Sufipedia

Ajaran Wali Songo menyebutkan bahwa untuk mencapai kesempurnaan hidup harus memperhatikan empat hal, yakni tanggal syahadat, purnama syahadat, panglong syahadat dan pati syahadat.

Pertama 

Tanggal syahadat adalah mengetahui hakikat keberadaan manusia, karena dalam keadaan diri manusia itu terdapat kenyataan Allah Ta’ala. 

Sebagaimana yang telah dijabarkan dalam taraqi-tanazul, manusia pada dasarnya berasal dari Tuhan. Jasad manusia adalah Rupa Tuhan sedangkan batinnya adalah rumah-Nya.

Bentuk raga, perbuatan, nama dan sifat yang dibawa manusia adalah Wajah Tuhan. Kepala manusia adalah gambaran Singgasana Kesejahteraan Tuhan, isi kepala adalah istana-Nya. Dada manusia adalah gambaran Singgasana Kemuliaan Tuhan, isi dada adalah istana-Nya. 

Kemaluan manusia adalah gambaran Singgasana Kesucian Tuhan, isi kemaluan adalah istana-Nya.

Raga adalah penampakkan Tuhan yang paling luar, sebagai hijab atau penghalang tebal untuk dapat bersatu dengan-Nya. dan dalam raga ada jiwa yang memiliki akal dan hati. Akal dan hati adalah sarana yang dapat mengantarkan manusia pada pengenalan terhadap Tuhan.

Jiwa adalah pengatur dan penggerak raga, akal dan hati adalah perlengkapan untuk dapat membuat gerakan menjadi teratur dan berirama. Raga tidak akan dapat berfungsi oleh jiwa jika tidak disertai ruh di dalamnya. Maka selain jiwa dan raga, manusia juga memiliki ruh sebagai sarana kehidupannya.

Raga adalah dzat yang merupakan bayangan dari Dzat Tuhan, demikian pula jiwa. Keduanya menemukan keadaan sebagai pancaran dari sebuah Cahaya yang bernama Nur Muhammad. Adapun ruh, juga berasal dari Nur Muhammad namun ia merupakan tiupan dari-Nya.

Raga berasal dari unsur bumi yang terdiri dari air, api, angin dan tanah sehingga ketika ruh meninggalkannya ia akan bersatu kembali dengan bumi. 

Adapun jiwa, ia berasal dari Alam Misal dan akan tetap berada di sana. Raga dan jiwa hanya sekedar luapan saja, laksana buih dan ombak di lautan. Lautan itu Nur Muhammad. Maka raga dan jiwa pada dasarnya tidak ada, yang ada hanya Nur Muhammad.

Ruh adalah tiupan dari Nur Muhammad yang berasal dari Dzat. Ketika ajal seseorang telah tiba, ia akan menemui kehidupan baru dengan raga baru di alam kemudian. Syekh Siti Jenar tidak mau menghiraukan keberadaan jiwanya sesudah ajal tiba, ia tidak mempedulikan surga atau neraka akhirat. Ia menghendaki hidup yang langsung menyatu dengan Dzat Tuhan, sebagaimana digambarkan al-Quran bahwa di surga orang-orang mukmin akan berjumpa Tuhan.

Demikianlah raga dan jiwa pada dasarnya tidak ada, karena nyatanya Nur Muhammad. Nur Muhammad dalam sifat ketuhanan bernama Allah. Ruh, jiwa dan raga menyatu dalam Nur Muhammad yang bernama Allah. Mereka adalah satu, tidak ada yang lain selain hanya Allah saja. Alam semesta tergulung dalam satu keadaan.

Akhirnya semua itu kembali pada Dzat Tunggal yang abadi selamanya. Inilah hakikat manusia. Seseorang yang hendak mencapai hidup sempurna harus mengerti tanggal syahadat seperti ini.

Kedua 

Purnama syahadat adalah hati yang jernih. Jernih artinya tidak ada wujud. Semua berada pada Allah Ta’ala, Dzat yang meliputi semua keadaan.

Seseorang yang hendak mencapai hidup sejati harus menyadari bahwa segala sesuatu yang berwujud itu pada dasarnya tidak ada. 

Hati harus dijernihkan, yakni berkeyakinan bahwa wujud segala sesuatu pada dasarnya tidak ada karena hanya sebagai bayangan Dzat Tuhan saja.

