Sufipedia

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

Apabila kita hendak mancari/mengenal diri, maka hendaknya terlebih dahulu kita ketahui/kita kenal akan RAHASIA NUR MUHAMMAD karena rahasia Nur Muhammad itulah sebenar-benar diri.

RAHASIA NUR MUHAMMAD

Adapun yang bernama diri itu terbagi 2 (dua) bagian, pertama diri yang lahir, kedua diri yang bathin. Adapun yang lahir berasal daripada ANAMIR ADAM yakni 4 (empat) perkara:

1. API
2. ANGIN 
3. AIR 
4. BUMI

a. Adapun API itu terbit daripada yang bathin berhuruf ALIF, bernama ZAT, menjadi RAHASIA, hurufnya DARAH pada kita.

b. Adapun ANGIN itu terbit daripada yang bathin berhuruf LAM AWAL, bernama SIFAT menjadi NYAWA, hurufnya NAFAS pada kita.

c. Adapun AIR itu terbit daripada yang bathin berhuruf LAM AKHIR, bernama ASMA menjadi HATI, hurufnya MANI pada kita.

d. Adapun BUMI itu terbit daripada yang bathin berhuruf HA, bernama AF’AL menjadi KELAKUAN, hurufnya TUBUH pada kita.

Jadi jika demikian Diri kita yang lahir itu terbit daripada bayang-bayang diri kita yang bathin jua, yang berhuruf atau berkalimah ALLAH, dan jangan kiranya kita syak dan waham lagi.

Kemudian daripada itu hendaklah kita fikirkan pula diri kita yang sudah berhuruf atau berkalimat ALLAH itu, bagaimana hendaknya supaya jangan sampai tersalah sangka. Kemudian sesudah kita ketahui diri yang lahir itu, hendaknya kita ketahui pula diri yang bathin, siapa dan yang mana. Karena diri yang bathin itulah yang mengenal Tuhannya, seperti sabda Nabi Muhammad MAN ARAFA NAFSAHU FAQOD ARAFA RABBAHU; Artinya: barang siapa yang mengenal akan dirinya, maka dikenalnya akan Tuhannya.

Tetapi sebelum kita mengenal diri yang bathin, maka hendaknya lebih dahulu diri kita yang lahir itu, yang berwujud nama ALLAH itu. Kita matikan sebelum daripada mati, seperti firman Allah didalam Qur’an; ANTAL MAUTU QOBBAL MAUTU, Artinya: engkau matikan dirimu sebelum kamu mati.

Maka jikalau sudah kita matikan diri kita yang lahir, barulah nyata diri kita yang bathin, yang bernama sebenar-benarnya diri.

Adapun mematikan diri yang berhuruf atau berkalimah nama Allah itu demikian caranya: pertama menafikan hurufnya ALIF-LAM-LAM-HA.
  1. ALIF - ALLAHUSSAMAWATUWAL ARD.
  2. LAM - LILLAHISSAMAWATIWAL ARD.
  3. LAM - LAHULMULQUSSAMAWATIWAL ARD.
  4. HA - HUWAL AWALU WAL ACHIRU WAL ZAHIRU WAL BATHINU.
Jadi kalau diri kita yang lahir itu nyata sudah FANA, artinya berkali-kali tiada mempunyai apa lagi, seperti kata lafat:

MIN ADAMIN ILLA UJUDIN WAMIN UJUDINILLA ADAMIN“ Artinya: Daripada tiada menjadi ada dan daripada ada kembali kepada tiada.

Jadi maksudnya kita ini (diri kita yang lahir ini) sudah fana kepada diri yang bathin, artinya yang lahir ini sehelai rambutpun tiada mempunyai apa lagi, dan tiada boleh dikatakan ada lagi. Pada ILMUnya hanya diri yang bathin jua, ialah yang bernama MUHAMMAD. Seperti firman Allah didalam hadist qudsyi: KHALAQAL ASYIA LIAZLIKA WAHA OTUHALILAZLI, Artinya: kujadikan engkau karenaku ya Muhammad.

