Sufipedia

Para Sarjana berbeda pendapat, tentang kedatangan Islam di Indonesia. [1] Tetapi ada satu kenyataan, yang tampaknya disepakati, adalah bahwa kedatangan Islam ke Indonesia dilakukan secara damai. [2] Islam, dalam batas-batas tertentu, di sebarkan oleh pedagang, bersama atau kemudian dilanjutkan oleh para guru dan pengembara Sufi. Tampaknya orang yang terlibat dalam kegiatan penyebaran agama (Islam), pada tahap-tahap awal kedatangan Islam, tidak bertendensi apapun selain bertanggung bertanggung jawab menunaikan kewajiban tanpa pamrih, sehingga nama mereka berlalu begitu saja. [3] Tidak ada catatan-catatan sejarah atau prasasti pribadi yang sengaja dibuat oleh mereka untuk mengabadikan apa yang telah mereka lakukan.

Oleh karena itu wajar jika terjadi perbedaan pendapat tentang kapan, dari mana dan dimana pertama kali Islam datang ke Indonesia. Yang dapat dikatakan adalah bahwa para penyebar agama yang berdatangan bersama atau menyusul para pedagang, dan kebanyakan adalah para sufi pengembara. Pada proses berikutnya terjadi perkawinan antara para pedagang dan para penyebar agama tersebut dengan penduduk setempat dan anak bangsawan Indonesia, yang kemudian membentuk keluarga, komunitas inti, keluarga Muslim dan kemudian masyarakat Muslim.

Perkawinan dengan para anak bangsawan, membuat status sosial mereka menjadi meningkat lebih tinggi. Apalagi jika mereka kawin dengan putri Raja, maka keturunannya menjadi pejabat kerajaan, syahbandar, qadi dan lain-lain, bahkan menjadi putra mahkota[4].

Pada periode berikutnya, setelah para pedagang dan para penyebar agama itu mempunyai kedudukan cukup kuat, para pedagang menguasai perekonomian terutama bandar-bandar seperti Gresik, mereka kemudian membangun pusat-pusat pendidikan, yang kini disebut pesantren. Di Jawa, pusat-pusat pendidikan itu menjadi semacam tempat penggemblengan kader-kader ulama dan politik. Misalnya Raden Patah, Raja Demak pertama, adalah santri Ampeldenta. Proses penyebaran agama Islam, peran dan asal usul aktor yang terlibat di dalamnya, juga terdapat perbedaan diantara para ahli, tetapi gambaran umum tampaknya kurang lebih seperti yang disebutkan secara sederhana diatas. Tampaknya hal itu kemudian yang mempercepat proses perkembangan Islam di Indonesia.

Tahap awal penyebaran Islam terlihat lamban, terbatas pada kota-kota pelabuhan. Lalu kemudian pada periode berikutnya memasuki daerah pesisir lainnya dan pedalaman. Sebagaimana diketahui bahwa sebelum kedatangan Islam, kepercayaan masyarakat di Nusantara didominasi agama Hindu, Budha dan agama-agama atau kepercayaan lokal. Abad ke-5 sampai dengan abad-14 M dapat dikatakan sebagai abad dominasi Hindu Budha di Nusantara. Bahkan pada satu masa tertentu kedua agama (yang pada dasarnya bertentangan) itu bergabung, yang dikenal dengan nama Syiwa-Budha, dan hal ini hanya ditemui di Indonesia[5].

Beberapa kerajaan Hindu dan Budha yang berkembang dan menguasai beberapa daerah, pusat-pusat jalur perdagangan di Nusantara. Di tanah Jawa pelabuhan-pelabuhan penting yang merupakan daerah pusat jalur perdagangan internasional pada masa berada dibawah pengaruh Hindu-Budha tersebut. Artinya, ketika Islam masuk agama Hindu dan Budha, disamping kepercayaan lokal masyarakat, mendominasi kepercayaan dan dianut oleh masyarakat Jawa saat itu. Dengan adanya system kepercayaan, yang sudah begitu mengakar kuat dalam masyarakat, di dukung oleh sistem kerajaan, seperti itu maka menjadi logis jika penyebaran Islam terlihat lamban. Tetapi pada masa-masa berikutnya terlihat terjadi perubahan, penyebaran Islam berjalan relatif cepat.