Ketiga 

Panglong syahadat artinya ruh yang sempurna. Ruh itu adalah rahsa Allah artinya tidak ada hakikat ruh selain keadaan Allah yang menjadikan lenyapnya sesuatu. Panglong artinya masih berada dalam jaman Ahadiyat.

Seseorang yang hendak mencapai hidup sempurna harus mengetahui panglong syahadat. Ia harus menyadari bahwa ruh sebagai sumber kehidupannya berasal dari Dzat Allah pada Martabat Ahadiyat. Hidupnya di dunia hanyalah percikan kecil dari kehidupan abadi dalam Dzat Tuhan.

Keempat 

Pati syahadat adalah rahsa yang datang pada Allah Ta’ala. Pati berarti tidak ada, yakni patinya nafsu pada Allah Ta’ala yang Maha kekal.

Seseorang yang hendak mencapai hidup sejati harus dapat mematikan nafsu-nafsu buruknya. Nafsu adalah kehendak jiwa yang berlawanan dengan kehendak Tuhan. 

Maka ia harus dilebur di dalam Allah Ta’ala, sebagaimana yang akan diterangkan pada langkah mencapai hidup sempurna berikut.

Wali Songo juga mengajarkan lima langkah untuk dapat mencapai hidup sejati, yakni Sempurna niat, Sempurna takbir, Sempurna syahadat, Sempurna sakarat dan Sempurna hidup.

Pertama 

Sempurna niat artinya tidak ada kemauan atau keinginan, keduanya lenyap. Ini mengandung pengertian bahwa hidup sejati dapat diraih jika seseorang telah menghilangkan keinginan dalam hatinya. Dia tidak memiliki keinginan apa pun lagi.

Keinginan berarti nafsu karena berasal dari jiwa yang bahasa Arabnya adalah nafs. Keinginan hamba akan cenderung minta pamrih dan tidak ikhlas. Bencana dan permusuhan antar sesama manusia bermula dari keinginan. Karena keinginan untuk memiliki harta yang banyak, seseorang rela menyikut saudaranya. Karena keinginan untuk memiliki wanita, seseorang rela membunuh saingannya. 

Inilah keinginan, nafsu yang tidak akan pernah mengenal puas. Ia selalu minta dituruti dengan cara apa pun. 

Ibarat minum tuak, semakin banyak diminum semakin dahaga ia hingga membuatnya ketagihan. Jalan satu-satunya untuk dapat hidup secara sempurna adalah dengan meniadakan keinginan.

Hilangnya keinginan bukan berarti tak ada gerak dan aktivitas. 

Menghilangkan keinginan berarti meniadakan hasrat untuk melakukan sesuatu, namun ia tetap melakukkannya atas dasar dorongan nurani.

Misalnya, ketika jam menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, berarti waktunya untuk berangkat kerja. 

Tidak perlu berkeinginan untuk bekerja, namun cukup langkahkan kaki untuk segera pergi kerja, karena seharusnya ia harus bekerja. 

Pada tengah hari, saat perut terasa lapar, tidak perlu berkeinginan untuk makan, cukup dengarkan kata hati bahwa saat itu memang waktunya makan. 

Ketika sore hari tiba, hati mengatakan untuk pulang kerumah setelah seharian bekerja. Tak perlu berkeinginan untuk pulang, cukup dengarkan kata hati bahwa saat itu memang waktunya pulang.

Demikian pula dalam beribadah. Ketika bangun tidur, tidak perlu berkeinginan macam-macam. 

Ingin shalat subuh misalnya, jika hati berkata ingin shalat, maka raga akan terasa berat untuk melakukannya, tapi cukup dengarkan kata hati bahwa saat itu waktunya shalat subuh. Saat itu juga segera saja mengambil air wudlu unruk melaksanakan shalat.

Ketika hendak mendirikan shalat, tidak perlu mengatakan niat untuk shalat karena setan akan membaca perkataan seseorang, meskipun dalam hati. 

Cukup teguhkan keyakinan sambil melaksanakan shalat. 

Jika shalat itu diikuti keinginan, misalnya mengatakan ‘saya ingin shalat’, maka ia telah menyalahi Tauhid. Dia tidak menyadari bahwa gerakannya bisa terjadi karena kekuasaan Tuhan, bukan karena kekuasaan dirinya.

