Sufipedia

Serat Paramayoga adalah kitab karangan R. Ngabehi Ronggowarsito yang diambil dari berbagai macam kitab dan diurutkan berdasarkan waktu kejadian. Kisah dimulai dari Adam dan Hawa hingga nabi-nabi, setelah itu pararel dengan kisah para dewa hingga masuknya manusia pertama ke tanah Jawa. 

Kitab Paramayoga menceritakan perjalanan hidup Nabi Adam, sampai dengan keturunan para dewa, dan selanjutnya sampai dengan awal mula tanah Jawa ditinggali oleh manusia.

Isinya diambil dari kitab Jitapsara karangan Begawan Palasara di Astina, juga mencuplik dari Pustaka Darya dari Tanah Hindustan, digabungkan dengan kitab Miladuniren dari Najran, juga kita Silsilatulguyup dari Selan, dan juga kitab Musarar sekaligus juga kitab Jus al-Gubet dari Rum, jadi kitab-kitab tersebut diambil sebagian yang ada hubungannya dengan Kitab Paramayoga saja, juga mengambil berbagai macam hikayat dan riwayat hidup, lalu diurutkan berdasarkan perhitungan tahun Matahari dan Bulan. 

KISAH NABI ADAM DAN NABI SYS 

Cerita dibuka sesuai yang ada di Kitab Jitapsara, Nabi Adam atau Sang Hyang Ad-hama setelah mendapat pengampunan dari Tuhan Yang Maha Kuasa, lalu menjadi khalifah di negara Kusniyamalebari merajai hewan-hewan. Yang dimakan hanya yang keluar dari mujizat dan dalam Kitab Jitapara disebutkan berasal dari berdoa. Negara Kusniyamalebari ada di tanah Asia sebelah barat laut, di sebelah barat laut Kaspi, sebelah selatan gunung Kaukasus, timur laut Turki Asia yang dimasa akan datang disebut bangsa Eropa tanah Transkaokasi. Di sana Nabi Adam menggunakan perhitungan tahun 2 macam: tahun Matahari dan tahun Bulan.

Sebelumnya, di dalam Taman Surga lahir (diciptakan) seorang manusia yang diberi nama Adam. Ketika Tuhan memilihnya sebagai khalifah, para malaikat yang dipimpin Ajajil mengajukan keberatan karena umat manusia mereka anggap hanya bisa berbuat kerusakan saja. Maka Tuhan pun mengajari Adam berbagai macam ilmu pengetahuan yang membuatnya mampu mengalahkan kepandaian para malaikat. Di hadapan para malaikat Tuhan menguji kepandaian Adam. Para malaikat akhirnya mengakui keunggulan Adam. Tuhan kemudian memerintahkan semua malaikat untuk bersujud menghormat kepadanya. Para malaikat serentak bersujud melaksanakan perintah Tuhan kecuali makhluk bernama Ajajil.

Ajajil menolak bersujud  kepada Adam karena baginya hanya Tuhan semata yang pantas disembah. Meskipun mengajukan berbagai alasan, tetap saja Ajajil dianggap sebagai pembangkang. Ajajil kemudian dikeluarkan dari Taman Surga dan dijuluki sebagai Sang Iblis. 

Nabi Adam kemudian menikah dengan wanita pilihan Tuhan yang bernama Hawa. Keduanya diizinkan menikmati segala macam isi Taman Surga kecuali buah dari sebuah pohon larangan.

Sementara itu Ajajil Sang Iblis datang menyusup ke dalam Taman Surga dengan menyamar sebagai seekor ular. Tujuannya adalah untuk membuktikan bahwa Adam tidak sempurna dan bisa dikalahkan. Melalui kepandaiannya berbicara, ular samaran Ajajil berhasil menghasut Adam dan Hawa sehingga keduanya memakan buah pohon larangan tersebut. Mengetahui hal itu Tuhan pun menghukum pasangan tersebut keluar dari Taman Surga.

Adam kemudian membangun tempat tinggal baru di daerah Asia Barat Daya bernama Kerajaan Kusniyamalebari. Setelah memimpin selama 129 tahun barulah Adam dan Hawa memiliki keturunan. Setiap kali melahirkan mereka mendapatkan putra dan putri sekaligus. Putra yang tampan lahir bersama putri yang cantik, sedangkan putra yang jelek lahir bersama putri yang jelek pula. Nabi Adam memiliki anak 40 pasang kembar dampit ditambah 2 yang tidak lahir secara kembar. Yang laki-laki Sayyidina Sis sedang yang perempuan Siti Hanun.

