Sufipedia


1. Adapun perlambang “Thasin Al Asrar fi al Tauhid : Kesadaran-Diri dalam Tauhid” adalah demikian ini:


[‘Alif’ ( ا ) panjang – Penyatuan; Tauhid. ‘Hamzah’ ( ء) – kesadaran-diri, beberapa di satu sisi dan beberapa lagi di sisi lainnya. ‘Ain’ ( ع) di awal dan akhir – Zat.]

Kesadaran-diri itu berproses dari-Nya, kembali pada-Nya, dan beredar di dalam-Nya. Kendati demikian, secara nalar semuanya tidak penting (bagi-Nya).

2. Subyek sejatinya Tauhid berbolak-balik melintasi keragaman subyek, sebab Dia tidak tercakup dalam subyek atau dalam obyek ataupun dalam kata-ganti lainnya. Akhiran kata-bendanya juga tidak terliput pada Obyeknya. Kata-kepunyaan ‘ha’-nya ( ح) adalah milik ‘Ah’-nya ( حا ), dan bukan ‘Ha’ ( ه) lain, yang tidak membuat kita bertauhid.

3. Bila kukatakan tentang ‘Ha’ ( ه) ini ‘Wa-Ha’ (وه ), yang lainnya akan berseru padaku, “Malangnya!”

4. Itulah julukan, sebutan dan kiasan demonstrative yang menembus (Tauhid) ini, sehingga kita dapat ‘melihat’ Allah melalui keadaan (hal) senyatanya.

5. Segenap pribadi insan seperti “sebuah bangunan yang tersusun rapi”. Inilah ketentuannya, dan Penyatuan Allah (Tauhid) tidak terkecuali bagi ketentuan ini. Kendati demikian, setiap ketentuan adalah batasan, dan sifat batasan hanya berlaku bagi obyek-terbatas. Sebaliknya, obyek Tauhid tidak mengakui pembatasan tersebut.

6. Kebenaran [al-Haqq] itu sendiri tidak lain dari singgasana Allah, bukannya Zat Allah.

7. Dikatakan, Tauhid tidak mencapai (Kebenaran) itu, karena peran kebahasaan dari suatu istilah dan pengertiannya yang pas, tidak berpadu satu sama lain, ketika menyangkut sebuah imbuhan. Kalau begitu, bagaimana dapat semua berpadu, ketika menyangkut Allah?

8. Kalau kukatakan: “Tauhid terpancar dari-Nya,” maka aku menggandakan Zat Ilahi, dan membuat pancaran dari Dirinya sendiri, ada bersama dengan-Nya, ‘ada’ ataupun ‘tiada’ Zatnya secara bersamaan.

9. Andai kukatakan bahwa ‘ada’-nya tersembunyi ‘di dalam’ Allah, dan Dia mengejawantahkannya. Bagaimana itu tersembunyinya, sedangkan di (Allah) sana tidak ada ‘bagaimana’ atau ‘apa’ ataupun ‘ini-itu’, dan di sana juga tidak ada tempat [‘dimana’] yang memuat Dia.

10. Sebab, ‘di dalam ini-itu’ adalah ciptaan Allah, sebagaimana adanya ‘di mana’.

11. Adapun yang mendukung suatu aksi (aksiden) bukannya tanpa substansi. Dan, yang tidak terpisahkan dari jasad bukannya tanpa unsur jasad. Juga yang tidak terpisahkan dari ruh bukannya tanpa unsur ruh. Karena itu, Tauhid merupakan sebuah perpaduan (spiritual).

12. Kita kembali dulu, di luar semua itu, ke pokok masalah [Obyek kita] dan memisahkannya dari kalimat tambahan, pemaduan, penghitungan, peleburan dan penyifatan.

13. Lingkaran pertama [pada diagram berikutnya] terdiri atas tindakan Alloh, yang kedua terdiri atas tiruannya (tindakan). Dan, inilah dua lingkaran (makhluk) ciptaan.

14. Sedangkan (lingkaran) titik-pusat melambangkan Tauhid, tetapi bukan (sebenarnya) Tauhid. Kalau tidak, bagaimana mungkin itu terpisahkan dari lingkaran? (Selanjutnya - Thasin Al Tanzih (Kesucian, Keterbebasan) (10))


Diterjemahkan oleh AM Santrie dari “THAWASIN” edisi Arab, terbitan Beirut dan edisi Inggris, terjemahan Aisha Abd Arhman At-Tarjumana

Anda sedang membaca Thasin Al Asrar fi al Tauhid (Kesadaran Diri Dalam Tauhid). Untuk mengikuti posting terbaru silahkan Liked Facebook Fanpage: Mistikus Cinta | Follow Twitter: @Sufipedia | Official LINE of Sufipedia Nusantara, LINE ID: @sufipedia | Telegram Group: @sufipedia. Terima kasih.

Post a Comment

 
Top