Sufipedia

“BARANG SIAPA MENGENAL DIRINYA, MAKA IA AKAN MENGENAL TUHAN-NYA” 

"Semua orang akan rusak kecuali orang-orang yang berilmu, semua orang yang berilmu akan rusak kecuali orang yang beramal, semua orang yang beramal akan rusak kecuali orang yang ikhlas "
   (Imam Al Ghazali)

Wahdatul Wujud mempunyai pengertian secara awam yaitu; bersatunya Tuhan dengan manusia yang telah mencapai hakiki atau dipercaya telah suci. Pengertian sebenarnya adalah merupakan penggambaran bahwa Tuhan-lah yang menciptakan alam semesta beserta isinya. Allah adalah sang Khalik, Dia-lah yang telah menciptakan manusia, Dia-lah Tuhan dan kita adalah bayangannya. Dari pengertian yang hampir sama, terdapat pula kepercayaan selain wahdatul wujud. Yaitu Wahdatul Syuhud. Pengertiannya yaitu; Kita dan semuanya adalah bagian dari dzat Allah.

Jadi keduanya berpengertian, kita dapat bersatu dengan dzat Allah. Dalam penggambaran karya-karya suluk di Jawa yang berisi mengkritik ajaran para wali sembilan, misalnya suluk karya Syekh Siti Jenar (contoh lainnya adalah Serat Gatholokoco, dinamakan serat karena penulis suluk ini, Gatholokoco berpendapat bahwa suluk lebih cenderung ke Islam), manusia dianggap memiliki 20 sifat-sifat Allah. Contohnya di antaranya; dzat Allah terdapat pada diri kita, jadi kita tidak perlu shalat karena dzat Allah sudah ada pada diri kita (Jawa: Islam Abangan). Hal-hal tersebut di atas dianggap sangat bertentangan dengan syariat Islam menurut pengertian umum.

Wahdatul Wujud sebenarnya adalah suatu ilmu yang tidak disebarluaskan ke orang awam. Sekalipun demikian, para wali-lah yang mencetuskan hal tersebut. Karena sangat dikhawatirkan apabila ilmu wahdatul wujud disebarluaskan akan menimbulkan fitnah dan orang awam akan salah menerimanya. Wali yang mencetuskan tersebut contohnya adalah Al Hallaj dan Ibn Arabi. Meskipun demikian, para wali tersebut tidak pernah mengatakan dirinya adalah tuhan. Dan mereka tetap dikenal sebagai ulama alim.

Dalam dunia tasawuf, sering terdapat perbedaan antara ilmu syariat dan ilmu ma'rifat. Sebagai orang Islam tentu saja diharuskan menguasai ilmu syariat. Dan ilmu ma'rifat atau ilmu tashawuf dengan kata lain ilmu hikmah, sangat ditekankan untuk mengambil sebuah hikmah. Hal tersebut telah diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur'an Surat Al Kahfi tentang pertemuan Nabi Musa dan Nabi Khidir. Hal tersebut menunjukkan Ilmu Syariat yang dikuasai Nabi Musa dari kitabnya (Taurat) dan Nabi Khidir yang mendapatkan langsung ilmunya dari petunjuk Allah yang penuh hikmah atau ilmu ma'rifat.

Dalam penggambaran awal tersebut sudah ditunjukkan betapa susahnya memahami ilmu ma'rifat dengan ilmu syariat. Penggambarannya adalah seperti pertemuan antara daratan dan lautan. Dimana Musa diberitahukan, ia akan menemukan orang yang lebih pandai darinya disaat ikan yang dibawanya hilang. Ikan mati tersebut hidup kembali di suatu tempat ketika Nabi Musa dan pembantunya beristirahat. Hal itu merupakan penggambaran ilmu yang sangat susah sekali dimana ikan mati dapat hidup kembali, seperti Nabi Musa yang tidak dapat bersabar melihat perilaku Nabi Khidir yang dilihat secara syariat sangat bertentangan. Tetapi hal tersebut dilakukan Nabi Khidir dari petunjuk Allah yang penuh dengan hikmah. Jadi tentu saja hal-hal ma'rifat hanya dapat dipahami secara pribadi bagi orang yang diturunkan kepadanya secara langsung.

Meskipun ilmu ma'rifat terlihat sangat bertentangan dengan ilmu syariat, tetapi sebenarnya tidak. Jadi ilmu tersebut dapat dikatakan ilmu tinggi yang digali dari perjalanan pikir para wali dan tidak untuk disebarluaskan. Tetapi dari kedua konsep tersebut, para ulama masih berbeda pendapat.

Selain perseteruan pendapat konsep wahdatul wujud dan wahdatul syuhud di Jawa, hal itu juga terjadi pada kaum Syi'ah Isma'iliyah pada masa Al Hallaj. Hal yang berbeda pengertian terjadi dari definisi kaum syi'ah tentang zina, puasa, dan sabar. Mereka juga dianggap pemberontak dan dianggap musuh oleh raja dan para ulama. Peperangan yang terjadi tidaklah dari para ulama, tetapi oleh Raja yang menganggap mereka adalah pemberontak dan musuh politik. Al Hallaj yang hidup di masa itu, dia mengucapkan kata yang sangat menggemparkan: Ana Al-Haqq berarti Akulah kebenaran. Dia kemudian dianggap mendukung kaum syi'ah. Hal ini juga berarti permasalahan yang timbul dari perselisihan antara ilmu syariat, ilmu ma'rifat, dan kekuasaan atau politik. Semua yang terjadi adalah karena kesalahan pemahaman. Terbunuhnya Al Hallaj bukan karena ucapannya tetapi karena politik. Tetapi merupakan kesalahan Al Hallaj yang mengucapkan dan mengajarkan konsep Wahdatul Wujud (Ana Al-Haqq) kepada murid-muridnya. Bahwa hal tersebut adalah ilmu yang sangat pribadi dan hanya dimengerti oleh orang yang menerimanya. Selain itu, Al Haqq merupakan sifat-sifat Allah.

Ilmu syariat dan ilmu ma'rifat akan selalu menemui kesulitan untuk diajarkan terutama ke masyarakat awam karena ilmu ma'rifat bersifat pribadi dan ghaib. Hal itu merupakan rahasia bagi orang yang menerimanya.

