Sufipedia


“Adapun orang-orang yang beriman itu sangat cinta kepada Allah” (QS [2]:165)

“Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya” (QS [5]:54)

“Tuhan adalah Cinta” (Al-Hadits)

Esensi Cinta ini difirmankan-Nya dalam sebuah hadits Qudsi yang merupakan favorit para Sufi:

“Aku ingin mengenalkan Diri-Ku bahwa Aku Pengampun, Penutup Aib, Yang Maha Indah, Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Oleh karena itu Aku menciptakan makhluk supaya diri-Ku dikenal”

Fitrah suatu Dzat Yang Penuh Cinta dan Kasih Sayang adalah mengungkapkan kebaikannya itu, meluapkan kasih sayangnya itu. Setiap peluapan kasih sayang membutuhkan objek. Dalam rangka peluapan kasih sayang-Nya inilah alam semesta tercipta. Yakni sebagai objek peluapan kasih sayang-Nya itu.

“Aku adalah Perbendaharaan Yang Tersembunyi, Aku cinta (rindu) untuk diketahui. Maka Aku ciptakan alam agar Aku dikenali”

Jadi sesungguhnya alam tercipta karena cinta prinsip penggeraknya adalah cinta, pengikatnya adalah cinta. Tujuan akhirnya pun adalah cinta. Salah satu kata yang digunakan Al-Qur’an untuk menunjukkan cinta adalah Wudd yang dalam bahasa Arab berarti bentuk tertinggi dari cinta dan disebutkan dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya mereka yang percaya dan melakukan hal-hal yang baik, Yang Pemurah akan menentukan bagi mereka cinta” (QS [19];96)

Di sini rahmah (kasih) dan wudd (cinta) digunakan bersama-sama.

Di tempat lain dalam Al-Qur’an wudd (cinta) dan ghufron (ampunan) disebutkan secara bersamaan:

“Dan Dia adalah Maha pengampun dan Pecinta” (QS [85]:14)

Sedangkan rahmah (kasih) dan wudd (cinta) disebutkan bersama-sama dalam ayat ini:

“Mintalah pengampunan dari Tuhanmu dan kemudian bertaubatlah kepada-Nya.  Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha Penyayang Pecinta” (QS [11]:90)

Al-Wadud  adalah salah satu dari nama-nama indah Allah yang berarti Sumber Cinta. Dia telah menganugerahi manusia dengan kapasitas tidak terbatas untuk mengembangkan cinta.

Hubb adalah kata lain yang digunakan dalam Al-Qur’an yang juga berarti cinta, sebagaimana dinyatakan dalam:

…Tuhan akan mendatangkan orang yang Dia kasihi dan yang mengasihi Dia (QS [5]:54)

Sesungguhnya cinta adalah sifat hakiki Allah. Dia menekankan dalam Al-Qur’an bahwa. 

Dia telah mewajibkan atas diri-Nya kasih sayang (QS [6]:12)

Juga 

Kasih sayang-Ku meliputi segala sesuatu (QS [7]156) 

dan 

Sesungguhnya Tuhanku adalah Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang (QS [11]:90)

Selain itu dalam beberapa hadits Qudsi Allah mengungkapkan dengan tegas bahwa “Kasih sayang-Ku mendominasi murka-Ku”

Sesungguhnya Islam memang mempromosikan hubungan penuh cinta kasih dan kerinduan di antara manusia dan Tuhan, persis seperti hubungan perindu dan yang dirindui. Al-Qur’an pun menegaskan bahwa seharusnya cintalah yang melandasi hubungan antara manusia dan Allah: …Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya… (QS [5]:54)

Sesungguhnya “hubungan penuh kecintaan” ini jugalah yang dimaksud ketika Allah berfirman Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menghamba (beribadah) kepada-Ku (QS [51]:56)

Mahabbah, hubb (cinta) dan ‘isyq (kerinduan) adalah satu makna. Yang utama di dalam hal ini adalah cinta membara seseorang kepada Sang Kekasih yaitu pandangan yang menganggap baik segala hal karena api cinta yang menembus pikiran hingga mengobarkan api mujahadah. Lalu muncul asapnya di balik bagian belakang otak tampak isyarat-isyarat pikiran tentang cinta dari bagian depan ubun-ubun dan terbuka pintu-pintu kekosongan hati.

Dudukkanlah khayalan Sang Kekasih di depan ‘ayn al-yaqin. Jiwa mengkilapkan cermin mujahadah di dalam memandang keindahan Kekasih. Asalnya di dalam mahabbah adalah kebersamaan, keakraban, dan kepercayaan pada ucapan kekasih. Ketika itu keinginan pendambaan berkobar dengan nyala api kerinduan. Lalu keadaan ‘isyq mengalahkannya.

Jadilah di jalan-jalan itu dia tergila-gila pada sesuatu yang menjadi cahaya melankolis. Ucapan bercampur aduk, rongga tenggorokan terbakar, dan langit hati tertutup karena penampakan Rembulan Kekasih. 

Perindu itu tetap merindukan, mencintai, dan kebingungan terhadap penampakan keagungan Sang Kekasih. Ketika rongga-rongga tenggorokan itu terbuka, pasangan mempelai hati berhamburan dan pasangan angan-angan menari di majelis keintiman (al-wishol). Seruling harapan ditiup dan kecapi harap-harap cemas dipetik. Kemudian debu bergerak, anda melihat asap harapan. Asap kepayahan menguat, anda melihat kebimbangan di dalam hati. Di sana tidak ada ratapan dan tidak pula ketenangan. Tampak kekurusan dan kepucatan terlihat bekas-bekas keterjagaan. Api kerinduan menyebabkan badan kurus. 

Syawq (kerinduan) merupakan pendorong bagi keadaan mukasyafah (ketersingkapan). Syawq adalah harapan untuk bertemu dengan Sang Kekasih. Sedangkan pertemuan dengan Kekasih tidak diperoleh kecuali dengan mukasyafah.

Mukasyafah itu ada dua yaitu dengan penglihatan dan dengan perasaan hati. Ia merupakan penampakan diri Kekasih di dalam keadaan yang dirasakan hati pecinta. Hakikat mukasyafah adalah memandang Sang Kekasih, namun hal ini berbeda-beda menurut kadar tingkatan para pecinta. Pandangan manusia itu tidaklah sama. Yang paling rendah tingkatan mereka adalah pandangan dengan perasaan hati. 

Adapun pandangan dengan penglihatan pada suatu kaum merupakan ‘arodh yang tidak menetap. Yang paling agung di antara kedua kedudukan itu adalah gabungan antara pandangan dengan penglihatan dan perasaan hati.

Apabila tabir-tabir kelalaian terangkat Sang Kekasih akan menampakkan diri. Pecinta menjadi lenyap hingga keluar dari tabir kemanusiaan dan hijab jasmani. Lalu dia melihat hijab dan mendengar perkataan. 

Tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang hijab (QS [42]:51)

Disarikan dari: “Islam-Risalah Cinta dan Kebahagiaan”, Haidar Bagir

Anda sedang membaca Esensi Cinta Para Sufi. Untuk mengikuti posting terbaru silahkan Liked Facebook Fanpage: Mistikus Cinta | Follow Twitter: @Sufipedia | Terima kasih.

Post a Comment

 
Top