Terlihat ada bentangan waktu yang cukup panjang. Kalau patokannya diambil abad ke 11 M sebagai tahun kedatangan dan abad ke 15, tepatnya tahun 1481 M, tahun berdirinya kerajaan Islam yang pertama di tanah Jawa yaitu Kerajaan Demak. Maka terdapat jarak waktu selama kurang lebih empat abad lamanya. Atau kalau ditarik lebih jauh ke belakang, sampai pada abad pertama Hijriyah, maka perkembangannya terlihat sangat lamban. Tetapi dalam perkembangan berikut, terlihat proses berjalan lebih cepat. Islam berkembang dengan cepatnya di tanah Jawa, antara abad 15 sampai 17 M, yang ditandai dengan adanya beberapa kerajaan Islam yang mendominasi di tanah Jawa yang wilayah kekuasaannya sangat luas, hampir mencakup seluruh pulau tersebut.

Tampaknya semua itu terkait langsung dengan dengan adanya proses yang lebih terencana dan sistematis. Di beberapa daerah di tanah Jawa, misalnya, pada masa-masa itu, berdiri beberapa pusat-pusat penyiaran agama Islam. Di Jawa Timur, dipelopori oleh Sunan Ampel, di daerah Gresik Jawa Timur dipelopori oleh Sunan Giri. Hal yang sama terjadi di Jawa Barat, dibawah kepemimpinan Sunan Gunung Jati, di Jawa Tengah bagian utara di pelopori oleh Sunan Kudus dan Sunan Muria, sedangkan di Jawa Tengah bagian selatan dipelopori oleh Sunan Kalijaga

Kemungkinkan hal itu karena adanya kepemimpinan para wali yang konsisten dan solid. Dengan kata lain pada periode itu, ketika para wali, yang dikenal dengan nama Wali Sembilan (Wali Songo), melanjutkan memimpin penyebaran agama Islam di seluruh pulau Jawa, maka penyebaran agama Islam relative berlangsung lebih cepat. [6]

Wali Songo adalah sebuah dewan wali yang memiliki otoritas tertinggi pada jamannya, dalam keagamaan dan penyebaran agama, yang secara berkala melakukan pertemuan (musyawarah), untuk menentukan strategi dan mengeluarkan fatwa[7]. Sesuai namanya, Wali Songo, jumlah wali di Jawa sembilan orang dan menurut urutan dari Timur ke Barat adalah: Sunan Ampel (Raden Rahmat), makamnya terdapat di Ampel dalam kota Surabaya; Malik Ibrahim (Maulana Maghribi) di Gresik, Sunan Drajad (makamnya terletak di Sidayu Lawas); Sunan Giri (Raden Paku) makamnya terletak di Giri tempatnya di Gresik; Sunan Bonang (Raden Maulana Makdum Ibrahim), makamnya terletak di Tuban; Sunan Kudus (konon adalah panglima bala tentara para wali yang menyerbu Majapahit), Sunan Murya (pejuang melawan Majapahit), Sunan Kalijaga (Jaka Syaid, atau Raden Mas Syahid), Jawa Tengah; Sunan Gunung Jati (adalah Putera Pasai yang kawin dengan saudara perempuan Sultan Trenggana), di Cirebon, Jawa Barat. [8]

Jelas bahwa Wali Songo memiliki peran yang sangat besar dalam proses penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Mereka tidak hanya berdakwah menyebarkan agama Islam tetapi juga menjadi penasehat raja-raja yang memerintah. Bahkan Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah juga raja. Dia mendapat julukan Pandita Ratu. Pada umumnya Wali Sembilan itulah yang mendirikan pesantren-pesantren atau padepokan, yang menjadi pusat-pusat pendidikan untuk melakukan kaderisasi. Santrinya datang dari berbagai daerah, dari seluruh pelosok Nusantara. Itu menjadi bagian penting bagi perkembangan Islam di tanah Jawa.

