Sufipedia

“DEWA RUCI” JASADIPURA I
ALEGORI SUFI TENTANG PENCARIAN DIRI

Abdul Hadi W. M.

(Bagian Pertama Dari Tiga Tulisan)

Kisah Dewa Ruci adalah sebuah alegori sufi Jawa yang begitu kesohor. Kisah mistikal yang hadir dalam banyak versi dalam kepustakaan Jawa ini juga sering diangkat jadi lakon pewayangan. Walaupun tokohnya diambil dari Mahabharata, yaitu Bima putra kedua Pandu, akan tetapi tema pencarian air hayat (lambang ilmu hakekat dan makrifat) diilhami oleh sebuah hikayat Melayu Persia “Hikayat Iskandar Zulkarnaen”. Ada pun inti ajaran tentang ‘pencarian diri’ dan ‘unio mystica’ yang diketengahkan adalah perluasan ajaran tasawuf Imam al-Ghazali.

Oleh karena itu ada baiknya sebelum kandungan kisah ini dipaparkan, dikemukakan lebih dulu asal usul simbol/tamsil air hayat dan pemaknaanya dalam hikayat Melayu. Ini perlu dikemukakan karena baik hikayat-hikayat Islam maupun ajaran tasawuf yang sampai di pulau Jawa tidak langsung dari sumber teks Arab dan Persia, melainkan dari sumber-sumber teks Melayu. Tek-steks Melayu di sini sebagai perantara penyebaran ajaran tasawuf dan sastra Arab Persia ke dalam sastra Nusantara yang lain termasuk sastra Jawa, Sunda, Aceh, Minangkabau, Bugis, Madura, Banjar, Sasak, Bima, dan lain-lain.

Asal-usul Tamsil Air Hayat
Salasilah pemakaian tamsil air hayat secara meluas dalam sastra sufi dan sufistik di Nusantara dapat ditelusuri jauh ke belakang, terutama melalui kehadiran Hikayat Iskandar Zulkarnain. Hikayat ini digubah dan disadur ke dalam bahasa Melayu teks Persia seperti Iskandar-namah karangan Nizami, sastrawan sufi abad ke-12 M. Sejumlah peneliti menyebutkan bahwa bersama Hikayat Amir Hamzah dan Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah, hikayat ini merupakan epos Islam Persia paling awal yang disadur ke dalam bahasa Melayu. Hikayat-hikayat ini setidak-tidaknya telah dikenal pada abad ke-15 M, pada zaman jaya kesultanan Samudra Pasai (1270-1516 M) dan Malaka (1400-1511 M). Hikayat-hikayat ini dibaca dalam majelis-majelis sastra dalam rangka penyebaran nilai-nilai kebudayaan Islam (Ismail Hamid 1983; Braginsky 1999).

Dalam satu episode menjelang berakhirnya kisah, terdapat kisah pertemuan Iskandar dengan Nabi Khaidir a.s. Setelah menaklukkan banyak negeri di dunia untuk menyebarkan agama, Iskandar ingin mendapatkan air hayat yang membuat dirinya hidup kekal. Khaidir menasehatinya agar ia mencarinya di dalam lautan. Kemungkinan besar teks Melayu dari hikayat ini disadur dari teks Persia Iskandar-namah karangan Nizami al-Ganjawi, penulis sufi akhir abad ke-12 M yang kesohor. Penambahan kisah Iskandar mencari air hayat itu kemungkinan besar dimaksudkan untuk memberi corak atau nafas sufistik kepada epos ini.

Jika diteliti lebih jauh setidak-tidaknya ada tiga sumber dari mana kisah ini muncul. Yang pertama, kisah pertemuan Nabi Musa a.s. dan Khaidir, sebagaimana dikisahkan dalam al-Qur’an Surat al-Kahfi 60-65, yang makna keruhaniannya diutarakan oleh banyak mufasir dan ahli Hadis kenamaan. Ini telah dikemukakan dalam bab terdahulu. Yang kedua, dongeng Sumeria dan Persia kuna The Story of Gilghames. Yang ketiga, versi Persia kuna kisah Iskandar Zulkarnaen dan Andreas (Jalaludin Rachmat 2000).
Dalam kisah Gilgamesh diceritakan bahwa dahulu kala ada seorang raja di Uruk, Mesopotamia, bernama Gilgamesh. Dalam hidupnya dia senantiasa dilimpahi kebahagiaan dan kesenangan, hampir tak pernah dia mengalami kekecewaan dan keputusasaan. Tetapi pada suatu hari sahabat yang dicintainya Enkidu meninggal dunia. Ia meraung-raung seperti singa ditinggal mati anak-anaknya yang masih bayi. Ia mondar mandir gelisah di dekat ranjang kawannya, meremas-remas rambutnya sendiri, meminta agar anak buahnya membuat patung Enkidu. Ia takut benar mengalami kematian seperti kawannya. Setelah itu kemudian ia meninggalkan istana, menjelajahi lembah dan gunung untuk mencari teman yang dapat membebaskan diri dari kematian dan membawanya menuju keabadian.