Proses Sifat-sifat Allah Pada Kejadian Diri Manusia

Firman Allah :

Artinya: “Dan tidak dapat dicapai dengan penglihatan mata, tetapi Dia-lah yang melihat segala penglihatan dan Dia bersifat lemah lembut lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al Anám : 103)

Sabda Rasulullah SAW. :

Artinya: “Berfikirlah tentang makhluk Allah dan jangan sekali-kali berfikir tentang Dzat Allah, karena kamu tidak akan dapat menduga-duga dengan sebenar-benarnya”. (HR. Ashbihani dan Abusy Syeikh) Sumber: Ibnu Abbas

Proses PERTAMA

Adapun “Afál-Allah” itu kepada manusia adalah tubuh yang dzahir yang berupa materi; darah, tulang, urat dan daging.
  1. Darah daripada = Api
  2. Tulang daripada = Air
  3. Urat daripada = Angin
  4. Daging daripada = Tanah
Proses KEDUA

Adapun “Asma’-Allah” itu kepada manusia adalah gambaran hati (Qalbi).

Sabda Rasulullah SAW. :

Artinya: “Ketahuilah bahwa dalam tubuh itu ada segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, maka akan baiklah tubuh itu seluruhnya; dan jika buruk, maka buruklah tubuh itu seluruhnya. Ketahuilah bahwa hal itu adalah qalbi”. (Al Hadits Bukhari Muslim)

Hati itulah yang menjadi raja tubuh dan menjadi ikutan manusia. Pada hati itu “Petaruh Allah” pada diri setiap manusia yang menjadi Khalifah-Nya; maksudnya adalah Pengganti pekerjaan Tuhan dimuka bumi untuk meluluskan segala hukum-hukum-Nya, baik yang nyata maupun yang tersembunyi.

Petaruh itu ada 2 (dua) jenis:
  1. Petaruh Kebaikan yang disebut Sifat Mahmudah, yang diridhai oleh hukum syara’, dan
  2. Petaruh Keburukan yang disebut Sifat Majmumah, yang mengikuti kehendak yang bernama Iblis, hawa nafsu, cinta dunia dan syetan.
Bila digambarkan gambaran hati itu akan tampak sebagai berikut:

Dalil untuk gambaran hati itu berdasarkan Firman Allah:

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka; dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambah iman mereka karenanya, dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.”

“Yaitu orang-orang yang mendirikan Shalat dan yang menafkahkan sebahagian rezki yang kami berikan kepada mereka.”

“Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benar iman. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian disisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al Anfal: 2-4)

Ulasannya :

“..disebut nama Allah, gemetarlah hati..”

Tidak mungkin menggetar hati seseorang apabila disebut nama Allah, melainkan adalah karena cinta, rindu, kasih dan sayang. Hal cinta kasih ini tentulah karena kenal; seumpama kata pepatah: “tak tahu maka tak sayang, tak kenal maka tak cinta”. Jika tidak Ma’rifah kepada Allah, niscaya Iblis lah yang bersarang dibelahan Fuád hatinya. Bila seseorang itu Ma’rifah kepada Allah, niscaya nemarlah Syahadat Tauhid dan Syahadat Rasul-Nya; dengan lidah, hati dan perbuatan, maka kokohlah imannya.

“..apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah..”

Bagi orang-orang yang beriman itu, niscaya bertambah pulalah iman yang telah ada didalam Lub hatinya. Jika tidak bertambah Iman seseorang bila dibacakan ayat-ayat Allah, niscaya Hawa (pengaruh) dunialah yang disudut hati seseorang itu. Tetapi apabila seseorang itu benar-benar beriman kepada Allah serta Hari Kemudian, niscaya kalau cukup nisab hartanya ia akan mengeluarkan Zakat hartanya, zakat emas dan peraknya, zakat perniagaan dan zakat pertaniannya sesuai dengan delapan mustahaq.

“..dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal”

Arti bertawakkal adalah menyerah diri, tidak ada ketakutan didalam hati mereka selain Allah. Bila Tawakkal tidak ditemui didalam salah satu belahan hatinya, niscaya Cinta Dunia lah yang ada pada dirinya dan itulah alamat manusia yang menumpuk harta berketurunan, tamak, loba dan rakus lagi serakah terhadap harta dunia yang kelak akan menjadi bahan bakar dirinya dihari berbangkit dan kenyenyakkan tidurnya dialam dunia ini dengan segala hartanya yang bertumpuk-tumpuk itu tanpa memperdulikan kemelaratan sesamanya dalam lingkungan masyarakat, bangsa dan negaranya. Tetapi bila tawakkal itu ada pada sudut hati seseorang, niscaya sukalah ia melaksanakan Puasa, tetapi bukan hanya puasa dibulan Ramadhan, melainkan puasa dari kekotoran jiwa, puasa dari pada mengejar pangkat dan kedudukan, puasa daripada menumpuk-numpuk harta berketurunan, puasa daripada fitnah dan cela dan segala perbuatan ma’siat.

“..orang yang mendirikan Shalat..”

Firman Allah:

Artinya: “Sesungguhnya Shalat itu mencegah dari pada kejahatan dan kemungkaran”.

Bila hati seseorang nampaknya mendirikan shalat, tetapi pekerjaan ma’siat; seperti penyelewengan jabatan, korupsi, manipulasi, suap, judi, minuman keras, egois dan memperkaya diri sendiri. Itulah Shalatnya Iblis sebagai kamuflase yang tidak disadari kebanyakkan manusia yang Shalat, yang hanya mengikutkan nafsu kenikmatan dunia karena tidak sedikitpun Ma’rifah, Iman dan Tawakkal dihatinya itu tidak ditemui di Shudurnya. Bila seseorang itu mengaku beragama Islam, maka tanda yang zahir itulah Shalat yang dapat mencegah dirinya dari segala kejahatan dan kemungkaran.

“..menafkahkan sebahagian rezki..” sebagai karunia Allah padanya dijalan Allah untuk kepentingan dirinya dan agamanya.

Bila ada Nur (petunjuk) ditengah (pusat) hatinya, yaitu Bahajatul Qulub, niscaya syetan-syetan akan kepanasan dan sukalah seseorang itu berinfak dan akan menunaikan ibadah Haji-nya sebagai rukun Islam kelima dengan segala ilmu. Bukan karena hanya sebagai pamor, atau penampilan karena ada uang. Banyak umat Islam telah menunaikan ibadah Haji, namun sombong, takabur, riya’, hasad dan dengki tidak terhapus daripadanya; bahkan tamak dan loba semakin bersarang dan membudaya. Maka perikasalah sebab musababnya, tentu bukan karen Iman Islam, Ma’rifah dan Tauhidnya; melainkan adalah karena kemegahan untuk dunia dan nama semata dan uang yang digunakan untuk ibadah Haji itu periksalah dahulu, dari yang halalkah, haramkah atau subhat?