Tentang Sang Wali

Sunan Kalijaga dapat dikatakan salah satu tokoh sentral dalam proses penyebaran Islam di Tanah Jawa. Pendekatannya unik. Sunan Kalijaga, melihat keadaan masyarakat Jawa pada waktu itu dimana masyarakatnya masih kental dengan tradisi Hindu, Budha dan kepercayaan-kepercayaan lama maka dia melakukan pendekatan seni dan budaya, dalam arti mencoba menyerap budaya dan tradisi yang sudah ada dalam menyebarkan ajaran-ajarannya. Dia berkeliling dari satu tempat ke tempat lain, memasuki daerah-daerah terpencil.

Ada beberapa versi silsilah Sunan Kalijaga. Hal itu karena memang tidak ada catatan atau bahan-bahan yang secara penuh dan detail memberikan informasi secara jelas mengenai asal usul Sunan Kalijaga. Salah satu versi mengatakan bahwa dia diperkirakan ia lahir sekitar tahun 1450 M. Nama kecilnya adalah Raden Mas Syahid, putera Tumenggung Wilatikta, Bupati Tuban dari Ibu bernama Dewi Ningrum. Sunan Kalijaga kawin dengan Sarah binti Maulana Ishaq dan berputra tiga orang, yakni Raden Umar Said (kelak menjadi Sunan Muria), Dewi Rukayah, dan Dewi Sofihah[9].

Sunan Kalijaga terkenal, karena berjiwa besar, toleran, berpandangan tajam dan juga seorang pujangga. Sunan Kalijaga juga dikenal dalam Babad Tanah Jawi. Ia dipandang salah satu dari Sembilan wali yang banyak memperlihatkan mu’jizat.[10] Menurut riwayatnya, masa remajanya nakal, sehingga dia diusir oleh orang tuanya. Dia mendapat julukan Lokajaya, karena sakti dan tidak ada dapat mengalahkannya. Oleh karena itu, sebagai perampok dan penyamun, sangat ditakuti sampai dia bertemu dengan Sunan Bonang yang kemudian dapat menaklukkannya.

Sunan Kalijaga ingin menjadi murid Sunan Bonang, tetapi Sunan Bonang menolaknya, dan hanya mau menerimanya sebagai murid apabila dia sanggup menjaga tongkatnya yang dia tancapkan di tepi sungai. Dengan setia Raden Mas Syahid menjaga tongkat itu, menepati janjinya, sehingga karena itu dia disebut Kalijaga (penjaga kali/sungai). Setelah menjadi Wali dia juga disebut Syekh Malaya, karena dia berdakwah sambil berkelana. Masa hidupnya cukup panjang, dari akhir masa kerajaan Majapahit sampai pada masa kerajaan Pajang (akhir abad ke 15 sampai pertengahan abad 16).[11]

Jasanya bagi Demak cukup besar. Pada waktu pendirian Masjid Demak, dia salah seorang wali yang berkewajiban menyediakan salah satu dari 4 tiang pokok (soko guru) yang menurut lagenda dia buat dari tatal (serpihan-serpihan kayu sisa)[12]. Konon tiang itu dibuat menurut konstrukti tiang kapal, terdiri dari kepingan-kepingan kayu yang sangat tepat dan rapi. Sangat kuat dapat menahan angin topan.[13] Kalau difahami secara simbolik, maka peranan dalam pendirian masjid itu sangatlah penting.

Dalam menyebarkan agama, Sunan Kalijaga berbeda dengan Sunan Giri. Menurut Sunan Kalijaga, menyampaikan ajaran Islam perlu disesuaikan dengan keadaan setempat, sedikit demi sedikit. Kepercayaan, adat istiadat dan kebudayaan lama tidak harus dihapus, bahkan diisi dengan unsur dan roh ke Islaman.