Setelah lahir lima pasangan Nabi Adam berkehendak menjodohkan anak-anak kembar dampitnya dengan cara silang. Namun Siti Hawa isterinya menentang dan ingin menjodohkan anak kembar dampitnya dengan pasangan masing-masing. Alasannya sudah merupakan ketentuan takdir dijodohkan sejak dalam kandungan. Adam dan Hawa sama-sama saling mempertahankan pendapat. Dari silang sengketa antara Adam dan Hawa tersebut. Keduanya sepakat mengeluarkan rahsa yang diterjemahkan sebagai darah diterjemahkan sebagai (“dayaning urip”/ daya hidup), untuk mendapatkan petunjuk dari Tuhan.

Atas kehendak Tuhan rahsa milik Adam tercipta menjadi bayi namun hanya berwujud ragangan sementara rahsa milik Hawa tetap berwujud darah. Menyaksikan hal itu Hawa pasrah terhadap keputusan Adam. Rahsa tersebut kemudian ditempatkan dalam cupumanik (cupu = wadah  manik = inti) dan sama-sama dipanjatkan doa. Rahsa dalam cupumanik Nabi Adam berubah menjadi orok bayi namun hanya ragangan atau tubuh yang belum bernyawa. Atas kemurahan kodrat dan iradat Allah, bayi yang ada pada cupumanik milik Nabi Adam menjadi lengkap perwujudannya sebagai manusia yang sempurna kemudian cahaya nurbuwah (kenabian) yang ada di badan Nabi Adam berpindah ke dalam tubuh bayi hingga dapat hidup sempurna.

Adam mendapatkan bisikan dari Allah agar bayi tersebut dinamakan Sayidina Sis (Nabi Sis) yang dalam Jitapsara (Kitab susunan Begawan Palasara Jawa) disebut Sang Hyang Sita di mana kelak ia akan menurunkan para pemimpin dunia. Nabi Adam memanjatkan syukur kepada Allah dan menjalankan bisikan gaib tersebut dan bayi Sis digendongnya.

Setelah Adam pergi cupu yang tadinya digunakan sebagai wadah rahsa terhempas oleh angin kencang sehingga jatuh di dekat Samudera Hijau. Cupu tersebut ditemukan oleh Malaikat Azazil dan disimpannya sebagai pusaka dan diberi nama Cupumanik Astagina.

Beberapa tahun kemudian Sis tumbuh menjadi manusia istimewa yang memiliki keunggulan dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain. Selain memiliki lima pasang kakak Sis juga memiliki 35 pasang adik dan seorang adik perempuan yang lahir tanpa pasangan bernama Siti Hanun.

Pada suatu hari Nabi Adam mengutus Sayyid Sis untuk mengambil buah di Taman Surga. Sis berhasil memasuki tempat tersebut dan mendapatkan buah yang diinginkan ayahnya. Selain itu Sis juga mendapatkan anugerah dari Tuhan berupa seorang bidadari bernama Dewi Mulat. Sis kemudian menikah dengan Mulat. Keduanya hidup berumah tangga di negeri Kusniyamalebari.

Malaikat Azazil mengetahui dan mendengar bahwa kelak di kemudian hari keturunan Adam akan sangat dikasihi Allah. Maka Azazil selalu berdoa kepada Allah dan selalu berupaya agar keturunan Adam dan keturunannya bisa menyatu. Maksudnya agar dirinya dapat menurunkan raja-raja bagi manusia.

Doa Azazil dikabulkan kemudian anaknya Dlajah dibuat mirip dengan Dewi Mulat untuk menggantikan isteri Nabi Sis tersebut. Sedang Dewi Mulat disembunyikan. Setelah Azazil mengetahui nutfah Nabi Sis (Sang Hyang Sita) jatuh di telanakan (rahim) Dlajah, maka cepat-cepat Dlajah dibawa pulang ke kahyangannya dan Dewi Mulat dimunculkan kembali.

Dewi Mulat melahirkan anak kembar pada waktu Julungwangi atau saat matahari terbit. Yang satu berwujud bayi laki-laki dan yang satunya berwujud Cahya (Nur). Pada waktu yang sama Dlajah juga melahirkan tepat saat Julungpujut atau saat matahari tenggelam. Yang dilahirkan Dlajah berwujud Asror (rahsa) yang berkilauan memancarkan cahaya laksana embun pagi di daun talas.

