Sufipedia

Kasyaf adalah terbukanya hijab atau tabir pemisah antara hamba dan Tuhan. Allah membukakan tabir bagi kekasih-Nya untuk melihat, mendengar, merasakan, dan mengetahui hal-hal gaib…

Orang-orang yang beriman tak menampik terjadinya peristiwa yang di luar jangkauan nalar manusia itu, mengingat bahwa Allah adalah Dzat yang serba Maha. Tak seorang pun dapat mengukur kemahaan-Nya itu, termasuk dalam memberikan karunia kepada orang-orang pilihan-Nya.

Kasyaf adalah salah satu bentuk karamah yang dikaruniakan Allah kepada para kekasihNya. Kasyaf dapat diartikan terbuka, yakni terbukanya tabir pemisah antara hamba dan Tuhan. Kasyaf juga berarti Allah membukakan bagi seseorang untuk dapat melihat, mendengar, merasakan, dan mengetahui apa yang hendak bisa dilihat, didengar, dirasakan, dan diketahui oleh orang-orang biasa.

Peristiwa yang tak masuk akal, pernah terjadi pada diri sahabat Rasulullah SAW, Sayyidina Umar bin Khattab ra. Ketika itu, menjabat khalifah. Banyak sekali orang menjadi saksi mata. Pada waktu itu, Sayyidina Umar bin Khattab ra tengah melakukan.shalat. Ketika sedang berada di mimbar menyampaikan khutbahnya, tiba-tiba Umar berseru, “Hai, Sariah, hai tentaraku itu, bukit itu, bukit itu!” Jamaah shalat Jum’at geger. Ucapan itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan isi khutbah yang disampaikan Umar. Beberapa penilaian miring pun terucap dari mereka. Tetapi, Abdurrahman bin Auf salah seorang sahabat Umar yang paling akrab, tidak mau gegabah. Dia harus tahu betul, apa sebabnya Umar berbuat begitu. Maka, usai shalat, didatanginya Umar.

“Wahai Amirul mukminin, mengapa engkau berseru-seru di sela-sela khutbahmu seraya pandanganmu menatap ke kejauhan?” Tanyanya.

Umar dengan tenang menjelaskan, “Begini, sahabatku. Beberapa pekan yang lewat aku mengirimkan Sariah, pasukan tentara yang tidak kupimpin langsung, untuk membasmi kaum pengacau. Tatkala aku sedang berkhutbah, kulihat pasukan itu dikepung musuh dari segala penjuru. Kulihat pula satu-satunya benteng untuk mempertahankan diri adalah sebuah bukit di belakang mereka. Maka aku berteriak, “Bukit itu, bukit itu, bukit itu…!“

Setengah tidak percaya, Abdurrahman bin Auf mengerutkan kening, namun dia enggan untuk meneruskan pertanyaannya. Dia lebih memilih untuk mengundurkan diri dari hadapan Khalifah Umar, sebab dia belum bisa menilai, sejauh mana kebenaran ucapan Umar tadi.

Akhimya, bukti pun datang tanpa dimintanya. Yaitu, manakala Sariah yang dikirimkan Umar tersebut telah kembali ke Madinah. Wajah mereka berbinar-binar meskipun nyata sekali tanda-tanda kelelahan dan bekas luka-luka yang diderita oleh mereka. Tapi, mereka datang dengan membawa kemenangan. Komandan pasukan itu, pada hari berikutnya, bercerita kepada masyarakat Madinah tentang dahsyatnya peperangan yang mereka alami.

“Kami dikepung tentara musuh, tanpa harapan akan dapat meloloskan diri dengan selamat. Lawan secara beringas menghantam kami dari berbagai arah. Kami sudah luluh lantak. Kekuatan kami nyaris terkuras habis. Sampai tibalah saat shalat Jum’at yang seharusnya kami kerjakan. Persis kala itu, kami mendengar sebuah seruan gaib yang tajam dan tegas, ”Bukit itu, bukit itu, bukit itu!” Tiga kali seruan tersebut diulang-ulang, hingga kami tahu maksudnya. Serta merta kami pun meluncur ke lereng bukit. Dan kami jadikan bukit itu sebagai pelindung di bagian belakang. Dengan demikian kami dapat menghadapi serangan tentara lawan dari satu arah, yakni arah depan. Itulah awal kejayaan kami.

Mendengar cerita ini Abdurrahman bin Auf mengangguk-anggukkan kepala dengan takjub. Dia berkata, “Biarlah Umar dengan kelakuannya yang terkadang menyalahi itu. Sebab, dia dapat melihat sesuatu yang indra kita tidak mampu melacaknya.”