Hati manusia itu seakan gelas minuman. Tidak boleh diisi dengan racun, tetapi isilah dengan madu ataupun susu. Apabila diisi keduanya dalam satu gelas, maka jika diminum juga akan membawa mudarat bagi peminumnya. Demikianlah hati itu, hanya dapat memuat salah satu diantara dua, yaitu:

RIDHA ALLAH
  1. Ma’rifah menyebabkan Syahadat;
  2. Iman menyebabkan Zakat;
  3. Tawwakal menyebabkan Puasa;
  4. Islam menyebabkan Shalat;
  5. Nur menyebabkan Haji.
Sehingga dari hati yang baik itulah yang menerbitkan Rukun Islam yang (lima) perkara itu; (Syahadat, Shalat, Puasa, Zakat dan Haji).

MURKA ALLAH
  1. Iblis menyebabkan Kufur;
  2. Hawa menyebabkan Hilangnya malu;
  3. Cinta dunia menyebabkan Tamak, Loba dan serakah terhadap dunia;
  4. Nafsu menyebabkan ingin terus terpuaskan segala syahwat dalam mencari kenikmatan dunia, lupa kepada akhiratnya.
Dengan penjelasan itu, tilik dan periksalah hati anda, pada Ridha Allah kah atau pada Murka Allah. Karena anda tidak akan dapat menyembunyikannya karena hati anda tidak akan pernah berbohong, anda pasti tahu sendiri karena hati itu adalah “tape recorder” Allah yang setiap saat mendeteksi segala perbuatan anda dimana saja anda berada dan melapor kepada malaikat pencatat buruk dan baik yang kelak akan diperlihatkan kepada anda sendiri rekaman hati itu di hari berbangkit; satu jarrah kebaikkan tak akan hilang dan satu jarrah kejahatan tak akan sembunyi.

Proses KETIGA

Adapun “Sifat Allah” itu adalah Ruh bagi manusia. Ruh itu dtiupkan melalui ubun-ubun kepada qalbi manusia, semasih ia dalam kandungan rahim ibu, yaitu setelah berumur 3 x 40 hari.

Dari jantung itulah kehidupan Ruh itu dipompakan keseluruh tubuh melalui pembuluh-pembuluh darah/vessel, maka gerak tubuh itu adalah gerak ruh dengan kendali hati. Baik kendali hati, baiklah gerak ruh yang zahir kepada jasad (raga). Buruk kendali hati, buruklah gerak ruh yang dzahir kepada jasad. Itulah sebabnya tak terpisah antara Syariát dengan Hakikat yang diatur oleh Thareqat, dan barangsiapa menceraikan antara keduanya, maka mereka itu terbakarlah dirinya. Ketika itu tinggallah segala Rabithah (penuntun). Nabi berhadap langsung dengan Allah, dalam menjemput tiang Agama, setelah lebih dari 13 tahun mendirikan fondasi “Awaluddin Ma’rifatullah”. Barangsiapa yang mengabaikan Thareqat Dzikrullah, tidaklah dia berdiri dan berjalan diatas jalan yang lurus.

Sebagaimana firman Allah:

Artinya: “Dan bahwasannya, jikalau mereka tetap berjalan diatas jalan yang lurus, pasti kami akan beri rezki dengan tidak kekurangan”. (QS. Al Jin : 16)

Proses KEEMPAT

Adapun “Dzat Allah” Yang Maha Halus yang tidak dapat dilihat baik oleh mata dzahir maupun mata batin (hati), adalah Sir (rahasia); yaitu suatu hubungan yang tidak bercerai atau terpisahkan, tetapi tidak pula bersekutu. “Dekat tdak bersentuh, jauh tidak berantara”.

Hubungan itu adalah :
  • Tiada manusia itu kuasa, melainkan yang dikuasakan;
  • Tiada manusia itu menentukan, melainkan yang ditentukan dan dikehendaki-Nya;
  • Tiada manusia itu hidup; melainkan yang dihidupkan;
  • Tiada manusia itu mengetahui, melainkan yang diberitahu oleh-Nya;
  • Tiada manusia itu mendengar, melainkan yang diperdengarkan;
  • Tiada manusia itu melihat, melainkan yang diperlihatkan;
  • Tiada manusia itu berkata-kata, melainkan yang diperkatakan.
Untuk letaknya menyempurkan antara sifat Maáni (yang dzahir kepada tubuh) dengan sifat Ma’nawiyah (yang bathin pada tubuh), maka jelaslah alam tubuh itu sebagai wadah tempat memandang (Wahdaniyat), itulah yang terkandung kepada Afál, Asma’ dan Sifat Allah yang 15 (lima belas) sifat Rahmatan Lilálamin yang berdiri kepada Dzat yang 5 (lima) sifat: Wujud Qidam, Baqa, Mukhlifatahu lil Hawadits dan Qiyamuhu Taála Binafsihi.

Jadi adanya manusia itu adalah: bodoh, pekak, buta, daif, hina, kelu dan tiada daya upaya disisi Allah yang terkandung kepada kalimah:

“Laa Haula wa laa Quwata Illa Billahil Áliyil Ádjim”

dan inilah isyarat Hadits Qudsiy:

Artinya : “Insan itu rahasia-Ku, rahasia-Ku itu Sifat-Ku dan Sifat-Ku itu tidak lain daripada Aku”

Dan lagi firman Allah :

Artinya: “Dan Apabila hamba-hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka (jawablah): bahwasannya Aku adalah dekat; Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoá kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. (QS. Al Baqarah: 186)

