Sufipedia

Berikut adalah tulisan yang saya kutip dari sebuah komentar dari web Sufi Muda tentang Sufi-Sufi sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW, (Sufi-Sufi di Zaman Nabi Isa AS dan Nabi Yahya As)

Sufi-Sufi di Zaman Nabi Isa AS dan Nabi Yahya As
Dua temuan besar (Desember 1945, dan 1947) yang menggegerkan ummat Kristiani, Pertama temuan Desember 1945 tentang ditemukannya didalam gentong yang sangat tua oleh warga Mesir bernama Muhammad Ali, berisikan 13 lembar kulit dan 50 risalah, pada bagian akhir dari risalah kedua di codex II koleksi risalah terdapat sebuah judul teks yang telah hilang selama ribuan tahun: Peuaggelion Pakta Thomas, Injil menurut Thomas (Manuskrip Koptik berisikan Injil Thomas yang berasal dari tahun 350 Masehi). Injil Thomas (ini) diperkirakan dari tahun 100 M, edisi paling awal diperkirakan dari tahun 50-60 M. (Perlu diketahui bahwa Injil Thomas tidak berbentuk cerita naratif seperti 4 Injil lainnya, namun berisi perkataan-perkataan Yesus), kalau dibaca oleh seorang Muslim seperti penulisan Hadits namun tanpa sanad.

Para Sarjana Bible mulai mengkaji dan membandingkannya dengan 4 Injil sinoptik yang diakui oleh Gereja (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes). Semangat “mereka” ialah menjawab pertanyaan umum “apa sih yang sebenarnya yang di sabdakan oleh Yesus, pertanyaan akhirnya terjawab dalam sebuah kesimpulan dalam laporan mereka (The Five Gospel Tahun 1993), bahwa dari injil-injil yang ada, hanya terdapat 18% saja yang “asli” perkataan Yesus. Sisanya…? Hasil kajian ini tentu saja membuat geger dunia Kristiani, Lain dari pada itu, yang patut dicatat bahwa, dari 114 sabda Yesus dalam Injil Thomas (hasil temuan tersebut), tidak satupun ada pernyataan ataupun isyarat tentang doktrin “penyaliban” atau penebusan dosa melalui kematian Yesus di tiang kayu salib.

Penemuan kedua tahun 1947 di Qumran (dekat Laut Mati) kedua penemuan tersebut yang kemudian dikenal dengan Gulungan Naskah Laut Mati (The Dead Sea Scrolls) yang ditemukan oleh seorang anak penggembala kambing bernama Ad-Dib, Gulungan manuskrip yang ditemukan berisi tulisan kitab Perjanjian Lama, oleh sebuah komunitas yang diidentifikasi sebagai salah satu sekte Yahudi, yaitu sekte Esenes dan memberikan gambaran tentang masa-masa awal sejarah Kristen dan keterkaitan gerakan Nazaren (pengikut Yesus dari Nazaret) dengan sekte tersebut, Dalam komunitas ini terdapat seorang Nabi yang sezaman dengan Yesus yaitu Yahya As, atau Yohanes Pembabtis-menurut tradisi Kristen.

Dalam penemuan tersebut, tergambar bahwa Sekte Esenes terbagi menjadi dua kelompok; pertama, hidup layaknya seperti rahib dan tidak menikah, sedangkan kelompok kedua; hidup bersahaja dan menikah. Meskipun di antara keduanya ada perbedaan, namun semua penganut Esenes mempunyai semangat menjauhkan diri dari dunia materi dan kesenangan hidup, Tidak ada diantara mereka kelompok kaya dan kelompok miskin, karena semuanya menjadi satu dalam hal kepemilikan. Esenes meyakini bahwa wujud materi yakni jasad manusia adalah wujud temporal yang fana. Sedangkan wujud yang hakiki ada di alam kehidupan arwah, dan oleh karena itu mereka tidak takut mati, dan mempercayai adanya Hari Kiamat.

Orang kelompok Esenes hidup dalam kelompok-kelompok secara bersahaja, mengenakan selendang putih sebagai ciri khas. Rutinitas keseharian mereka dimulai dengan bangun pagi untuk melaksanakan shalat fajar kemudian pergi ke ladang karena sebagian besar mata pencarian mereka adalah bercocok tanam, Mereka mengerjakan shalat yang kedua saat Matahari tenggelam dan sesudah itu berkumpul bersama anggota keluarga untuk makan malam, yang umum terdiri dari roti dan satu macam jenis sayuran. Bersuci dengan menggunakan air sebelum melakukan shalat, merupakan tradisi ibadah yang sangat penting dan dipegang teguh oleh Para pengikut Esenes. Bukan hal yang sederhana bagi siapapun untuk menjadi anggota sekte (ini) khususnya wanita, karena kelompok ini tidak menerima keanggotaan dari kaum hawa. Orang-orang Esenes (Jemaat ini diperkirakan sudah ada sejak puluhan tahun sebelum kelahiran Nabi Isa AS) mempunyai kebiasaan yang sangat unik, yaitu memanfaatkan sebagian besar waktu malam untuk membaca Taurat juga kitab nabi-nabi, khusus kitab Yesaya. Mereka menafsirkan kitab suci mereka secara “metaforis”, bukan harfiah. Esenes mengharamkan para pengikutnya untuk melakukan sumpah, kecuali hanya satu jenis sumpah yaitu sumpah menjaga kerahasian sekte pada saat diterima sebagai anggota kelompok, kerahasiaan ini berkenaan dengan nama-nama Malaikat, yang menjadi kewajiban anggota untuk menghafal-nya, sedangkan penganut Yahudi pada umumnya tidak percaya adanya malaikat.

