Sufipedia

Hari ini kita hidup dikelilingi oleh semangat kebendaan. Malah yang lebih menyedihkan, banyak juga yang mengutamakan kebendaan sedangkan mereka dalam keadaan lemah atau tanpa kemampuan. Sifat cinta kepada kebendaan ini memang telah dihiaskan dalam diri setiap anak Adam sebagaimana firman Allah swt dalam Surah Ali 'Imran ayat 14, "Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan pada apa-apa yang diingini iaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternakan dan sawah ladang"

Hidup berhutang demi mengecap kemewahan telah menarik mereka ke jurang kemiskinan. Ilmu akhlak atau Tasawuf tidak diperbesarkan berbanding dengan ilmu Tauhid dan Fikh. Padahal, Rasulullah saw telah mengajarkan ilmu akhlak ini terlebih dahulu yaitu 11 tahun, sebelum para sahabat mempelajari perihal shalat (selepas peristiwa Isra' Mi'raj), puasa dan sebagainya. 

Akibatnya banyak sifat cela yang ditimbulkan dan diperbesar seolah-olah inilah yang menjadi ukuran manusia yang berjaya. 

Jadi bagaimanakah ilmu akhlak dapat menyelamatkan orang yang berkuasa? 

Orang yang berkuasa dapat diselamatkan oleh ilmu Tasawuf apabila ia merasa ada pertimbangan wajar yang perlu dilaksanakan terhadap golongan-golongan yang dikuasai. Hal ini senantiasa diperingatkan oleh Allah swt sebagaimana dalam Surah Ad-Dhuha ayat 11, "Apabila diberi nikmat Allah, maka hendaklah kau bersyukur".

Riya' dan takkabur telah menjatuhkan Iblis ke lembah yang terhina (ia adalah jin yang telah mendapat nikmat dalam bentuk penghormatan Allah swt sehingga dapat bersama para malaikat. Nama Iblis ketika itu ialah Azazil). Allah swt hendak menguji setiap hambanya, yaitu mereka harus buktikan ketaatan melalui perlakuan bukan sekedar ungkapan manis dari hati yang berbolak balik. Jadi, ketika Allah swt menyuruh para malaikat dan Iblis agar menyembah (memberi penghormatan) kepada Adam as, hanya Iblis saja yang enggan. Peristiwa ini dapat disingkap kembali pada firman Allah swt di Surah Al-Baqarah ayat 34, "Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat: Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis, Ia enggan dan takabbur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir" 

Allah swt mengetahui isi hati hambanya. Namun, dalam peristiwa Iblis yang ingkar tadi, Allah swt bertanya mengapa Iblis tidak menyembah Adam. Hal ini demi disaksikan oleh para malaikat dan Nabi Adam. Jawab Iblis ialah dia lagi mulia karena dijadikan daripada api sedang Adam hanya berasal daripada tanah. Jawapan Iblis yang congkak ini telah difirmankan dalam Surah Al-'Araf ayat 12 ketika Allah swt bertanya kepada Iblis, Apakah yang menghalangimu untuk bersujud kepada Adam di waktu Aku menyuruhmu? Iblis menjawab: Saya lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan saya dari api sedangkan dia engkau ciptakan dari tanah." 

Jawapan Iblis itu menunjukkan dia takkabur yaitu berbangga pada dirinya sendiri, dan bersifat riya' yaitu inginkan orang lain (Adam) menyanjungnya dan bukan sebaliknya. Lantaran itu, Allah swt telah mengeyahkan Iblis dari syurga. Jelaslah di sini Iblis merupakan makhluk yang tidak sadar diri yaitu tidak mensyukuri pemberian dan ciptaan Alllah swt. 

Allah swt telah menjadikan Nabi Sulaiman as sebagai manusia paling perkasa kerana dapat menguasai angin, jin, mengetahui bahasa binatang (termasuk serangga) dan memiliki kekayaan yang tiada terkira. Tetapi bagaimanakah Sulaiman as menanggapi segala keistimewaan itu? Beliau menyatakan bahwa "Ini adalah karunia daripada Tuhanku sebagai dugaan sama ada aku bersyukur atau kufur" 

Maksud kufur dalam konteks ini bukanlah menafikan Allah swt, tetapi meniadakan nikmat atau anugerah Ilahi.

Anda sedang membaca Ujian Harta Benda. Untuk mengikuti posting terbaru silahkan Liked Facebook Fanpage: Mistikus Cinta | Follow Twitter: @Sufipedia | Official LINE of Sufipedia Nusantara, LINE ID: @sufipedia | Telegram Group: @sufipedia. Terima kasih.

Post a Comment

 
Top