Dari seluruh keterangan demi keterangan sebagai kesimpulan adanya Hakikat manusia itu bila hendak dikatakan manusia itu mempunyai Dzat, boleh juga dengan keterangan sebagai berikut:
  • Dzat manusia adalah Sifat bagi Allah
  • Sifat manusia adalah Asma’ bagi Allah
  • Asma’ manusia adalah Afál bagi Allah
  • Afál manusia adalah bekas Qadrat, Iradat, Hayat, Sama’, Bashar dan Kalam Allah yang mempunyai Dzat yang Wajibal Wujud, Qadim lagi Baqa, Laisa Kamislihi Syaiín dan Qiyamuhu Taála Binafsihi, Rabbal Álamin
Manusia ditakdirkan/diciptakan sempurna karena mempunyai pikiran/akal dan alat perasa serta jasmani, Maka Ulama di zaman dahulu mempunyai pendapat bahwa Allah sebenarnya yang menciptakan, dan sebahagian besar menyebutkan sifat-sifat manusia sendiri adalah panca indra seperti Mata, Hidung, Mulut, Telinga dan Lidah. Beda dengan makhluk lain seperti binatang, walaupun mempunyai alat seperti manusia tetapi tidak lengkap, oleh karena itu hidupnya makhluk-makhluk tadi ikut kodrat masing-masing, bisa melihat, berjalan dan makan tapi tidak punya akal untuk berusaha dan sudah pasti hidupnya kurang lengkap. Berdasarkan keadaan, maka para orang bijak mempunyai pendapat; bila manusia itu sifatnya lengkap dan tidak bisa berubah artinya Allah itu tidak kekurangan sifat seperti yang diciptakan. Walaupun semua Ulama sudah sampai disatu pendapat, tetap tidak bisa menemukan Allah SWT.

Maka dalam Wirid/pelajaran, Allah itu tidak bisa dijangkau oleh alat apapun bahkan oleh pikiran/perasaan. Jadi para ulama menyebut Dzat yang maha agung yang bisa menciptakan Jagad raya.

Selanjutnnya keterangan sifat 20 (dua puluh) begini; Atas nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, terlebih dahulu dikutip dari buku Wirid Hidayat Jati peninggalan Ronggo Warsito;

Sebelum ada apa-apa yang ada hanya Allah yang berada dalam NUKAT GAIB yang diberi nama Qun, yaitu DAT sejati, Nukat artinya bibit, dan Gaib adalah samar/tidak nampak oleh mata yang disebut Nur Muhammad, yaitu Cahaya yang terang sekali tanpa bayangan, yang disebut sifat sejati QUN lalu FAYAQUN. Qun artinya Allah Bersabda (berkata) dan Fayaqun artinya Terjadi semua Afhngal (selamanya). Semua itu menjadi asalnya yang terjadi disebut Anasir Sejati. Jadi Allah memiliki 4 Anasir yaitu Dat, Sifat, Asma dan Afhngal.

Umpama penerimaan salah, pelajaran yang diatas tadi ada kata tempat di Nukat Gaib (benih yang tidak nampak) itu pasti dapat menimbulkan pendapat bahwa Allah itu berada disuatu tempat, karena disebut Layu Kayafu, itu semua salah, Allah tidak bisa disentuh atau dijangkau oleh apa saja, tidak ada yang menyerupai, karena semua itu sifat Baru (yang sudah ada).

Almarhum Kyai Agus Salim pernah berbicara; bahwa dasar agama Islam itu lebih dulu mengetahui nama Allah dan selanjutnya seluruh yang ada (Jagad Raya). Mustahil kalau tidak ada yang menciptakan, karena yang menciptakan wajib adanya (mokal dan wajib). Itu sebabnya manusia hanya menjumpai yang sudah ada dan tetap tidak bisa berubah. Kata mempunyai atau yang terjadi itu dalam bahasa Wirid/Pelajaran yaitu menyatu dan berpisah artinya sama, karena pusatnya itu Allah.

Wirid Hidayat Jati tersebut diatas akan diterangkan hanya soal 4 Anasir saja, oleh sebab itu akan dijumpai dibacaan ke-2. Penelitian tentang 4 Anasir menurut catatan pelajaran agama yang tersebut dibawah ini:
  1. Dat Allah yang tidak bisa dilihat tetapi mencakup/meliputi seluruh yang diciptakan semua yang dijumpai makhluk. Terbukti Layu Kayafu (tidak bisa diganggu oleh apapun), semua keterangan ada dibelakang. Umpama ada ikhtikat kepercayaan menceritakan manusia dapat / jumpa atau menghadap maju mundur dengan Allah, karena lupa dengan yang disebut Layu Kayafu.
  2. Sifat itu sebetulnya perkataan sesudah ada Dat, artinya kekuasaan Dat Allah yang sebenarnya bisa menciptakan apa saja dan mempunyai sifat seluruh yang diciptakan.
Dengan kehendak Allah sifat itu apa yang telah diciptakan, sifat itu berjuta-juta (milyaran) warnanya, seperti yang tertulis dikitab Al-Quran, yang menyebutkan kekuasaan, keagungan dan Daya keperkasaan, umpanya bisa menidurkan, membangunkan, menangiskan, menghidupkan benih. Oleh karenanya sifat-sifat yang begitu terdapat pada manusia. Para Ulama zaman dahulu kala sama-sama membicarakan satu keputusan bahwa sifat DAT yang wajib adanya itu menguasai manusia yang banyaknya 20+20+1, maksudnya itu mempunyai sifat 20 yang wajib (tidak berubah-ubah), 20 lagi sifat Mokal (bisa rusak/berubah) dan yang 1 adalah kuasa (wenang dalam bahasa Jawa). Jika difikir dengan benar bahwa sifat 20 itu menyatu dengan manusia, maka itulah disebut cukup alatnya. Oleh sebab itu manusia diwibawai dengan sifat 20 tadi, umpamanya melihat, mendengar, hidup, bicara dan lain-lain. Semua sifat-sifat Allah tersebut disebutkan dibawah ini;