Syekh Siti Jenar, tidak mau melakukan sesuatu yang berasal dari keinginan dirinya, apalagi menuruti keinginan orang lain. Ia tidak mau shalat di masjid jika hal itu dilakukan demi mendapat pujian, demi mengharap pahala dan sorga, dan agar terhindar dari dosa dan neraka. Ia juga tidak mau melakukannya atas dasar agama. Baginya niat itu harus sempurna yakni niat yang sudah ada sejak jaman ajali.

Niat sempurna tidak perlu diucapkan, tapi cukup didengarkan dari nurani. 

Nurani akan selalu mengajak berbuat baik, itulah niat yang harus diikuti, bukan niat yang berupa keinginan untuk melakukan ini dan itu. 

Di sisi lain, memiliki keinginan berarti masih memiliki rasa keakuan, padahal tidak ada yang berhak menyandang gelar Aku selain Dzat Allah Ta’ala. Manusia tidak memiliki kekuasaan dan kemampuan sedikitpun. Bahkan dirinya hanya sekedar bayangan Tuhan saja, sehingga keinginan itu harus ditiadakan dan rasa memiliki kemampuan untuk melaksanakan sesuatu itu juga berasal dari Tuhan saja yang ada, yang selalu mengajak untuk berbuat baik. 

Inilah langkah pertama untuk mencapai hidup sejati. Jika seseorang masih memiliki keinginan, termasuk keinginan untuk melakukan ibadah kepada Tuhan sehingga tidak akan dapat mengenal hakikat dirinya secara sempurna.

Setiap gerak dan tindakan pada dasarnya adalah gerakan Tuhan. Manusia hanyalah wadah untuk menggambarkan Wajah-Nya. Bahkan wadah itu pun tiada lain merupakan luapan Wujud-Nya, maka setiap tindakan manusia harus dikembalikan kepada-Nya, bahwa ia tidak memiliki kemampuan sedikitpun selain kemampuan Tuhan dalam diri-Nya.

Perkataan, perbuatan, tindakan dan gerak manusia merupakan penampakan dari af’al atau perbuatan, asma’ atau nama-nama dan sifat Tuhan. 

Semua itu merupakan pengejawantaan sifat-sifat Tuhan, maka setiap keinginan harus ditiadakan dan diganti dengan keyakinan bahwa tindakannya merupakan penerapan dari tindakan Tuhan.

Orang yang sudah dapat meniadakan keinginan seperti ini berarti ia sudah bertauhid dengan benar. Ia tidak lagi mendua, yakni hanya mengakui kekuasaan Tuhan saja dan tidak mengakui kekuasaan dirinya. Jika sudah demikian, maka af’al, asma’ dan sifat Tuhan telah hadir sempurna dalam dirinya. Dia telah menyatu dalam Wajah Ta’ala.

Kedua 

Sempurna takbir artinya tidak mempunyai penglihatan. Jadi telah hilang penglihatan hamba yang sesungguhnya, lebur dalam penglihatan Tuhan.

Sebuah hadis mengatakan bahwa jika Tuhan sudah jatuh cinta kepada salah seorang hamba-Nya, maka dia akan menjadi penglihatannya yang dengan pengelihatan itu sang hamba melihat. Jika seseorang telah sukses menghilangkan keinginan maka panca inderanya akan suci dari nafsu. 

Dia tidak lagi memiliki keinginan untuk melihat, mendengar, meraba dan membau (mencium). 

Dengan demikian, penglihatan, pendengaran, penciuman dan rabaannya lenyap dan diganti dengan penglihatan, pendengaran, penciuman dan rabaan Tuhan.

Inilah langkah kedua untuk menjadikan dirinya hidup sempurna, yakni meyakini sepenuhnya bahwa panca indera yang dia gunakan sebagai sarana untuk melakukan suatu pekerjaan itu pada hakikatnya hanyalah pinjaman saja. Ia mengembalikannya kepada Pemiliknya sehingga ia tidak lagi merasa memilikinya. Orang yang sukses mengembalikan kerja panca inderanya berarti ia telah menyatukan sifat dzatnya ke dalam sifat Dzat Tuhan yang langgeng selamanya.

