Sufipedia

Cara Lain Mencapai Hidup Sejati

Menurut ajaran Syekh Siti Jenar, tanda kehidupan itu adalah berdasarkan dalil ‘hidup itu tidak mempan kematian, abadi selama-lamanya’. Maka kehidupan sesungguh nya dapat dicapai apabila sudah mampu menyatukan diri bersama Dzat Allah.

Atas dasar itulah ia mengatakan bahwa alam dunia ini disebut alam kematian, bukan kehidupan. Ia berkata, “Itulah sebabnya dunia saya tempati sekarang ini, saya namai alam kubur. Di dunia ini saya menemukan raga yang bersifat jasad, sesuai dengan dalil al-‘alamu kullu maujudin yang artinya dalam tiap-tiap alam, manusia menemukan raga bangkai. Maka sekarang pun sudah nampak.

Hidup saya di dunia ini menemukan wujud jisim, tulang, sumsum, otot serta daging. Saya tersesat di dalam dunia kematian ini. 

Di sini saya berjumpa dengan penyesatan agung, goda rencana, iblis, setan dan neraka, yang banyak sekali jumlahnya. Di dunia ini pula jisim terbelenggu rantai dan air panas.

Saya sungguh menyesal dalam keadaan mati di dunia ini, menggunakan panca indera yang bersifat baru, perut dan isi perut selalu minta diisi, haus dan lapar sudah saya derita, sakit dan sedih sudah saya alami, darah dan daging turut menumpang, padahal semua itu akhirnya menjadi debu”.

Sama halnya dengan Syekh Siti Jenar, Wali Songo juga mengajarkan bahwa hidup sejati hanya bisa diraih jika sudah meniadakan kediriannya sebagai manusia yang menyatukan diri dengan Dzat Tuhan yang abadi selamanya. 

Caranya adalah dengan taraqi dan tanazul, yakni memahami an mempraktekkan ajaran Martabat Tujuh secara mendaki dan menurun.

Jalan Mencapai Hidup Sejati secara Tanazul (Menurun)

Pada bab sebelumnya telah diuraikan tentang cara mencapai kehidupan sejati dengan cara taraqi, yakni pemahaman hakikat diri secara mendaki. Jalan ini harus dipadu dengan cara tanazul yakni pemahaman hakikat diri secara menurun.

Pertama 

Dzat Tuhan yang tidak bernama, karena tidak ada satu namapun yang mampu mewakili keberadaan-Nya. maka ia disebut Aku. Inilah Tuhan Sejati, Hidup Sejati, sebagaimana diidam-idamkan oleh Syekh Siti Jenar. Inilah Martabat Ahadiyat dalam tataran Martabat Tujuh.

Tuhan Sejati atau Aku. Ini berdiri sendiri. Tiada berawal dan berakhir, serta Maha Esa. 

Dia sendiri dan ingin dikenal, namun tidak ada yang dapat mengenal-Nya karena tidak ada yang lain, selain Diri-Nya. dia berkeinginan menciptakan mahluk agar mahluk tersebut mengenal-Nya.

Tuhan menciptakan suatu mahluk dengan bahan Diri-Nya, karena tidak ada bahan lain. Jadi mahluk yang akan Dia ciptakan itu berasal dari diri-Nya sendiri, atau dengan kata lain mahluk tersebut bukan barang baru, namun hanya sekedar penampakan lain dari Rupa Diri Tuhan.

Syekh Siti Jenar lalu menolak mengatakan manusia dan alam semesta ini sebagai ciptaan, namun mereka ada karena menemukan keadaan. 

Ibarat ombak yang menemukan dari samudra. Ombak pada dasarnya tidak ada, namun merupakan bagian dari samudra tersebut. Demikian konsep penciptaan menurut Syekh Siti Jenar dan diyakini oleh para sufi lainnya.

Penampakan Tuhan ini berjalan secara menurun, dan penurunan pertama yang Dia lakukan adalah sebagai Nur Muhammad. Orang islam yang menyebutnya sebagai Allah. 

Atas dasar ini, Syekh Siti Jenar menolak menyebut Allah sebagai Tuhan Sejati. Allah hanyalah nama untuk menyebut Diri Tuhan, padahal sejatinya Dia tidak bisa dijangkau dengan nama. 

Menurutnya, menyebut nama Allah adalah suatu kebohongan, kedurjanaan dalam beragama.

Allah ada karena dzikir, ini hanyalah nama untuk mempermudah pengenalan terhadap-Nya saja, tidak mewakili Tuhan sesungguhnya. Nur Muhammad Allah tiada beda, setidaknya demikian menurut Syekh Siti Jenar.