Selain kisah Sayyidina Umar, masih banyak lagi kisah tentang mukasyafah atau kasyaf Misalnya saja, kisah Abah Anom saat bertemu Khalifah Tarekat Naqsybandi Haqqani dari Lefke, Siprus – Turki, Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al Qubrusi Al Haqqani.

Ketika itu, sekitar beberapa tahun lalu, Mawlana Syekh Nazim Al Haqqani bertamu ke Suryalaya. Kunjungan itu dipandu oleh Ketua Dewan Tertinggi Jam’iyah Ahli Thariqah Al Mu`tabarah An-Nahdiliyah, Habib Luthfi bin Yahya. Saat itu Syekh Nazim mengaku mengenal Abah Anom melalui ilham yang diperolehnya ketika memohon petunjuk kepada Allah SWT.

Kunjungan Mawlana Syekh Nazim Adil Al-Haqqani Ke Suryalaya
Katanya, di tengah kehidupan dunia yang carut marut seperti sekarang masih ada seseorang di Timur yang sangat ikhlas. Siapakah dia? Setelah dirunut, petunjuk itu mengarah kepada seorang ulama sepuh, yang saat itu usianya baru saja melewati 90 tahun (dalam hitungan kalender Masehi) atau mendekati 100 tahun menurut kalender Hijriah. Setelah pertemuan yang mengharukan itu, terjadilah peristiwa yang sarat dengan bahasa isyarat.

Mawlana Syaikh Nazim Al Haqqani mengeluarkan sebuah peluit kecil. Dia minta agar Abah Anom meniupnya.

“Priiit…!”

Setelah itu gantian Syaikh Nazim Al Haqqani, mungkin sebagai makmum meniup pluit tersebut, “Priiiitt… !”

Tak seorang pun yang tahu apa makna isyarat itu. “Saya juga tidak tahu. Tapi mungkin maksudnya sebagai ikrar bersama untuk tetap teguh berjalan di atas kebenaran Allah,” kata Kyai Zaenal, yang bertindak sebagai penerjemah.

Dalam pertemuan itu juga muncul sebuah isyarat yang luar biasa, yakni ketika Mawlana Syekh Nazim Al Haqqani, dalam Bahasa Inggris, berkata, “Sesungguhnya kami tidaklah memerlukan penerjermah. Sebab apa yang saya kemukakan sesungguhnya sudah dimengerti oleh Abah Anom, karena sebelumnya kami.. sudah berkomunikasi secara spiritual. Biar pun Abah tertunduk seperti itu, sebenarnya beliau tidak tidur, tapi dapat mendengarkan dengan baik.”

Kasyaf atau mukasyafah adalah buah dari zuhud. Zuhud membawa kita melintas alam syahadah, nyata, dan memasuki alam gaib. Dengan menggunakan istilah para sufi, zuhud mengantarkan kita pada alam mukasyafah. Namun, sesungguhnya kasyaf bukanlah tujuan para sufi. “ilmu” ini merupakan akibat dari kondisi psikologis para sufi yang amat mencintai Allah SWT. Menurut para sufi, kasyaf adalah karunia Allah sebagai pemberian kepada hamba-Nya, dia tidak bisa diperoleh lewat usaha dan latihan.

Bagi para waliyullah, hal-hal kasyaf sebenamya telah dijanjikan Allah seperti yang termaktub dalam hadits Qudsi, yang artinya, “Orang yang mendekatkan diri kepada-Ku, mengerjakan yang fardhu dan yang sunnah, sehingga Aku cinta kepada mereka dan Aku menjadi penglihatan mereka.”

Pengertian Kasyaf
Kasyaf menurut bahasa artinya terbuka atau tidak tertutup. Sedangkan menurut istilah, kasyf adalah kehidupan emosi keagamaan. Bisa juga kasyf diartikan dengan satu istilah bagi terefleksinya sebagian kondisi universe dan kerajaan Allah. Pada cermin kalbu setelah bersih dari kotoran-kotoran dosa dan kerusakan nafsu syahwat. Kasyf merupakan istilah paling luas bagi terbukanya hijab (tabir) rahasia mistik.