Sunan Giri, sebaliknya, berpendapat bahwa Islam harus disampaikan menurut aslinya. Kepercayaan lama harus diberantas. Demikian pula dengan adat istiadat dan kebudayaan lama yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Tampaknya kedua Wali ini memang berbeda pendekatannya. Sunan Kalijaga lebih berorientasi dan mendekati rakyat, sedangkan Sunan Giri lebih dekat dengan kaum bangsawan dan hartawan. [14] Tetapi tidak berarti bahwa Sunan Kalijaga anti terhadap kaum bangsawan. Karena dia merupakan salah seorang penasehat raja-raja Demak, sejak Raden Patah sampai Sultan Trenggana, sehingga diberi tanah perdikan (tanah bebas pajak) di Kadilangu[15]. Kesepakatan kemudian tercapai bahwa dakwah memang perlu dua pendekatan, ada yang dari atas dan ada pula yang dari bawah.[16]

Sebagai budayawan dan seniman, banyak yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga, dan itu menggambarkan pendiriannya tersebut. Dia menciptakan dua perangkat gamelan yang semula bernama Nagawilaga dan Guntur Madu, kemudian dikenal dengan nama Nyai Sekati (lambang dua kalimat syahadat). Wayang yang pada zaman Majapahit dilukis diatas kertas yang lebar sehingga disebut wayang beber, oleh Sunan Kalijaga dijadikan satu-satu dan dibuat dari kulit kambing, yang sekarang dikenal dengan nama wayang kulit.[17] Banyak lakon-lakon yang digubah untuk kepentingan ini. Diantaranya yang terkenal adalah lakon Jimat Kalimasada dan Dewa Ruci.

Menurut Hazim Amir, setelah agama Islam datang ke Indonesia (pulau Jawa), lakon wayang mengalami perubahan. Wali Songo mengubah sistem hirarki kedewaan yang menempatkan para dewa sebagai pelaksana perintah Tuhan saja, bukan sebagai Tuhan. Untuk itu disusunlah cerita-cerita baru yang bernafas Islami, seperti lakon Dewa Ruci, Jimat Kalimasada dan lakon-lakon wahyu. [18]

Sunan Kalijaga, menjadikan wayang kulit sebagai media pendidikan atau dakwah, dengan menampilkan tokoh-tokoh pewayangan yang menjadi favorit rakyat, ke dalam pewayangan hampir keseluruhan kisahnya dipentaskan ceritera dan dialog-dialog tentang tasawuf dan akhlakul karimah. Karena dia faham betul bahwa yang dihadapi itu (audiens) adalah pemeluk Hindu ataupun Budha, yang keseluruhan ajarannya berpusat pada ajaran kebatinan. Mungkin karena itu, maka Sunan Kalijaga mengekspose unsur-unsur tasawuf dan akhlaqul karimah.

Sebagai tahap awal dari suatu proses, tampaknya itu berhasil dalam dakwahnya. Kepercayaan kebatinan memang sangat penting, akan tetapi arti agama (Islam) tidaklah hanya itu[19]. Satu personifkasi yang sangat dekat dengan masyarakat Jawa adalah diciptakannya tokoh Punakawan dalam cerita pewayangan yang terdiri atas Semar, Nala Gareng, Petruk dan Bagong, adalah tokoh-tokoh yang selalu ditunggu-tunggu dalam setiap pergelaran Wayang di Jawa, dan tokoh-tokoh ini tidak ditemui pada cerita Wayang asli yang berasal dari India. Para tokoh Punakawan dibuat sedemikian rupa mendekati kondisi masyarakat Jawa yang beraneka ragam.[20]

Awalnya, apa yang dikembangkan oleh Sunan Kalijaga pada awalnya tidak memperoleh dukungan dari beberapa Wali lainnya.

