Sufipedia

Kitab Miftahus Shudur (Kunci Pembuka Dada) Karya agung Pangersa Guru KH. Ahmad Shohibul Wafa’ Tajul Arifin (Abah Anom) - Dzikir Nafi dan Isbat, dengan lain perkataan kalimat dzikir yang tidak mengakui semua Tuhan dan menetapkan kepada ALLAH yang satu tunggal, adalah dzikir yang paling besar manfaatnya dan paling sangat berbekas bagi manusia, yaitu kalimat: LAA ILAAHA ILALLAH, artinya tiada Tuhan selain ALLAH.

Tuhan berkata dalam firmanNYA:
"Ketahuilah tentang Tuhan itu, bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah".

Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Yang paling utama apa yang aku ucapkan dan apa yang di ucapkan oleh Nabi-Nabi sebelumku, yaitu: "LAA ILAAHA ILLALLAH"

Kemudian Nabi berkata pula dalam hadist:
"Barangsiapa yang mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH dengan ikhlas pasti masuk syurga"

Dalam hadist lain Junjungan kita juga bersabda:
"Bagi mereka yang mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH tidak usah takut akan kejahatan dalam kubur dan kejahatan pada waktu berkumpul di Padang Makhsyar".

Kemudian Rasulullah SAW bersabda pula:
"Jika ada seseorang yang mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH secara benar, meskipun ia memiliki dosa sebesar bumi akan di ampuni Tuhan dosanya itu".

Kalimat itu dinamakan "Kalimat Thoyyibah" yang dapat mensucikan orang yang mengucapkannya,dari syirik jali sebagaimana ia dapat membersihkan jiwa orang itu dari syirik khofi dan menjadikan orang itu orang ikhlas dan murni. Begitu juga kalimat ini dapat membuka hati manusia dari hijab yang selalu menghalangi kepada kebenaran, serta membersihkan jiwa orang itu dari segala kotoran dan sifat-sifat kebinatangan.

Kalimat LAA ILAAHA ILLALLAH itu mengkaruniai kasyaf bagi yang mengucapkan untuk selama-lamanya, disamping mengkaruniai sifat sidiq, ikhlas, ilmu laduni, rahasia-rahasia yang aneh dan akan di beri musyahadah bermacam-macam alamat dari Tuhan.

Karunia yang demikian itu diperoleh, jika ucapan kalimat itu diambil dan di terima dari hati yang taqwa dan suci dari selain Allah, bukan hanya dipetik dan di dengar saja dari mulut-mulut orang awam. Kalimat Nafi-Isbat itu meskipun sepotong ayat yang pendek, tetapi maknanya sangat luas meliputi seluruh hati jika di ambil dengan butir-butir tauhid dari hati yang hidup, butir-butir itu akan tumbuh. Berlainan dengan butir-butir yang tidak mencapai dan tidak hidup.

Rasulullah bersabda:
"Bahwasanya Allah ta’ala itu mengharamkan api neraka menjilat orang yang berkata LAA ILAAHA ILLALLAH yang ditujukan hanya kepada Allah semata-mata". (HR. Bukhori-Muslim)

Dalam hadist lain:
"Orang sedang berdzikir seperti pohon yang rindang di tengah tengah pohon kering".

Nabi berkata juga:
"Orang yang ingat kepada Allah adalah laksana orang yang hidup di tengah-tengah orang yang mati".

Dalam Al Quran Tuhan befirman:
"Barang siapa yang dibuka dadanya untuk islam, maka ia berada di tengah-tengah Nur Tuhannya. Neraka "wail" disediakan bagi orang yang hasad (keras) hatinya dan tidak berdzikir kepada Allah, orang itu berada dalam kesesatan yang nyata". (QS. Az Zumar: 22)

Dalam Al Quran Tuhan berfirman:
"Dia lah Allah yang mengutus Rasul-NYA dengan petunjuk dan agama yang benar, untuk mengatasi seluruh agama itu kepada manusia, meskipun tidak disenangi oleh orang-orang yang musyrik". (QS. As Shaf: 9)

