Sufipedia

“Sedulur papat limo pancer, emarmati, kakang kawah, adi ari-ari, getih, puser. Sedulurku sing kerawatan lan sing ora kerawatan, sedulurku kang metu bareng lahir sedino, ayo bareng-bareng nyembah marang gusti Allah”

Dalam ajaran Jawa dikenal “Sedulur papat kalimo pancer”. Pancer adalah diri kita sendiri. Selain itu dikenal juga ajaran “Sedulur papat kalimo badan”. Badan adalah jasmani, raga kita sendiri. 

Setiap diri manusia mempunyai empat saudara. Ketika manusia masih berupa janin di dalam perut ibu, keempat saudara kita ini nyata. Kasat mata. 

Bisa dilihat dengan mata telanjang. Mereka semua menjaga pertumbuhan manusia di dalam kandungan ibu.

Anak yang pertama tentu saja disebut kakak dari sang janin, yaitu air ketuban atau kawah. Ketika seorang ibu melahirkan, yang pertama kali keluar adalah air ketuban, kemudian sang bayi keluar. Karena itu disebut saudara tua. Dia berfungsi sebagai penjaga badan sang janin di dalam rahim ibu.

Setelah itu, saudara sekandung yang kedua, yang lebih muda adalah selaput ari-ari, tembuni atau plasenta. Pembungkus janin dalam rahim. Dinyatakan bahwa ari-ari ini memayungi tindakan sang janin di dalam perut ibu. Yang menyampaikan ke tujuan. Begitu bayi lahir, maka ari-ari ini ikut keluar, ia mengantarkan sampai ke tujuan, yaitu lahir dengan selamat disertai pengorbanan dirinya.

Berikutnya saudara ketiga adalah darah atau getih. Inipun saudara janin. Tanpa ada darah janin bukan saja tidak dapat tumbuh, tapi juga akan mengalami keguguran. 

Darah disebut juga membantu Allah siang dan malam, untuk mewujudkan Kehendak Tuhan. 

Jangan salah pengertian! Allah sendiri pada hakekatnya tidak membutuhkan bantuan siapapun. Ini dilihat dari segi hakekat. Tetapi dari segi syari’at, ini adalah suatu proses biologi, proses alamiah, semua kehendak Allah di alam semesta ini membutuhkan proses, suatu mekanisme kerja. Sehingga kehendak Allah untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan janin hingga menjadi bayi dilewatkan darah. Seolah-olah darah itu nyawa bagi janin.

Saudara keempat adalah tali puser atau wudel. Dalam bahasa Jawa kuno, istilah untuk puser adalah nabi. Sedangkan puser sendiri adalah bekas menempelnya tali puser pada perut. Tali puser inilah yang menghubungkan antara ibu dan janin, sehingga janin mendapatkan makanan dari ibu. Puser ini berfungsi untuk memenuhi permintaan si jabang bayi.

Orang menganggap ketuban, ari-ari, tali puser dan darah adalah wahana atau alat yang diperlukan untuk pertumbuhan janin dalam perut. Begitu bayi lahir, maka semua itu tidak berfungsi lagi. Tidak ada sangkut pautnya lagi dengan kehidupan di alam nyata ini. 

Pandangan yang demikian adalah pandangan yang serba duniawi, materialistis. 

Ajaran sedulur papat juga tidak ada di Jazirah Arabia, karena dasar kepercayaan mereka sebelum kedatangan Islam adalah pandangan dunia semata.

Lain dengan pandangan Jawa, pandangan yang telah diterima orang Jawa yang beragama apapun, maksudnya adalah orang Jawa yang mengerti pandangan Jawa, meski beragama apapun. 

Begitu bayi lahir, jasad sedulur papat itu kembali ke asalnya. Air ketuban dan darah dibersihkan. 

Ari-ari dan potongan tali puser dipendam atau dihanyutkan di sungai. Jasad yang terlahir adalah bayinya. 