Penemuan Arkeologi ini akhirnya mendorong sekian banyak pemerhati Kristologi untuk mengkaji naskah-naskah tersebut. Kajian-kajian tentang “the Dead Sea Scrolls” amatlah banyak, “diantaranya” yang membuat geger dunia Kristen yaitu Laporan Barbara Theiring, dalam bukunya “Jesus the Man” dalam penelitian selama 20 tahun terhadap naskah tersebut; bahwa Yesus adalah seorang manusia biasa (Yang digelar “Guru Bijak”) yang pemikirannya berseberangan dengan “Pendeta Jahat” (Kelompok Pendeta Jahudi Ortodok di Zaman Yesus) dan menyatakan dengan gamblang bahwa Yesus melakukan pernikahan (bahkan berpoligami).

Manuskrip Laut Mati yang ditulis abad ke-2 SM, dimaksud merupakan kumpulan tulisan tangan kuno (berbahasa Aramik atau Ibrani) yang berhasil ditemukan (tak sengaja) antara tahun 1947-1956 di dalam gua-gua tersembunyi di pegunungan yang terletak di sebelah barat Laut Mati, antara lain: kawasan Qumran, Muraba’at, Khirbat, Mrd, Ein Jeda dan Masada. Penemuan tersebut, khususnya yang berasal dari wilayah Qumran atau Umran (wilayah Tepi barat Jordania yang berjarak hanya beberapa kilo meter selatan Yerikho/Areeha, yang merupakan daerah konflik berkepanjangan antara Palestina dan Israel) yang semenjak setengah abad yang lalu, membawa dampak serius bagi pola pikir peneliti-peneliti Yahudi dan Kristen di seluruh Dunia dan anehnya bagi sebagian besar umat Muslim, menganggap temuan ini biasa-biasa saja (mungkin menganggap urusan keyakinan/agama “orang lain”) padahal Allah SWT sedang “menguak tabir” sejarah masa lampau dan membenarkan apa-apa yang tersirat maupun tersurat dalam Al Qur’an, terutama tentang sosok Isa As, dan Injil yang sekarang beredar adalah campur tangan (diubah) oleh manusia, dan tidak ada doktrin penyaliban. Penemuan-penemuan spektakuler itu, secara pasti membawa perubahan, dan berdampak pada banyak struktur kepercayaan yang selama ini diyakini, terutama di Palestina.

Ramainya opini yang berkembang sehubungan dengan penemuan naskah-naskah Laut Mati, nyaris melalaikan adanya “penemuan lain” yang tidak kalah pentingnya di wilayah pegunungan (pada 150 gua-gua) di Nag Hamadi pinggiran Mesir sebelah selatan, yang dua tahun lebih awal sebelum ditemukannya naskah-naskah Qumran, yang tertulis dalam bahasa Koptik.

Naskah-naskah Koptik yang berhasil ditemukan di Nag Hamadi (Mesir) itu sesungguhnya berisi tulisan-tulisan yang dibuat oleh Jemaat-jemaat yang muncul pada awal abad pertama Masehi, yang dikenal dengan sebutan “al-arifin”, yang memiliki kemiripan besar dengan Thariqat Sufi pada zaman sekarang, Jemaat ini menganut paham “dualisme wujud” jasad dan ruh yang senantiasa dalam pergulatan sepanjang masa. Jemaat Arifin (ini) bercita-cita untuk sampai kepada makrifat hakiki. Yang dalam pandangan mereka-bukan makrifat yang dicapai melalui eskperimen dan indera, karena itu bersifat jasadi. Namun makrifat yang sesungguhnya adalah mencapai pengetahuan tentang ruh illahi yang tinggi. Dan tidak akan mampu mencapai derajat ini kecuali melalui makrifat manusia pada diri sendiri. Jemaat Arifin-lah yang mula-mula merumuskan dasar-dasar Ilmu Jiwa.

Dalam naskah tersebut, diungkapkan; Untuk bisa mencapai makrifat hakikat diri, orang-orang Jemaat Arifin tidak segan-segan meninggalkan harta kekayaan dan profesi mereka untuk “hidup menyendiri” dan hidup sebagai ahli ibadah. Mereka hanya makan sepotong roti dan seteguk air, menurut kepercayaan mereka, makrifat ruhiyah menuntut adanya penundukan jasad dan hawa nafsu hingga mampu mencapai derajat kebeningan jiwa. Sebagian besar waktu dipergunakan untuk beribadah, serta membaca tulisan-tulisan Jemaat, atau menulis hal-hal baru dan membacakannya pada setiap pertemuan reguler.

Begitulah sebagian “kecil” terjemahan naskah kuno huruf/bahasa koptik kuno yang ditemukan di Nag Hamadi (Mesir selatan), yang Para Peneliti menyebutnya sebagai “perpustakaan besar” karena (didaerah itu) menyimpan 52 buah naskah dalam 1152 halaman yang terbagi menjadi 13 jilid yang tertulis dari ribuan lembaran kertas papirus yang diawetkan.

Anda sedang membaca Sufi di Zaman Nabi Isa AS dan Nabi Yahya As. Untuk mengikuti posting terbaru silahkan Liked Facebook Fanpage: Mistikus Cinta | Follow Twitter: @Sufipedia | Terima kasih.

Post a Comment

 
Top