Firman Allah dalam Al Quran:
"Dialah Tuhan yang telah mengutus seorang Rasul diantara kalangan manusia yang tidak dapat membaca dan menulis". yang maksudnya:
  1. Agar menyampaikan keterangan-keterangan tanda-tanda kebesaran Allah SWT
  2. Membersihkan kotoran-kotoran hati mereka (sifat mazmunah); dan
  3. Agar pula diajarkan kepada mereka isi Kitab suci dan hikmahnya meskipun itu berada dalam keadaan sesat. (QS. Al Jum’ah: 2)
Pada tempat yang lain, Allah berfirman kepada Nabi Muhammad.SAW.:

"Katakanlah, bahwa inilah jalanku, serukan mereka kembali kepada Allah dengan hati yang terang, katakanlah ikutilah aku dan orang yang sepaham dengan aku". (QS.Yusuf: 108)

Oleh karena itu wahai saudara-saudaraku semua, sadarlah kamu dan segera kembali minta ampun kepada Tuhanmu beserta rombongan (guru-guru) kerohanianmu. Tidak ada jalan lain yang lebih pendek dan tidak ada teman yang dapat menolongmu dalam alam ini, kecuali jalan Tuhan itu. Tidaklah kita datang ke dunia yang kotor dan yang hina dina untuk tinggal selama-lamanya.

Kita datang kedunia tidak hanya untuk makan dan minum dan untuk melepaskan hawa nafsu yang cemar, sedang Nabimu menanti kedatanganmu ke alam Baqa’ dengan muram durja.

Nabi SAW bersabda:
"Duka cita karena umatku yang akhir jaman akan terpecah-pecah menjadi 73 golongan".

Dari Abdullah bin Zaid, dari Abdullah bin Umar diterangkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
"Bani Israil akan pecah dalam 71 golongan, nasrani akan pecah dalam 72 golongan dan umatku akan pecah 73 golongan. Semuanya masuk kedalam neraka kecuali 1 golongan. Orang bertanya: "Siapakah golongan itu? Rasulullah SAW menjawab: "ialah yang seperjalanan dengan daku dan sahabatku".

Allah berfirman:
"Ada diantara umat yang kami jadikan itu mendapat petunjuk sepanjang yang haq dan oleh karena itu mereka berbuat adil". (QS. Al A’raf: 181)

Tuhan berfirman pula:
"Aku tidak jadikan jin dan manusia itu, kecuali untuk menyembah daku". (QS. Az Zuhriyat: 56)

Maksud ayat ini, manusia dan jin dijadikan agar mereka menyembah Tuhan. Penyembahan ini dinamakan ma’rifat dan ia dapat diperoleh hanya dengan terbuka hijab nafsunya dari cermin hati dengan segala kesuciannya.

Maka orang yang dikarunia demikan itu melihat keindahan perbendaharaan yang tersembunyi dalam rahasia lubuk hatinya seperti yang pernah difirmankan Allah SWT, dalam sebuah hadist Qudsi: 

"AKU adalah perbendaharaan yang tersembunyi, AKU ingin di ketahui. AKU jadikan makhluk supaya AKU diketahui dan dikenal".

Dari Hadist jelas bahwa Allah menjadikan manusia untuk kepentingan makrifat, yaitu mengenalNYA dengan sebaik baiknya.

Makrifat ada 2 macam:
  1. Ma’rifat sifat Allah
  2. Ma’rifat zat Allah
Ma’rifat sifat merupakan keutamaan badan dalam 2 negara, yaitu dunia dan akhirat. Sedangkan makrifat Dzat merupakan keutamaan ruh yang suci di akhirat.