Sedangkan secara metafisik / rohani sedulur papat kita tetap menjaga kita sampai kita mati.

Pandangan ini tidak bertentangan dengan Agama Islam. Pandangan sedulur papat ini ada dalam al-Quran, hanya kita kurang memperhatikan ayat-ayat yang bernuansa metafisik, kita banyak bahkan sering dan senang terjebak pada ayat-ayat yang bersifat lahiriah atau duniawi saja.

Marilah kita perhatikan ayat-ayat ini, “In kullu nafsin lamma ‘alayha hafizh”, Setiap diri niscaya ada penjaganya (QS al-Thariq 86:4), yang lainnya “Wa huwa al-qohir fawq ‘ibadih wa yursil ‘alaykum hafazhah hatta idza ja’a ahadakum al-mawt tawaffathu rusuluna wa hum la yufarrithun”, Dia-lah yang berkuasa atas semua hamba-Nya. dan Dia mengutus kepada kalian penjaga-penjaga untuk melindungimu. Jika seseorang sudah waktunya mati, maka utusan-utusan Kami itu mewafatkannya tanpa keliru. (QS al-An’am 6:61).

Ayat-ayat diatas sudah jelas sekali keterangannya. Bahwa dalam model kehidupan di alam dunia ini, Tuhan telah memberikan penjaga-penjaga kepada setiap diri. 

Meskipun Tuhan itu Maha Kuasa atas segala hamba-Nya, Tuhan tidak bertindak secara langsung. Ada beberapa penjaga buat seseorang, yang tidak terlihat oleh mata jasmani, karena berupa roh. Kalau ada orang dapat melihat mereka, hal itu disebabkan karena yang bersangkutan berusaha keras, berjuang dengan keras untuk dapat melihat mereka, sehingga menyebabkan sedulur papat ini, saudara-saudara rohaninya ini menampakkan diri. Inipun hanya dirinya sendiri yang dapat melihat, orang lain tidak bisa melihatnya.

Dalam agama Kristen pun disebutkan bahwa setiap orang di dunia ini diiringi malaikat (Matius 18:10; Kisah Rasul 12:15). Malaikat menyertai manusia untuk menjaganya. Untuk memberikan perlindungan, sepanjang manusianya sendiri berbuat kebajikan. Dijelaskan bahwa anak-anak kecil memiliki malaikatnya di surga. 

Mengapa disebut anak kecil? Karena anak kecil berbuat sesuai dengan nuraninya, belum dipengaruhi hawa nafsu dan lingkungannya. 

Masih tulus hidupnya. Karena itu Nabi Isa as bersabda bahwa seseorang dapat memasuki surga bila dia hidup bagaikan anak kecil. Manusia yang tulus hatinya.

Penjaga itu bertindak akurat. Tanpa keliru, tidak akan salah cabut nyawa dalam kehidupan ini. Karena mereka selalu ada disisi kita setiap saat, kapan saja, dimana saja. Walaupun kita berada di dalam gedung yang berlapis baja, mereka akan menunaikan tugas mereka dengan benar. Karena mereka sejak awal penciptaannya sudah mendapatkan perintah Allah untuk menjaganya. 

Coba kita perhatikan kedua ayat. Yang ada itu kata hafizf (bentuk tunggal) dan hafazhah (bentuk jamak) untuk kata penjaga. Tidak disebutkan kata malaikat pada kedua ayat tersebut. 

Ayat yang pertama memberitahukan bahwa setiap diri itu ada penjaganya. 

Sedangkan ayat kedua menjelaskan bahwa ada beberapa penjaga, bukan cuma dua penjaga, yang akan mewafatkan seseorang bila sudah tiba masa ajalnya. 

Kata mewafatkan sendiri pada mulanya tidak berarti mematikan. Arti asalnya adalah menyempurnakan. Jadi, kalau seseorang mati itu sebenarnya telah lunas apa-apa yang diembannya. 

