Sufipedia

Dzikir
Dalam melaksanakan syari’ah-syari’ah Islam haruslah berdasarkan tata cara yang telah digariskan dalam agama dan dilakukan hanya karena penghambaan diri kepada Allah, karena kecintaan kepada Allah dan karena ingin berjumpa dengan-Nya. Perjalanan menuju kepada Allah itulah yang mereka maksud dengan thariqat, atau thariqat tasawuf. Perjalanan ini sudah mulai bersifat batiniah, yaitu amalan lahir yang disertai amalan batin.

Menurut keyakinan sufi, orang tidak akan sampai kepada hakikat tujuan ibadah sebelum menempuh jalan kearah itu. Jalan itu dinamakan thariqoh, dalam bahasa kita ucapkan tariqot, atau suluk, dan orang yang melakukan ahli thariqoh atau salik.

Menurut Harun Nasution, thariqot berasal dari kata thariqoh, yang artinya jalan yang harus ditempuh oleh seorang calon sufi agar ia berada sedekat mungkin dengan Allah.

Karena banyaknya cabang tarekat yang timbul dari tiap-tiap thariqat induk, sulit bagi kita untuk menelusuri sejarah perkembangan thariqat itu secara sistematis dan konsepsional. Akan tetapi, yang jelas, sesuai dengan penjelasan Harun Nasution, cabang-cabang itu muncul sebagai akibat tersebarnya alumni suatu thariqat yang mendapat ijazah thariqat dari gurunya untuk membuka perguruan baru sebagai perluasan dari ilmu yang diperolehnya. Alumni tadi meninggalkan ribat gurunya dan membuka ribat baru didaerah lain. Dengan cara ini, dari satu ribat induk kemudian timbul ribat cabang, dari ribat cabang tumbuh ribat ranting, dan seterusnya sampai thariqat itu berkembang ke berbagai dunia Islam. Namun ribat-ribat tersebut tetap mempunyai ikatan kerohanian, ketaatan, dan amalan-amalan yang sama dengan syaikhnya yang pertama.

Tujuan Thariqat
Pada dasarnya thariqat memiliki tiga tujuan yakni:
  • Tujuan pertama adalah menjadi al-muthahharuun, suatu tingkat kesucian bayi. Pada tingkatan ini, barulah seseorang salik (pejalan thariqat) dapat ‘menyentuh’ dimensi batin Al-Quran yang bahkan berdimensi hingga tujuh lapis. Tingkatan ini disebut juga sebagai rahmat pertama.
  • Tujuan kedua adalah bertemu diri, atau ma‘rifat. Pada tingkatan inilah seseorang baru dapat mengenal diri otentiknya dan mengetahui misi hidupnya di muka bumi. Pada tingkatan inilah seseorang digelari sebagai syuhada (bisa juga dengan cara mati syahid). Dan di tingkatan inilah seseorang baru dikatakan mengerti hakikat syahadat (bagaimana bisa tingkatan seperti ini bisa dicapai hanya dalam satu kali training?). Pada tingkatan inilah Ruh Al-Quds berbicara di balik jiwa, seperti melihat matahari di balik film yang memfilter cahayanya yang dapat membutakan mata. Ruh Al-Quds mengingatkan kembali jiwa dengan perjanjian terhadap Tuhan (QS Al-A’raaf [7]: 172) dan penetapan qadha dan qadarnya. 16 Tingkatan ini disebut juga sebagai rahmat kedua. Tugas seorang mursyid hanya sampai di tingkatan ini, karena untuk berikutnya yang akan menjadi mursyid adalah Ruh Al-Quds, yang akan menjadi penasehat dan pembimbing dalam menjalankan misi hidupnya.
  • Tujuan ketiga adalah menjadi hamba-Nya yang didekatkan (qarrib). Fungsi mursyid adalah membimbing saliknya hingga sampai pada tujuan kedua dari thariqah, yaitu menjadi syuhada. Setelah itu, yang akan berperan sebagai mursyid adalah Ruhul Quds-nya sendiri untuk ber-dharma sebagai shiddiqiin.

Anda sedang membaca Tariqat Adalah Perjalanan Menuju Kepada Allah Bagi Sufi. Untuk mengikuti posting terbaru silahkan Liked Facebook Fanpage: Mistikus Cinta | Follow Twitter: @Sufipedia | Terima kasih.

Post a Comment

 
Top