Dalam perjalanannya yang penuh derita, ia berjumpa dengan singa-singa yang buas. Dewa Bulan memberinya pertolongan sehingga ia selamat. Dia pergi ke gunung tempat matahari tenggelam. Kepadanya diperlihatkan kematian. Dia berjumpa manusia kalajengking yang menjaga gua. Ketika pintu gua dibuka dia dilempar ke dalam kegelapan. Lantas ia sampai di sebuah taman yang indah. Setelah berjalan lagi, ia tiba di pantai dan berjumpa dengan seorang putri cantik bernama Siduri. Gadis cantik itu melarangnya meneruskan perjalanan. Dia menasehati Gilgamesh agar pulang, kawin dan menjadikan hari-harinya dipenuhi pesta kesenangan. Dia juga dinasehati agar memperhatikan rakyat kecil dan berbagi bahagia dengan istrinya. Sebab itulah bagian kehidupan yang bisa dinikmati manusia.

Tetapi Gilgamesh tidak puas dengan kehidupan semacam itu yang pasti membosankan. Hidup baginya bukan hanya memenuhi urusan makan, tidur, dan bersanggama. Ia ingin mencari yang lebih jauh lagi dari itu, yaitu hidup abad. Putri Siduri lantas menggertak Gilgamesh, sehingga ia terlempar ke atas perahu kematian yang membawanya menuju lautan jagatraya yang maha luas. Di sana ia berjumpa Naphistim yang hidup abadi bersama istrinya, karena memakan daun tanaman berduri yang tumbuh di dasar samudra. Untuk memetik daun tanaman itu tidak mudah. Jika tangan terkena durinya, tangan itu akan segera terpotong. Tetapi jika ia berhasil mencabut pohon itu, maka ia akan bisa hidup abadi. Gilgamesh dapat mencabut pohon itu, dan kemudian membawanya ke pantai. Tetapi naas, ketika dia beristirahat dan mandi, seekor ular mencuri tanaman itu. Karena itu Gilgamesh tidak berumur lama, sedangkan ular dapat hidup sangat lama.
Dalam versi kuna Hikayat Iskandar diceritakan bahwa setelah berhasil melakukan penaklukan yang menakjubkan di seantero bumi, Iskandar merasa letih dan bosan. Ia ingin mencari air hayat yang membuat hidupnya kekal. Ia kemudian melakukan perjalanan jauh bersama juru masaknya Andreas. Setelah mengembara selama bertahun-tahun, keduanya mengambil keputusan untuk menempuh jalan yang berbeda. Di tepi sungai Andreas berhenti untuk makan. Ketika ia membuka baskom tempatnya menyimpan ikan yang sudah dimasak, tiba-tiba sepercik air mengenai ikan itu. Ikan melompat ke sungai. Andreas mengejar ikan itu dan akhirnya tenggelam dalam air keabadian.

Dalam versi baru hikayat ini, tokoh Andreas diganti Khaidir, yang memberinya nasehat kepada Iskandar untuk mencari air hayat dalam lautan. Air hayat yang dimaksud adalah tamsil bagi pengetahuan keruhanian yang membuat hidup jiwa manusia yang sudah mati terhadap soal-soal keruhanian dan ketuhanan. Di Jawa kisah ini mengilhami lahirnya Serat Syekh Malaya. Tokoh Iskandar diganti dengan Sunan Kalijaga yang dalam perjalanannya mencari air hayat berjumpa Khaidir di pantai. Seperti dalam kesusastraan Melayu, Hikayat Iskandar Zulkarnain telah dikenal di Jawa pada awal abad ke-16 M. Pada abad ke-18 M hikayat Syekh Malaya atau Sunan Kalijaga ini digubah kembali menjadi sebuah alegori sufi baru Serat Dewa Ruci. Tokoh Syekh Malay diganti Bima dan Khaidir diganti Dewa Ruci. Pengarang yang menggubah menjadi alegori sufi itu ialah Yasadipura I.

Yasadipura I dan Karya-karyanya

Yasadipura I nama sebenarnya ialah Bagus Banjar, lahir di Pengging pada tahun 1729 M. Ketika Bagus Banjar berusia delapan tahun, ayahnya Raden Tumenggung Padmanegara mengirimnya ke Kedu untuk belajar di Pesantrem Kiyai Anggamaya. Di sini ia mempelajari dasar-dasar agama Islam seperti fiqih, tasawuf, syariah, serta bahasa dan kesusastraan Arab. Kesusastraan Jawa dan Melayu juga dipelajarinya dengan tekun. Dalam usia 15 tahun dia kembali ke Kartasura mengabdi kepada Pakubuwana II. Karena kecerdasan dan pengetahuannya yang luas di bidang agama dan sastra, Bagus Banjar disayangi oleh raja. Ketika pemberontakan Cina meletus pada tahun 1740, dan kraton Kartasura diduduki, Bagus Banjar ikut mengungsi ke Ponorogo bersama sang raja. Tampat ini sejak lama merupakan pusat pendidikan Islam di Jawa Timur, dan selama di pengasingan itu Bagus Banjar memanfaatkan waktunya untuk memperdalam agama Islam.