Karena itu, bunuh diri (karena putus asa dalam menempuh hidup di dunia ini) diharamkan oleh setiap agama dan keyakinan.

Konsep Jawa, sedulur papat adalah penjaga-penjaga yang merupakan saudara kita sendiri yang ghaib. Bukan orang lain. Tetapi bagi konsep budaya Timur Tengah, penjaga manusia itu adalah malaikat. 

Dari sudut pandang hakekat, penjaga itu disebut sebagai saudara ghaib kita sendiri atau disebut juga sebagai malaikat. Maksudnya sama, tidak ada pengaruhnya pada kehidupan ini, namun perbedaan istilah ini, yang berakibat fatal pada kejiwaan, beda secara kejiwaan. 

Konsep penjaga adalah malaikat, maka setiap orang merasa sebagai pesakitan yang selalu diawasi terus menerus.

Sehingga orang akan bertingkah laku yang baik, takut berbuat jahat karena ada yang mengawasi. Perbuatan baik tersebut, bukan lahir dari hati nuraninya, tapi karena takut diawasi malaikat. Sehingga terbentuk mental kuli atau sebagai bawahan yang selalu diawasi.

Dengan konsep sedulur papat atau saudara empat, maka sebagai saudara mereka akan memberikan perlindungan dalam kehidupan ini, membuat setiap pribadi atau seseorang akan merasa aman hidupnya. 

Secara kejiwaan, menciptakan perasaan tentram. Perbuatan baik akan timbul sebagai rasa kebersamaan dengan saudara-saudaranya, baik yang nyata maupun yang tidak nyata (ghaib). Bila seseorang menyadari bahwa sejak di dalam kandungan ibu saudara empatnya itu selalu menjaga dirinya, niscaya ia tak akan bertingkah laku yang aneh-aneh, tidak berbuat macam-macam yang melanggar etika kehidupan dan susila.

Sebenarnya dengan sistem ini pendidikan lebih diarahkan untuk menciptakan manusia yang dapat menjaga lingkungannya.

Ajaran sedulur papat merupakan sebuah ajaran yang agung. Keramahtamahan dan keharmonisan hidup terhadap alam lingkungannya menjadi landasan hidup ajaran ini. Karena setiap saat kita ditemani mereka. Selama kita tidak berbuat curang, kita dilindungi oleh mereka, dan mereka tidak akan menjaga jika kita berbuat tidak baik. Sebagaimana mereka melindungi kita selama dalam kandungan. 

Jasad fisik mereka telah tiada, tetapi kekuasaan rohani mereka hadir setiap saat. Setia setiap saat. Keyakinan sedulur papat ini akan memberikan kesejukan dalam hidup ini. Sangat baik bagi kehidupan. Keyakinan sedulur papat memberikan kesejukan dalam hidup ini.

Apakah ajaran sedulur papat itu sirik?

Kalau ajaran sedulur papat ini sirik, maka sejak dulu sudah dibuang oleh poro wali khususnya Wali Songo. Sesuatu yang sirik adalah menyekutukan Tuhan. Ajaran sedulur papat sama sekali tidak menyekutukan Tuhan. Ajaran ini mengajak kita semua untuk beramahtamah dan menjaga alam lingkungan kita.

Coba kita perhatikan lagi pembuka pelajaran ini :

“Sedulur papat limo pancer, emarmati, kakang kawah, adi ari-ari, getih, puser. Sedulurku sing kerawatan lan sing ora kerawatan, sedulurku kang metu bareng lahir sedino, ayo bareng-bareng nyembah marang gusti Allah”

Adakah ajakan untuk sirik?, tidak ada. Yang ada adalah ajakan untuk bersama-sama menyembah kepada Allah SWT.

Ajaran sedulur papat ini juga menyangkut rasa ke-Iman-an kita, seperti iman kepada malaikat, iman kepada yang ghaib. 