SIFAT 20 ARTINYA
  1. WUJUD = ADA
  2. QIDAM = TIDAK ADA YANG MENDAHULUI
  3. BAQA = KEKAL
  4. MUKHALAFATU LIL HAWADIS = BEDA DENGAN YANG BARU
  5. QIYAMUH BINAFSIHI = BERDIRI SENDIRI
  6. WAHDANIYAT = MENYATU
  7. QODRAT = KUASA
  8. IRODAT = KEHENDAK
  9. ILMU = PENGETAHUAN
  10. HAYAT = HIDUP
  11. SAMA' = MENDENGAR
  12. BASHAR = MELIHAT
  13. QALAM = BERKATA
  14. QADIRAN = YANG MEMPUNYAI KUASA
  15. MURIDAN = YANG MEMPUNYAI KEHENDAK
  16. ALIMAN = YANG MEMPUNYAI ILMU
  17. HAYAN = YANG MEMPUNYAI HIDUP
  18. SAMI'AN = YANG MEMPUNYAI PENDENGARAN
  19. BASIRAN = YANG MEMPUNYAI PENGLIHATAN
  20. MUTAKALIMAN = YANG MEMPUNYAI PERKATAAN
Menurut pelajaran Usuluddin bahwa sifat 20 itu diringkas menjadi 4;
  1. Sifat kesatu disebut Nafsiah yaitu untuk badan (jasmani) nyata.
  2. Sifat kedua sampai keenam disebut Salbiyah, yaitu sifat yang kekal.
  3. Sifat Ke-7 sampai Ke-13 disebut Ma’ani, yaitu yang memiliki sifat Nafsiah, jika diteliti bekerjanya badan manusia bisa langsung bicara, mendengar dan berfikir.
  4. Sifat ke-14 sampai ke-20 disebut Maknawiyah, yaitu yang memiliki sifat Ma’ani, artinya bisa bergerak, berkuasa, mempunyai kemauan dan ilmu.
Itu semua sifat yang utuh untuk menggerakkan, terdapat pada sifat ke-7 sampai ke-13, yaitu yang menghidupi badan manusia sehingga bisa bergerak dan yang menggerakkan terdapat pada sifat ke-14 sampai ke-20. Supaya jelas Dzat Allah bisa menciptakan apa yang dikehendaki, lalu ada bentuk (wujud) manusia yang disebut Nafsiah, Karena hidupnya manusia mempunyai sifat-sifat 20. Jadi bekerjanya sifat Ma’ani untuk manusia oleh karena manusia mempunyai sifat-sifat ke-14 dan ke-20. Tanda-tanda bukti (terbukti) sifat Qodrat (kuasa) itu sifatnya tetap berkuasa. Untuk manusia kekuasaan itu hanya memakai akibatnya daya yang memiliki kekuasaan Allah, contoh salah satunya sifat DZAT.

Umpama sifat ke-18: (Sami’an) yang mendengarkan itu berada ditelinga, jadi ditelinga bisanya mendengarkan memiliki sifat Samak, dan terjadinya sifat Maknawiyah itu karena mempunyai sifat Ma’ani. Jelasnya Dayanya sifat Samak langsung bisa untuk mengetahui itu sesudah mempunyai sifat Wujud (ujud)/nyata yaitu telinga yang dimiliki manusia. Kalau salah penerimaan, kadang menjadi lupa dan menganggap Allah itu bertempat pada manusia, sebenarnya manusia itu hanya memakai Hakikatnya sifat-sifat Allah. Walaupun tidak berada ditelinga, Allah itu bisa mendengar, oleh karena Allah yang memilki semua sifat tersebut. Maka dari itu membaca Hidayat Jati itu harus dikaji, karena satu-satunya induknya pengetahuan, artinya Hidayat Jati itu tidak salah, tetapi yang membacanya saja harus berfikir. Umpama membaca sifat-sifat yang disebutkan diatas harus diulang-ulang, baru dapat merasa tentram dan terang, baru suasana menjadi merasa terbuka pikirannya, Firman Allah Qur’an surat Ar-Ra’d: 28;

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”

Dipelajaran semua sifat tadi lalu diulas (dibahas) lagi nama dan perkataan dibawah ini;
  1. Sifat ke-1 disebut sifat Jalal, artinya Maha Agung, yang dinamakan agung itu DAT yang menyelimuti/melingkupi apa yang diciptakan.
  2. Sifat ke-2, 3, 4, 5 disebut sifat Jamal, artinya Maha Elok/Sempurna, yang sempurna itu sifatnya, sebab tidak ada yang sama (menyerupai). Bukan laki, bukan perempuan, bukan banci, tidak beranak, tidak diperanakan (walam yalid walam yulad walam yakullahukufuan ahad) tidak bisa dijangkau dan tidak nyata.
  3. Sifat ke-11, 12, 13 dan sifat ke-18, 19, 20 disebut sifat Kamal, artinya Maha Sempurna dan Afhngal yang menciptakan keadaan tanpa cacat, sebab tidak ada makhluk yang mengherankan.
  4. Sifat ke-6, 7, 8, 9, 10 dan ke-14, 15, 16, 17 disebut sifat Kahar, artinya Maha Wisesa (Maha Menguasai), melayani semua tanpa pilih kasih (tidak membeda-bedakan) walaupun Jin, syetan, Manusia, dan Hewan, oleh karena itu Allah disebut Suci, jadi siapa saja yang hidup bisa menyebut Allah dengan caranya masing-masing.
Asma/NAMA (julukan) itu hanya kata manusia, hanya untuk menyebut nama Allah wajib adanya, karena manusia berhak menolak dan menerima, hanya terbawa diri sendiri karena bisa bicara (ngomong) mengatakan penguasa tinggi adalah Allah. Yang Maha Kuasa disembah/dipuja dan tidak bisa dilihat (tidak nyata), karena Hakikatnya menyelamatkan umat manusia, lalu menyebutnya macam-macam menurut pengetahuan masing-masing.

Keterangan : satu-satunya orang menyebut Allah ada.

Hidayat jati menerangkan Allah hanya nama pribadinya, pribadi itu bentuk manusia yang lengkap memiliki Datnya Allah. dan Datnya Allah meliputi Jagad Raya.

Firman Allah menyatakan Qur’an surat Fushshilat (Hammim As-Sajdah) : 54

“Ingatlah bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keraguan tentang pertemuan dengan Tuhan mereka. Ingatlah bahwa sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu.”

Karena Dat itu meliputi seluruh yang ada, manusia langsung mengakui bahwa Allah itu meliputi tidak diluar dan tidak didalam, seperti sirih; akar, pohon dan daun baunya sama. Oleh karena umpama Datnya Allah itu seperti rasanya sirih, karena sulit untuk ditebak, dinyatakan “tidak diluar dan tidak didalam”

Af'al (geraknya Allah).