Tingkatan kemanusiaan ini secara umum dapat dikelompokkan kedalam tiga tingkatan: 
  1. Mujahadah. Pada tingkatan ini akal manusia dikendalikan oleh bukti objektif kebendaan (burham). Oleh karena itu tingkatan ini dapat mencapai ‘ilm al-yaqin yang masih dalam ruang lingkup pemikiran rasional. 
  2. Mukasyafah. Pada tingkatan ini manusia mampu menerima pengetahuan berdasarkan eksplansi (pencarian penjelasan, bayan). Orang yang mencapai taraf ini akan dapat mencapai ‘ain al-yaqin, yakni pandangan kebenaran objektif yang mengacu pada kebenaran yang mungkin. 
  3. Musyahadah. Tingkatan ini adalah pengalaman pribadi manusia (Makrifat) yang langsung bisa menyaksikan sesuatu hal. Pengalaman pribadi ini merujuk pada pengalaman mistik berkat kedekatannya kepada Tuhan, sehingga dapat terbuka baginya, pengetahuan haqq al-yaqin. Yang terakhir ini adalah bayangan langsung tuhan dan acapkali di sebut dengan al-mu’aiyana. 
Untuk mencapai kebahagiaan sejati dalam kasyf, terlebih dahulu komponen-kompenen rohani manusia harus mampu menyimpan hal yang ihwal yang diperlukan untuk mencapai kebahagiaan sejati itu. Jika keseluruhan komponen rohani itu telah mampu menyimpan Islam, Iman, Makrifat, dan Tauhid, maka manusia baru akan sampai pada tingkatan kasyf, sehingga terbuka hijab yang menyelubungi rahasia hati nurani dan rahasia Ilahi, komponen-komponen rohani yang dimaksud adalah: sadr atau dada, yakni islam (QS. 39:22) qalb (kalbu) atau hati, merupakan tempat bersemayamnya iman. (QS. 49:7, QS.16:106); fu’ad atau hati. Yakni makrifat (QS.53:11) dan lubb (jamaknya albab) atau lubuk hati yang paling dalam merupakan tempat bersemayamya tauhid. (QS. 3:190). Para Sufi seringkali menambah unsur sir, yakni getaran jiwa yang paling dalam tempat petunjuk ilahi itu dialami. Apabila seluruh unsur rohaniyah itu tersebut bekerja, dan mampu menampung ihwal-ihwal di atas, maka akan terciptalah kasyf. Yang diharapkan.

Ja’far As-Sadiq mengatakan bahwa ‘aql (pemikiran rasional) merupakan rintangan antara nafsu dan kalbu. Kedua komponen ini merupakan batas yang tidak bisa di lampaui (QS.55:20) agar gelapnya insting-insting yang lebih rendah tidak mengancam kesucian hati manusia. Masing-masing pisah rohaniah tadi mempunyai fungsinya sendiri-sendiri yang mesti saling melengkapi menuju kesucian jiwa dan kesucian rohani untuk sampai terbuka hijab rahasia yang menyelubungi rahasia hati nurani manusia dan rahasia Ilahi.

Menurut Al-Ghazali, “kasyf (penyingkapan tabir) akan menjadi benar-benar sempurna jika tumbuh berkembang dari sikap istiqamah, karena penyingkapan biasanya di hasilkan oleh orang yang dapat menahan lapar dan ahli khalwat jika tak ada sikap istiqamah maka penyingkapan itu akan seperti ahli sihir, orang-orang Nasrani dan orang-orang ahli bersenang-senang lainnya”. Penyingkapan bagi para Sufi sesungguhnya di anggap sebagai rintangan perjalanan yang terkadang nampak kepada sang murid (pengikut jalan ruhani) di tengah-tengah perjalanan spiritualnya. Akan tetapi sang murid janganlah menuju memfokuskan perhatian kepadanya, karena penyingkapan itu bukanlah tujuan dalam tariqat dan akhirat pun tidak ada pahalanya. 