Dalam kehidupan sehari-hari “Iman” nyaris hanya menjadi suatu kepercayaan. Sehingga sepertinya keimanan ini tidak terkait dengan kehidupan nyata, kehidupan sehari-hari. Apalagi dengan pengaruh kehidupan barat, yang dianggap lebih baik, lebih modern. Seolah-olah kehidupan modern tidak membutuhkan lagi kepercayaan lama. Ajaran seperti ini dinilai sekedar ajaran klenik, inilah mental jajahan! Tidak mengkaji lebih dahulu, tapi langsung divonis. Yang barat baik, yang dari negeri sendiri dijelekan.

Banyak orang yang tidak tahu bahwa kehidupan barat pun banyak dipengaruhi mistis atau klenik, salah satunya adalah orang barat sangat takut dengan angka 13. perhatikan semua hotel ataupun bangunan bertingkat lainnya tidak akan pernah ada lantai 13, akan diganti nomor 12A atau loncat 14. Sedangkan orang Indonesia beranggapan bahwa kepercayaan asli atau yang berbau mistis, tidak membuat kemajuan dan kesejahteraan hidup. Mereka tidak sadar bahwa kemajuan dan kesejahteraan suatu bangsa tidak akan bisa dilepaskan dari budayanya.

Marilah kita lihat sikap positif keyakinan sedulur papat. Sikap positif yang kita lakukan setiap hendak tidur.

Pertama, kita berdo’a sebagaimana yang dituntunkan dalam hadis “Bismikaallahumma ahya wa amuut”, dengan menyebut Nama-Mu yaa Allah, saya hidup dan saya mati. 

Tentu saja, do’a ini hendaknya tidak diperlakukan sebagai rutinitas. Tetapi, sebagai pernyataan kehendak untuk berpasrah diri kepada Allah. 

Do’a yang kita panjatkan itu kita rasakan. Ini merupakan wujud meditasi ketika hendak tidur. Dengan do’a tersebut, kita lepaskan segala yang melekat pada pikiran kita sepanjang hari.

Kedua, kita segera ingat bahwa ada empat saudara kita yang menjaga tidur kita. Kita rasakan kehadiran mereka. Kita sadari bahwa badan kita butuh tidur, sedangkan mereka tidak pernah tidur.

Mereka menjaga kita selama tidur kita. Kita rasakan keramahan mereka. Dengan cara ini kita bisa segera tidur pulas. Bukan karena kecapaian, tapi karena tak ada beban yang perlu dibawah tidur.

Lamanya tidur tidak menjadi masalah, yang penting kualitas tidur yang didapat, yang membuat badan dan pikiran terasa segar kembali. Bangun tidur kita merasa seakan-akan dibangkitkan tidur oleh Tuhan dari kematian kita. Pekerjaan hari itu dikerjakan dengan bersemangat. Ikhtiar dilalui tanpa keluh kesah. Tidak ada perasaan khawatir terhadap rejeki pada hari itu.

Jika kita beritikad baik dan berniat kerja yang baik, maka sedulur papat kita akan turut membantu dalam kehidupan ini seperti masih dalam kandungan. Mereka membantu tanpa diminta.

Jika di dalam kandungan, diri kita dipelihara secara fisik, tetapi dalam alam syahadah ini kita dijaga secara spiritual. Penjagaan yang bersifat rohani, lindungan secara batin.

Dengan sikap hidup yang positif ini kita akan menjadi manusia yang awas. Waspada! Lahirlah sebagai manusia baru yang senantiasa eling lan waspodo. Manusia yang tidak lalai dalam menempuh jalan hidup yang benar. (Selanjutnya - Sedulur Papat dan Malaikat)

Anda sedang membaca Ajaran Sedulur Papat: Sedulur Papat Limo Pancer. Untuk mengikuti posting terbaru silahkan Liked Facebook Fanpage: Mistikus Cinta | Follow Twitter: @Sufipedia | Terima kasih.

Post a Comment

 
Top