Jadi jelaslah bahwa yang bernama MUHAMMAD itulah sebenar-benarnya diri yang bathin, dan hendaknya janganlah kita syak dan waham lagi, karena MUHAMMAD itulah yang ada mempunyai:

TUBUH, HATI, NYAWA, dan RAHASIA.
  1. Adapun TUBUH MUHAMMAD itulah yang bernama ALAM IHSAN yakni SYARIAT.
  2. Adapun HATI MUHAMMAD itulah yang bernama ALAM JITSIH yakni THARIKAT.
  3. Adapun NYAWA MUHAMMAD itulah yang bernama ALAM MITSAL yakni HAKIKAT.
  4. Adapun RAHASIA MUHAMMAD itulah yang bernama ALAM ROH yakni MA’RIFAT.
Maka sesudah demikian itu hendaklah MUHAMMAD itu pula yang mengenal TUHANNYA, tetapi belum lagi MUHAMMAD bisa mengenal Tuhannya, jika belum lagi fana TUBUHNYA, HATINYA, NYAWANYA, RAHASIANYA, ZATNYA, SIFATNYA, ASMANYA dan AF’ALNYA. Seperti firman Allah didalam Qur’an: 

QUL HUALLAHU AHAD, Artinya: Katakan olehmu Ya Muhammad,bahwasanya Allah Ta’ala ESA. ESA pada ZATNYA, ESA pada SIFATNYA, ESA pada ASMANYA, dan ESA pada AF’ALNYA.

Dan lagi firman Allah didalam Al Qur’an:

WATAWAKKAL ALAL HAYYIL LAZILA YAMUTU“ Artinya: serahkan dirimu Ya Muhammad kepada Tuhanmu yang hidup dan tiada mati.

Maka keterangan MUHAMMAD meng-Esakan dan menyerahkan diri kepada Allah seperti tersebut dibawah ini, dan jangan syak dan waham lagi pada perkataan ini.
  1. Adapun BATHIN MUHAMMAD, ZAT kepada Allah, RAHASIA kepada hamba.
  2. Adapun AWAL MUHAMMAD, SIFAT kepada Allah, NYAWA kepada hamba.
  3. Adapun AKHIR MUHAMMAD, ASMA kepada Allah, HATI kepada hamba.
  4. Adapun DZAHIR MUHAMMAD, AF’AL kepada Allah, TUBUH kepada hamba.
Adapun yang disebut / dinamakan HAMBA itu tiada lain ialah MUHAMMAD jua dan jangan disangka bahwa yang disebut HAMBA itu KITA, itu salah karena kita ini pada ilmunya sudah tidak ada lagi.

Jadi RAHASIA, NYAWA, HATI dan TUBUH MUHAMMAD itupun tiada jua karena tubuh fana kepada Zatnya, Sifatnya, Asmanya, Af’alnya, yakni Allah jua, seperti firman Allah “HUWAL AWWALU WAL AKHIRU, WAL DZAHIRU WAL BATHINU“ Artinya: ia jua Tuhan yang awal, tiada baginya berpermulaan dan ia jua akhir yang tiada baginya berkesudahan dan ia jua yang Dzahir serta ia jua yang Bathin.

Jadi Muhammad itu hanya sekedar nama jua. Adapun keterangan yang lebih jelas lagi yang lebih menentukan bahwasanya itu tiada mempunyai sesuatu melainkan hanya sekedar nama jua, adalah seperti tersebut dibawah ini:
  1. Seperti yang dikatakan RAHASIA MUHAMMAD itu, yang sebenar-benarnya tiada lain daripada kezahiran Lima SIFAT ALLAH jua yang dinamakan kalimah “Qala” yaitu; WUJUD, QIDAM, BAQA, MUKHALAFATUHULILHAWADDIS, QIYAMUHU TA’ALA BINAFSIH.
  2. Adapun yang dikatakan NYAWA MUHAMMAD itu, yang sebenar-benarnya tiada lain daripada kezahiran Enam SIFAT ALLAH jua yang dinamakan kalimah “ILAHA“ yaitu; SAMA, BASAR, QALAM, SA’MIUN, BASHIRUN, MUTAKALLIMUN.
  3. Adapun yang dikatakan HATI MUHAMMAD itu,yang sebenar-benarnya tiada lain daripada kezahiran Empat SIFAT ALLAH jua yang dinamakan kalimah “ILLA“ yaitu; QODRAT, IRADAT, ILMU, HAYAT.
  4. Adapun yang dikatakan TUBUH MUHAMMAD itu yang sebenar-benarnya tiada lain daripada kezahiran Lima SIFAT ALLAH jua yang dinamakan kalimah “ALLAH“ yaitu; QADIRUN, MURIDUN, ALIMUN, RAJAUN, WAHDANIAT.
Jadi yang bernama MUHAMMAD itu sebenar-benarnya adalah SIFAT TUHAN jua, yaitu SIFAT KEBESARAN, KEELOKAN dan KESEMPURNAAN, ialah yang dinamakan KALIMAH TAUHID yang mulia yaitu LAILAHAILLALLAH artinya: tiada yang terdahulu hai MUHAMMAD dan tiada yang terkemudian Ya MUHAMMAD.

Kemudian daripada itu hendaklah diketahui pula maksudnya Kalimah yang mulia itu supaya jangan syak dan waham lagi pada pengetahuan TAUHID dan MA’RIFAT.