Tuhan berfirman:
"Bahwa manusia-manusia itu di hari kemudian akan melihat Tuhan". (QS. Al Qiyamah: 23)

Oleh karena itu, Nabi Muhammad SAW selalu memperingatkan (mentalqinkan) kalimat Thoyibah kepada sahabat-sahabatnya guna:
  1. Membersihkan hatinya;
  2. Membersihkan jiwanya;
  3. Menyatakan hubungan dengan Tuhannya;
  4. Mencapai kebahagian yang suci.
Sebuah hadist dari Ali bin Tholib K.W. berbunyi:
"Bahwa ia pernah mendengar Rasulullah SAW menceritakan bahwa Jibril mengatkan demikian: "Belum pernah aku turun membawa kalimat yang lebih agung dari kalimat LAA ILAAHA ILLALLAH, karena dengan kalimat itu tegaklah langit dan bumi, gunung dan tumbuh-tumbuhan, laut dan daratan. Itulah kalimat ikhlas, kalimat islam, kalimat kemenangan, kalimat kedekatan dengan Tuhan, kalimat taqwa kalimah kemenangan, dan kalimat angkasa perkasa".

Dalam hadist yang lain disebut:
"Itulah kalimat Tauhid, kalimat ikhlas, kalimat taqwa, kalimat thoyibah, kalimat da’watul haq, kalimat urwatul wusqo, dan itulah kalimat tsama' 'ul jannah (harga dan pembeli surga)".

Bersabda pula Nabi Muhammad SAW:
"Dan Perbaruilah iman kamu. Sahabat bertanya: "Bagaimana kami memperbarui iman kami yaa Rasulullah?" jawab Nabi: "dengan memperbanyak ucapan LAA ILAAHA ILLALLAH".

Dan Nabi SAW bersabda pula:
"Barang siapa memperbanyak dzikrullah, ia terlepas dari munafiq".

Dan sabdanya pula:
"Dzikrullah itu adalah ciri iman, kemerdekaan, membebaskan diri dari munafiq, benteng pertahanan dari serangan syetan dan tameng dari panasnya api neraka".

Tuhan berfirman:
"Tidaklah kamu melihat Allah mengadakan kalimat Thoyibah seperti menegakkan pohon thoyibah yang urat akarnya teguh dan cabangnya berkembang di langit, diberi (didatangi) makanan tiap waktu dengan izin Tuhannya. Demikian contoh yang di berikan Allah kepada manusia agar mereka ingat". (QS. Ibrahim: 24)

Penegakan ini Tuhan karuniakan kedalam hati hamba-hamba yang dicintai-NYA dengan firman:
"Ditetapkan Allah mereka yang beriman dengan kata-kata yang tetap dan tegak dalam kehidupan akhirat. Allah menyesatkan orang-orang yang dzalim dan ia berbuat sekehendaknya". (QS. Ibrahim: 27)

Dengan fitrah ini hendaknya dijelaskan bahwa Allah menegakkan tauhid yang urat tunggangnya terhujam di bumi yang ketujuh dan cabang cabangnya di langit arsy, kemudian ditaburkan bibit tauhid diatas tanah persemaian hati agar tumbuh dari dalam pohon tauhid yang urat tunggangnya di dalam angkasa rahasia dan berbuat tauhid untuk keridhoan Tuhan, sebagai tujuan amal sholeh, maka hiduplah hakikat insani yang dinamakan tiflul ma’ani (pengertian pengertian yang pelik).

Maka firman Tuhan:
"Kepadanya naik gubahan-gubahan kata yang indah, yakni LAA ILAAHA ILLALLAH, dan kepadanya terangkat amal yang sholeh". (QS. Al Fathir: 10)

Dalam firman yang lain pula:
"Barang siapa yang ingin berjumpa dengan Tuhannya hendaklah ia beramal sholeh dan tidak menyekutukan Tuhannya itu dengan apapun juga dalam ibadat penyembahannya". (QS. Al Kahfi: 110) (Selanjutnya - Dzikir Jahar (Suara Keras))

Anda sedang membaca Kitab Miftahus Shudur: Inti Nafi Dan Isbat. Untuk mengikuti posting terbaru silahkan Liked Facebook Fanpage: Mistikus Cinta | Follow Twitter: @Sufipedia | Official LINE of Sufipedia Nusantara, LINE ID: @sufipedia | Telegram Group: @sufipedia. Terima kasih.

Post a Comment

 
Top