Sufipedia

Kitab Barencong - Suatu tanda/ciri nas dari orang yang lulus dalam perjuangan mereka selalu menyerah kepada Allah sejak awal perjuangannya mereka ridho kepada Allah dan berbuat menurut kehendak Allah.

Pertama : syua’aa’ul basyirah : cahaya akal
Kedua : ainal basyirah : cahaya ilmu
Ketiga : haqqul basyirah : cahaya ilahi

Keterangan-keterangan:

Orang yang sampai kepada cahaya akal yakni: Allah selalu meliputi dirinya dan mengurung mereka lahir dan bathin, artinya: ia yang meliputi dan ia yang meliputi, ia yang mengurung dan ia yang dikurung.

Orang yang sampai kepada cahaya ilmu, yakni: Allah selalu bersamanya dimana saja ia berada. Ia merasa dirinya tidak ada lagi jika dibanding dengan adanya Allah: artinya adanya adalah adanya Allah, dan tiadanya adalah tiada makhluk. Karena pada hakikatnya makhluk ini fana kepada / kedalam Allah (fana zahir dan bathin lahir bathin). Inilah disebut seorang arifbillah.

Karena ahli hakikat itu hanya melihat kepada Allah saja walaupun matanya terbelalak melihat alam. Orang seperti itu bukanlah tidak melihat kepada sesuatu disampingnya karena itu tidaklah berdiri sendiri-sendiri.

Maka tidaklah lagi kehendaknya yang berlaku, melainkan kehendak Allah ta’ala jua. Apabila ruh Allah telah meliputi akan Isa anak Mariyam, demikian pula kita ini pada hakikatnya tiada berbeda-beda dengan Isa a.s. Jadi apabila siapapun mampu memfanakan dirinya ke dalam tuhan yaitu dengan pensucian ruh. Maka pada waktu itu ruh Allah masuk ke dalam badan insan maka dikala itu perbuatan dan iradat insani tadi menjadi perbuatan dan iradat tuhan. Tegasnya insan ain Allah dan Allah ain insan. Jadi pada hakikatnya manusia itu adalah tuhan tuhan dalam rahasia. Sebab insan jadi daripada zatnya jua (rahasia). Tuhan menurut bentuk dan surahnya sendiri. Itulah sebabnya maka tuhan memerintahkan kepada malaikat supaya sujud kepada Adam (manusia). Ini adalah bukti nyata dalam al-Qur’an. Tuhan itu menjelama atau tajali kepada insan yang telah sanggup memfanakan dirinya kedalam tuhan, sehingga mendapat baqa didalamnya, fana kedalam tuhan dan baqa dalam tuhan. Cinta kedalam tuhan adalah kecintaan tuhan. Sekarang kita lanjutkan pula kepada membicarakan tentang hakikat. Perkataan hakikat berpokok dari kata al-haqqu (sebenarnya) kemudian pindah menjadi muhaqqa (nyata kebenarannya). Sudah itu pindah menjadi ta haqio (benar tak salah lagi). Akhirnya menjadi hakikat (zat dari al-haqqu). Jadi yang disebut hakikat dalam mutunya yang luhur itu ialah bebas lepas dari segala pengaruh berkuasa sendiri dan tidak satu misalpun di pendapat untuk dicontohnya. Hakikat yang luhur itu hanya dapat dilihat oleh ilmu, ruh dan perasaan (ZAUQ). Sekarang kita dalami lagi tentang mengenal hakikat.

Kata-kata hakikat tadi berpokok dari pada al-haqqu. Al-haqqu itulah yang memberikan nur cahaya dan aulia yang menjadikan segala yang ujud (segala yang ada) dialah yang Menjadikan segala yang ujud (segala yang ada). Dialah yang menjadikan alam seluruhnya. Didalam alam itulah terletak sinar yang membukakan rahasia dari al-haqqu. Dengan kata lain al-haqqu itu ialah : allah ta’ala. Jadi apabila manusia berangsur-angsur mengetahui dan mengenal al-haqqu itu. Maka akhirnya al-haqqu itu pulalah yang menjadi buah kehidupan manusia itu. 

Demikianlah keterangan tentang mengenal Hakikat. (Selanjutnya - Saksi Dan Penyaksian)

File pdf:

https://googledrive.com/host/0B6BIN5otUZK0Tlc2QkZISVlFckU  
https://googledrive.com/host/0B6BIN5otUZK0LXVJSDMyYlZKdGs

Anda sedang membaca Ciri-Ciri Nas Seorang Arif. Untuk mengikuti posting terbaru silahkan Liked Facebook Fanpage: Mistikus Cinta | Follow Twitter: @Sufipedia | Terima kasih.

Post a Comment

 
Top