Adapun kalimah LA ILAHA ILLA ALLAH itu terbagi dua bagian:

Pertama, LA ILAHA. Dan yang Kedua, ILLA ALLAH. Adapun LA ILAHA ialah SIFAT KEKAYAAN yang tiada ada kekurangannya, yaitu Allah Ta’ala. Dan ILLA ALLAH itu ialah SIFAT KEKURANGAN yang masih berkehendak,yaitu Muhammad.

Kemudian hendaklah diketahui pula yang bernama MUHAMMAD itu apa oleh ALLAH TA’ALA dan yang bernama ALLAH TA’ALA itu apa oleh MUHAMMAD supaya benar-benar bisa menjadi TAUHID pada Kalimah yang mulia ini. Adapun MUHAMMAD ITU HAMBA. Artinya, Rahasianya oleh Allah Ta’ala, karena Allah itu adalah nama bagi ZAT yang wajibul wujud dan mutlak, yakni BATHIN MUHAMMAD.

TA’ALA itu adalah nama bagi SIFAT, yakni DZAHIR MUHAMMAD. Jadi DZAHIR dan BATHIN MUHAMMAD itulah yang bernama ALLAH TA’ALA. Dengan demikian maka patutlah kalimah yang mulia itu dinamakan Kalimah Tauhid artinya Kalimah ESA. Yaitu:

LAILAHAILLALLAH

Maka pada kalimah yang mulia inilah pertemuan HAMBA dengan TUHANNYA. Lagi pula kalimah yang mulia ini diumpamakan sebesar-besar gedung perhimpunan segala RAHASIA, segala ROH, segala NYAWA, segala ILMU dan segala ISINYA, segala ISLAM, segala IMAN, segala TAUHID dan MA’RIFAT, yang kesemuanya terhimpun didalam kalimah yang mulia ini.

Dan hendaklah diamalkan supaya mahir, seperti: 

JAUMUN RASA JAUMUL MESRA. Artinya, Mesrakan pada siang dan malam yang terutama sekali didalam atau diwaktu sembahyang Lima Waktu. Karena diwaktu itulah Tuhan menurunkan petunjuk yang dinamakan WAHYU (bagi para Nabi-Nabi dan Rasul-Rasulnya atau yang dinamakan ILHAM untuk manusia biasa seperti kita). Dan jikalau kita sudah faham betul maksud bicaranya tentulah kita gemar dan rajin mengamalkannya Kalimah yang mulia ini. Karena sudah tahu betul dan terang betul bahwasanya kita ini tiada ada mempunyai sesuatu.

Jadi tiada boleh lagi dikatakan yang berkata-kata ini kita, karena apabila dikatakan yang berkata-kata ini adalah kita, berarti Tuhan fana kepada kita bukan kita fana kepada Tuhan. Maka yang demikian ini mustahil dan yang sebenar-benarnya kita jua yang fana kepada Tuhan (ALLAH).

Rupa niat Kanitah itu ialah niat dalam hati serta selamanya daripada takbirnya menyusun lafadz serta maknanya dan niat Tawasijah itu membagikan niat itu daripada suku-suku takbir daripada asal hingga Allahu akbar. Itulah niat yang batal keduanya.

Adapun niat Arifiyah itu ialah bahwa menghadirkan. Ialah yang pertama-tama sembahyang dengan Qasat, tha’arat, tha’ain. Terdahulu sedikit daripada Takbir, maka dimulai niat itu daripada Allahu dan disudahi dengan Akbar. Jangan terdahulu dan terkemudian.

Adapun niat Kamaliyah itu ialah masuk ia pada niat Arifiyah jua, karena niat Arifiyah itu 3 (tiga) derajat didalamnya ialah:
  1. DUNI, artinya segala yang wajib pada syara’ dikerjakan memadai akan dia.
  2. WASTA’I, artinya yang sempurna.
  3. QAAWI, artinya terlebih sempurna daripada yang amat sempurna, yaitu niat Nabi-Nabi dan Wali-Wali yang memakainya. (Selanjutnya - Asal Diri / Kejadian Diri)

File pdf:

https://googledrive.com/host/0B6BIN5otUZK0Tlc2QkZISVlFckU  
https://googledrive.com/host/0B6BIN5otUZK0LXVJSDMyYlZKdGs

Anda sedang membaca Rahasia Nur Muhammad (Kitab Barencong). Untuk mengikuti posting terbaru silahkan Liked Facebook Fanpage: Mistikus Cinta | Follow Twitter: @Sufipedia | Official LINE of Sufipedia Nusantara, LINE ID: @sufipedia | Telegram Group: @sufipedia. Terima kasih.

Post a Comment

 
Top