Sufipedia

Silaturahmi admin Sufipedia kurang lebih 17 tahun silam saat itu Eyang Andri berusia 675 Tahun. Alhamdulillah beliau bersedia menemui kami di kamar beliau. Raut wajah beliau yang bersih bercahaya serta kulit yang begitu halus dan lembut. Foto yang ada disamping berikut yang kami peroleh dari Harian Bangsa - Malang, sepertinya bukan foto beliau sendiri kemungkinan adalah keturunan beliau. Sebab yang kami lihat tidak sama dengan foto disamping ini.

Pertama kali di posting di dunia maya melalui blog Mistikus Cinta dengan judul Mbah Andri Wonosalam. Disebutkan berusia 675 tahun. Karena saat berkunjung di kediaman beliau kurang lebih 17 tahun silam, usia beliau 675 tahun.

Beberapa puluh tahun sebelumnya, ketika Eyang Andri masih berusia 560 tahun.  Untuk pertama kali Eyang Andri dimuat dalam sebuah pemberitaan di media cetak 'Harian Bangsa' - Malang, Jawa Timur. Dengan Judul: Mbah Andri, Berusia 560 Tahun, Nikahi 40 Ribu Wanita - Bisa Panggil Macan Ke Rumahnya.
Eyang Andri di Harian Bangsa - Malang, Jawa Timur
Eyang Andri demikian beliau biasa di sapa adalah satu dari guru ruhani Bung Karno bahkan beliau yang mengasuh sejak kecil. Pernah suatu hari di kediaman beliau, tiba-tiba segelas kopi yang ada dimeja dihadapan beliau habis, lalu beliau berkata: "No.. No.. wong wis mati kok isih biso ngentekne kopi" (No.. No.. orang sudah meninggal kok masih bisa menghabiskan kopi). Yang Eyang panggil No adalah Bung Karno.

Eyang Andri sedikit membahas kitab-kitab yang beliau amalkan tentang ajaran tingkat tinggi Ilmu Makrifatullah, sewaktu berkunjung di kediaman beliau saat itu. Berangkat dari sinilah Sufipedia berusaha untuk mengumpulkan ajaran-ajaran wali-wali Nusantara agar tetap lestari untuk generasi penerus yang akan datang.

Eyang Andri yang lulus empat perjalanannya, yaitu Syareat, Thoriqot, Hakekat dan Ma'rifat. Beliau mempunyai bacaan sholawat tertentu yang dibaca 100 kali setelah sholat fardhu. Jadi dalam sehari semalam jumlahnya 500 kali. Berikut kisah Eyang Andri yang dimuat Harian Bangsa: 

Bisa Panggil Macan Ke Rumahnya 

Konon, beliau juga pernah mengasuh Bung Karno sejak kecil serta mengasah perjalanan ilmu Presiden RI pertama tersebut.

Semakin banyak saksi yang menguatkan bahwa usia Mbah Andri ratusan tahun. Meski Mbah Andri sendiri tidak merespon saat ditanya masa lalu yang berkaitan penguasa tanah Jawa saat dia masih muda atau masih kecil.

Selain beberapa warga yang pernah minta bantuannya, yang paling kuat dinyatakan Saerah (71) dan Ngatemi (65), warga Wonoasih, Wonosalam, Jombang tidak jauh dari rumah Mbah Andri. Menurut mereka, Mbah Andri tidak mengalami perubahan baik fisik maupun bicaranya, sejak mereka mengenalnya sekitar tahun 50-an.

Saat itu, menurut Saerah yang berasal dari Ponorogo, bersama suaminya, Slamet (80) merantau ke daerah itu, langsung menempati hutan karet di Desa Wonomerto, Wonosalam. Letaknya di dalam hutan. Untuk menunju ke lokasi itu, harus melalui jalan setapak yang terjal dan penuh dengan rintangan dahan serta ranting kayu hutan.

“Sekitar tahun 50, saya masuk hutan itu sudah ada Mbah Andri. Tetapi setelah beberapa tahun. Sebab rumah kami berjauhan, maklum di dalam hutan. Sejak saya kenal, namanya memang Andri,” tutur Saerah dengan bahasa Jawa.