Karena Af'al (gerak) semua makhluk yang diciptakan apa saja, Atom, seluruh zat gaib; Syetan, Malaikat dan manusia. Semua mengandung zat Allah. Jadi Jagad raya itu tidak pernah berubah (tetap) geraknya. Bekerjanya Dat itu yang wajib sifatnya; tertib, Tentram, Adil, Suci, tidak membeda-bedakan, benar, tidak pernah berubah kekuasaannya. Umpama mau membuktikan setiap hari; ada orang membuat mainan dari kaleng diberi perputaran (as), minyak bensin dan roda, umpama mainan dibunyikan bisa berjalan, itu kerja yang membuat bisanya jalan barang tadi pasti sudah direncanakan dan memang pintar, kepintaran membuat barang disebut hakikatnya Dat yang membuat. Allah itu maha cerdik, lalu apa yang dikehendaki pasti jadi, pasti bergerak, itu contoh lain bagi tanda saksi bekerjanya (bergeraknya) DAT wajib adanya.

Dari zaman dahulu kala jutaan tahun; bumi, matahari, bulan, bintang, udara dan lain-lainnya itu tarik menarik selamanya tanpa berubah, menjadikan daya alam (hukum-hukum alam) yang tertib seperti; siang, malam, panas, dingin tidak pernah berubah, tidak dapat diukur seberapa kekuatan DAT itu. Karena sangat tertibnya dan tenang lalu timbul menuju arah satu, tidak cerai berai; terhadap manusia tiap hari tetap saling membutuhkan, contohnya begini;
  1. Di hutan ada lebah madu glodok, madu kesukaan manusia dan lebah.
  2. Karena madu lebah untuk jamu/obat, karena membutuhkan lalu mencari kehutan.
  3. Di Hutan banyak bunga-bunga, itu saling dibutuhkan manusia, lebah, kupu-kupu saling mengisap.
  4. Adilnya Yang Maha Kuasa; supaya kupu-kupu tadi selamat dari serbuan lebah dan manusia, sayapnya diciptakan satu warna dengan bunga-bunga tadi agar manusia dan lebah tidak bisa membedakan mana yang bunga dan mana yang kupu-kupu dikarenakan sayap kupu-kupu seperti bunga-bunga yang ada dihutan. Lama-lama manusia berusaha supaya lebah tadi semua berkumpul kerumahnya, lalu dibuatkan rumah-rumahan dari kayu yang dibuat seperti sarangnya, oleh karena itu manusia juga mempunyai kekuasaan mengatur lebah.
Jadi terjadinya manusia sebab dari yang satu (Allah), kalau difikir betul bentuk tentran ya DAT Allah SWT dan menuju yang satu menyebabkan terjadinya benar dan selamat. Apa buktinya bila manusia mempunyai kekuatan dari Allah, kata-kata mempunyai kekuatan bisa ditafsirkan manusia itu sama dengan Allah bagi orang yang salah tafsir (salah pendapat). Yang diatas menyatakan bila Allah itu mempunyai sifat 20 wajib, 20 mokal (sebaliknya) dan sifat berkuasa (Yang Maha Kuasa / Wenang dalam bahasa Jawa), kuasa artinya yang menciptakan semua yang ada didunia ini

SIFAT 20 DI BAGI 4

Dzat Allah merupakan perwujudan dari adanya Allah.
Dzat Allah Subhana Wa Ta'ala memiliki sifat-sifat yaitu sifat yang wajib, sifat yang mustahil bagi Allah, dan sifat yang ada pada Dzat Allah.

1. NAFSIAH - SIFATNYA PENCIUMAN / NAFAS

Nafsiah satu pasti, hal bagiannya.

1. WUJUD = “Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Rabb semesta alam.“ [QS. Al-A’raf: 54]

Wujud artinya ada, bukti adanya nafas, ada nafas tentu saja ada hidup, setiap ada hidup sudah pasti, ada Allah, sebab sifatnya hidup dari Dzat-Nya Sifat-Nya Allah Ta’ala.

Keimanan seseorang akan membuatnya dapat berpikir dengan akal sehat bahwa jagat kabir dan jagat shagir ada, karena adanya Allah yang menciptakannya.

2. SALBIAH - SIFATNYA PENGLIHATAN/ MATA

Awasnya mata adalah yang pertama sebab itulah yang membuktikan Sifat Salbiah di mata, ada lima perkara, barangnya yang bukti:
  1. Warna putih dari mata
  2. Warna hitam dari mata
  3. Warna kuning dari mata
  4. Warna merah dari mata
  5. Beningnya mata lima barang jadi bersatu, kehendak Allah Ta’ala, setiap bagiannya sudah pasti ada rahasianya.
2. QIDAM = “Dialah yang Awal dan yang Akhir, yang Zhahir dan yang Baathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. “ [QS. Al-Hadid: 3]

Qidam berarti dahulu atau awwal. Sifat Allah ini menandakan bahwa Allah Subhanahu wa ta'ala sebagai Pencipta lebih dulu ada daripada semesta alam dan isinya yang Ia ciptakan.

Qidam artinya permulaan, Syariatnya nyata di jasad manusia, sifatnya mata, awasnya mata paling pertama, karena penglihatan membuktikan sifat, sewaktu manusia masih ghoib, sebelum mengembara ke Alam Dunia. Ibu dan Bapak masih perawan dan bujang, setelah bertemu pandang, hati keduanya menjadi jodoh, setelah menikah “dua rasa menjadi satu”, lahirlah seorang anak, jadi asal mulanya adalah dari mata.

3. BAQA = “Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Rabb-mu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. “ [QS. Ar-Rahman: 26-27]

Sifat Allah Baqa’ yaitu kekal. Manusia, hewan, tumbuhan, dan makhluk lainnya selain Allah akan mati dan hancur. Manusia akan kembali kepada-Nya dan itu pasti. Hanya Allah lah yang kekal. Baqa, artinya adalah langgeng atau kekal, langgeng Dzat Allah/ Nurullah, hidup itu kepunyaan Allah ta’ala.

4. MUKHOLAFATU LIL HAWADIST = “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. “ [QS. Asy-Syura: 11]

Sifat Allah ini artinya adalah Allah berbeda dengan ciptaan-Nya, Mukhalafatuhu Lilhawadist yaitu, Allah sangat berbeda dengan yang baru, tidak akan ada yang menyamai Allah dengan yang baru. Allah melihat tidak dengan mata, mendengar tidak dengan telinga, berucap tidak menggunakan bibir.

