Sufipedia

Kitab Al Luma' Fi Al Tashawwuf 

MUKADIMMAH: 

III. Tingkatan Para Ahli Fiqih Dan Spesialisasi Mereka Dengan Menyandang Berbagai Keilmuan

(RUJUKAN LENGKAP ILMU TASAWWUF)

Tulisan Abu Nashr Abdullah bin Ali as-Sarraj ath-Thusi yang diberi gelar Thawus al-Fuqara' (Si Burung Merak orang-orang fakir Sufi)

Syekh Abu Nashr as-Sarraj -- rahimahullah -- berkata: Ada pun tingkatan para ahli fiqih (fuqaha') sebenarnya mereka mengungguli kelompok ahli Hadis, dimana mereka sama dengan ahli Hadis dalam berbagai makna keilmuan dan ciri mereka.

Namun mereka memiliki ciri khusus dalam memahami dan penggalian (istinbat) hukum fiqih dari Hadis, memahami secara mendalam dengan analisa dan pemikiran yang sangat serius dalam menyusun dan mengurutkan hukum-hukum, batas-batas hukum ketentuan agama dan pokok-pokok ajaran syariat. Mereka jelaskan semua itu dengan sempurna. Mereka juga membedakan antara hukum pengganti (nasikh) dengan hukum yang diganti (mansukh), antara yang khusus dan yang umum dengan menggunakan al-Qur'an, Sunnah, Ijma' (konsensus para ahli fiqih) dan Qiyas (kias).

Mereka menjelaskan kepada umatnya tentang hukum agama yang ada dalam al-Qur'an dan Sunnah. Mana yang hukumnya telah diganti, namun lafalnya masih tetap tertera, dan mana yang lafalnya dihapus namun hukumnya masih berlaku. Mana lafal yang bersifat umum namun dimaksudkan khusus (khas), atau sebaliknya, lafalnya khusus namun maksudnya umum. Atau bentuk seruan (khithab)-nya umum namun maksudnya individu, atau khitabnya-nya satu namun maksudnya umum.

Mereka berbicara dengan menggunakan argumentasi rasional saat melawan orang-orang yang menentangnya, dan mengungkapkan dali-dalil yang kuat terhadap orang-orang yang sesat demi menegakkan agama ini. Mereka berpegang kuat pada nash-nash al-Qur'an, Sunnah, atau kias atas nash, atau Ijma' para ulama. Mereka berdebat dengan orang yang menentangnya dengan kaidah-kaidah dan etika dalam berdebat. Mereka sanggah pendapat lawan-lawannya dengan sanggahan yang sangat kuat dan mengembalikan kritikan yang dilontarkan musuh-musuhnya dengan kritik yang lebih mengena serta menunjukkan dimana kelemahan kritik mereka. Mereka letakkan segala sesuatu sesuai proporsinya, dan menempatkan segala ketentuan dengan batas yang proporsional. Mereka bedakan antara hal yang bisa dikiaskan, yang sejenis dan yang bisa di bandingkan. Mereka bedakan antara perintah dan larangan yang mutlak dengan yang Sunnah,antara yang dianjurkan dan yang disembunyikan dihindari. Mereka jelaskan hal-hal yang musykil dan menyelesaikan masalah yang sulit dipecahkan,serta bentangkan jalan yang lurus. Mereka berusaha menghilangkan hal-hal yang tidak jelas (syubhat), membuat alternatif-alternatif hukum yang bersifat non-prinsip (furu') dari pokok-pokok ajaran yang prinsip (ushul). Mereka jelaskan mana yang bersifat global (mujmal) dan mempermudah hal-hal yang komplek. Sementara itu, mereka mengambil hukum ketentuan agama dengan sangat hati-hati, sehingga diharapkan tidak terjadi seorang alim (cendekiawan) taklid kepada orang alim lain, orang yang punya tingkatan khusus (khas) kepada orang khas lain, dan orang awam kepada orang awam lain dalam menjalankan lahiriah dan ketentuan hukum syariat.

Melalui mereka batas-batas dan ketentuan hukum agama umat Islam terpelihara. Sebagaimana Allah Azza wa Jalla sebutkan dalam kitab-Nya:

"Hendaknya dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang pergi untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama." (QS. At-Taubah: 122)

Sentara itu Rasulullah.saw.bersabda:

"Barangsiapa dikehendaki Allah untuk menjadi baik, maka Dia akan memberikan kepahaman (faqih) tentang agama." (HR. Bukhari-Muslim, Ahmad, Ibnu Majah, Tirmidzi, al-Bazzar, ath-Thabrani).

Di kalangan para ahli fiqih juga telah lahir tulisan-tulisan dan buku-buku yang monumental. Mereka juga memiliki imam-imam panutan dimana orang-orang di zamannya sepakat untuk menjadikannya sebagai imam. Karena mereka dianggap memiliki kelebihan Ilmu, kecerdasan akal, pemahaman tajam dan amanat yang tinggi. Sementara itu untuk menjelaskan hal ini akan sangat panjang. Sedangkan orang yang berakal, dengan apa yang sedikit ini akan ia jadikan sebagai petunjuk untuk mendapatkan yang lebih banyak. Dan semoga Allah swt. memberi taufiq kepada kita. (Selanjutnya - IV. Kaum Sufi Dan Tinggkatannya, Serta Berbagai Keutamaan Dan Karakteristik Mulia Yang Khusus Bagi Mereka)

Anda sedang membaca Tingkatan Para Ahli Fiqih Dan Spesialisasi Mereka Dengan Menyandang Berbagai Keilmuan. Untuk mengikuti posting terbaru silahkan Liked Facebook Fanpage: Mistikus Cinta | Follow Twitter: @Sufipedia | Terima kasih.

Post a Comment

 
Top