Sunan Giri, misalnya berpendapat bahwa wayang itu itu hukumnya haram, karena gambarnya menyerupai manusia. Maka terjadi debat. Tetapi Sunan Kalijaga, mengemukakan jalan keluar yang bijaksana. Gambar wayang dirubah bentuknya, agar tidak haram. Ukurannya tangannya dibuat menjadi lebih panjang, begitu pula kakinya. Hidung dibuat panjang, kepala dibuat menyerupai binatang. Gagasan itu disetujui oleh para Wali, bahkan membantu dengan menciptakan gamelannya.[21] Maka menjadilah wayang itu media dakwah yang efektif.

Banyak hal yang telah dilakukan oleh Sunan Kalijaga. Dia menciptakan baju yang disebut takwo (artinya: Takwa). Kain batik bermotifkan burung, konon dari Sunan Kalijaga juga. Pemanfataan kebudayaan dalam bentuk ide-ide lainnya dapat dijumpai pada makna-makna yang terkandung dalam suluk, seperti Kidung Rumeksa Ing Wengi dan Dhandanggula. Dandanggula, yang dia ciptakan adalah salah satu jenis macapat, yang setiap baitnya terdiri dari 10 baris, dengan guru lagu (jumlah suku kata) dan guru swara (bunyi akhir bait). [22]

Agaknya karena Sunan Kalijaga adalah asli Jawa maka pengaruhnya lebih merata di kalangan rakyat. Dia wafat pada usia relative tua, dan di makamkan di desa Kalidangu, sebelah timur kota Demak.

Warisan Sang Wali

Sunan Kalijaga, adalah salah seorang dari Wali Sembilan (Wali Songo). Salah seoarng tokoh sentral dalam proses penyebaran Islam di Tanah Jawa. Terkenal, karena berjiwa besar, toleran, berpengetahuan luas dan dalam, serta berpandangan tajam. Dia juga seorang pujangga. Dia adalah gabungan dari seorang ulama dan budayawan. Dia tampak unik dengan pendekatannya. Dia meninggalkan banyak karya, meninggalkan banyak jejak dengan apa yang telah dilakukannya, pada tempat-tempat tertentu yang masih dipelajari dan digunakan sampai sekarang.

___________________________________________

Catatan kaki:

1 Kebanyakan sarjana Orientalis berpendapat bahwa Islam datang ke Indonesia abad ke 13 M dari Gujarat (bukan dari Arab Langsug). Sedangkan kebanyakan sarjana Muslim berpendapat bahwa Islam sudah sampai ke Indonesia pada abad pertama Hijriyah (sekitar abad ke 7 samapi abad 8 Masehi), langsung dari Arab. Pendapat ini misalnya dikemukakan oleh Prof. Hamka, dalam seminar “Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia”, 1968, di Medan. Hamka mengatakan bahwa pada masa itu Arab sudah membuka hubungan (perdagangan) dengan berbagai negeri. Ke Timur, melalui Selat Malaka berhubungan dengan Dinasti Tang di Cina, Sriwijaya di Asia Tenggara. Pendapat yang sama di di lontarkan oleh Alwi Shihab. Taufiq Abdullah mencoba mengkompromikan kedua pendapat itu, mengatakan bahwa betul Islam sudah datang ke Indonesia pada abad pertama Hijriyah (abad 7-8 Masehi), tetapi baru dianut oleh para pendatang itu sendiri, yakni pedagang Timur Tengah, Barulah pada abad 13 Islam masuk dan menyebar setelah mempunyai kekuatan politik dengan berdirinya Kerajaan Samudara Pasai. Dan itu terkait dengan kehancuran Dinasty Abbasiyah, yang menyebabkan para pedagang Muslim mengalihkan aktivitas perdagangannya ke Asia Selatan, Asia Timut dan Asia Tenggara. Lihat Musyrifah Sunanto, Prof. Dr., Sejarah Peradaban Islam Indonesia, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2005, halaman 8-9; Lihat, Alwi Shihab, Akar Tasaawuf Indonesia, Pustaka Iman, Depok, 2009, halaman.7; Lihat juga A. Hasymy, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, Bandung, Al Maarif, 19981, halaman 385; Taufiq Abdullah, (ed), Sejarah Umat Islam Indonesia, Majelis Ulama Indonesia, Jakarta, 1991, halaman 39-40

2 Azymardi Azra, Renaisans Islam Asia Tenggara, Sejarah Wacana dan Kekuasaan, PT Remaja Rosda Karya, Bandung, 1999, halaman 8.