Ketiga 

Sempurna syahadat artinya tidak memiliki kehendak. Berbeda dengan keinginan yang merupakan nafsu dan bersifat spontan, keinginan merupakan dorongan hati yang halus dan terencana.

Sama halnya dengan keinginan, kehendak manusia juga harus ditiadakan demi mencapai hidup sejati. Kehendak atau Iradah menjadi milik Allah saja. 

Siti Jenar menganggap masalah iradah ini sebagai masalah utama, karena inilah pangkal kesuksesan seseorang dalam meraih cita-cita mulia sebagai manusia sempurna.

Sebagaimana dijelaskan Ibnu Araby, awal penciptaan dimulai dengan Iradah dari Allah Ta’ala, sebagaimana firman-Nya, ’idzaa arooda syai’an an yaquula lahuu kun fayakuun’, (jika Dia telah berkehendak terhadap sesuatu, cukup Dia mengatakan “jadi” maka jadilah ia). Segala sesuatu di alam semesta ini menjadi ada karena Iradah atau Kehendak Tuhan.

Allah Ta’ala menciptakan setiap saat. Setiap gerakan angin adalah ciptaan, tetesan air adalah ciptaan, jatuhnya daun dari pohon adalah ciptaan, dan semua yang ada di dunia ini adalah ciptaan. Setiap ciptaan itu terjadi karena Kehendak Allah Ta’ala.

Demikian pula dengan perkataan dan perbuatan manusia, itu bermula dari Kehendak Allah Ta’ala. Jika manusia masih memiliki kehendak berarti ia telah mendua yakni mengakui kehendak dalam dirinya, padahal dari Kehendak Tuhan yang satu. 

Maka, sebagaimana meniadakan keinginan, kehendak untuk melakukan ini dan itu, namun cukup kerjakan sebagai bentuk penggambaran af’al, asma’ dan sifat Tuhan.

Orang yang telah sukses meniadakan kehendak dalam dirinya, berarti ia telah menyatukan diri dalam pangkal penciptaan yakni mewakili Kehendak Tuhan dalam dirinya. Siti Jenar dan Ki Kebo Kenanga adalah contohnya, mereka tidak mau menuruti keinginan jiwa dan raganya, apalagi menuruti keinginan orang lain. Mereka hanya menuruti keinginan dan kehendak Tuhan yang telah menyatu dengannya. Inilah langkah ketiga untuk mencapai hidup sejati.

Keempat 

Sempurna sakarat artinya tidak ada lagi pati, kembali pada hakikat hidup yang ditambah dengan sifat Hayyun.

Setelah mampu meniadakan keinginan dan merasa sejiwa dengan Dzat Mulia, maka langkah selanjutnya adalah meniadakan pati. Pati di sini berarti tercabutnya ruh atau nyawa dari raga.

Mati dalam pengertian pulangnya ruh kepada Dzat Maulana ini menghampiri setiap manusia. Kebanyakan mereka akan merasa takut dan minta dijauhkan dari mati ini, karena was-was terhadap nasib yang akan diterimanya kemudian. 

Atau mereka takut kehilangan kesenangan yang telah direguknya semasa masih di dunia.

Demi meraih hidup sejati, mati dalam pengertian ini harus ditiadakan. Sebenarnya istilah mati ini hanyalah fatamorgana (kebohongan) saja. Coba saja ditelaah lebih jauh. Raga manusia pada mulanya tidak ada. Dulunya ia hanyalah sebuah sel telur yang bertemu dengan sebuah sel sperma, yang jika dilihat dengan mata telanjang tidak akan tampak karena terlalu kecilnya. Kemudian keduanya bertemu dan akhirnya terbentuklah zygot yang makin lama tumbuh berkembang karena mendapat makanan. 

Zygot mendapat makanan dari ibu, yang mana dzat makanan tersebut berasal dari bumi. Akhirnya setelah sembilan bulan ia lahir menjadi bayi. Raga bayi ini otomatis bersifat bumi. Bayi ini akan terus tumbuh menjadi besar dan tua. 

Setelah ajalnya datang, raga itu pun menyatu dengan bumi, terurai unsur-unsurnya. Unsur tanah bergabung dengan tanah, unsur air bergabung dengan air, unsur api bergabung dengan api, unsur udara bergabung dengan udara.