Kata Saerah, kondisi Mbah Andri tahun itu, sama dengan kondisi saat ini, baik raut muka, cara bicara yang cadel, cara berjalan dan sebagainya. Yang aneh, dalam usia setua itu, dengan kondisi renta, Mbah Andri masih bisa membuahkan keturunan dari istrinya, Mbah Minem. Terbukti, sekitar 20 tahun lalu, mempunyai anak lagi, diberi nama Ngateno. Anak ini, persis Mbah Andri, dan diyakini akan mewarisi ilmunya, tetapi beberapa waktu lalu meninggal dunia.

Kelebihan Mbah Andri, kata Saerah lagi, sering menghilang, tahu-tahu datang membawa bahan-bahan makanan dan perabot rumah tangga, yang tentu berasal dari kota. Padahal, tidak mungkin dia bisa membawanya sendiri. “Tahun itu kira-kira pantasnya barang-barang itu ya dari Surabaya atau Mojokerto, atau mungkin Jakarta. Tetapi kok bisa hanya sebentar mendapat barang sebanyak itu,” jelas Saerah.

Selain itu, lanjutnya, Mbah Andri dikenal bisa mendatangkan binatang hutan, dan bisa berkomunikasi dengan para binatang itu. Tetapi tidak ada tetangganya yang berani melihatnya, meski diminta Mbah Andri. “Ya tajut kena sasaran serangan. Sebab katanya sampai ribuan binatang Bhutan. Ada ular, macan, gajah, burung, kera dan lain-lainnya,” katanya.

Mengapa waktu itu Mbah Andri berada di hutan itu? Kata Ngatemi yang kelahiran asli Desa Wonomerto, waktu itu Desa Wonoasih belum ada. Puluhan KK tinggal di hutan karet yang disebut ‘Galangan’. Mereka hidup puluhan tahun di situ.

Baru setelah hutan karet yang digarap sekitar 50 orang dengan jarak rumah yang berjauhan itu, diminta oleh seorang dokter Surabaya yang memperalat punggawa desa, mereka diusir, termasuk Mbah Andri. Kemudian ditempatkan di Wonoasih sekarang ini.

Waktu itu, jalannya juga masih setapak. “Karena itu, ilmu yang diajarkan Mbah Andri itu, ilmu kekebalan. Tetapi bukan saja kekebalan kulit, melainkan kekebalan batin, salah satunya kesabaran. Diperlakukan seperti itu, Mbah Andri tidak melawan. Padahal jelas mampu. Wong dia bisa membakar hutan tanpa api, bisa membunuh orang tanpa menyentuh,” katanya.

Ilmu Kekebalan Batin

Memang Mbah Andri dikenal gudangnya kekebalan. Sudah ribuan orang yang diberi ilmu itu. Tetapi proses menjalani lakonnya memang berat. Misalnya, dalam waktu 41 malam, setiap pukul 12 malam sampai terbit fajar harus berendam di sungai yang ditentukan. Sungai yang digunakan untuk penggemblengan itu, biasanya di Desa Bareng, sekitar 8 km dari Wonoasih.

Ketika ditanya soal ini, Mbah Andri hanya tersenyum. “Kowe pilih endi, dibacok ora tedas, karo ora sido dibacok. Nek dibacok ora mempan, wong sing mbacok mesti isih duwe rencana golek lenane. Nanging yen ora sido dibacok, biasane dadi sedulur (kamu pilih mana, dibacok tidak mempan, dengan tidak jadi dibacok.

Kalau dibacok tidak mempan, pasti yang membacok masih menyimpan rasa dendam. Tetapi kalau tidak jadi membacok, biasanya menjadi saudara), ”kata Mbah Andri.

Seperti yang dijelaskan Saerah, Mbah Andri selalu melayani semua permintaan tolong siapa saja.

Hanya saja, biasanya yang berkeinginan naik pangkat, naik gaji, pindah tugas, ingin menduduki satu jabatan, mencalonkan kepala desa, itu yang sudah sering terbukti berhasil. “Banyak yang sudah berhasil. Sampai sekarang juga banyak yang minta, terutama hari Minggu, wah banyak tamunya,” urai Saerah. 

Anda sedang membaca Eyang Andri Sang Wali Dari Wonosalam . Untuk mengikuti posting terbaru silahkan Liked Facebook Fanpage: Mistikus Cinta | Follow Twitter: @Sufipedia | Terima kasih.

Post a Comment

 
Top