Sufipedia

Tafsir Sufistik Surah Yasin Ayat 68
Mawlana Syaikh Hisham Kabbani ar-Rabbani qs

Bismillahirrahmanirrahim

Tafsir Sufistik QS 36:68

Suatu ketika salah seorang awliya, Sidi al-Rawwas qs menjadi demikian jenuhnya atas pelecehan dan penghinaan dari kaumnya. Ia berjalan dan mereka bahkan tidak lagi membalas salamnya, ia pun meninggalkan kotanya dan berkelana. Ia berhenti di Makam Sidi Ahmad al-Sayyad ra. Di sana ia shalat dan beristirahat.

Kemudian ia melihat seseorang datang dan ilham datang ke kalbunya bahwa orang tersebut adalah Nabi Khidr as. Beliau as shalat dua raka'at dan kemudian duduk di samping Al-Rawwas ra. Al-Rawwas ra menceritakan kesulitannya. Nabi Khidir as menjawab dengan mengutip suatu ayat Qu'ran,

“Wa man nu'ammir-hu nunakkis-hu fi-l khalqi”
“Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan mereka kepada kejadian(nya). (membuatnya kembali menjadi lemah setelah kuat)" (QS. 36:68).

Sidi Al-Rawwas qs berkata, “Aku memahami makna tersembunyinya dalam lubuk batinku yang terdalam.” Bermakna: Siapa pun yang telah diangkat mencapai kedudukan-kedudukan yang tinggi secara batiniah, maka akan mendapatkan perlakuan buruk secara lahiriah.

Mereka yang memiliki suatu rahasia spiritual dan menempatkan diri mereka dalam pandangan orang-orang yang memiliki Wilayah (Kewalian) akan dipenuhi dengan kekuatan spiritual yang dengannya mereka mengalirkan rahmat dan kasih-sayang ke seluruh benda dan makhluk termasuk malaikat, jinn, batu-batuan, hewan, dan tanaman.

Demikian pula ketika murid dari seorang Wali diundang ke suatu tempat mana pun ia pun harus pergi untuk memenuhi kewajibannya terhadap makhluk-makhluk yang mendiami tempat itu, mulai dari malaikat hingga batu-batu jalanan, karena mereka pun memiliki hak untuk mendapat bagian dari cahayanya. Dan ini semua datang dari Nabi saw karena beliau adalah Rahmatan Lil Alamin, Kasih-Sayang bagi seluruh alam dan tidak hanya bagi manusia dan jinn.

Suatu saat seorang laki-laki keluar dari khalwat-nya, saat mana Awliya menyimpan cahaya-cahaya dalam kalbunya. Ketika ia keluar, pandangannya jatuh pada seekor kuda. Karena pandangan itu pula, kuda tersebut menjadi sultan dari para kuda zaman itu. Kapan pun sang Sultan Kuda itu berdiri, mereka para kuda lainnya pun berdiri. Ke mana pun ia melangkahkan kakinya, mereka mengikutinya.

Bagaimana pula dengan manusia yang haus akan curahan-curahan spiritual? Semoga Allah swt mencurahkan shalawat serta salam atas Nabi saw dan atas keluarganya, sahabatnya dan pengikut-pengikutnya.

Wa min Allah at Tawfiq

Anda sedang membaca Tafsir Surat Yaasin Ayat 68. Untuk mengikuti posting terbaru silahkan Liked Facebook Fanpage: Mistikus Cinta | Follow Twitter: @Sufipedia | Official LINE of Sufipedia Nusantara, LINE ID: @sufipedia | Telegram Group: @sufipedia. Terima kasih.

Post a Comment

 
Top