Sufipedia


1. Inilah lingkaran qiyas (alegori) Tauhid, dan inilah sosok perlambangnya:

2. Inilah kesemestaan yang dapat memperlihatkan kepada kita mengenai fatwa dan hukum (Tauhid), juga buat para pakar, ahli ‘ibadah dan ahli madzhab, ahli fiqih dan ahli kalam.

3. Lingkaran pertama adalah ‘perasaan’ harfiah, yang kedua adalah ‘rasa’ batin, dan yang ketiga adalah kias ‘ruh’ (yang tidak terkiaskan).

4. Itulah keseluruhan segala sesuatu, yang dicipta ataupun digubah, yang dipakai, ditapis, disaring, disangkal, yang dibuai ataupun dibius.

5. Ia beredar dalam kata-ganti ‘kami’ subyek-subyek pribadi. Seperti sebatang panah, ia menembusi sekujur mereka, melengkapinya, mengejutkannya, dan membalikkannya. Ia juga menakjubkan mereka, meneranginya, dan ia mempesonakannya saat ‘menemui’ mereka.

6. Itulah keseluruhan substansi dan kualitas makhluk. Adapun Allah tidak berhubungan dengan perumpamaan ini.

7. Kalau kukatakan: “Ia adalah Dia,” pernyataan itu bukanlah (refleksi) Tauhid.

8. Bila kukatakan bahwa Tauhid Allah itu shahih, orang akan menjawabku – “Tidak sangsi lagi!’

9. Andai kukatakan “tanpa waktu,” orang akan bertanya: “Adakah maknanya Tauhid itu tamsil?” Padahal, tidak ada perbandingan saat menggambarkan Allah. Tauhidmu itu tidak ada hubungannya dengan Allah ataupun makhluk, sebab faktanya mengungkapkan bahwa sejumlah waktu itu mengintrodusir kondisi terbatas.

Dalam hal ini, kau telah menambahkan pengertian pada Tauhid, seolah (Tauhid) itu bergantung. Bagaimanapun, kebergantungan bukanlah sifat Allah. Zat-Nya itu Unik. Dan, sekaligus, baik Kebenaran maupun apa yang gaib, tidak mungkin terpancar (keluar) dari Zat-Nya Zat.

10. Jika kukatakan: “Tauhid adalah Firman itu sendiri,” ‘Firman’ adalah sifatnya Zat, bukan Zat itu sendiri.

11. Jika kukatakan: “Tauhid maknanya Allah berhasrat sebagai yang Satu,’ ‘Kehendak’ Ilahi adalah sifatnya Zat, sedangkan hasrat adalah makhluk.

12. Jika kukatakan: “Allah adalah Tauhidnya Zat yang dinyatakan pada dirinya sendiri,” maka aku membuat Zat bertauhid, yang bisa menjadi pergunjingan kita.

13. Jika kukatakan: “Tidak, ’ia’ (Tauhid) bukan Zat,” lalu dapatkah aku menyatakan bahwa Tauhid adalah makhluk?

14. Jika kukatakan: “Nama dan obyek yang dinamai itu Satu,” maka apakah pengertian (nama) yang dikandung Tauhid?

15. Jika kukatakan:” Allah adalah Allah, maka adakah aku mengatakan bahwa Allah adalah zatnya-Zat, dan ‘ia’ (Tauhid) adalah Dia?

16. Inilah “Tha-Sin” yang membicarakan tentang penyangkalan atas alasan-alasan sekunder, dan inilah lingkaran-lingkarannya, dengan ‘La’ ( لا) yang tertulis di sini sebagai sosoknya:

17. Lingkaran pertama adalah pra-Kelanggengan, yang kedua Keterangjelasannya, yang ketiga Dimensinya, dan yang keempat Berpengetahuannya.

18. Adapun Zat bukannya tanpa sifat.

19. Sang penempuh (lingkaran) pertama membuka Gerbang Pengetahuan, dan tidak bertemu. Yang kedua membuka Gerbang Penyucian, dan tidak bertemu. Yang ketiga membuka Gerbang Pemahaman, dan tidak bertemu. Yang keempat membuka Gerbang Pemaknaan, dan tidak bertemu. Tidak seorang pun ‘ketemu’ Allah dalam Zat-nya atau dalam Kehendak-Nya, tidak dalam pembicaraan, apalagi dalam Dia-nya ‘Dia’ Sejati.

20. Maha Besar Allah, yang Maha Suci, yang dengan kesucian-Nya tidaklah Dia terjangkau oleh segenap cara (thariqah) sang arif, apalagi oleh segenap intuisi orang kebatinan.

21. Inilah “Tha-Sin” tentang Nafi’-Itsbat (Penyangkalan dan Penegasan) dan inilah penjabarannya:

22. Rumus pertama membicarakan pikiran orang kebanyakan (‘amm), yang kedua pemikiran orang terpilih (khasysy). Dan, lingkaran yang menggambarkan ‘Ilmu Allah ada di antara keduanya. Adapun ‘La’ (لا) yang tertutup lingkaran adalah penyangkalan atas segenap dimensi. Dua ‘ha’-nya (ح) adalah perangkatnya, seperti pilar dua sisinya Tauhid, yang menopangnya ke atas. Di luar itu berawal ketergantungan (makhluk).

23. Pikiran orang kebanyakan tercebur ke samudera khayal, dan pemikiran orang terpilih (tercebur) ke samudera kearifan. Tetapi, dua samudera itu akan mengering, dan jalan yang mereka tandai akan terhapus. Pikiran dan pemikiran itu akan lenyap, dua pilarnya akan runtuh, dua alam maujudnya akan hancur, juga pembuktiannya serta pengetahuannya akan musnah.

24. Sedangkan di hadirat Keilahian Allah, Dia tetap ‘Ada’, mengatasi sekalian makhluk yang bergantung. Segenap puji bagi Allah, yang tidak terjangkau oleh alasan sekunder. Bukti-nya sangat kuat, dan kuasa-Nya sangat agung. Dia, Tuhan Sang Kemegahan dan Keagungan serta Kemuliaan. Maha Satu yang ‘Tiada-Terbilang’ dengan kesatuan aritmetis. Tiada patokan, hitungan, awalan atau akhiran yang menjangkau-Nya. Wujud-Nya ‘Tiada-Terbayang’ karena Dia bebas dari maujud. Dia Sendiri saja yang mengetahui Diri-Nya, Penguasa Keluasan dan Keluhuran (QS. 55: 27), Pencipta (Al-Khaliq) ruh dan jasad. (Selanjutnya - Thasin Bustan Al Ma’rifah (Taman Pengetahuan/Ma’rifat) (11))


Diterjemahkan oleh AM Santrie dari “THAWASIN” edisi Arab, terbitan Beirut dan edisi Inggris, terjemahan Aisha Abd Arhman At-Tarjumana

Anda sedang membaca Thasin al Tanzih (Kesucian, Keterbebasan). Untuk mengikuti posting terbaru silahkan Liked Facebook Fanpage: Mistikus Cinta | Follow Twitter: @Sufipedia | Official LINE of Sufipedia Nusantara, LINE ID: @sufipedia | Telegram Group: @sufipedia. Terima kasih.

Post a Comment

 
Top