Kedekatan Bagus Banjar dengan raja semakin terjalin selama di pengasingan. Inilah yang memberinya peluang untuk memainkan peranan penting kelak dalam berbagai kegiatan kebudayaan. Selain itu dia mempunyai pengetahuan yang luas dan bakatnya sebagai pengarang sukar ditandingi oleh penuli sezamannya. (Soebardi 1975: 18 ; Ricklefs 1993a: 225 )

Ketika pembrontakan bisa dipadamkan, Pakubuwana II kembali ke Kartasura. Hubungan Bagus Banjar semakin erat. Dia dilantik untuk menjadi sekretaris istana dalam usia 20 tahun. Bakatnya sebagai pengarang semakin bersinar-sinar selama memegang jabatan itu. Karena pengetahuan agama dan sastra sangat luas dan sukar disamai pengarang sezamannya, maka dia pun diangkat sebagai Pujangga Muda Istana.

Pada tahun 1743-46, pusat pemerintahan dipindah ke Surakarta. Adapun yang menentukan letak istana baru itu ialah Bagus Banjar. Disebabkan jasanya itu kemudian pangkatnya dinaikkan menjadi Pujangga Istana. Ketika keadaan politik mulai tenang, yaitu pada masa akhir pemerintahan Pakubuwana II dan awal pemerintahan Pakubuwana III (1749-1788 M), Bagus Banjar yang telah bergelar Raden Mas Ngabehi Yasadipura diberi kepercayaan oleh raja untuk memimpin kegiatan menyadur kembali karya-karya Jawa Kuna dan Melayu. Pada masa inilah sebagian besar karya-karyanya ditulis. Di antara karya-karyanya yang terkenal ialah Serat Rama, Serat Baratayuda, Arjuna Wiwaha, Dewa Ruci, Pesinden Budaya, Serat Cebolek, Serat Panitisastra, Serat Menak (saduran dari Hikayat Amir Hamzah), Serat Anbiya (saduran dari Surat Anbiya’ Melayu) dan Babad Giyanti (sejarah). Dia juga menerjemahkan Taj al-Salatin karangan Bukhari al-Jauhari dengan menambahkan sejumlah penjelasan untuk fasal-fasal yang tampak kurang dipahami oleh pembaca Jawa. Selain dikenal sebagai sastrawan, dia juga dikenal guru agama, ahli tasawuf, ahli bahasa dan sejarah yang terkemuka pada zamannya (Soebardi 1975:21).

Serat Dewa Ruci digubah berdasarkan sebuah cerita mistikal (suluk) yang telah dikenal pada abad ke-16 M. Fragmennya yang mengisahkan perjalanan Bima mencari air hayat, digubah kembali olehnya dan dimasukkan menjadi bagian Serat Cabolek, karyanya yang lain. Serat Cabolek merupakan campuran antara karya bercorak sejarah dan suluk atau alegori sufi. Dia dimulai dengan sebuah musyawarah di kraton Kartasura antara Pakubuwana dan beberapa ulama dari pesisir untuk mengadili Haji Mutamakin, seorang mistikus dari Tuban, yang pandangan-pandangan tasawufnya dipandang terlalu heterodoks dan bertentangan dengan pandangan para ulama pada umumnya.

Berbeda dengan Hamzah Fansuri, yang karya-karyanya ditulis ketika fase integratif kebudayaan Melayu dengan Islam mencapai puncaknya, Yasadipura I menulis karyanya ketika di pulau Jawa sedang terjadi ketegangan yang berlarut-larut antara ulama ortodoks dan kaum heterodoks. Berbagai ketegangan politik yang terjadi di Jawa saat itu banyak terjadi disebabkan pembangkangan yang dilakukan kaum heterodoks. Pergolakan politik semakin panas ketiga pecah tiga pembrontakan besar, yaitu Perang Trunojoyo pada akhir abad ke-17 M, Pembrontakan Untung Surapati pada awal abad ke-18 M, dan Pembrontakan Cina tidak lama kemudian. Kerajaan Mataram pecah belah akibat pembrontakan itu, apalagi dengan campur tangan VOC, yang menyebabkan Mataram bertekuk lutut di bawah kekuasaan kolonial.

Untuk memulihkan stabilitas, rekonsiliasi kedua golongan – ortodoks dan heterodoks – sangat diperlukan. Kisah Dewa Ruci adalah simbol dari rekonsilisasi itu, sehingga sebagai sastra sufi ia memiliki peran yang unik dan juga corak yang unik yang tidak ditemui dalam karya sejenis dalam kesusastraan Melayu dan Nusantara yang lain (BERSAMBUNG).

Anda sedang membaca Dewa Ruci Alegori Sufi Tentang Pencarian Diri. Untuk mengikuti posting terbaru silahkan Liked Facebook Fanpage: Mistikus Cinta | Follow Twitter: @Sufipedia | Official LINE of Sufipedia Nusantara, LINE ID: @sufipedia | Telegram Group: @sufipedia. Terima kasih.

Post a Comment

 
Top