Berdasarkan terminologi tradisional kasyf dikelompokkan menjadi empat tingkatan yakni:
  1. Al-Kasf Al-Kauni, adalah terbukanya rahasia atas unsur-unsur yang diciptakan. Tingkatan ini merupakan akibat perbuatan-perbuatan saleh dan kesucian roh yang lebih rendah. Pengalaman ini menjelma kedalam mimpi-mimpi dan kewaskitaan (kewaspadaan).
  2. Al-Kasf Al-Ilahi. adalah terbukanya rahasia ketuhanan, yang merupakan buah dari ibadah manusia yang terus menerus dan pembersihan hati sampai benar-benar bersih, suci dan cemerlang. Hal ini merupakan hasil dari perilaku perjalanan roh dalam zikir yang mendalam, sehingga ia dapat melihat rahasia hal-hal yang tersembunyi dan bahkan mampu memahami pikiran-pikiran yang tersembunyi.
  3. Al-Kasf Al-‘Aqli, adalah terbukanya rahasia oleh akal pikiran, yang merupakan pengetahuan intuitif (ilham) paling rendah. Hal ini akan dapat di capai dengan membersihkan perilaku yang tercela yang dialami “ahli batin” dan dapat juga oleh para filusuf (yang pada umunya ahli olah batin).
  4. Al-Kasyf Lal-Imani adalah terbukanya rahasia melalui kepercayaan. Tingkatan ini merupakan buah dari iman yang sempurna setelah manusia berusaha mendekati kesempurnaan-kesempurnaan kenabian.
Iman sebenarnya adalah terserapnya semua sifat manusia dalam mencari tuhan. Ini tentu diterima bulat oleh semua orang mukmin. Kuasa makrifat mendudukkan sifat-sifat agnostisime dan dimana iman ada, di situ agnositisme tersingkir. Karena sebagaimana dikatakan: “sebuah lampu tidak berguna lagi ketika fajar menyingsing”. Allah berfirman: “raja-raja, bila mana mereka memasuki sebuah kota, menghancurkannya” (QS. 27: 34). Bila mana makrifat ada di hati ahli makrifat, kuasa-kuasa keraguan dan kesangsian dan egnostisisme sepenuhnya hancur, dan kedaulatan makrifat menundukkan panca inderanya dan hawa nafsunya, sehingga dalam semua pandangan dan tindakannya serta kata-katanya ia tetap di dalam lingkaran wewenangnya. Aku pernah membaca bahwa ketika Ibrahim Khawwash di tanya mengenai hakikat iman, ia menjawab: “aku tak punya jawaban terhadap pertanyaan ini sekarang, karena apa saja yang kukatakan hanyalah ungkapan semata, dan perlu bagiku jawabannya dengan tindakan-tindakanku. Tapi aku sedang menuju Makkah apakah kamu mau menyertaiku sehingga pertanyaanmu bisa di jawab”. Si periwayat melanjutkan: “Aku setuju. Ketika kami berjalan menempuh padang pasir, setiap hari ada dua piring berisi makanan dan dua cangkir berisi air. Ia memberiku satu dan yang lainnya untuk dirinya sendiri. Suatu hari, kami bertemu dengan seorang tua, dan orang tua itu turun dari tunggangannya dan bicara dengan Ibrahim sejenak. Kemudian ia meninggalkan kami. Aku bertanya kepada Ibrahim, “siapakah dia”. Ibrahim menjawab: ‘Inilah jawaban bagi pertanyaanmu.’kenapa demikian. Aku bertanya, ia berkata: ‘Itulah Khidhr, yang memintaku agar dia menyertaiku tapi aku menolaknya, karena aku takut jangan-jangan ketika bersamanya aku mempercayainya sebagai ganti mempercayai Tuhan, dan kemudian kepasrahanku kepada tuhan (tawakkal) akan terampas. Iman yang sebenarnya adalah pasrah kepada tuhan’.”dan Muhammad bin Khafifi mengatakan: “Iman adalah kepercayaan kepada pengetahuan yang datang dari yang gaib,” karena iman adalah kepada yang tersembunyi, dan hanya bisa tercapai melalui dikaitkannya oleh tuhan keyakinan kita yang merupakan hasil dari pengetahuan yang dianugrahkan oleh Allah.

Masing-masing tingkatan di atas mempunyai kekhususan tertentu. Lalu mengalami perkembangan pada masa selanjutnya.