5. QIYAMUHU BINAFSIHI = “Allah, tidak ada Ilah [yang berhak disembah] melainkan Dia. Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya.“ [QS. Ali-Imran: 2]

Qiyamuhu Binafsihi artinya Allah berdiri sendiri, manusia juga tidak merasa, jasad manusia di buat oleh Ibu dan Bapak, walaupun “bertemu” seorang Bapak dan Ibu, sama sekali tidak punya niat untuk sengaja membuat anak, syariatnya dari Ibu, hakikatnya adalah kehendak Yang Maha Agung, yaitu wenangnya [sifat Jaiz] Allah Ta’ala, sangat wenang sekali Allah untuk menjadikan wenang dan tidaknya, tetapi kematian adalah suatu hal yang wajib.

6. WAHDANIYAH = “Sekiranya ada di langit dan di bumi ilah-ilah selain Allah, tentulah keduanya itu sudah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.“ [QS. Al-Anbiya: 22]

Wahdaniah adalah sah Dzat, sah Sifat, sah Asma dan Af’alnya. Wahdaniat menetap di yang empat, di bibir, mata, telinga, hidung, jika di hidung, Dzatnya yaitu penciuman, sahnya adalah pasti, jika yang di cium minyak wangi, tetap wanginya yang di akui, tidak akan tertukar. Dua sah Sifatnya apa yang di cium pasti, ketiga sah Asmanya, baunya, nama wanginya, tidak akan tertukar namanya, bau bangkai dan bau minyak wangi. Keempat sah Af’alnya, sah pekerjaannya, penciuman adalah nyata, tidak mau tertukar, yang bau tetap dengan baunya, yang wangi tetap dengan wanginya. Walaupun di mata sah Dzat itu, awasnya pasti, sah Sifatnya juga nyata, apapun yang dilihat, hitam, merah dan ungu, hanya sifat yang bukti, sah Asmanya dan Sifatnya juga pasti.

7. QUDRAT = “Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.“ [QS. Al-Baqarah: 20]

Qudrat yaitu kuasa, tetapi kuasanya Allah, tidak memakai perkakas dan perabotan, jika punya maksud seperti mau membangun rumah, sebelum dikerjakan tentu di pikir dulu, gimana kemauan hati, rupa rumah yang akan di bangun, diatur-atur dan dicipta-cipta oleh hati dan pikir, agar rumah yang akan di buat menjadi bagus, pasti selaras dengan hati, sudah tercipta, dan nyatanya jadilah sebuah rumah yang sudah dibangun di dalam hati, rumah yang di buat tanpa memakai perkakas dan perabotan, kuasanya Allah, keterangan Qudrat yang sudah tidak bisa di rubah.

3. MA’ANI - SIFATNYA PENDENGARAN /TELINGA

Ma’ani, nyata di telinga, tujuh bagiannya: lekuknya telinga tujuh, ke tujuh dengan liangnya, tidak ada yang mubazir, ada lekuk pasti ada sebabnya.

8. IRADAT = “Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.” [QS. Hud: 107]

Iradat adalah Allah sifatnya berkehendak, bukti yang tadi, rumah sudah terlihat, ada di dalam hati, sekarang di jadikan kehendak, ingin membangun rumah, hakekatnya sudah terjadi, tinggal syariatnya, membuktikan Iradat. Iradat berarti berkehendak. Manusia hanya dapat berusaha dan berdo’a, namun hanya Allah yang menentukan. Kehendak Allah ini juga atas kemauan Allah tanpa ada campur tangan dari manusia atau makhluk lainnya. Jadi iman siang dan malam, mengartikan Qudrat dan Iradat Allah.

9. ILMU = “Katakanlah [kepada mereka]: Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu [keyakinanmu], padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [QS. Al-Hujurât: 16]

Ilmu adalah asalnya dari pengetahuan, dan Hayat adalah terang, pasti bersatu, sebab pengetahuan itu pasti tempatnya terang, Jasad dan Baathin tidak berbeda, jasad di dunia, bagaimana bisa melihat jika tidak ada terang, Baathin juga harus jelas, ‘ainal yakin sampai kepada terangnya, bukan terangnya siang, tapi terangnya Sifat Nur Ilmu Rasulullah di Qolbu, keyakinan tanpa ilmu, bagaikan daun yang jatuh dari pohon, terbang mengikuti angin, tidak mempunyai pijakan yang kokoh.

10. HAYAT = “Allah tidak ada Ilah [yang berhak disembah] melainkan Dia yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus [makhluk-Nya]; tidak mengantuk dan tidak tidur.” [QS. Al-Baqarah: 255]

Sifat Allah Hayat atau Hidup. Namun hidupnya Allah tidak seperti manusia, karena Allah yang menghidupkan manusia. Manusia bisa mati, Allah tidak mati, Ia akan hidup terus selama-lamanya.

11. SAMMA’ = “Dan Allah-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.“ [QS. Al-Maidah: 76]

Allah mendengar, tapi tidak memakai telinga

12. BASHAR = “Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan di bumi. Dan Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.“ [QS. Al-Hujurat: 18]

Bashar Allah melihat tanpa menggunakan mata

13. KALAM = “Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.“ [QS. An-Nisa: 164]

Kalam Allah berbicara tapi tidak menggunakan bibir.

4. MA’NAWIYAH - SIFATNYA PERKATAAN, memaknai PENCIUMAN, PENGLIHATAN, dan PENDENGARAN

Ma’nawiyah, tujuh pasti, bagiannya bergulung sifat dua puluh tadi, bergulung ke yang empat:
  1. Bibir bawah 
  2. Bibir atas 
  3. Gusi atas
  4. Gusi bawah
  5. Langit bawah
  6. Langit atas
  7. Lidah
Gigi datang setelah manusia lahir ke Alam Dunia

14. QODIRUN [Dzat Yang Maha Berkuasa] = “Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.“ [QS. Al Baqarah: 20]

Sifat Allah ini berarti Allah adalah Dzat yang Maha Berkuasa. Allah tidak lemah, Ia berkuasa penuh atas seluruh makhluk dan ciptaan-Nya

15. MURIDUN [Dzat Yang Maha Berkehendak] = “Sesungguhnya Tuhanmu Maha Melaksanakan apa yang Dia kehendaki.“ [QS. Hud: 107]

Allah memiliki sifat Muridun, yaitu sebagai Dzat Yang Maha Berkehendak

16. ALIMUN [Dzat Yang Maha Mengetahui] = “Dan Allah Maha Mengetahui sesuatu.“ [QS. An Nisa’: 176]

Sifat Allah ‘Alimun, yaitu Dzat Yang Maha Mengetahui. Allah mengetahui segala hal yang telah terjadi maupun yang belum terjadi. Allah pun dapat mengetahui isi hati dan pikiran manusia.