Selanjutnya Asror tersebut dibawa Azazil ke Kusniyamalebari dan dipersatukan dengan anak Nabi Sis dengan Dewi Mulat yang berwujud Cahya (Nur). Kemudian berubah menjadi laksana bayi laki-laki yang masih diliputi cahaya dan tidak dapat dipegang. Kakek bayi-bayi tersebut Nabi Adam (Hyang Adhama) memberi nama Anwas (Nasa   dalam  Jitapsara) kepada cucunya yang berwujud bayi laki-laki (dari Dewi Mulat) dan Anwar (Nara  dalam Jitapsara) kepada cucunya yang berwujud cahaya (persatuan antara anak Dewi Mulat dan anak Dlajah).

Sayyid Anwas tekun beribadah kepada Allah SWT sedang Sayyid Anwar gemar bertapa dan berkelana hingga bertemu dengan Malaikat Azazil dan berguru kepadanya. Sayyid Anwar mendapatkan berbagai ilmu kesaktian. Bisa berubah sebagai laki-laki atau perempuan bisa menghilang dan kasat mata (tidak bisa diindera). Juga bisa terbang ke angkasa dan masuk ke perut bumi.

Ketika Sayyid Anwar pulang dan bertemu Nabi Adam maka kakeknya melihat berubahnya perilaku cucunya itu. Nabi Adam paham bahwa perubahan itu dikarenakan ulah Azazil dan berkata kepada Nabi Sis bahwa kelak Sayyid Anwar akan murtad dari ajaran agama yang dipeluk kakek dan ayahnya.

CATATAN:

Kisah Sayyid Anwar (Sang Hyang Nurcahya) tersebut juga dengan samar-samar mengisahkan proses beremanasinya Sang Hyang Sita (Nabi Sis) menjadi Sang Hyang Nurcahya (Sayyid Anwar).

Meskipun kelahirannya melalui ibu:
Dewi Mulat dan Dlajah namun jelas sekali bahwa Dewi Mulat bidadari pemberian Allah sedang Dlajah “anak” malaikat Azazil. Paramayoga tidak secara jelas menguraikan tentang malaikat Azazil dan bagaimana ceritanya bisa punya “anak” bernama Dlajah. 

Disinilah “kehalusan” pujangga Jawa dalam menukil ajaran Islam tentang Allah Swt dan Malaikat. Para pujangga Jawa menghormati ketauhidan Islam dengan menempatkan Allah Swt pada wilayah “tan kena kinaya ngapa”. Serta tetap membuat misteri tentang posisi Malaikat. Secara samar-samar memposisikan kesetaraan Malaikat dengan Hyang Adhama sehingga disebutkan bahwa Malaikat Azazil berkehendak ikut menurunkan raja-raja penguasa manusia. Secara tersirat menyatakan bahwa Malaikat (sebagai Kuasa Allah) ikut mengatur “uriping manungsa”. Maksudnya ikut terlibat dalam proses beremanasinya Dzat Sejating Urip selanjutnya.

Asal-usul Serat Paramayoga merupakan karya sastra berbahasa Jawa yang isinya merupakan perpaduan unsur Islam, Hindu dan Jawa asli. Tokoh Sang Hyang Wenang misalnya disebut sebagai leluhur dewa-dewa Mahabharata sekaligus keturunan dari Nabi Adam. Sang Hyang Wenang merupakan putra Sang Hyang Nurrasa putra Sang Hyang Nurcahya putra Nabi Sis putra Nabi Adam. Ia memiliki seorang kakak bernama Sang Hyang Darmajaka dan seorang adik bernama Sang Hyang Pramanawisesa. Setelah dewasa Sanghyang Wenang mewarisi takhta Kahyangan Pulau Dewa dari ayahnya. Kahyangan ini konon sekarang terletak di negara Maladewa di sebelah barat India.

Set menurut kepercayaan Islam

Set (Syits) (sekitar 3630-2718 SM) hidup selama kurang lebih 912 tahun meninggal pada usia 1042 tahun. Menikah dengan Azura (Hazurah) kemudian mengandung seorang anak yang bernama Enos pada usia 105 tahun. Ia salah seorang anak Adam yang dianggap sebagai salah satu dari nabi-nabi dalam Islam.

Ia juga termasuk guru Nabi Idris yang pertama kali mengajarkan baca-tulis, ilmu falak, menjinakkan kuda dan lain-lain. Dalam kisah lain di riwayatkan:

Nabi Adam berketurunan Nabi Sis. Nabi Sis mempunyai 2 anak. Yang pertama Sayyid Anwar, beliau menurunkan para dewa yang menurunkan keluarga Barata, dimana ada Pandawa salah satunya Arjuna yang mempunyai cucu bernama Parikesit dari Parikesit ini menurunkan Angling Darma.