Pengungkapan bebas (kasyifi-mujarrad) ada dua yaitu:
  • Mukasyafah dalam keadaan sadar.
  • Khwab (tidur), atau Waqi’ah (mimpi). Dalam keadaan tersembunyi dari sesuatu yang dirasakan Dalam mukasyafah, pemahaman ruh berhubungan dengan segala sesuatu yang ada di alam gaib maupun alam nyata. Dalam kasus pertama, yang mustahil tampak di alam nyata adalah surga, neraka, arasy (‘Arsy) Allah, lembaran terjaga (al-lawh al-mahfuzh), dan pena ciptaan (al-qalam); yang mungkin tampak dalam bentuk netural adalah berbagai peristiwa yang mungkin terjadi, yang bentuknya di alam gaib belum termanifesatasikan; yang mungkin tampak di dalam bentuk eksidental adalah malaikat dan ruh yang lepas dari tubuh.
Kasyf berbeda dengan ilmu laduni (QS. 18:65). Ilmu laduni adalah ilmu yang didapatkan oleh hamba Allah SWT atas petunjuk langsung dari-Nya. Sedangkan kasyf adalah tebukanya hijab yang membatasi rahasia realitas supranatural non rasional, yakni terbukanya hijab rahasia nurani dan rahasia Ilahi. Kasyf ini merupakan masalah cita rasa (zauq). Karenanya, pengalaman ini merupakan persoalan yang tidak pernah di capai oleh pendekatan ilmiah atau oleh pemikiran teologi yang rasaional. Kasyf hanya bisa di capai dengan daya upaya rohani yang sungguh meletihkan dan komunikasi yang terus menerus dengan rahasia alam nurani dan alam ilahi. Penyingkapan (kasyf) ini tak lain hanyalah tipuan belaka; sebab, dalam wajd-nya, kaum Rahabin itu setiap hari semakin bertambah sombong dan jauh menyimpang dari jalan keselamatan. Jika kasyf ini jatuh di jalan orang-orang yang benar dan tulus, maka yang demikian itu adalah sebuah keajaiban; karena, inilah sebab yang memperkuat keyakinan dan meningkatkan amal ibadah.

Beberapa Macam Kasyaf:

Pertama, kasyaf mata. Mata dapat melihat alam mawaraulmaddah atau disebut juga alam gaib. Mata dapat melihat perkara-perkara yang tidak dapat dilihat manusia biasa seperti malaikat, jin, dan setan. Kasyaf inilah yang menjadikan orang seperti Sayyidina Umar bin Khattab ra, dapat melihat apa yang sedang terjadi pada Sariahnya (Pasukan).

Kedua, kasyaf telinga, yang disebut juga hatif. Seseorang yang dianugerahi kasyaf semacam ini dapat mendengar suara-suara gaib, tetapi tidak melihat wujudnya. Misalnya, suara jin, malaikat, atau sesama waliyullah. Suara itu adakalanya membawa berita gembira, adakalanya sebaliknya. Tujuannya ialah, Allah hendak menghibur orang yang mendapatkannya. Kalau itu berita gembira, sang waliyullah akan gembira. Dan kalau berita duka, juga akan menggembirakannya, karena dia tahu terlebih dahulu, sehingga bisa menyiapkan diri dalam menghadapi ujian tersebut.

Ketiga, kasyaf mulut. Allah memberi kelebihan seseorang dari ucapannya, Seperti doanya makbul, atau apa yang dia ucapkan akan terjadi. Dengan ucapannya itu, sang waliyullah berdakwah, mengajar, dan memberi nasihat. Dan dengan ucapannya pula, dia dapat mengubah hati seseorang. Karamah seperti ini biasanya dikaruniakan, kepada pemimpin dan para juru dakwah.

Keempat, kasyaf akal. Seorang waliyullah mendapat berbagai macam ilmu tanpa harus belajar, membaca, dan sebagainya, ilmu ini disebut juga ilmu laduni.

Kelima, kasyaf hati, dinamakan juga firasat. Inilah “kasyaf” yang tertinggi di antara “kasyaf-kasyaf” yang disebutkan tadi. Biasanya dikaruniakan kepada pemimpin, itu pun tidak banyak, karena Allah mengaruniakan hanya kepada pemimpin yang sangat shalih, sabar dalam menanggung ujian yang begitu berat. Kasyaf hati ialah rasa hati atau gerakan hati yang tepat lagi benar. Dia juga dapat membaca hati atau pikiran seseorang.

Nabi bersabda, “Hendaklah kamu takut terhadap firasat orang mukmin, karena dia melihat dengan pandangan Allah.” Apa yang dimaksudkan dengan firasat oleh Rasulullah SAW ini adalah kasyaf hati.


Sumber:
Sayyid Ali, Sayyid Nur bin.2003 Tasawuf Syar’i, Jakarta, Hikmah.
Umar Suhrowardi, Syihabuddin Syaikh.1998. Awarif Al-Ma’arif (terj). Bandung, Pustaka Hidayah
Utsman Al-Hujwiri, Bin Ali. 1995. Kasyf Al Mahjub (Terj.) Bandung, Mizan.

Kelakar Pena, Kasyafnya Para Wali, 2010

Anda sedang membaca Kasyaf Bagi Para Sufi. Untuk mengikuti posting terbaru silahkan Liked Facebook Fanpage: Mistikus Cinta | Follow Twitter: @Sufipedia | Terima kasih.

Post a Comment

 
Top