Kedua 

Penampakan Tuhan kedua dengan nama Allah ini sudah mengurangi kesempurnaan Diri-Nya. Sekali lagi, Syekh Siti Jenar dan murid-muridnya enggan untuk menyembah Allah. Dia mengatakan bahwa Allah bersemayan dalam Dzat-Nya. Maka enggan shalat di masjid, puasa, zakat serta haji dengan harapan surga sebagaimana yang dijanjikan Allah melalui Nabi Muhammad.

Penurunan ini bukan berarti bahwa Tuhan ada dua. Tuhan tetap satu. Dia hanya menampakkan Diri dalam kualitas menurun agar lebih mudah dikenal. 

Dzat Tuhan terlalu suci untuk dikenal, dan nama Allah merupakan jembatan atau jalan tengah agar Dia dapat lebih mudah dikenal. Tahapan ini bisa disebut dengan Martabat Wahdah.

Ketiga 

Rupanya, dengan penurunan Diri dengan nama Allah ini pun masih belum cukup dikenal secara mudah. 

Maka Tuhan menurunkan diri lagi menjadi bersifat kemahlukan, yakni Nur Muhammad yang tidak lagi bernama Allah.

Nur Muhammad pada tahapan ini bersifat mendua, yakni selalu berpasang-pasangan sebagai cikal-bakal penciptaan alam semesta. Tahapan ini biasa disebut dengan Martabat Wahidiyat. Bahan penciptaan alam semesta berasal dari Nur Muhammad pada martabat ini. Semuanya terkumpul menjadi satu.

Keempat 

Dari Nur Muhammad yang bersifat kemahlukan ini, terurai menjadi bagian-bagian halus yang belum nampak. Itulah ruh-ruh atau Alam Arwah. 

Ruh merupakan sumber kehidupan bagi tiap-tiap benda. Ruh ini berasal langsung dari Tuhan, ibaratnya dihembuskan dari Diri-Nya.

Kehidupan merupakan syarat mutlak bagi mahluk untuk dapat mengenal Tuhan. Maka Dia menjadikan ruh-ruh ini sebagai sumber kehidupan. Hidup mahluk berasal dari ruh ini. 

Atas dasar ini pulalah, Syekh Siti Jenar mengatakan bahwa kehidupan mahluk ini hanya semu saja karena berasal dari sumber yang kecil. 

Kehidupan alam semesta di sebut sebagai mati, karena telah terlepas dari kehidupan sejati dalam Dzat Tuhan.

Kelima 

Sumber kehidupan berupa ruh ini tidak akan mampu mewakili keinginan Tuhan jika tidak disertai sarana atau wadah. Untuk itu, Tuhan menjadikan wadah bagi kehidupan tersebut. Nur Muhammad yang bersifat mahluk itu terurai menjadi bagian-bagian terpisah yang masih halus. Inilah Alam Misal. Di dalamnya terkumpul berbagai jenis mahluk, seperti malaikat, jin, sorga, neraka dan sebagainya.

Dalam Alam Misal ini, manusia sudah ada namun masih berbentuk jiwa. Ia belum memiliki raga. Selanjutnya Tuhan menampakkan Dzat-Nya sebagai wadah perbuatan, nama dan sifat-Nya, sehingga muncullah Alam Ajsam.

Keenam 

Pada Alam Ajsam ini, Tuhan menampakkan Diri secara menyeluruh. Raga adalah perwujudan Rupa Diri-Nya. Perbuatan, nama dan sifat alam semesta adalah Wajah-Nya.

Semua itu terbungkus dalam sifat kemahlukan yang serba mendua, ada hitam dan putih, ada baik dan buruk dan seterusnya. Jadi hidup sebagai mahluk selalu diliputi sifat ketidaksempurnaan. Lain halnya dengan Dzat Tuhan yang mandiri, langgeng, tungal dan tidak tersentuh rasa lapar, sedih, ngantuk dan sedih.

Ketujuh 

Setelah mengetahui hakikat diri secara menurun ini, maka tahulah bahwa alam semesta ini pada hakikatnya adalah gambaran Rupa Tuhan. Manusia adalah mahluk yang paling sempurna, karena dibekali kemampuan untuk mendaki dan menyatu dengan Dzat Maulana hingga menjadikan dirinya sebagai wakil Tuhan di dunia ini.

Inilah manusia sempurna, manusia yang telah sampai pada hakikat dirinya, yakni Dzat yang sempurna. 

Hidup sejati sebagaimana yang diajarkan oleh Wali Songo dan Syekh Siti Jenar akhirnya bermuara pada penyatuan, manunggaling kawula – Gusti. (Selanjutnya - Ajaran Walisongo Untuk Mencapai Hidup Sejati)

Anda sedang membaca Ajaran Makrifat Jawa: Jalan Mencapai Hidup Sejati secara Tanazul (Menurun). Untuk mengikuti posting terbaru silahkan Liked Facebook Fanpage: Mistikus Cinta | Follow Twitter: @Sufipedia | Terima kasih.

Post a Comment

 
Top