Sri Aji Joyoboyo (Kediri) lalu keturunan- keturunan mereka di Majapahit, Demak, Mataram, sampai sekarang menyebar dimana-mana di Nusantara. Tidak sedikit raja-raja keturunan Sayyid Anwar yang menguasai bangsa-bangsa lain di permukaan bumi.

Yang ke 2 adalah Sayyid Anwas yang besar dalam asuhan Nabi Adam, Nabi Idris, Ibrahim, Musa, Isa sampai Muhammad S.A.W. Keturunan Sayyid Anwas juga menumbuhkan suku-suku bangsa superior seperti bangsa Israil, bangsa Arab, bangsa Arya dan bangsa-bangsa besar lainnya.

Nabi Adam punya anak Nabi Sis

Nabi Sis kawin dengan Dewi Mulat (bidadari dari langit) punya anak 2: Sayyid Anwas (menurunkan nabi-nabi) dan Sayyid Anwar (menurunkan dewa-dewa). Sayyid Anwar alias Nurcahyo kawin dengan anak raja jin punya anak Nurrasa. 

Nurrasa kawin dengan anak raja jin punya anak Sang Hyang Wenang. Sang Hyang Wenang kawin dengan anak raja jin punya anak Sang Hyang Tunggal. Sang Hyang Tunggal punya anak dari istri pertama namanya Rancasan, dari istri kedua punya anak Antaga (Togog), Ismaya (Semar) dan Manikmaya (Betara guru).

Putra Nabi SYS:

Sayyid Anwar, Meminum Maul Hayat

Dalam riwayat yang lain dikisahkan bahwa Sayyid Anwar sempat diasuh oleh Nabi Adam. Sayyid Anwar melanggar pantangan dengan meminum air kehidupan yang membuat hidupnya abadi. Mengetahui itu Nabi Adam marah lalu mengusir Sayyid Anwar.

Sayyid Anwar sangat kecewa dengan sang kakek lalu pergi berkelana. Di tengah perjalanan dia bertemu Malaikat Harut dan Marut yang menyesatkannya menuju ke arah Sungai Nil dan bertemu dengan beberapa anak Adam lainnya.

Dengan sang paman Sayyid Anwar belajar ilmu melihat masa depan (semacam ilmu laduni) dan berbagai ilmu hebat lain. Usainya Sayyid Anwar melanjutkan perjalanan ke arah timur menuju pulau kecil di antara Pulau Maladewa dan Laksadewa yang bernama Lemah Dewani. Di situlah Sayyid Anwar melakukan tapa brata dengan cara melihat matahari mulai terbit sampai tenggelam.

Setelah tujuh tahun bertapa daya linuwih pada Sayyid Anwar terolah hebat sehingga bisa menghilang (kasat mata). Dalam pengembaraannya di Lemah Dewani Sayyid Anwar banyak bertarung dengan para jin dan membuat mereka tunduk di bawah kekuasaannya. Mendengar kehebatan Sayyid Anwar lama-lama banyak kaum jin yang memilih mengabdi padanya. Kejadian tersebut sangat mengganggu Prabu Nuradi, raja para jin yang menguasai Lemah Dewani. Prabu Nuradi melabrak Sayyid Anwar dan mengajaknya bertarung. Dalam pertarungan itu Prabu Nuradi kalah dan tunduk pada kekuasaan Sayid Anwar.

Prabu Nuradi memilih turun tahta lalu mengangkat Sayyid Anwar menjadi raja para jin dan menyerahkan putrinya menjadi isteri. Ketika menjadi raja jin Sayyid Anwar mendapatkan gelar Prabu Nurasa. Prabu Nurasa yang telah memiliki kehidupan abadi kemudian tinggal di tempat tinggi dan meminta izin pada Yang Maha Esa untuk mengangkat diri sebagai Tuhan Semesta Alam.

Yang Maha Esa mengabulkan dan membiarkan Prabu Nurasa murtad dari ajaran keturunan Nabi Adam. Ketika menjadi raja Lemah Dewani diubah nama menjadi Tanah Jawi (Tanah Jawa). 

Dari Prabu Nurasa lahirkan keturunan-keturunannya yang kemudian menjadi para dewa mulai dari Batara Guru sampai raja-raja di Tanah Jawi.

Wallahu A'lam Bishawab


Anda sedang membaca Kitab Paramayoga: Kisah Nabi Adam Dan Nabi Sys. Untuk mengikuti posting terbaru silahkan Liked Facebook Fanpage: Mistikus Cinta | Follow Twitter: @Sufipedia | Terima kasih.

Post a Comment

 
Top