Sufipedia


Membagi Martabat menjadi lima tingkat:

1. Tingkat Uluhiyyah; merupakan esensi zat Tuhan sendiri yang menjadi sumber dari al-wujud, al-‘adam, al-qadim, al-hadis serta al-Haqq dan al-khalq.

2. Tingkat Ahadiyyah: dibagi menjadi tiga, yaitu :

a. tanazulat (proses penurunan) Ahadiyyah , zat Tuhan yang Mutlak menyadari keesaan diri-Nya.
b. tanazulat Huwiyyah merupakan kesadaran zat Tuhan terhadap keesaan-Nya yang ghaib.
c. tanazulat Inniyyah; kesadaran tersebut sudah berupa ide yang berada pada ke-hudhuran.

3. Tingkat Wahidiyyah merupakan tajalli zat Tuhan pada sifat.

4. Tingkat Rahmaniyyah merupakan tajalli Tuhan pada realitas asma dan sifat, dari bentuk potensial menjadi bentuk aktual.

5. Tingkat Rububiyyah nama dan sifat Tuhan yang terkait dengan makhluk merealisasikan dirinya secara rinci pada elemen-elemen alam semesta.

Manusia bisa mencontoh sifat-sifat Tuhan, menjadi mirip dengan Tuhan, “memasuki” Tuhan dengan sepenuhnya, namun ia tidak akan sampai kepada mengidentifikasikan bahwa dirinya adalah sepenuhnya Tuhan.

Manusia adalah wujud yang utuh dan merupakan manifestasi ilahi dari alam semesta. Manusia adalah citra Tuhan dan dalam kenyataanya ia adalah mata rantai yang menyatukan Tuhan dengan alam semesta ini. Manusia adalah tujuan utama yang berada dibalik penciptaan alam, karena tiada ciptaan lain yang mempunyai sifat-sifat yang diperlukan untuk menjadi cermin sifat keilahian yang sesungguhnya. Nabi Muhammad adalah contoh yang luhur tentang insan kamil.

Manusia adalah citra Tuhan. Ia adalah cermin yang merefleksikan nama dan sifat-Nya. Ia adalah mikrokosmos yang didalamnya yang mutlak menjadi kesadaran tentang diri sendiri dalam keseluruhan bagian yang beraneka ragam. Manusia akan mendekati derajat kesempurnaan itu dengan latihan rohani dan pendakian mistis. Sehingga dapat dipahami betapa manusia dan Tuhan memiliki kedekatan yang tak terpisahkan, bahkan seorang hamba dapat saja menjadi citra Tuhan atau cermin Tuhan, ketika ia berkata ataupun berbuat sesuai dengan perkataan dan kehendak Tuhan.

Anda sedang membaca Nur Muhammad Menurut Abdul al-Karim ibn Ibrahim al-Jilli. Untuk mengikuti posting terbaru silahkan Liked Facebook Fanpage: Mistikus Cinta | Follow Twitter: @Sufipedia | Official LINE of Sufipedia Nusantara, LINE ID: @sufipedia | Telegram Group: @sufipedia. Terima kasih.

Post a Comment

 
Top