17. HAYYUN [Dzat Yang Maha Hidup] = “Dan bertakwalah kepada Allah yang hidup kekal dan yang tidak mati.“ [QS. Al Furqon: 58].

Allah adalah Dzat Yang Hidup. Allah tidak akan pernah mati, tidak akan pernah tidur ataupun lengah.

18. SAMI’UN [Dzat Yang Maha Mendengar] = “Dan kepunyaan Allah-lah segala yang ada pada malam dan siang. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.“ [QS. Al Baqarah: 256].

Allah mendengar, tapi tidak memakai telinga

19. BASIRUN [Dzat Yang Maha Melihat] = “Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.“ [QS. Al Hujurat: 18]

Allah melihat tanpa menggunakan mata

20. MUTAKALLIMUN [Dzat Yang Maha Berbicara] = Allah berkata melalui ayat-ayat Al Quran. Sifat yang dimiliki oleh Allah merupakan Dzat Suci, tidak bisa dibandingkan dengan manusia.

Sifat yang dimiliki oleh Allah adalah merupakan bukti adanya Dzat/Nurullah, bukti sifat-Nya di diri manusia adalah, manusia melihat, maka sifat Allah adalah Maha Melihat. Manusia mendengar, maka sifat Allah adalah Maha Mendengar. Manusia berkata-kata, maka sifat Allah Maha Berkata-kata. Manusia mempunyai daya, maka sifat Allah adalah Maha Berkuasa. Manusia hidup, maka sifat Allah adalah Maha Hidup, namun sifat Allah lebih segalanya dan tidak bisa di bandingkan dengan manusia.

KENYATAAN SIFAT MAHA AGUNG, SIFAT MAHA TINGGI, SIFAT MAHA MULIA, SIFAT MAHA SUCI DI DIRI MANUSIA:

SIFAT MAHA AGUNG

Nyatanya di diri manusia adalah PERKATAAN, tujuh bumi dan tujuh langit, yang begitu besar, kebesaran alam semesta (Jagat Kabir) dan wujud manusia (Jagat Shagir) yang diucapkan oleh semua manusia, sebagian menyebutnya dengan Asma Allah, dilisankan oleh perkataan, itulah tanda ke Agungan-Nya.

SIFAT MAHA TINGGI 

Nyatanya, di diri manusia adalah PENGLIHATAN, itu adalah yang paling tinggi, buktinya langit yang tinggi tanpa tiang, bisa di kejar oleh mata, tidak ada yang menghalangi, di atas langitpun pasti terjangkau oleh awasnya mata, pasti bisa disusul ketinggiannya

SIFAT MAHA MULIA 

Nyatanya di diri manusia adalah PENDENGARAN, mulianya adalah karena mendengar, tidak pernah sakit, yang ada adalah sakit kuping/telinga, mulia seterusnya.

SIFAT MAHA SUCI 

Nyatanya di diri manusia adalah PENCIUMAN, nafasnya di hidung, paling suci, buktinya nafas tidak pernah kotor, biarpun tidak dicuci, nafas tetap bersih.

Syariat dan Hakikat, Tharekat Ma’rifat tidak bisa di pisah-pisah, harus bergulung menjadi satu, baik itu di Agama, apalagi di dalam Ilmu, sebab manusia juga sempurna bisa ada di dunia, tiada lain oleh yang empat, yaitu perkataan, penciuman, penglihatan, pendengaran, jadi jika kurang satu, tidak akan sempurna manusia hidup, apalagi jika kurang dua atau tiga.

Sifat dua puluh adalah jalan untuk tahu kepada Al-Qur’an, Agama samawi, jalan manusia ibadah kepada Allah, untuk mengamankan dunia, agar manusia di alam dhohir, hidupnya bisa rukun dengan sesama, maka jadilah ada Agama, berkat Rahman Rahim-Nya Yang Maha Agung, memuliakan kepada manusia, dari dunia sampai baathin, diunggulkan dari sesama makhluknya. Huruf yang dua puluh, pasti cukup, tidak akan kurang, malah tujuh belas, hakikatnya dengan segitu juga cukup, semua juga tahu, tiga puluh huruf pasti, itu adalah rangkapnya, bibitnya dari dua puluh.

Shalat, sehari semalam tujuh belas raka’at, tidak kurang dan tidak lebih, malah rukunnya juga tujuh belas di dalam ibadah, oleh tujuh belas juga cukup, tharekatnya nyusul yang tiga sifat. disusul oleh tharekat tujuh belas raka’at, adalah satu Dzatnya Allah, Sifatnya, Asmanya Allah Ta’ala.

Asmanya yang satu cukup kepada tujuh bumi, tujuh langit semuanya, itulah yang harus di susul, makanya Al-Qur’an hurufnya hakekatnya tujuh belas, yaitu nyusul yang tadi, Dzat, Sifat, Asma Allah ta’ala, kenyataan huruf yang tiga, yang tidak ada di Qur’an, yaitu huruf Ca yang pertama, ke dua huruf Nya dan huruf Nga yang ke tiga, itulah yang tidak ada di Qur’an tidak di tulis, itulah hakekat Dzat - Sifat - Asma Allah atau Allah - Muhammad - Adam itulah yang di cari, di susul oleh yang tadi yaitu tharekat Agama, yaitu pada waktu yang lima, sehari semalam, raka’atnya yang tujuh belas, rukun syahadatnya ada 9 = sembilan wali

100 - 1 = 99 Nama Allah, yang 1-nya adalah; " DZAT WAJIBUL WUJUD, Dzat yang wajib adanya. Sifat 20 adalah merupakan rangkuman dari sifat-sifat Allah yang lain, yang ada di dalam Al-Qur'an

“BARANG SIAPA MENGENAL DIRINYA, MAKA IA AKAN MENGENAL TUHAN-NYA”

Anda sedang membaca Mengenal Diri Melalui Sifat 20. Untuk mengikuti posting terbaru silahkan Liked Facebook Fanpage: Mistikus Cinta | Follow Twitter: @Sufipedia | Official LINE of Sufipedia Nusantara, LINE ID: @sufipedia | Telegram Group: @sufipedia. Terima kasih.

Post a Comment

 
Top