaan ini adalah Kebenaran Allah, bukan metode ciptaan-Nya. Dan, kedekatan ini juga hanya berlaku dalam lingkaran ketepatan yang amat sangat tepat.

33. Kebenaran dan Kebenarannya-Kebenaran (Allah) ini terdapat dalam halusnya perbedaan, lewat pengalaman sebelumnya, dengan memakai penangkal yang dibuat oleh sang pecinta, untuk membalas keterputusannya dengan segenap kecintaan (makhluk), di pelananya yang sampai secara berbarengan, karena bahaya terus mengancam, serta tajamnya perbedaan, yang diatasinya dengan ayat pembebasan. Inilah jalan (shufi) yang terpilih dalam memperhatikan Diri pribadi. Dan, kedekatannya terlihat sebagai areal luas, agar sang arif („irfan) yang taat mengikuti jalannya tradisi nubuwah ini dapat dipahami adanya.

34. Sang Junjungan Yatsrib (Muhammad), shalawat dan salam atasnya, memaklumkan keagungan yang kerasukan jiwa anggun ini, yang tak- tergugat, yang terawat dalam “Kitab Tersembunyi” (QS. 56: 78), sebagaimana Dia menyatakannya dalam Kitab (alam) Terbuka, dalam “Kitab Tertulis” yang menerangkan makna bahasa burung, ketika Dia mengangkatnya „ke sana‟.

35. Apabila kau memahami ini, hai pecinta, pahamilah bahwa Tuhan tidak berbicara kecuali dengan Diri-Nya, atau dengan Sahabat-Nya (waly).

36. Untuk menjadi Sahabat-Nya, janganlah punya Guru ataupun Murid. Jadilah tanpa pilihan, tanpa perbedaan, tanpa kepura-puraan atau sok-nasihat, jangan mengakui sesuatu itu “miliknya” atau “darinya”. Tapi, apa yang ada padanya cukuplah sebagai “apa yang ada padanya”, tanpa merasa adanya itu “padanya”, sebagaimana gurun tanpa air di suatu “gurun tanpa air”, juga sebagaimana pertanda di suatu “pertanda”.

37. Wacana umum mengalihartikan maknanya. Makna pun mengalihartikan maksudnya, sedangkan maksudnya terlihat dari kejauhan. Jalannya sulit, namanya agung, tampilannya unik. Pengetahuannya adalah ketidaktahuan, ketidaktahuannya adalah kebenaran tunggal, keawamannya adalah sumber rahasianya. Namanya adalah Jalannya, karakter- lahirnya adalah kehangatannya, dan perlambang-batinnya adalah kegairahannya.

38. Hukum syari‟at [syar‟iy] adalah ciri-khasnya, kebenaran [haqa‟iq] adalah gelanggangnya dan keagungannya. Jiwanya adalah serambinya, Syaitan adalah pengajarnya, dan setiap musafir yang ada dijadikannya sebagai kerabatnya. Keinsanan adalah nuraninya, kerendahhatian adalah kemuliaannya, kefanaan adalah subyek zikir-nya, istri adalah taman sarinya, dan fananya-fana adalah singgasananya.

39. Pelindungnya adalah perlindunganku, prinsipnya adalah peringatanku, syafa‟atnya adalah permohonanku, karunianya adalah persinggahanku, dan duka-citanya adalah kesedihanku.

40. Pewarisannya adalah kedai tempat minum-(ku), lengan bajunya bukan apa-apa kecuali sekadar pengelap debu-(ku). Ajarannya adalah dasar pijakan keadaan (hal) batinnya, sedangkan keadaan batinnya adalah kefanaan. Kendati demikian, sembarang keadaan (ahwal) lainnya dapat menjadi obyek kemurkaan Allah. Makanya cukuplah ini, semoga rahmat Allah besertamu. (Selanjutnya - Thasin Al Azal wa al Iltibas (Kebahagiaan dan Derita Keabadian /Kekeliruan Pemahaman) (6))

Diterjemahkan oleh AM Santrie dari “THAWASIN” edisi Arab, terbitan Beirut dan edisi Inggris, terjemahan Aisha Abd Arhman At-Tarjumana

Anda sedang membaca Thasin Al Nuqtah (Titik). Untuk mengikuti posting terbaru silahkan Liked Facebook Fanpage: Mistikus Cinta | Follow Twitter: @Sufipedia | Official LINE of Sufipedia Nusantara, LINE ID: @sufipedia | Telegram Group: @sufipedia. Terima kasih.

Post a Comment

 
Top