3 Musyrifah Sunanto, Prof. Dr., Sejarah Peradaban Islam Indonesia, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2005, halaman 8.

4 Uka Tjandrasasmita, (Ed), Sejarah Nasional III, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1976.

5 Solihin Salam, Sekitar Wali Songo, Menara Kudus, 1960.

6 Semua Wali itu disebut atau memiliki gelar Sunan. Tetapi kata Rifcklefs, kemungkinannya istilah berasal dari kata “suhun” yang berarti menghgormati. Dalam bentuk fasifnya, berarti yang dihormati. Dengan demikian gelar itu diberikan oleh masyarakat sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh-tokoh tersebut. Lihat, Ricklefs, M.C., Sejarah Indonesia Modern, 1200-2008, Serambi, Jakarta, 2008. Halaman 18.

7 Budiono Hadisustrisno, Sejarah Wali Songo, Graha Pustaka, Yogyakarta, 2009, halaman147.

8 Solihin Salam, opcit, halaman 23.

9 IAIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam Indonesia, Jilid 2, Penerbit Jembatan, Jakarta, 2002, halaman 568.

10 Slamet Mulyana, Prof. Dr., Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara, LKis, Yogyakarta, 2005, halaman 100-101.

11 Ensiklopedi Islam Indonesia, Opcit.,

12 Ibid.,

13 Runtuhnya Kerjaan Hindu-Jawa, Opcit,

14 Ensiklopedi Islam Indonesia, Opcit.,

15 Ibid.

16 Ibid.

17 Ibid

18 Purwadi, Upacara Tradisional Jawa, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2005. Halaman 21.

19 Saifudin Zuhri, Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia, Al Maarif, Bandung, 1979, halaman 232-233.

20 Banyak hal yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga, misalnya Upacara Grebeg yang dihentikan dihentikan tidak dibolehkan oleh Kraton Demak, setelah kejatuhan Majapahit, diusulkannya menghidupkan itu kembali, dengan menambahkan istilah sekaten (penabuh gamelan disebutnya sekaten), Purwadi, 2005, halaman 645-65; Slametan dan Kenduri, yang bagi masyarakat merupakan syarat spirit yang wajib, dan jika dilanggar yang bersangkutan akan mendapat kecelakaan atau kesialan, tetap dihidupkan tetapi diberikan semangat sadaqah, lihat Solihin Salam; puja-puji dalam sesajen diganti dengan doa-doa dan membacara al Qur’an, lihat Budi Hadisutrisno.

21 Ibid

22 Dandanggula, salah satu jenis macapat yang setiap baiatnya terdiri dari 10 baris, dengan guru lagu dan guru swara, sebagai berikut : 1. 10/i (wulu); 2. 10/a (legena); 3. 8/e (taling); 4. 7/u (suku); 5. 9/i (wulu); 6. 7/a (legena); 8. 8/a (legena); 9. 12/i (wulu); 10. 7/a (legena); Ensiklopedi Islam, loc cit.,

Oleh: Helmy Ali Yafie
https://islamjawa.wordpress.com/2017/07/14/wali-songo-dan-penyebaran-islam-di-jawa-jalan-dakwah-sunan-kalijaga/

Anda sedang membaca Jalan Dakwah Sunan Kalijaga Melalui Seni Dan Budaya. Untuk mengikuti posting terbaru silahkan Liked Facebook Fanpage: Mistikus Cinta | Follow Twitter: @Sufipedia | Terima kasih.

Post a Comment

 
Top