Setelah menyatu dengan bumi, kini ia menjadi tidak ada lagi. Lenyap. Inilah siklus alami yang terjadi setiap saat. Pada dasarnya, sebutan air mani, sel telur, zygot, embryo, bayi dan orang itu hanya sebutan semu saja. Awalnya berasal dari unsur bumi dan kembali ke dalam bumi lagi. 

Semua adalah satu.

Raga manusia yang terdiri dari unsur bumi ini tidak memiliki kemampuan apa-apa. Ia menjadi hidup karena mendapat ruh. Karena ruh inilah setiap benda di bumi ini memiliki energi, termasuk manusia. Jadi bukan raga yang hidup tapi ruh yang menghidupi. Tidak ada istilah mati terhadap raga, karena awalnya dan akhirnya ia tidak pernah hidup.

Adapun ruh, ia berasal dari Allah. Ditiupkan ke dalam jasad sebagai penopang hidup di dunia. Ketika masanya pulang, ia pun kembali ke Hadirat Allah Ta’ala. Tak ada yang berkurang atau rusak dalam diri ruh atau nyawa. Demikian pula dengan jiwa yang menjadi motor gerakan raga. Jiwa manusia sudah ada di Alam Misal. 

Ia dialihkan ke raga manusia ketika masih dalam kandungan ibu. Sebagai motor penggerak, ia akan menggerakkan raga bayi. Ini terlihat dari gerakannya semasa dalam perut ibu. Oleh orang-orang disebut sebagai permulaan hidup.

Setelah lahir, jiwa akan berada dalam raga bayi, kecuali ketika sedang tidur. Ia akan selalu berada di sana selama ruh masih belum tercabut. Ketika ajalnya telah tiba, jiwa akan berpindah tempat. Ia akan kembali ke Alam Misal, tempatnya dahulu. Kalau pun terjadi perubahan dalam diri jiwa, hal itu disebabkan tindakannya selama menyertai raga di dunia.

Jadi ketika ajal menjemput, jiwa tidak mati namun hanya pulang ke tempat asalnya. Ia hanya pindah tempat dari Alam Ajsam ke Alam Misal, alam asalnya. Ia akan tetap hidup di sana sampai waktu yang telah ditentukan.

Inilah hakikat pati, yakni menyadari bahwa sesungguhnya tidak ada mati dalam arti sebenarnya. Istilah mati ini hanyalah buatan manusia dan disepakati secara umum. 

Jika seseorang telah mampu meniadakan pati ini berarti ia telah hidup langgeng. Langgeng yang dimaksud adalah kekal yang ada batasnya, atau dengan istilah Arab khaalid. Maksudnya, raga akan langgeng yakni menyatu dengan bumi sampai datangnya hari kehancuran. Jiwa akan kekal di Alam Misal.

Kelima 

Sempurna hidup artinya tidak ada hidup, tetapi hanya Dzat saja yang nyata. Arti Dzat adalah Aku. Setelah memasuki kelanggengan hidup bersama raga, jiwa dan ruhnya maka langkah selanjutnya untuk menemukan hidup sejati adalah meniadakan kehidupan tersebut.

Pada dasarnya bumi dan segala sesuatu di Alam Ajsam, jiwa beserta segala sesuatu dalam Alam Misal, ruh dirinya dan semua yang ada di Alam Arwah, semua tidak ada. Semua di gulung, lebur dalam kesatuan Nur Muhammad.

Akhirnya, Nur Muhammad itu pun lenyap karena nyatanya Dzat Maulana yang kekal abadi selamanya, atau dalam istilah Arabnya baqaa.

Dzat atau Aku inilah yang disebut hidup abadi. Seseorang yang menyatukan diri dalam Dzat akan merasa hidup kekal tanpa tersentuh kematian, sakit, susah dan rusak. 

Inilah Hidup yang diajarkan Syekh Siti Jenar, yang pada mulanya dilarang oleh Wali Songo namun akhirnya boleh diajarkan, meski dengan rahasia.

Anda sedang membaca Ajaran Makrifat Jawa: Ajaran Walisongo Untuk Mencapai Hidup Sejati . Untuk mengikuti posting terbaru silahkan Liked Facebook Fanpage: Mistikus Cinta | Follow Twitter: @Sufipedia | Terima kasih.

Post a Comment

 
Top